
"Bagaimana dengan Sabrina?" Tanya Eduardo.
"Baik! Perkembangannya cukup signifikan," balas Suci.
"Kenapa kamu lebih memilih untuk jadi psikolog nya dia?"
"Hanya Mr. Khai yang membantu saya bisa lulus Psikologi di Luar negeri dengan waktu 2 tahun 8 bulan dengan gelar cumlaude,"
"Waktu seperti itu sangat mustahil bukan? Untuk mengambil gelar S1 Sarjana Spikologi ataua S.Psi dan S2 Magister Psikologi atau M.Psi."
Diketahui Suci mengikuti program akselerasi, hanya dalam waktu singkat ia bisa mendapatkan gelar tersebut dengan lulusan terbaik. Di negaranya ia dicekal atas ulah oknum tidak bertanggungjawab, dinegara orang ia sukses menyabet gelar Magister Psikologi.
"Sabrina selama kamu tangani apa dia ada cerita sesuatu dan awal mula kenapa dia menjadi seperti itu?" tanya Eduardo.
"Ya, menurut pengakuannya awal peratama kali dia melakukannya karena dia dihina temannya, masalah mama dan neneknya semua dia ceritakan. Sungguh rumit masalahnya hingga dia seperti itu Sabrina ada bipolar sekitar 70 persen. Ya, harus rawat jalan dengan memberikan obat dan terapi khusus," ungkap Suci.
Setiap hari Suci selalu memberikan obat kepada Sabrina dengan alasan vitamin. Setelah meminum obat itu Sabrina selalu merasa lebih baik, kesehatan mental dan jiwanya seakan berubah drastis.
***
Sehabis pulang dari kantor seperti biasa ia ke supermarket untuk belanja, sedangkan Suci hari itu membersihkan rumah. Mereka memutuskan untuk berbagi tugas, untuk memasaka makanan selalu mereka lakukan berdua.
Dan tanpa disengaja Sabrina bertemu dengan Eduardo.
Braaakkk!
Keranjang belanjaan mereka bertabrakan.
"Sorry!" ucap Sabrina.
"Okey!" Balas Eduardo.
"Eh, kamu yang itu ..." Mencoba mengingat.
"Kamu? Kamu yang waktu itu sama Mr. Khai?" celetuk Eduardo.
"Iya, apa kabar Mr. Khai?" Tanya Sabrina.
"Baik, kamu?" Balas Eduardo.
"Ya, sama saya juga baik tanpa kurang suatu apapun ... Hmmm ngomong-ngomong waktu itu kita belum sempat kenalan, boleh dong kenalan?"
Sabrina memberanikan diri mengajak lawan jenis dihadapannya berkenalan.
"Ya, tentu. Nama saya Eduardo," ucap Pria tampan itu.
"Saya Sabrina Khairunnisa, panggilan saja Sabrina." Mengulurkan tangannya.
Setelah membayar belanjaan mereka memutuskan untuk ngopi dan makan di food court dekat Supermarket tersebut.
"Bagaimana kalau saya traktir kamu?" Sabrina menawarkan diri untuk mengajak makan.
"Okey, asal tidak ada yang marah?" dengan senyum khas pria maskulin itu menerima tawaran Sabrina.
Mereka akhirnya mengobrol banyak dan Sabrina bertanya tentang Mr. Khai.
"Sudah lama ikut Mr. Khai?"
"Limayan lama sih,"
"Orangnya memang sekaku dan setertutup itu ya?" tanya Sabrina.
"Ah, tidak juga. Beliau orang yang baik,"
Eduardo sangat berhati-hati menjawab pertanyaan Sabrina agar ia tidak curiga.
__ADS_1
"Boleh tukeran nomor enggak? Siapa tahu kalau aku lagi butuh teman bisa calling kamu?"
"Kamu minta nomor aku buat ngajak aku jalan atau hanya ingin tanya-tanya tentang Mr. Khai?"
Sabrina seakan di skakmat oleh Eduardo.
"Ya, kamu lah ngapain Mr. Khai? Kepentingan aku hanya sama kamu ngajak jalan kamu kalau mau sih," Sabrina sangat to the point dalam hal perasaan. Sejak pandangan pertama ia ada rasa dengan Eduardo.
"Aku bolehkan panggil kamu Edward?"
"Ya, boleh lah itu nama kecilku berhubung namaku diganti sama Mr. Khai jadi Eduardo ya sudah mau bagaimana lidah orang tua enggak bisa diapa-apain kan?" Eduardo alias Edward menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Hahaha ... Emang Mr. Khai itu lucu ya, susah ngomong sok Inggris sama kaya Pa-" seketika ucapannnya terhenti menginggat kebiasaan sang papa.
" Kamu kenapa?" Tanya Edward.
"Aku jadi ingat papaku, papa yang pergi ninggalin aku begitu saja tapi beliau selalu mengirimkan uang," Sabrina selalu sedih ketika mengingat sang papa.
"Ya, sabar saja. Siapa tahu suatu saat papa kamu luluh dan menemui kamu suatu saat nanti."
"Mustahil!"
"Hampir empat tahun papa menghilang, sedikit pun tidak pernah menghubungi aku. Hanya berkomunikasi dengan orang suruhannya saja selama ini, aku seperti dibuang oleh papa seakan-akan ditelantarkan begitu saja."
Sabrina menceritakan keluh kesahnya.
"Seandainya kamu tahu papa kamu juga sangat merindukanmu dikala dia sendiri diruangan kerja yang sangat luas itu," batin Eduardo.
"Kamu kenapa? Edward?" Tanya Sabrina seketika membuat tersadar lamunannya.
"Enggak apa-apa! Cuma ketika kamu memanggil nama Edward menginggatkan saya hidup di panti," ungkapnya.
"Oh maaf! Aku bisa panggil nama baru kamu yang diberikan Mr. Khai kalau kamu keberatan," Sabrina merasa tidak enak ketika mengingatkan masa kelamnya.
"Ya, enggak apa-apa. Mr. Khai terpaksa mengganti nama aku karena ingin melindungiku awalnya, entah apa yang dibicarakan sama ibu panti hingga semua diganti dan di rubah. Oeang yang menitipkan aku pun sudah tidak datang lagi ke panti semenjak ulang tahun terakhirku," terlihat raut wajah sedih itu menghiasi wajah tampannya.
"Oh, iya aku lupa! Teman aku di rumah sendirian, aku pamit dulu ya. Next time kita ketemu lagi see you!" Pamit Sabrina kepada Eduardo.
"Eh iya, semuanya sudah aku bayar lewat kode QR." Wanita itu pun lalu pergi meninggalkan pria yang baru dua kali ia temui.
Sesampainya di rumah Suci sudah berdiri cantik di depan pintu.
"Nona cantik ini pergi belanja lama sekali ya?"
"Iya, maaf tadi ketemu teman," Sabrina beralasan bertemu seseorang.
"Cewek apa cowok? Ah pasti cowok sampai lupa teman sendiri belum makan sedari siang sampai sore, dan sekarang pukul 19:00 malam." Suci berpura-pura kesal.
"Tenang-tenang aku enggak lupain kamu sepenuhnya, aku bawain makanan dari restauran tadi, aku bawa nasi goreng seafood dan spaghetti." Memberikan Tote bag warna coklat berisi makanan.
"Kamu tadi kencan?" Tanya Suci.
"Enggak! Ini tadi baru ketemu, ketemu yang kedua kalinya maksudnya." Sambil menggaruk-garuk wajahnya yang tidak gatal.
Suci hanya tersenyum kecil melihat kegugupan Sabrina.
"Kenapa sih senyam-senyum?" Tanya Sabrina terlihat senyuman Suci sangat aneh.
"Enggak apa-apa, kamu kelihatan lucu." Tak kuat menahan tawa melihat Sabrina makin aneh.
"Ngomong-ngomong dia siapa?"
"Siapa?"
"Pria itu,"
__ADS_1
"Oh, itu. Anak buah seseorang yang mirip papaku namanya Edward!"
"Huk-huk!"
Suci tiba-tiba tersedak makanan.
"Kamu kenapa? Kamu enggak apa-apa kan? Ini minum." Memberikan segelas air putih.
"Edward siapa?"
"Edward, Eduardo!"
"Haaaa!" Lagi-lagi Suci tersedak spaghetti.
Enggak salah lagi dia adalah anak buah Mr. Khai. Mangkanya Suci sempt terkejut ketika mendengar nama Pria itu. Pria yang terkenal dingin dan pelit bicara. Bahkan beberapa kali mereka bertemu jarang sekali mengobrol, entah mengapa waktu itu dia antusias sekali ketika bertemu dan bertanya tentang Sabrina.
Selesai makan Suci lalu membereskan makanannya dan mencuci peralatan makannya. Lalu ia segera menuju kamar miliknya yang bersebelahan dengan Sabrina. Setibanya di kamar ia lalu memcet tombol kuci terbuka lalu mengirim pesan singkat lewat aplikasi hijau itu.
'Hai-hai cie-cie hmmm!'
Tulisnya.
Tak menunggu waktu lama balasan itu pun ia terima.
'???'
'Napa loe?'
Tulis Eduardo
'Cuuuaaakks! Ada yang jatuh cinta nih' ledek Suci
'Siapa?"
'Kamu sama Nona muda'
'Kirain!'
Pria itu menyudahi percakapannya.
"Tuh kan kebiasaan," umpat Suci.
***
Perjumpaan dirinya dan Sabrina seakan mengikis lembaran kelam dihidupnya, mereka kini sering intens bertemu dan berbincang-bincang. Menemukan suana baru di hidupnya yang membawa warna indah. Eduardo tidak perduli dengan masa lalu Sabrina yang kelama, baginya setiap manusia pasti punya masa lalu. Baik masa lalu yang indah atau yang buruk, begitu juga dengannya dia tahu rasanya bagaimana kehilangan orang tua. Terkadang Eduardo juga akan menghibur Sabrina guna mengurangi rasa kesepiannya.
Kedekatan mereka pun sampai ke tenga Mr. Khai, dan mempertanyakan seberapa jauh hubungan mereka.
"Seberapa jauh hubungan kamu dengan Sabrina?"
Tanya sang boss kepada anak buahnya sekaligus papa Sabrina.
"Hanya sebatas teman ngopi dan ngobrol saja Mr.Khai," ungkap Eduardo.
"Apa tidak apa-apa jika saya dekat dengan anak Mr. Khai?" Eduardo berani mempertanyakan pendapat Mr. Khai terhadap hubungan mereka.
"Tidak masalah, selama kalian bisa menja diri dan tidak saling mengecewakan. Satu pesan saya jika ingin berlanjut ke jenjang yang lebih serius kalian harus mendalami karakter masing-masing, takut ketika salah satu diantara kalian ada yang bosan dan salah satunya masih ada rasa akan menyakiti salah satunya. Dalam hubungan yang terpenting adalah sebuah komitmen," tutur Mr. Khai.
"Kalaupun senisal kalian ada jodoh saya juga tidak berkeberatan jika kalian menikah, saya yakin kamu pasti bisa menjaga Sabrina."
****
Lampu hijau sudah Eduardo terima dari Mr. khai, sementara Sabrina dan Eduardo masih merasa nyaman menjadi teman ngombrol.
__ADS_1
Disis lain Suci pun sama mendukung hubungan mereka, berharap mereka akan menjadi dua sejoli.