
Para warga kembali bekerja setelah istirahat sejenak. Rama dan teman-temannya yang sedang membersihkan selokan, bermain-main hingga airnya menciprat kesana-kemari.
"Hei, jangan main-main, jadi kotor nih" ujar salah seorang wanita yang tadi mencibir Alvi.
Spontan saja Rama dan gerombolannya tertawa terpingkal-pingkal. Padahal hanya terkena sedikit air kotor, wajah para gadis itu sudah dipenuhi amarah.
"Gak lucu tau gak, nyebelin banget kalian" timpal wanita lainnya.
"Yaelah, baru kotor sedikit aja udah marah-marah. Lihat tuh sih anak sultan aja ngobrak-ngabrik selokan pakai tangan kosong" sahut Rama.
"Iya, pakaiannya yang harga jutaan sampai kotor gak masalah. Kalian cuma kena dikit aja marah-marah" imbuh teman Rama lainnya.
Para gadis itu menghentikan pekerjaannya dan pergi dengan raut wajah kecewa. Mereka menangis dan menahan malu karena hinaan para lelaki itu. Aisya juga menatap Alvi dengan kebencian yang besar. Para lelaki itu hanya bisa berseru kala gadis-gadis pergi menjauh.
Alvi tak mengerti, kenapa Aisya amat sangat membencinya. Walau itu sudah biasa, tapi terkadang Alvi juga merasa tak nyaman di tetap dengan mata itu.
"Kakak ipar tenang saja, kami ada dipihakmu" ucap Arka menenangkan.
Kau gadis yang kuat Alvi, kau memang istimewa. Mereka hanya tak tahu apa saja yang kau alami, pikir Alvi seraya menatap istrinya yang tengah tersenyum.
Rama dan kawan-kawan berganti menggoda Arfi yang terus memperhatikan sang istri. Bukannya bekerja, Arfi malah melamun menatap gadis yang dicintainya, memang dasar bucin. Mereka sudah tak terkejut dengan ini, sebab sudah dari dulu Arfi menyukai Alvi. Awalnya teman-teman Arfi tak percaya, tapi pemuda itu sering melamun dan gelisah tanpa sebab.
"Waaah, lagi ngapain nih kalean" seru Oddy yang tiba dengan teman-temannya. Ia menaiki motor sport beriringan, membuat Arka dan teman-temannya ikut tertarik melihat.
"Kak Oddy, ngapain kalian semua disini?" Tanya Alvi.
"Gimana ya, perasaan seorang Kakak. Gue ngerasa loe dalam masalah, karena itu datang kesini buat bantuin loe"
"Bagus tuh, parkir motor kalian disana. Terus ikut bersih-bersih tuh alatnya" perintah Arfi seraya menunjuk pekarangan rumahnya dan alat-alat yang ditinggalkan oleh Aisya serta gengnya.
Oddy dan kawan-kawan memarkirkan motor mereka lalu menghampiri Alvi memberikan banyak makanan untuk gadis itu. Aneh sekali, Alvi merasa teman-temannya berlaku aneh hari ini. Tapi Alvi hanya mengangguk senang dan berterima kasih pada semua kakak lelakinya.
Beberapa jam berlalu sudah, akhirnya kerja bakti telah usai. Para warga berbondong-bondong pergi ke pesantren untuk menikmati makanan berat yang lezat. Alvi juga ikut serta bersama sang suami tentunya.
__ADS_1
Hidangan prasmanan sudah tersedia, para warga berbaris untuk mendapatkan bayaran atas kerja keras mereka dengan sepiring nasi dan berbagai lauk.
"Alvi" sapa seseorang yang berdiri tak jauh dari hadapan Alvi.
"Arif? Loe kok ada disini? Loe tinggal di daerah ini juga?" Cecar Alvi dengan banyak pertanyaan.
Arif tengah berkumpul bersama teman-temannya, menikmati hidangan kecil di bawah pohon rindang. "Kau kenal dengannya Rif?" Tanya Pak RT menyela.
"Iya Pa, kita udah temenan lama, sejak aku masih SMA" jelas Arif pada Pak RT yang merupakan Papanya.
Jika Arif anak Pak RT, berarti rumah besar itu adalah rumahnya, dan Bu RT adalah Mama Arif. Alvi menghela napas kemudian melengos pergi, ia tak ingin berurusan dengan RT menyebalkan itu.
"Alvi, ada apa?" Tanya Arif seraya menahan tangan gadis itu.
"Gak perlu pegang bisa kan" seru Arfi seraya menepis tangan Arif.
"Mending kita jaga jarak deh, daripada nanti nyokap loe marahin loe karena dekat cewek miskin kayak gue"
Arfi langsung merangkul istrinya pergi, tak perlu menjelaskan hal yang tak penting. Ia duduk di sisi yang jauh dari tempat Arif duduk. Alvi tampak tak selera makan dan hanya menyenderkan tubuhnya pada Arfi. Hal itu membuat Arfi menatapnya iba, jujur saja ia tak pernah menyangka gadis ceria dan nakal selalu di kelilingi oleh kebencian yang tak beralasan.
"Jangan menatapku dengan iba Mas, aku tak suka dikasihani" celetuk Alvi tiba-tiba.
"Kau baik-baik saja? Kenapa tidak mau makan?"
"Aku kenyang. Setelah ku ingat-ingat Mas Arfi menatapku dengan tatapan yang sama sejak kita pertama bertemu. Aku selalu bilang pada Mama jika aku ini istimewa, tapi Mama selalu bilang aku anak yang nakal"
Arfi tertawa mendengar cerita itu, sebab Alvi memang nakal tapi istimewa. Ia bahkan tak memahami data tarik apa yang Alvi miliki hingga membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Satu-satunya wanita yang Arfi cintai seumur hidupnya adalah sang istri tercinta.
"Adik, kenapa disana? Kemarilah" teriak Alvi pada bocah kecil yang tadi ia temui.
Anak laki-laki kecil itu lagi-lagi terlihat ragu dan bersembunyi di belakang tembok. Alvi menebak jika usianya sekitar lima atau enam tahun. Karena anak itu tak kunjung menghampiri, Alvi berlari dan menggendongnya kembali ke tempat duduknya. Ia memangku bocah kecil itu dan memainkan tangannya.
Bahkan sampai saat ini aku masih tidak mengerti, gadis seperti apa yang aku cintai ini, batin Arfi. Ia mengelus rambut Alvi dan mencium kepalanya singkat.
__ADS_1
"Kau sudah makan? Mau ayam ini? Namamu siapa? Dimana Ibu mu? Kenapa tidak bersamanya?" Rentetan pertanyaan dari bibir Alvi keluar begitu saja.
"Oh Nona Alvi, maafkan putra saya" ucap seorang Ibu yang berlari dari dalam pesantren. Ia langsung menyambar putranya dari pangkuan Alvi tanpa bertanya apapun.
"Ada apa? Kenapa? Kami sedang bermain"
"Maaf jika putraku membuat anda merasa tak nyaman"
"Tapi Bu..." belum sempat Alvi menyelesaikan ucapannya. Ibu itu membawa anaknya pergi masuk kedalam pesantren. Para warga hanya menatap saja sambil melanjutkan makan.
"Ada apa sih Mas? Emang aku kelihatan penyakitan ya? Kenapa anaknya gak boleh dekat aku?"
"Bukan gitu sayang, sudah biarkan saja. Makan makananmu, aku gak mau kamu sakit lagi"
Arfi menyuapi Alvi makanan, tapi gadis itu tetap menolak dan berkata jika dirinya sudah kenyang. Ia kembali merasa bosan di keramaian yang terasa sepi ini. Sedangkan Arfi melanjutkan makannya sambil berbincang bersama teman-temannya.
Mata Alvi menatap sekitar, semua orang sibuk berbincang. Ia benar-benar merasa bosan, berharap ada kejadian besar yang membuatnya tertarik.
"Nona Alvi, mau ikut ke sawah?" Panggil seseorang membuyarkan lamunan Alvi. Ada tiga orang pengurus pondok termasuk satu orang karyawan Tuan Salim berdiri tepat di pintu masuk pekarangan pesantren.
"Maauuu, Mas aku pergi dulu ya" pamit Alvi sambil berlari.
"Jangan capek-capek ya, jangan nakal" teriak Arfi yang dibalas acungan jempol oleh istrinya.
"Kak Alvi ikuuut" teriak Arka beserta teman-temannya. Mereka bergegas pergi mengikuti Alvi dan para orang tua itu yang sudah jalan lebih dulu.
"Kalian gak mau ikut juga? Bantu nanam padi sana!!!" Perintah Tuan Salim kepada kedua cucu beserta teman-teman cucunya.
"Males Kek, panas, kotor, baju ku kan mahal" jawab Bani seenaknya.
"Duaaa" sahut Oddy dan yang lainnya.
Tuan Salim hanya menggeleng melihat kelakuan para pemuda ini. Memang sudah seharusnya beliau menyayangi cucu perempuannya yang suka melakukan banyak hal walau kadang menghabiskan uang tanpa berpikir matang.
__ADS_1