
Selama perjalanan pulang, Arfi terus mendekap Alvi dalam pelukannya. Ia sesekali mencium kening Alvi dengan lembut dan menepuk-nepuk lengannya agar nyaman tertidur. Tapi karena posisinya memang tak nyaman, Alvi pun terbangun dari tidurnya.
"Hoamm.. Mas Arfi? Kakak? Kok aku disini?"
"Kamu gak apa-apa sayang? Aku takut kamu kenapa-kenapa" lirih Arfi sedih.
"Apa sih aneh banget nih cowok, aku gak apa-apa emang aku kenapa? Ganggu orang tidur aja" oceh Alvi.
Terdengar suara tawa Bani yang ada di bangku mengemudi. Adiknya selalu saja seperti itu, menggoda seseorang dan menyembunyikan kesakitan nya. Alvi kembali menjatuhkan dirinya ke pelukan Arfi, ia berharap suaminya memahami jika Alvi akan selalu baik-baik saja.
Bani tiba-tiba saja menepikan mobilnya, ia memasang pembatas antara kursi depan dan belakang. Tak ingin melihat pengantin baru yang tengah bermesraan disana.
"Apa'an sih Kak? Mas Arfi jadi malu tau" oceh Alvi seraya membuka tirai itu.
"Emang kamu gak malu?"
"Malu? Alvi? Malu-maluin yang ada" sahut Bani. Ia kembali melajukan mobilnya pulang kerumah.
Selama perjalanan pulang, Alvi terus saja berbicara. Menceritakan apa yang ia lakukan untuk menjatuhkan Ambar di mata banyak orang. Sebenarnya saat itu Alvi hendak melawan, tapi matanya lebih dulu melihat seseorang yang merekam. Ia tak ingin menjadi pelaku, biarkan saja bar jatuh sejatuh-jatuhnya tanpa perlu Alvi mengotori tangannya.
Seperti yang Alvi pikirkan, video itu telah menyebar dan alasan Bani serta Arfi menjemputnya juga karena video itu. Alvi sebenarnya tak peduli, ia sudah biasa menjadi topik utama perbincangan orang-orang. Mulai dari pelakor, anak sultan, cewek murahan, gadis manja bahkan cucu tersembunyi Tuan Salim. Rumor itu tak pernah sekalipun membuat Alvi melemah, karena memang ia tak memedulikannya.
"Mas Arfi pernah dengar rumor tentang aku gak?"
"Pernah, kenapa?"
"Mas Arfi kok gak pernah tanya aku tentang kebenaran itu?"
"Kalau kamu gak mau cerita ya udah. Mau gimana lagi? Sekarang gini deh, semua rumor itu benar?"
"Terserah gimana pemikiran Mas. Kalau mikir itu benar ya benar, kalau salah ya salah"
"Sama, aku juga kayak gitu. Gak peduli"
Alvi menganggap semua yang Arfi katakan sangatlah manis. Ia tersipu malu dan salah tingkah seorang diri. Seraya mengelus-elus paha suaminya tanpa ia sadari.
"Kamu mau goda aku ya?" Tanya Arfi mengehentikan tangan nakal istrinya.
Gadis itu menutup tirai pembatas lalu menarik Arfi mendekat. Pemuda dihadapannya menatap dengan gugup.
__ADS_1
"Aku kan istrimu Mas" bisik Alvi tepat di telinga suaminya.
"Alvi, cukup. Ban gue pindah depan ya, gak tahan disini" sentak Arfi yang salah tingkah.
Alvi tertawa terbahak-bahak, lucu sekali Arfi tak bisa mengendalikan perasaannya. Padahal Alvi masih ingin bermain-main, tapi Arfi malah memilih menjauh. Bani hanya bisa diam sebagai penonton.
Sebelum pulang, Bani menghentikan mobilnya di supermarket untuk belanja. Sebab ia dan teman lelakinya akan mengadakan barbeque. Melepas penat katanya sebelum KKN dimulai, hanya teman-teman pergaulan Bani di kampus tentunya. Pemuda itu bahkan mewanti-wanti Arfi dan Alvi untuk tidak ikut serta, sebab mereka juga mengadakan pesta minuman.
"Mas marahin Kakak, minuman itu gak baik kan Mas"
"Aku? Tapi aku adik iparnya, aku bisa saja memukulnya. Namun tetap saja, bagaimana jika dia marah dan menjauhkan kita"
"Mas Arfi lebay banget sih. Kalau gitu kita belanja buat kita aja yuk, biarin aja tuh cowok nyebelin, wleee"
Arfi tersenyum, ia merangkul pundak istrinya dan mengikuti kemana Alvi pergi. Mereka membeli beberapa makanan ringan dan juga buah pisang tentunya.
"Sayang, kamu gak apa-apa? Video itu udah nyebar, orang tua kita juga khawatir"
"Aku gak apa-apa Mas, selama Mas Arfi percaya padaku. Istrimu ini akan selalu baik-baik saja, I love you"
"I love you too" jawab Arfi sembari mendekap istrinya.
"Ha? Gue yang mau pesta kok kalian yang heboh" omel Bani saat mereka telah usai berbelanja. Ia benar-benar tak habis pikir, Alvi menghabiskan sebanyak itu hanya untuk belanja makanan. Tapi gadis nakal itu tak peduli dan menikmati es krimnya dengan senyuman lebar.
Di rumah Ardi..
Alvi langsung melesat masuk ke dalam kamar dan mandi. Ia tak ingin membantu para lelaki itu untuk menata barang belanjaan. Tingkahnya sekali lagi membuat Bani naik darah.
Arfi mencoba menenangkan Bani dengan mengambil alih banyak barang belanjaan.
"He bodoh, jangan manjakan dia seperti ini. Loe suaminya, atur dia dengan baik" sentak Bani kesal.
"Biarkan saja, dia masih kekanakan Ban. Tingkahnya sangat lucu"
"Adik ipar, dengarkan gue baik-baik. Kalau gue lihat loe gak bisa ngatur dia, gue pisahin kalian biar tau rasa" ancam Bani kemudian berlalu masuk kedalam rumah.
"Oi, Ban, jangan gitu dong. Loe tau kan gue gak bisa apa-apa di depan Alvi. Hatiku gue lemah Ban"
Bani meninju perut Arfi dengan perasaan kesal, padahal pemuda itu selalu bersikap dingin pada para wanita. Tapi kenapa malah begitu lunak di hadapan gadis nakal seperti adiknya. Arfi memang pemuda yang aneh, Bani juga pernah jatuh cinta tapi tidak selemah itu dihadapan wanita. Pikirnya, sebagai seorang lelaki harus bisa mengatur wanitanya, harusnya seperti itu nyatanya.
__ADS_1
Seusai mendengar ceramah yang amat sangat panjang tanpa henti. Arfi berjalan menuju kamarnya, ia mendapati istrinya tengah berbaring sambil bermain ponsel.
"Massss"
"Iya, kenapa?"
"Aku udah selesai haid" jelas Alvi dengan malu-malu.
"Bagus, aku mandi dulu, kita sholat Maghrib jama'ah ya" sahut Arfi yang melengos pergi masuk ke kamar mandi.
"Apaaa? Gitu aja? Tapi kan, kita? Hm..." gumam Alvi tak yakin dengan apa yang ia dengar. Kesal sekali mendengar jawaban itu, bukan itu yang ingin Alvi dengar.
Beberapa menit kemudian..
Arfi keluar kamar mandi dengan sebuah handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya. Ia bergegas mencari pakaian nya karena adzan Maghrib sudah mulai terdengar. Setelah bersiap, ia kembali mengajak Alvi untuk turun kebawah. Ini sudah waktunya, Arfi sangat ingin menjadi imam istrinya. Tapi gadis itu malah tak peduli dan asik main game di ponselnya.
"Alvi, ayo" ajak Arfi dengan nada dinginnya.
Nada itu membuat Alvi sedikit tersentak, ia menoleh menatap suaminya yang memunggungi dirinya.
"Aku gak mau"
"Ayo kita turun"
"Gak boleh maksa Mas"
"Harus dipaksa agar jadi kebiasaan, ayo"
Alvi masih diam diatas tempat tidur, memandangi Arfi dengan wajah berkerut. Karena lama tak bergeming, Arfi berbalik menghampiri istrinya.
"Ayo" sentak Arfi dengan nada sedikit tinggi.
Alvi tak menyukainya, tidak ada yang pernah berani membentak nya seperti ini. Bahkan Tuan Salim dan Ardi pun tak pernah melakukannya. Mereka hanya pernah marah, tapi tidak dengan nada setinggi dan sedingin ini. Hati Alvi terluka mendengar nya, ia berdiri dan mengikuti Arfi turun kebawah.
Di rumahnya memang ada ruangan khusus untuk musholla kecil. Memang jarak rumah Ardi ke Masjid lumayan jauh. Bani sudah terlihat duduk di dalam sana menunggu Arfi.
"Tumben loe dek?"
Alvi tak bergeming, ia hanya diam dan mengikuti arahan Arfi. Mereka bertiga pun memulai sholat dengan Arfi sebagai imam nya.
__ADS_1