
Sore menjelang...
Alvi beserta Arka dan kawan-kawan masih asik bermain di sawah. Padahal para orang dewasa sudah pergi lebih dulu sedari tadi. Alvi dan kelima anak lelaki itu tengah bermain layangan. Bersama dengan anak-anak lain dari kampung sebelah. Mereka terlihat seumuran karena tinggi badan Alvi yang tak beda jauh dari Arka dan hanya lebih tinggi sedikit saja.
"Wah Kak Alvi jago ya main layangannya" puji Arka.
"Kakak dulu juga suka main layangan di desa, asik soalnya" jawab Alvi gembira.
Anak-anak nakal itu tak peduli apapun saat mereka tengah bermain. Bahkan para petani sudah mengajak mereka pulang karena hari semakin sore. Sayangnya ajakan itu tetap tak bisa menggoyahkan keinginan mereka untuk bermain.
Tak berselang lama, pedagang makanan melintas. Saat inilah mereka membiarkan layangan mereka terbang tanpa pengawasan. Mengisi perut mereka yang keroncongan. Alvi tentu mentraktir semua anak disana sepuas mereka. Hingga para pedangan itu senang karena dagangannya habis tanpa perlu pindah ke lain tempat.
Sambil berbincang ria mereka menikmati makanan dan menatap layangan terbang. Mereka merasa senang bisa bertemu dengan Alvi, selain asik dan mudah diajak bergaul, ia juga seorang yang dermawan.
"Kak Alvi habis ini pulang kerumahnya ya? Gak asik deh, padahal kita baru ketemu" ucap salah seorang anak.
"Gak apa-apa, Kakak ipar bakal kesini setiap akhir pekan. Iya kan Kak?"
Alvi mengangguk pasti, memang sudah begitu perjanjiannya. Sebab Arfi juga ingin istrinya dekat dengan keluarganya.
"Kita juga boleh panggil Kakak ipar? Kak Arfi kan udah kayak kakak kita sendiri"
"Boleh terserah kalian aja. Pulang yuk, habis ini Maghrib nih, ntar dimarahin loh"
"Siap Kakak ipar"
Alvi dan Arka berjalan beriringan pulang kerumah. Jika Arka sedikit takut untuk pulang, Alvi malah merasa senang bisa menikmati hari dengan penuh canda tawa. Seolah ia kembali ke masa saat Mamanya masih ada bersamanya. Levia pasti akan marah jika melihat Alvi yang lusuh karena bermain seharian di sawah milik sang Kakek.
Terlihat Maya tengah berdiri pekarangan dengan tongkat dan mata melotot. Arka bersembunyi di balik badan sang kakak ipar, sedang Alvi menghampiri Maya dengan raut wajah ceria.
"Bagus ya kalian gak pulang-pulang, jam berapa ini?" Tanya Maya dengan nada mengintimidasi.
"Maaf Bunda keasikan main" jawab Alvi dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
"Arka?"
"Maaf Bunda"
Terdengar suara tawa Arfi dan para pemuda disana. Oddy dan Bani masih stay di tempat ini, mereka juga menahan tawa melihat adik perempuannya di marahi seperti anak kecil.
"Bohong tuh Bun, pukul aja biar gak diulangi" seru Bani dengan tawanya.
Bunda memukul perlahan setiap kaki anak-anaknya. Dan menceramahi mereka agar tak diulangi lagi. Setelah itu beliau meminta keduanya untuk masuk dan bergantian mandi sebab hari sudah sangat sore.
Awalnya Alvi dan Arka berjalan dengan tertunduk, setelah mereka cukup jauh dengan lokasi Maya, keduanya melakukan tos lalu tertawa bersamaan.
Melihat Alvi tersenyum membuat para Kakak nya ikut senang. Mereka sangat khawatir jika adiknya akan sedih dan mengalami beban berat seorang diri. Tapi sepertinya kedua Kakak laki-laki Alvi harus berhenti khawatir mulai saat ini. Sebab adiknya sudah menemukan kelurga baru yang baik dan seseorang yang akan selalu menjaganya dalam suka maupun duka.
"Kita cabut dulu ya, makasih jamuannya" ucap Bani berpamitan.
Arfi, Rama dan pemuda lainnya juga berterimakasih. Mereka memiliki teman baru yang asik, mungkin suatu hari nanti mereka akan jalan-jalan bersama bila ada waktu.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Bunda, aku juga bisa masak loh"
Hasyim, Arfi dan Arka sontak terbatuk-batuk mendengar hal mengejutkan itu. Walau nyatanya Arfi sudah pernah merasakan masakan Alvi sebelumnya, bubur abalon. Alvi mendengus kesal menatap tiga pria itu secara bergantian.
"Harus dong, anak Bunda harus bisa masak"
"Dulu Mama juga sering bilang gitu, tapi Papa sama Kak Bani gak pernah percaya. Emangnya aku kelihatan gak kayak cewek gak bisa masak ya Bund?"
"Iya lah, Kakak ipar kelihatan kayak Tuan Putri banget, mana ada anak sultan bisa masak, hahahah kocak" sela Arka dengan candaan.
"Cowok itu emang gak ngerti apa-apa ya Bund, sebel. Mas Arfi juga, Mama bilang, suami itu harus dukung istrinya tau"
Arfi menjitak kepala Arka dan memarahinya. Tapi Alvi masih merasa kesal, ia tak ingin berbicara dengan para lelaki disana dan hanya fokus makan sambil memandang ke arah Maya. Meski Arfi berusaha mengganggu istrinya saat makan, seolah Arfi tak terlihat oleh gadis itu.
__ADS_1
Pemuda itu menatap ke arah Maya, meminta solusi untuk menenangkan sang istri. Tapi Mata yang berada di pihak menantunya menghardikkan bahu tak ingin membantu Arfi. Tak habis akal, Arfi menoleh ke arah Hasyim. Untungnya sang Ayah yang sama-sama merupakan laki-laki bisa mengerti perasaan Arfi. Beliau menggerakkan bibirnya seraya mengedipkan sebelah mata.
Arfi langsung mengerti, ia mengode dengan suara batuk agar Alvi menoleh dan sang Ayah mengalihkan perhatian Arka.
Cup.. Satu kecupan di bibir sukses.
Pandangan Alvi terpaku menatap mata suaminya. Ia tersenyum malu-malu sembari melanjutkan makannya. Arfi juga menjadi kikuk dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Maya sama terkejutnya dengan Alvi, beliau terpaku dengan mata terbelalak lebar. Berbeda dengan Hasyim yang tertawa kecil. Sedangkan Arka hanya mengomel sebab sang Ayah tiba-tiba menutup matanya tanpa sebab.
Usai makan, Arfi menggiring istrinya masuk kedalam kamar. Ia juga langsung menutup pintu kamar saat mengetahui Arka mengikutinya.
"Mas, kenapa ditutup sih? Arka gedor-gedor pintu tuh"
"Biarin aja, ini waktunya kamu dan aku. Hm... gemes deh sama istriku ini" jawab Arfi seraya memeluk istrinya dari belakang.
Mereka berdua duduk diatas kasur sambil menonton televisi. Alvi terus memainkan tangan suaminya dengan manja.
"Mas"
"Iya sayang"
"Mas Arfi yakin gak ada hubungan apa-apa sama Aisya?"
"Yakin"
"Tapi dia kayaknya benci banget lihat aku, teman-temannya juga. Mereka tuh aneh banget tau gak, bilang aku anak sultan ini itu. Padahal semua barang yang mereka pakai KW tuh"
"Gimana ya Vi, maaf deh soalnya suami kamu ini idaman para wanita. Tapi tenang aja, aku cuma cintanya sama kamu, Alvi ku"
"Emangnya Mas Arfi dulu gak minder waktu tau aku cucunya Tuan Salim?"
"Minder? Hahahaha, banget Vi. Aku tau kamu cucunya Kakek waktu aku mau ngelamar kamu. Bani gak pernah bilang apa-apa kalau dia ternyata Kakak kamu. Makanya dulu aku gak suka waktu lihat kamu manja ke Bani dan Oddy"
"Terus gimana Mas?"
__ADS_1
"Ya kalau ditolak yaudah, setidaknya aku pernah mencoba. Lagian, yang aku cinta kan kamu, bukan gelarmu hahahah"
Alvi ikut terkekeh mendengar cerita suaminya. Entah siapa yang memberinya gelar aneh itu. Gelar yang membuat Alvi seolah tak bisa digapai oleh siapapun. Padahal gadis remaja ini sangat ramah dan suka bergaul dengan semua orang.