Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Pertemuan Leora dan Sabrina


__ADS_3

    Sabrina hari ini menjalani pemotretan di Fremont.Di pusat kota tua LV, Fremont Street adalah kawasan khusus pejalan kaki dengan semua jenis situs unik. Bagian lima blok Fremont Street ditutupi dengan kanopi lampu LED yang menerangi langit dalam tontonan warna dan desain yang berbeda saat Anda berjalan di bawah. Dikenal sebagai Fremont Street Experience, setiap malam pertunjukan musik dan visual yang fantastis berlangsung di atas kepala.


    Pelaku jalanan dan hiburan khusus sering melakukan aktivitas di luar ruangan di area ini. Fremont Street berada di pusat kota LV, beberapa kilometer dari the Strip. Yang terbaik adalah naik taksi untuk mencapai daerah ini. Atau, jika Anda ingin benar-benar menikmati LV di malam hari, ikuti Tur Malam Cahaya Lampu LV selama 3,5 jam, yang meliputi pertunjukan cahaya Fremont Street dan sorotan di sepanjang Strip.


    Sabrina menikmati jepretan kamera kilatan demi kilatan cahaya lampunya membuatnya seakan tak sadarkan diri, itulah Sabrina yang selalu menghipnotis semua mata  ketika melihat gayanya. Semua mata melihat dan memuji kecantikannya.


    "Cantik ya dan sangat luwes," ucap salah seorang pengunjung.


   Bahkan orang tak segan memberinya rangkaian bunga yang sangat indah.


    "Terima kasih atas bunganya," ucap Sabrina.


   "Ada apa sih?" tanya Leora yang sedang menikmati minuman kesukaannya.


   Kerumunan yang menarik perhatiannya membuatnya mendekatinya.


   "Owh pemotretan," ucap Leora.


   Dia duduk didekat Sabrina yang sedang beristirahat dan mengajaknya mengobrol.


   "Kamu modelnya ya?" tanya Leora.


   "Ya," balas Sabrina.


   "Kamu dari Indonesia?" tanya Leora.


   "Iya, emang ketahuan ya?" tanya Sabrina.


   "Hmmm, boleh kenalan? Namaku Leora." Leora mengulurkan tangannya.


   "Sabrina," balas Sabrina dengan senyuman manis.


   Sabrina jarang sekali tersenyum manis dengan orang. Semenjak perkenalan itu Sabrina dan Leora semakin dekat, Sabrina merasakan baru kali ini mempunyai teman yang mengerti dia.


   "Kamu kerja apa Leora?" tanya Sabrina.


   "Aku nggak kerja," ujar Leora.


    "Apa kamu seorang pengusaha? Soalnya aku lihat belanjaan kamu mahal dan sangat banyak," ucap Sabrina.


    "Ini pemberian seseorang," balas Leora.


    "Mana mungkin ada orang ngasih duit banyak tanpa imbalan," Sabrina sedikit heran.


    "Pastinya adalah imbalannya, kamu tahu nggak? Aku ini siapa?" Leora memberi tebakan pada Sabrina.

__ADS_1


   "Siapa? Gundik?" balas Sabrina sambil ngakak.


    "Eh itu jaman dulu kali namanya Gundik jaman penjajahan Belanda, jaman Nenek Moyang, sekarang beda dong biar kerenan dikit," Leora tertawa cekikikan menjelaskan  kepada Sabrina, yang terlihat agak lemot.


   "Apa itu?" tanya Sabrina.


    "Sugar Baby!" jawab Leora singkat.


    "Sugar Baby itu apaan?" tanya Sabrina.


    "Ya sama kayak Gundik alias simpanan orang kaya yang dia itu di beri segalanya baik itu fasilitas atau uang dan harta benda lainnya," ungkap Leora.


   "Gundik jaman Now?" tanya Sabrina.


    "Iya, kamu tahu nggak  Sugar Daddyku siapa? Mafia nomer satu di kota ini," ucap Leora.


    "Ih ngeri ah, mainnya sama Mafia," Sabrina sedikit ketakutan.


   "Asyik tahu main sama Mafia, lebih garang diatas ranjang, pokoknya puas banget karena diakan bad boy," Leora memberikan shock terapi pada Sabrina.


   "Aku nggak pernah tuh gitu, malah dulu pernah ada ngajak tidur bareng aku kasih obat bius, gila takut aku sama gituan," ungkap Sabrina.


    "Jadi kamu masih perawan? Enak tahu,hihihi" Leora mengejek Sabrina.


   "Kenapa kamu tertawa?" tanya Sabrina.


    "Bagi aku keperawanan itu sangat penting dan harus diserahkan dan diberikan kepada orang yang tepat, orang yang menjadi pendamping hidup kita kelak," ujar Sabrina.


    "Hari gini? Belum tentu juga suami kamu itu masih perjaka," Leora meledek Sabrina.


   "Paling nggak kalau misalnya dapet duda ketahuan statusnya, nggak harus perjaka juga sih," balas Sabrina.


    Sabrina yang tidak pernah dekat dengan Pria mana pun dan tidak pernah jatuh cinta membuatnya penasaran bagaimana seorang yang dimaksud dengan Sugar Daddy itu.


    "Kenalin aku dong sama Sugar Daddy kamu," pinta Sabrina.


   "Kamu mau jadi Sugar Baby juga?" tanya Leora.


   "Nggak lah cuma pengen tahu orangnya saja," elak Sabrina.


    "Ayok ikut aku," ajak Leora.


    Leora dan Sabrina menuju kantor Sanjay dan benar saja Sabrina di suguhi pemandangan menjijikkan antara adegan ciuman Leora dan Sanjay yang begitu hot.


    "Gila mereka nggak tahu malu banget sih," ucap Sabrina kesal.

__ADS_1


    "Owh ya aku lupa, kenalkan ini teman baru aku namanya Sabrina," Leora memperkenalkan Sabrina pada Sanjay.


    "Sabrina ini kekasih aku," imbuh Leora.


Sanjay dan Sabrina pun berkenalan.


Tok... Tok ...


   Suara ketukan pintu mengagetkan mereka bertiga. Ternyata yang datang adalah Mr. Khai, betapa terkejutnya ia melihat Sabrina berada diantara Sanjay dan Leora. Begitu juga Sabrina dia kaget melihat Mr. Khai.


   "Tuan saya ingin memberikan laporan bulanan," ucap Mr. Khai.


   "Ya, kamu taruh saja di meja," pinta Sanjay.


    "Anda yang waktu itukan ketemu saya," Sabrina mencoba mengingatkan Mr.Khai dengan pertemuannya waktu itu.


    "Ya, ada apa Anda ke sini?" tanya Mr.Khai pada Sabrina.


   "Saya diajak Leora," ungkapnya.


   Mr. Khai sedikit bernapas lega, ia khawatir Sabrina mencari tahu tentang dirinya. Setelah lama Sabrina, Leora dan Sanjay berbincang-bincang. Sabrina pun pamit ingin pulang.


"Nona Sabrina!" teriak Mr.Khai.


   Sabrina berhenti dan menoleh.


"Ada apa?" tanya Sabrina.


   "Sebaiknya Anda jangan dekat dengan Tuan Sanjay, dia sangat berbahaya," Mr. Khai memberitahu Sabrina karena dia takut anak satu-satunya ini mengalami hal yang sama dengan Leora dan perempuan yang lain yang berakhir di tempat pelacuran itu.


   "Apa hak Anda melarang saya dekat dengan Sanjay dan Leora?" tanya Sabrina.


     "Saya takut Anda terperangkap dan saya tidak mungkin bisa membantu Anda keluar dari cengkeramannya," wajah Mr. Khai sangat menunjukkan ketakutan.


    Sabrina tersenyum  sesaat dia memperhatikan Mr.Khai dia berpikir jika Mr.Khai ada rasa dengannya. Sabrina meninggalkan Mr. Khai yang terpaku di ujung lorong.


   "Sebuah kesalahan jika aku mengingat masa lalu, sebuah kebodohan jika aku tak bisa berpaling darinya," ucap Mr Khai lirih.


    "Kenapa semua yang ada di dirinya mengingatkan aku? Tidak mungkin ada orang yang sama baik sifat dan aroma tubuhnya, namun papaku lebih lembut dari dia, mana mungkin dalam sekejap mata orang bisa berubah kecuali ada seseorang yang mencuci otaknya," Sabrina terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.


    "Aku berharap kau dapat menyimpan air matamu sebagai kekuatanmu dalam menghadapi hidup ini, karena hidup ini tak semudah yang kau bayangkan, setiap tetes air matamu bukanlah tanda kelemahan, jadikan itu sebagai tanda bangkitnya dirimu dari keterpurukan. Mungkin ini tak adil untukmu tapi kau harus tahu bahwa ini adalah yang terbaik untukmu." Mr. Khai masih saja menatap kepergian Sabrina, dia tahu Sabrina sangat merindukannya, tapi mau bagaimana lagi ini sudah keputusannya memulai hidup yang baru.


    Sebenarny Dia sangat merindukan anak kesayangannya itu tapi bagaimana lagi jika ia terus bersama dengan Sabrina maka akan membuatnya buruk dan tidak menjadi Sabrina yang sekarang, biar Sabrina menganggapnya tak ada dan membencinya itu lebih baik dari pada dia disebut orang tua yang gagal dalam mendidiknya.


    "Andai saja papa ada di sini mungkin aku tak akan seperti ini, papa mungkin ingin aku berubah dan menjadi manusia yang lebih baik untuk itu ia meninggalkan aku sendiri, tapi di manapun papa berada. I love you Papa," Sabrina menangis merindukan Papanya yang  di mana.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2