
Bani, Arfi dan Oddy duduk di sekitar Alvi sembari membaca Al-Qur'an bersama. Mereka mendapatkan telepon dari Pak Kyai, memintanya untuk melakukan hal tersebut. Sedangkan Alvi tak bergeming sama sekali, seakan ia tertidur begitu pulas.
Air mata ketiga ksatria Alvi menetes, kala gadis itu tak bernapas selama beberapa menit. Dokter mulai mengupayakan semua yang ia bisa. Hingga akhirnya jantung Alvi kembali berdetak bersamaan dengan telepon masuk dari Pak Kyai.
"Sayang, kumohon, bangunlah" bisik Arfi ditelinga istrinya. Ia sudah tak bisa lagi menahan emosinya, terlalu kalut dalam kesedihan. Bahkan Bani dan Oddy hanya diam dengan pandangan kosong menatap Alvi yang terbaring.
"Kenapa kalian menangis?" Tanya seseorang.
Ketiga pemuda itu mendongakkan kepala mereka, Bani segera memanggil dokter yang baru saja keluar ruangan. Arfi yang tersadar, bangun dari duduknya dan bergegas pergi keluar ruangan. Namun Alvi menahannya, kali ini bukan tatapan benci. Melainkan tatapan seseorang yang takut kehilangan.
"Arfi, kenapa aku melihatmu dalam mimpiku?" Tanya Alvi begitu lirih.
Apa ini artinya Alvi juga mencintai ku?, pikir Arfi.
"Fi, minggir bentar" pinta Bani menarik Arfi menjauh sebab dokter datang untuk memeriksa keadaan Alvi.
Dokter kembali menanyakan beberapa hal, dan gadis itu menjawabnya dengan tenang seakan tak ada yang terjadi padanya. Setelah dokter pergi, Alvi menatap ketiga pemuda itu dengan bingung. Alvi seolah lupa atas kemarahannya, ia benar-benar bersikap biasa saja.
"Gue tadi pingsan ya? Jadi gak bisa denger pidato Arfi deh"
"Itu bukan masalah, ntar aku pidato di depan kamu ya. Asal kamu baik-baik aja, itu cukup"
"Apa sih nih cowok gombal banget? Kakakkkk, nyebelin banget deh si Arfi"
"Dek, loe inget gak, apa yang loe katakan ke gue tadi?" Tanya Oddy menyelidik.
"Apa? Emangnya tadi kita ngobrol? Lupa gue Kak"
Oddy tersenyum dan menepuk pucuk kepala Alvi perlahan. Ia pergi berlalu dan mengabari Tuan Salim jika Alvi telah baik-baik saja. Gadis itu juga lupa akan hal yang membuatnya marah.
"Kakak sendiri? Istri sama anak Kakak gimana? Kenapa ditinggal? Kakak ini gimana sih, udah sana pulang. Gue sama Arfi dan Kak Oddy aja, aman kok" oceh Alvi.
"Mana mungkin, loe tuh prioritas gue sampai kapanpun Vi"
"Ya gak bisa dong. Kakak udah punya keluarga, besok kalau gue nikah juga kan suami gue yang jagain"
Bani menoleh ke arah Arfi yang tersenyum. Pemuda malang itu pasti terluka. Tetapi Bani tetap kekeh untuk tinggal disana sampai Alvi benar-benar baik-baik saja. Mereka berempat hanya duduk diam saling memandang. Tak ada pembicaraan apapun diantara mereka. Hal tersebut jelas membuat Alvi bosan dan merengek ingin pulang kerumah. Ia merasa jika dirinya telah baik-baik saja.
Gadis keras kepala itu masih tetap pada pendiriannya, begitu juga dengan Bani yang tak ingin menuruti. Arfi mencoba menengahi keduanya, sedangkan Oddy menanyakan pada dokter apakah Alvi boleh pulang.
Cukup lama perdebatan sengit itu, hingga Oddy kembali membawa kabar baik. Alvi boleh pulang, tapi ia tak boleh turun dari tempat tidur setidaknya untuk dua hari kedepan.
Setelah mendapat ijin, tentu mereka semua mengemasi pakaian Alvi dan membawanya pulang kerumah Ardi.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Di rumah Ardi...
"Aaahh" teriak Alvi seraya memegang kepalanya. Ia melihat kilasan masalalu, dirinya yang tengah berbincang dengan Arfi. Tapi kenapa? Kenapa Alvi mengingat saat itu, kala Arfi mencium keningnya dan menatapnya penuh cinta. Apa semua ini? Hanya khayalan atau memang kenangan?
Ketiga pemuda itu kembali panik, Bani yang menggendong Alvi segera membaringkan tubuhnya diatas sofa.
"Apa gue orang ketiga dalam rumah tangga Arfi?"
"Huush, ngomong apa sih loe dek?" Sentak Bani.
"Jangan memikirkan apapun, kumohon. Kau akan mengingatnya lagi, perlahan, jangan dipaksa ya" sahut Arfi khawatir.
Sungguh sial, Alvi tak bisa menahan perasaannya melihat Arfi begitu manis. Detak jantungnya kembali berdebar, membuatnya lemas kehilangan tenaga.
"Ban, gue tidur bareng Alvi ya"
Plleetakk...
Satu jitakan dikepala Arfi dari Bani tentunya.
"Mau ngapain loe?"
Alvi mengangguk, ia pikir ini kesempatan bagus untuk menanyakan segalanya pada Arfi. Tapi sayangnya Bani dan Oddy melarang, mereka ingin Alvi beristirahat total seperti permintaan dokternya. Jadilah Arfi tidur diruang tamu bersama dengan Oddy.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Esok hari tiba ....
Satu persatu teman Alvi berdatangan menjenguk gadis itu. Rumah Ardi begitu ramai dengan mobil maupun motor. Bi Inah dan istri Bani adalah orang tersibuk disana.
Tuan Salim dan para orang tua lainnya belum kembali sejak semalam. Mereka bilang harus ke suatu tempat untuk mengurus sesuatu.
"Kalian pada ngapain sih kesini? Gue gak apa-apa" ujar Alvi begitu santai. Ia duduk di ruang tamu sambil memakan buah pisang kesukaannya.
"Kita kan khawatir, bagus deh kalau loe gak apa-apa. Gue jadi rajin sholat buat doain loe" seru Vita.
Alvi dan teman-temannya begitu berisik. Mereka saling bertukar cerita saat sedang KKN saat ini. Alvi yang memang menyukai nya, begitu antusias mendengarkan hingga heboh sendiri kala para teman-teman nya mengalami hal diluar nalar.
Gadis remaja itu memang suka, ia dulu selalu membayangkan bagaimana nantinya saat dirinya juga KKN di desa terpencil atau sebagainya.
"Sudah siang anak-anak. Alvi harus istirahat dulu ya, kapan-kapan main lagi, oke" ujar Arfi yang tiba-tiba masuk dan membuyarkan semuanya.
__ADS_1
"Sialan si Arfi, ngapain sih loe disini? Pergi sana!!" Sentak Alvi kesal.
"Loh Vi, kok loe kasar sih sama Kak Arfi? Dia kan..."
"Sssttt, iya maaf Nona Alvi. Tapi ini perintah dari Tuan Salim dan Pak Ardi. Kalian pulang ya" pinta Arfi sekali lagi dengan nada dingin dan mata melotot.
Tanpa aba-aba, Arfi menggendong Alvi masuk kedalam kamar. Ia memberikan isyarat pada Oddy untuk menjelaskan semua yang terjadi pada teman-teman Alvi.
Di dalam kamar, Alvi mendengus kesal karena Arfi begitu menyebalkan. Ia berkali-kali berkata jika dirinya amat sangat membenci Arfi. Walau terdengar seperti candaan, hati Arfi sedikit sakit mendengarnya.
"Sekarang jujur aja, kita punya hubungan kan?"
"Iya memang"
"Jadi siapa aja yang tau? Kenapa gak bilang dari kemarin sih? Kamu mah nyebelin deh"
Apa dia pikir kita punya hubungan tersembunyi? Astaga, gadis ini memang nakal.
"Arfi jawab! Aku pikir tidak ada yang tahu karena mereka semua baik padamu. Kak Bani selalu marah saat aku menjalin hubungan dengan seorang pria. Kakek akan terus mengancamku jika aku berpacaran. Kalau Papa sih, tidak apa-apa, hanya saja dia akan terus menelepon ku saat berada diluar bersama pacarku"
Dia memang gadis nakal. Bagaimana bisa dia menantang semua keluarga demi hubungan konyolnya dengan lelaki brengsek?
"Iya kamu benar, tapi aku akan beritahu mereka sekarang"
Plakkk....
Alvi memukul kepala Arfi dan mengoceh banyak hal. Mana mungkin Alvi akan membiarkan nya, ia senang memiliki hubungan spesial dengan Arfi. Walau hubungan itu tersembunyi, Alvi tak peduli sebab Arfi adalah pemuda yang ia cintai. Selalu saja seperti itu, Alvi adalah pejuang cinta, menentang keluarga demi seorang pria yang belum tentu ia ketahui semua tingkah lakunya.
"Aku tuh suka banget tau gak sama kamu Fi. Sejak kita masih duduk di bangku SMA"
"Terus kenapa kamu gak bilang ke aku?"
"Mana mungkin, kamu juga gak bilang kan? Aku pikir kamu gak suka aku, terus banyak yang bilang kalau kita itu gak cocok karena sering bertengkar. Aahhh, sakit tau Fi. Padahal kamu dekat, tapi terasa jauuuuh banget"
"Aku tuh juga suka kamu, tapi aku pengecut. Takut kamu tolak hahhaha"
Alvi membelalakkan matanya lebar, jadi selama ini perasaannya tak pernah bertepuk sebelah tangan. Hanya saja mereka berdua takut mengungkapkan perasaan.
Ceklek...
"Kalian ngapain?" Tanya Bani.
Arfi mendengus kesal, selalu saja seperti ini. Ia heran kenapa Bani selalu masuk di saat pasangan baru ini tengah saling mengungkapkan perasaan.
__ADS_1