
LIKE KOMEN DAN VOTENYA DONG:')
Aku memalingkan wajahku menatap kearah Exel sambil tersenyum menyeringai. "Giliranmu sayang..."
Aku melangkah mendekati Exel perlahan, deruan nafasnya terdengar sangat berat seperti orang yang ketakutan, bahkan masih sempat-sempatnya ia berkeringat padahal saat aku menyentuh tubuhnya itu terasa sangat dingin.
Aku kembali menempelkan pisau yang berlumuran darah kewajah Exel, perlahan dengan penuh kelembutan aku membelainya kemudian berkata, "Apa kau tahu aku sangat mencintaimu?"
"Tidak, Riyana. tolong lepaskan aku maafkan aku, aku juga sangat mencintaimu, aku salah Riyana, aku salah."
Aku begitu tersentuh dan sedikit kasihan pada Exel, bisa dikatakan ini adalah kali pertama ia memohon padaku. karna beberapa tahun menjalani hidup dengannya aku selalu memberikan segalanya pada Exel tanpa harus menunggunya mengemis seperti ini.
Mataku mengembun. dengan bibir bergetar sedikit mengerucut, "Sudah terlambat, sayang. aku memberikan hatiku secara cuma-cuma padamu, dan kau menghancurkannya begitu saja." ucapku lirih.
__ADS_1
Sesaat aku tertunduk hanyut terbawa suasanan yang bisa dikatakan sedikit drama dan agak lebay, aku terlihat menyedihkan dihadapannya kemudian aku terkekeh, "Ahahahahaaaaa...." aku mencengkram wajah Exel dengan kuat hingga bibirnya memoncong. "Sekarang aku akan menghancurkan hatimu!"
Mata Exel membulat, ia sudah benar-benar tidak bertenaga untuk melawanku. aku melepaskan cengkramanku dan menempelkan ujung pisau ditanganku tepat didada sebelah kirinya.
"Riyana, a... apa yang akan kau lakukan?"
Aku memiringkan senyum, mendekatkan wajahku kewajahnya. "Aku rasa kau sudah tahu apa yang akan aku lakukan."
Perlahan aku menusukan pisau tersebut, sambil menenggelamkan wajahku didua bola mata milik Exel. "Aku akan menghancurkan hatimu secara langsung, aku rasa ini lebih menyenangkan dari pada membalasnya dengan cara membalas perselingkuhanmu."
Exel sudah tidak bergerak, meskipun matanya masih terbuka, aku tidak yakin. apa dia benar-benar sudah mati?
"Ahhhh..." Aku langsung menarik pisau yang menacap tersebut, mulut Exel sedikit terbuka dan matanya melotot. "Bodoh, kau lemah sekali. aku belum menghancurkan hati dan jantungmu, menyebalkan!"
__ADS_1
Sreak... Aku merobek bagian yang sudah berlubang tersebut, memasukan tanganku kedalamnya untuk mengambil jantung dan hati milik Exel. sebagain orang menganggap hal ini menjijikan, tetapi dengan melakukan hal ini aku merasa mendapatkan kepuasan, seseorang memang harus sedikit lebih brutal jika tidak ingin terus-terusan ditindas. bagian demi bagian aku potong menggunakan pisau, kemudian potongan jantung dan hati tersebut aku masukan kedalam mulut Exel.
Prankkk... aku melempar pisau ditanganku kesembarang arah, kemudian menghela nafas dengan kasar. sedikit kesal karna mereka mati dengan begitu mudah, padahal aku belum cukup puas membuat mereka merasakan kesakitan.
Aku berpikir keras, bagaimana aku membereskan mayat-mayat ini? jika aku diamkan pasti akan menjadi bangkai. aku meraih ponsel Sharon dan mengirimkan sebuah pesan singkat kedalam grup sampah tempat para jalan*g itu menghinaku.
"Datanglah, Riyana mengundang kalian untuk makan malam. aku rasa ini waktu yang tepat untuk kita semua meminta maaf padanya."
Tanpa menunggu balasan aku langsung melempar ponsel Sharon kesembarang arah. aku melangkah mendekati mayat Sharon, dan mengambil sebuah pisau daging di dalam nakas berencana memasak hidangan untuk Janne dan Ruby. aku harus cepat memotong bagian tubuhnya, membersihkan semua ini sebelum kedua wanita sialan sekutu si jala*ng ini datang.
Hahahaa... inilah yang dinamakan teman makan teman sesungguhnya. aku akan memasak bagian kaki dan tangan Sharon, sisanya akan aku berikan pada anjin*g dan bab*i peliharaanku di belakang.
Untuk mayat Exel aku akan meleburkan badannya menggunakan cairan keras, untuk meninggalkan jejak. tapi aku rasa disimpan dalam kulkas sebagai stok makanan hewan bukanlah ide yang buruk.
__ADS_1
Aku menyeret tubuh Exel meletakannya didalam bathub, kemudian menyiramkan cairan keras keseluruh tubuhnya sebanyak mungkin. aku tersenyum puas saat melihat kulit Exel mengelupas sampai memperlihatkan tulangnya, warna air berubah menjadi merah pekat saat tubuh itu benar-benar sudah melebur.