Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 60


__ADS_3

"Dek, Arfi bekerja keras demi membuktikan jika dia bisa membuat mu bahagia. Dia menunggumu, walau punya kesempatan untuk dekat dengan wanita lain. Loe akan jadi wanita terbodoh jika melepaskannya" bisik Oddy.


"Gue harus apa Kak?"


"Oke sorry karena ngerusak rencana loe. Arfi itu milik loe, pertahankan"


Oddy mencium pucuk kepala adiknya kemudian pergi keluar kamar. Diikuti oleh Bani yang menyemangati adiknya juga. Ia juga ikut keluar kamar dan berpesan pada Arfi agar mengunci pintunya.


Arfi masih diam berdiri dibelakang pintu sambil memandangi istrinya. Suasana begitu sunyi membuat Alvi tak bisa menahan tawanya. Benar kata Oddy, ia memang wanita bodoh, harusnya Alvi sadar jika Arfi tak boleh ia relakan untuk siapapun. Mungkin tak ada pria sebaik Arfi didunia ini untuknya lagi.


Alvi merentangkan tangannya, berharap Arfi akan datang dan memeluk dirinya.


"Maaf Mass"


"Tidak, cukup, aku sudah lelah selalu mengalah, tapi kali ini berbeda. Kamu harus buat aku agar tak lagi marah, dengan caramu"


Arfi pun pergi keluar ruangan, tak lama setelah itu Zahra, Niza dan Maya masuk membawa makanan untuk Alvi. Dokter bilang Alvi harus makan dengan teratur untuk memulihkan tenaganya. Maya menyuapi menantunya dengan penuh kasih sayang.


Maya juga memberitahu Alvi semua yang terjadi. Bu Titin yang merupakan Ibu Aisya meminta Arfi untuk meninggalkan putrinya. Ia sangat menyesal atas semua yang terjadi. Terlebih para warga begitu marah dan mengusir nya dari kampung.


"Diusir? Terus nanti mereka tinggal dimana Bund? Kok para warga jahat gitu sih. Kak. Zahra, bisa tolong telfon kan Kakek?" Oceh Alvi khawatir.


"Kakek sudah mengurus semuanya. Kakek tau kau akan sepanik ini, jadi beliau memberikan Bu Titin tempat tinggal dan pekerjaan di salah satu villa milik Kakek" jelas Zahra.


Tak bisa disembunyikan jika Alvi merasa begitu lega atas apa yang terjadi. Ia ingin sekali melihat Aisya dan putrinya, namun semua orang melarang. Mereka ingin Alvi memutuskan hubungan itu, mungkin lebih tepatnya menjauh agar semuanya kembali seperti dulu.


Selepas makan, Alvi kembali duduk bersandar sambil memainkan ponselnya. Ia seolah lupa atas semua kata kebencian yang Aisya lontarkan. Levia benar, tidak ada hubungan yang selalu baik-baik saja, terkadang kita memiliki hubungan yang buruk dengan orang lain tanpa sebab yang jelas. Disaat beban pada diri Alvi hilang, ia selalu teringat Mamanya. Levia mengajarkan banyak hal pada Alvi sejak kecil.


Wajah Alvi tiba-tiba tersipu malu, ia tersenyum tanpa alasan sambil menatap ponselnya. Melihat foto-foto dirinya dan Arfi, Ardi memang yang terbaik, ia memulihkan semua yang ada di ponsel Alvi dan memindahkannya ke ponsel baru putrinya.


Ah, dulu kami terlihat sangat bahagia. Tidak, dulu ataupun sekarang, kami harus bahagia. Astaga, apa yang harus aku lakukan? Aku ingat malam itu bersamanya dan dia memanggilku gadis nakal, menyebalkan.

__ADS_1


Alvi yang sibuk dengan pikirannya tak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh. Arfi tengah mencari tau apa yang dilakukan istrinya, ia penasaran apakah Alvi akan mencari cara agar mereka berbaikan. Tapi yang ia dapat malah Alvi tersipu tanpa alasan didalam sana.


Apa yang dia pikirkan? Apa ada pria yang mengirimi dirinya pesan? Aku ingin tau, tapi aku harus pura-pura marah padanya.


Arfi tengah bergulat dengan pikirannya, sebagai seorang laki-laki ia juga harus mempertahankan harga dirinya. Namun rasa ingin tau pada istrinya lebih besar dibandingkan apapun baginya. Pada akhirnya, ia kalah dengan perasaan cinta itu.


"Kamu kenapa senyum-senyum lihat hp?"


"Lihat foto kita, lucu ya, pingin buat kenangan lagi. Kenapa sih aku harus lupa tentang kita?"


"Oh, kirain lagi ngapain"


"Perutku sakit banget, lagi haid nih"


"Loh apa? Kok bisa? Sekarang? Tapi kan, rencananya kita malam ini"


Wajah kecewa Arfi membuat Alvi tak bisa menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak karena Arfi percaya pada lelucon itu. Itu adalah rencana Bunda, agar Arfi tak lagi pura-pura marah dan tak peduli.


"Makanya, jangan pura-pura marah, nanti gak dapat jatah loh. Dasar cowok mesum" bisik Alvi lalu mencium pipi suaminya.


"Uh apa? Nakal ya kamu, aku emang gak bisa marah sama kamu. I love you"


"I know"


"Jawab dong sayang, curang banget sih kamu"


Alvi menjulurkan lidahnya, memeluk suaminya yang kini sudah menjadi miliknya seutuhnya. Tak ada lagi orang lain diantara mereka, dan Alvi berharap kedepannya tetap seperti ini. Hanya ada dia dan Arfi dalam hubungan ini, hanya mereka berdua.


"Sudah gue bilang kunci pintunya, ini malah dibuka lebar" celetuk Bani.


"Apa sih Kak? Kita gak ngapa-ngapain kok, lagian ini kan rumah sakit"

__ADS_1


"Arfi, berdiri loe. Tuh lihat, gak ngapa-ngapain tapi punya Arfi tegang. Udah lama ya gak ada yang bangunin? Kasihan" ejek Bani.


Plakk....


Alvi memukul jidat Bani, ia menatap Kakaknya dengan kesal dan memintanya untuk menjauh dari Arfi.


"Dih, siapa juga yang mau ambil punya loe"


"Apa'an sih? Gak jelas loe Kak. Kamu juga, kenapa bangun gitu sih, cowok mesum"


Arfi hanya tertawa sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Alvi menarik pakaian Arfi keluar untuk menutupi milik suaminya yang menegang tanpa alasan itu. Bagaimana jika nanti ada wanita lain yang melihat? Itu tak boleh terjadi. Alvi tak akan membiarkan wanita lain mendekati miliknya, tak akan pernah.


"Dek, mau bulan madu kemana?" Goda Bani. Ia memainkan tangan Alvi dengan mata sendu yang menatap adiknya. Arfi kembali keluar ruangan untuk menerima telepon. Harusnya ia pergi ke restoran, tapi istrinya lebih penting dari apapun.


"Kenapa gue? Kakak aja sana yang bulan madu, ajak Kakak ipar jalan-jalan keluar negeri. Kan sekarang gue udah sembuh"


"Iya pasti. Sekarang gue gak punya alasan buat sedih lagi"


"Kak, jangan mikirin gue terus. Gue tau Kak Bani sayang gue, tapi Kakak juga harus lebih sayang keluarga Kakak"


"Kalau loe kenapa-napa, gue harus bilang apa ke Mama nanti? Mama nitipin loe ke gue, jadi gue harus pastikan loe bahagia dan aman"


"Mana mungkin gue gak bahagia, kalau suami gue sesempurna Arfi Kak. Iya kan sayang?"


Bani mengangguk setuju, tapi tetap saja, sebagai seorang Kakak ia akan memastikan adiknya bahagia apapun yang terjadi nantinya.


Tuan Salim masuk kedalam ruangan, ia menepuk pundak Bani dengan rasa bangga. Ia tak pernah menyadari jika cucu lelakinya begitu bijaksana walau terkadang keras kepala. Setelah melihat semua ini, tak ada keraguan dalam diri Tuan Salim untuk menyerahkan salah satu perusahaannya ke tangan Bani.


"Aku gak mau Kek"


"Ini perintah bukan penawaran. Jadikan usahamu sebagai cabang, Kakek kan juga punya usaha konveksi. Jangan keras kepala!!"

__ADS_1


__ADS_2