Psikopat Cantik

Psikopat Cantik
Teror Sabrina


__ADS_3

   Masih dengan rencana yang lebih ekstrem, balas dendam Sabrina karena masih merasakan sakit hati.


"Mereka tidak boleh bahagia di atas penderitaanku!" ucap Sabrina dengan penuh dendam.


Sabrina masih ingin mencelakai  Nadira dengan caranya sendiri tanpa bantuan Sanjay.


Namun setiap rencananya selalu gagal, karena Nadira lebih waspada apabila wanita itu selalu membuntutinya, Wanita yang bernama Sabrina mengunci Nadira yang berada di toilet. Hendak menyiram bagian tubuhnya dengan air keras lewat bagian atas pintu toilet. Nadira memukul pintu dari dalam. Tetapi tidak ada jawaban dari luar, karena mall tersebut hampir tutup jam operasionalnya. Wanita yang seperti psikopat itu sedang membuka tutup botol,  melalui toilet sebelah dia menaiki closet yang ada di sana. Nadine mengetahui itu Sabrina, dia pura-pura tidak tahu padahal ia tahu setelah mengintip dari balik lubang kunci.


"Mau main-main? Oke, Show time!" Nadira tersenyum licik, karena meremehkan musuhnya yang terlalu mudah untuk dikalahkan.


Dia yang mengetahui wanita gila itu masuk ke  toilet pojok, dengan cepat ia membuka sabun cair yang seperti jelly bening dan tidak berwarna. Dia menyemprotkan ke dalam toilet lewat bawah kolong, sedangkan Sabrina sudah naik ke atas closet. Si Wanita mengambil ancang-ancang akan menyiram di sebelah mana, namun sayang ketika hendak menyiraminya, sang korban dengan sigap berhasil keluar dari toilet dengan cepat tanpa suara. Setelah ia berada di luar dia melancarkan rencana kedua mengucuri lantai dengan minyak zaitun yang dia bawa di dalam tasnya. Dia sudah menyiram air keras tersebut, tapi tidak mendengar teriakan Nadine atau suara berisik lagi.


"Kok sepi, Apa dia pingsan?" ucap Sabrina heran. Ia ingin memastikan lalu turun .


Brraaak! Tubuhnya terpleset cairan sabun dan kepalanya terbentur closet.


"Sialan!" umpat Sabrina kesal. Dia pun keluar dan untuk kedua kalinya dia terpleset dan terpelanting badannya jatuh di lantai, kepalanya terbentur keras sehingga dia teriak kesakitan.


"Aaaawwwhh!" Teriak Sabrina. Lalu ia mengintip namun 'tak melihat kaki Nadira.


"Kok nggak ada, Kemana dia?" batin Sabrina.


Sabrina tidak bisa berjalan  dia merangkak,ia yang mencoba bangkit, mencari tangga darurat, karena pintu Mall itu sudah tertutup dia mencari jalan lain. Ketika dia lewat tangga terdengar suara.


Kreeek ... Tak ... Tak!


Suaranya mirip pemukul kasti dan ada orang yang menuruni tangga namun 'tak nampak dari tengah-tengah.


"Kok nggak ada orang?"  Sabrina mencari sumber suara tersebut. Ketika ia menoleh betapa terkejutnya, melihat Nadira dengan outfit hitam dan rambut yang di kuncir kuda dan membawa pemukul kasti.


"Nyari apa? Nyari aku?" tanya Nadira.


"Nggak ngapain?" Sabrina sedikit canggung.


"Kenapa mengunci aku di kamar mandi, Ngak terima? Atau lebih tepatnya masih nggak terima?" Nadira menyodorkan tongkat kasti itu ke tubuh Sabrina.


Sabrina menendangnya hingga terjatuh, Nadira yang tidak terima menghadang kaki wanita itu hingga ia tersungkur dan berguling-guling di tangga.

__ADS_1


"Hei, perempuan sialan! Kamu jangan pernah lupa dengan kata-kataku! Rasa sakit yang kamu berikan kepadaku, akan mendapatkan pembalasan sepuluh kali lipat lebih sakit dari yang aku rasa!" ucap Nadira.


Dia dengan sadis menendang Sabrina dan menjambak rambutnya lalu menyeretnya samapai ke tangga bawah.


"Siapa suruh kamu macam-macam sama aku? Sekali kamu berbuat masalah denganku seribu kali aku akan membalasnya dengan kejam! Camkan itu." Meninggalkan Sabrina yang kesakitan.


"Sialan, awas aja akan aku balas!" ucap Sabrina kesal.


Sabrina pulang dan babak belur, lalu ia ditanyai oleh Sanjay.


"Kamu kenapa?" tanya Sanjay.


"Wanita Iblis itu menghajar aku habis-habisan." balas Sabrina.


"Dia seperti apa sih?" tanya Sanjay. Sabrina yang tidak mempunyai foto Nadira memberi foto Nadine.


"Nadira?" Tanya Sanjay.


"Kamu kenal?" tanya Sabrina.


"Sangat kenal," balas Sanjay.


"Dia adalah ... Ah sudahlah aku 'tak ingin mengingatnya, yang penting asal kamu tahu jangan pernah cari gara-gara sama dia, dia adalah murid terbaik di perguruan Ninja di Jepang," ungkap Sanjay.


"Apa ... Dia Ninja, Kok kamu tahu?" tanya Sabrina.


"Ya, iyah lah dia 'kan sekutu Kenichi."  Sanjay memberitahu tentang siapa Nadira sebenarnya.


"Siapa lagi Kenichi?" tanya Sabrina.


"Mafia Jepang dia nomer satu di sana," ucap Sanjay.


"Kenichi selalu  selalu mengambil anak buah di sebuah perguruan ninja di sana, jadi kamu harus berhati-hati jika menghadapi Nadira, Kamu tahu nama Jepangnya siapa? Aiko yang artinya anak kesayangan, Dan dia terbilang sangat ditakuti karena kehebatannya bermain Shuriken dan Samurai dan juga nggak pandang bulu dalam menebas musuhnya." Sanjay memberi tahu siapa Nadira sebenarnya jika berani cari masalah dengannya.


"Pantas saja ketika aku mengurungnya dia cepat sekali lolos ternyata dia berilmu tinggi?" Sabrina sedikit takut jika berurusan dengan Nadira.


"Lebih baik kamu jangan cari masalah sama dia," pinta Sanjay.

__ADS_1


"Sayangnya aku sering berurusan dengannya, saudara kembarnya aku yang melukainya sampai meninggal dan dia membalas aku sampai seperti ini." Sabrina memberi tahu Sanjay bahwa pelakunya adalah Nadira.


"Dia kalau sudah dendam sama orang tidak semudah itu melepaskannya, kamu termasuk sangat beruntung masih bisa lolos beberapa kali, mungkin dia lagi tidak mood untuk mencelakai kamu. Untuk itu dari sekarang stop jangan mencari masalah dengan dia! Jika kamu masih sayang nyawa kamu." Sanjay meminta kepada Sabrina untu berhenti cari masalah dengan Nadira.


Ranny yang telah selamat dari tragedi peneroran Sabrina berniat balas dendam.


"Nih orang cari masalah terus, dasar muka tembok! Enaknya diapain ya?" tanya Ranny.


"Matiin aja sekalian biar dunia ini aman dan damai," celetuk Nadine.


"Coba bisa sudah dari kapan tahun sudah mati itu orang lah ini sudah kita siksa seperti malaikat yang menyiksa pendosa masih saja bisa hidup malah makin licik dan jahat." Ranny meremas kertas karena gemas jika mengingat Sabrina.


"Iya heran juga manusia dari mana sih? Kuat banget, mungkin pas Tuhan nyiptain dia dulu salah masukin roh kali, yang dimasukin harusnya manusia, lah ini peranakan Jin jadi susah matinya." Nadira tertawa terbahak-bahak.


Ketika mereka membicarakan Sabrina tiba-tiba dia ada di restauran yang sama. Ranny menghampirinya dan menamparnya dengan keras.


"Mau kamu apa sih? Mau bunuh saya? Ayo bunuh sekarang! Enggak usah mensabotase kendaraan saya dan membakarnya, kamu masih belum puas menghancurkan anak saya? Mencoba berulang kali membunuh Nadira, saya tahu ya masa lalu kamu. selain kamu membuat celaka saudara Nadira kamu juga membunuh Ibu kandung kamu dan Nenek kamu."


Seketika semua mata memandangi Sabrina dan Ranny yang ribut besar.


Nadira hanya memperhatikan mereka dari jarak jauh, karena itu bukan urusannya. Nadira menyiapkan  Shuriken di jarinya siap melesat ke arah Sabrina.


"Gila ya jahat sekali," ujar para Pengunjung restauran


"Ternyata dia psikopat," timpal yang lain


"Ngeri!" balas yang lain karena merasa ketakutan.


Semua orang yang menyaksikan pertengkaran itu sangat ketakutan bahwa ada salah satu psikopat di antara mereka.


Sabrina yang merasa malu dia meninggalkan tempat itu.


"Hampir saja ini aku lempar ke sana." Nadira menunjukkan Shuriken yang berada di tangannya.


"Kenapa nggak kamu lempar itu Shuriken biar kenak otaknya yang nggak waras itu," balas Ranny.


"Belum saatnya aku memberikan ini, aku mau dia diberi racun dahulu." bisik Nadine.

__ADS_1


Bersambung ....


💙💙💙


__ADS_2