Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 10


__ADS_3

Alvi berjalan perlahan menghampiri Arfi yang sudah berdiri di tengah panggung. Suaminya tampak begitu tampan dengan sebuket bunga ditangannya.


"Huuuuhh, wah wajahnya Arfi merah tuh, malu-malu, ew" teriak Bani menggoda. Para teman Arfi saling bersahutan menggoda nya. Hal itu sukses membuat sang mempelai pria tertunduk malu.


"Mas Arfi bisa malu-malu juga ya" bisik Alvi.


Arfi mendongakkan kepalanya, menatap Alvi yang sudah berdiri dihadapannya. Ia sejenak menatap mata istrinya, jantung Arfi berdetak kencang sekali. Ia memalingkan wajah karena tak bisa menahan senyuman malu itu. Para undangan kembali bersorak menggoda sang mempelai pria yang malu-malu. Sedangkan Alvi, ia memasang raut wajah khawatir, takut bila rasa sakit Arfi semakin parah.


Pemuda itu berusaha meyakinkan dirinya, ia kembali mendongakkan kepalanya dengan gagah.


"Alvi, terimakasih karena kamu mau menemani ku menjalani sisa hidup ini"


"Aku juga senang bisa menjadi istri Mas Arfi"


Setelah satu kalimat itu, Arfi berjalan semakin mendekat. Ia mengecup kening Alvi seperti janjinya. Tepuk tangan riuh dan ucapan selamat kembali terdengar. Ketika Arfi hendak menarik dirinya menjauh, Alvi menarik tangannya. Ia mengecup pipi Arfi singkat seraya melirik ke arah Ambar dan mantan pacarnya.


Terlihat amarah di wajah Ambar, Alvi tersenyum miring melihat semua itu. Bahkan Baim, sang mantan kekasih pun juga terlihat marah.


MC kembali mengambil alih, memeriahkan acara dengan kata-kata ajaibnya. Sesi selanjutnya, para tamu mulai mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Mengambil foto bersama dan sedikit berbincang.


Setelah beberapa waktu, kedua sahabat Alvi terlihat. Mereka memasang wajah cemberutnya.


"Gak lucu Alvi" oceh Vita kesal.


"Tau loe, jadi yang chat kita itu loe kan? Pantes aja gak masuk akal banget Kak Arfi tiba-tiba chat kita" imbuh Tasya tak kalah kesal.


"Iyadeh, sebagai permintaan maaf, kalian boleh foto sepuasnya sama Mas Arfi"


Vita dan Tasya sangat bersemangat, mereka bahkan meminta Alvi yang mengambil foto. Resepsi malam itu sangat melelahkan, terlebih harus melihat para mantan menyebalkan yang berusaha pamer kebahagiaan. Harusnya Alvi sadar, justru mereka yang dibuat kepanasan sebab Alvi lebih dulu mengikat hubungan pernikahan tanpa terlihat raut wajah penyesalan. Seolah kebahagiaan inilah yang ditunggu-tunggu akan datang.


Hari semakin larut dan akhirnya acara pun usai. Alvi baru saja selesai mandi, ia menatap Arfi yang tengah duduk sambil menonton televisi di sofa depan tempat tidur. Alvi yang melihat langsung berbaring dipangkuan Arfi.


"Kenapa? Sekarang apa?"

__ADS_1


"Emangnya aku manja ya Mas? Iiih bar nyebelin banget sih, kesel deh"


"Kamu emang manja. Udah sana tidur, aku mau nonton sepakbola dulu"


Alvi memandangi suaminya dengan kesal. Ia bangkit dari tidurnya dan pergi menuju kamar Bani. Bani dan Oddy tengah menonton televisi di ruang tamu. Ia mengunci semua pintu dan jendela di kamar Bani. Tak peduli lagi bahkan jika seseorang disana terus berteriak memanggil namanya. Ia memilih tidur dan melupakan semua hal sebab merasa sangat lelah hari itu.


Malam itu Alvi benar-benar tertidur dengan lelap. Ia tak terbangun sedikitpun hingga pagi menjelang.


Pukul 08:00 pagi...


Alvi mengerjakan mata dan perlahan membukanya.


"Pagi sayang" ucap Arfi yang tiduran disampingnya.


Gadis itu berbalik dan memunggungi Arfi, ia melanjutkan tidurnya. Tapi tidak dengan Arfi yang malah memeluk Alvi dari belakang.


"Maaf ya, jangan marah dong. Padahal semalam kamu tidur sambil meluk aku"


"Gak sadar. Minggir ah, males aku sama Mas Arfi"


Ah, godaan untuk pergi keluar rumah membuat hati Alvi luluh.


"Mauuuu. Mandi bareng yuk Mas"


Blushhh..


Wajah Arfi memerah mendengar tawaran itu. Ia tak pernah menyangka jika ternyata dirinya merasa semalu ini mendengar ajakan mandi bersama. Berbagai alasan Arfi lontarkan, tentu karena dirinya juga sudah mandi. Ia meminta Alvi untuk segera mandi sedangkan dirinya menunggu dilantai bawah.


Alvi menarik alisnya naik ke atas, padahal Arfi sering menggodanya seperti itu. Walau mengecewakan, sebenarnya Alvi pun masih tak siap. Tapi mengingat perkataan Ambar semalam, ia merasa sangat kesal. Memangnya siapa Ambar berani mengomentari hubungannya dengan Arfi? Alvi sudah bertekad bulat untuk menunjukkan pada dunia jika dia juga pantas untuk Arfi dengan caranya sendiri.


Hal yang membuat Alvi merasa menang dari Ambar adalah bisa mendapatkan Arfi. Pria yang selama ini Ambar sukai, bisa Alvi dapatkan tanpa melakukan apapun. Ia memejamkan seraya mencoba melupakan semua yang wanita menjijikkan itu katakan. Tapi bayangan Alvi kembali berputar mengenai malam itu. Ambar dan Baim, ah perbuatan mereka membuat Alvi meneteskan air mata.


"Cih, dengan menghabiskan malam bersama, loe bilang Baim milik loe? Kalian menjijikkan" lirih Alvi. Ia menatap cermin dan meninjunya dengan sangat kesal. Amarahnya seolah tak terkendali, Alvi benar-benar kalut dalam emosi.

__ADS_1


Tangannya kini terluka dan berlumuran darah, kimono putihnya pun seolah memiliki motif merah. Cukup lama Alvi terdiam di dalam kamar mandi, hingga Arfi yang lelah menunggu pun menghampiri dirinya.


Ceklek.....


Pintu kamar mandi terbuka, Arfi terkejut melihat Alvi yang melamun dengan darah ditangannya. Tanpa kata apapun ia menggendong Alvi keluar kamar dan mendudukkan nya di tempat tidur.


Arfi berlari turun untuk mengambil kotak P3K. Ia tak menjawab pertanyaan siapapun dan kembali ke kamar lalu mengunci kamarnya. Perasaan Arfi memang tak salah, ia yakin ada sesuatu yang terjadi dengan istrinya, karena itulah ia memutuskan untuk kembali kamar.


Saat tiba dikamar, Arfi tak mendapati siapapun disana. Ia mencoba mengetuk pintu kamar mandi namun tak ada jawaban, saat ia membukanya, pintu itu tak terkunci.


"Mas Arfi, kau disini?"


"Hm... sudah ku obati lukamu, ganti pakaian mu"


"Kau tidak mau bertanya?"


"Aku akan menunggu hingga kau mau membagi dukamu. Jangan menangis, aku tidak menyukainya. Aku sudah bilang bukan? Bagilah duka dan bahagia dengan suamimu kelak"


Air mata Alvi kembali menetes, dan sekali lagi Arfi menghapusnya. Ia mencium kedua tangan Alvi seraya mengatakan betapa ia amat sangat mencintai istrinya itu. Arfi akan berusaha yang terbaik untuk membuat Alvi bahagia.


"Mas Arfi akan menungguku kan?"


"Iya, sampai kapanpun aku akan menunggumu"


"Tolong jadikan aku milikmu. Bisakah kita melakukannya seperti suami istri? Aku... aku... benar-benar ingin menjadi milik Mas Arfi"


"Alvi, di depan Papa, Ayah, Bunda, Kakek, Kakakmu, dan semua orang. Bahkan dihadapan Allah, setiap malam aku memintamu dalam doaku. Aku tidak main-main, dan jika ada seseorang yang mengatakan kau bukan milikku, ada seribu orang yang menentang nya dan akan selalu seperti itu"


"Aku tidak mengerti"


"Artinya, jika ada satu orang yang tak suka, ada seribu orang yang mendukung kita, sayang. Jadi kau tak perlu pedulikan mereka, mengerti?"


Alvi tersenyum kecil mendengar penjelasan Arfi. Ia memeluk suaminya dengan sangat erat, hingga membuat Arfi mendorongnya menjauh. Ia menatap kepergian Arfi keluar kamar, lalu memperhatikan tangannya yang diperban. Arfi sangat dewasa, ia bahkan tak marah atau bersikap gegabah. Pesonanya sekali lagi membuat Alvi lupa akan hal yang menimbulkan kebencian dalam hatinya.

__ADS_1


Arfi memang pria idaman semua wanita.


__ADS_2