Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 50


__ADS_3

Ardi mendudukkan Alvi di sofa, ia menggenggam tangan Alvi dan menciumnya beberapakali.


"Maafkan Papa ya, harusnya Papa selalu temani kamu dan bukaannya sibuk dengan urusan Papa"


"Apa sih Pa? Aku udah biasa sendiri kok, makan sendiri, ngelakuin apapun sendiri, biasanya juga ditemenin sama Bibi kok. Don't worry"


Kalimat apa itu? Mana mungkin Ardi baik-baik saja ketika putrinya berkata terbiasa seorang diri. Harusnya, Ardi selalu ada disamping Alvi, membesarkannya dengan cinta dan kasih sayang. Tapi Ardi malah sibuk dengan semua bisnisnya.


"Gimana kalau kita liburan? Udah lama kan gak pernah liburan bareng?"


"Iya, lamaaaa banget. Terakhir kali kita liburan waktu aku kelas satu SMP. Setelah itu Papa selalu sibuk, sibuk dan sibuk"


"Maaf ya, anak Papa sangat jujur sekali. Papa jadi sedih dengernya"


"Pa, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Papa membesarkan aku dengan sangat baik, jangan menangis nanti aku juga nangis"


Alvi memeluk Papanya dengan erat, ia tak tahu pasti apa yang terjadi pada Ardi. Tapi sepertinya itu sesuatu yang tak bagus. Ardi sekali lagi mengajak Alvi untuk berlibur, namun gadis itu menolak. Ia tahu jika Ardi harus pergi keluar kota, sedangkan Alvi juga ingin bermain di rumah Arfi.


"Kalau gitu, makan malam bersama ya? Kita undang keluarga Bani dan Arfi juga" saran Tuan Salim.


"Keluarga Arfi? Tapi kenapa?"


"Kenapa kau bilang? Mama Oddy dan Bunda Arfi yang memandikan mu selama ini, mereka tentu harus ikut" sahut Papa Oddy. Beliau tentu punya banyak alasan membuat Alvi mengerti. Sebab Papa Oddy yang selalu membujuk Alvi kala di tinggal pergi oleh Ardi ketika ia masih kecil.


Pak Kyai berjalan mendekat, beliau memegang dagu Alvi dengan jempolnya. Mengurutnya perlahan sambil bergumam membacakan beberapa surat. Alvi tak bertanya, ia sudah biasa dengan hal itu. Sebab setiap kali sakit, Pak Kyai selalu melakukan hal yang sama. Seringkali Alvi penasaran, tapi ia tak pernah dapat jawaban yang diinginkan.


"Kakek Kyai kenal Arfi gak?"


"Kenal, kenapa emangnya?"


"Arfi anaknya gimana?"


"Baik, ganteng, pinter, sopan. Ada apa Alvi? Kan Arfi ada disitu lihatin kamu"


"Kalau baik berarti bahwa gak jahat dong ya, kalau aku dekat sama dia gak masalah kan Kek?"

__ADS_1


"Kamu mau cari restu ya, kalau Kakek sih yes, gak tau Kakek dan Papamu gimana hahahhaa" jawab Pak Kyai kemudian pergi mengikuti Papa Oddy.


Alvi memandang kearah Papa dan Tuan Salim, namun kedua pria itu malah diam kemudian pergi mengikuti yang lainnya. Alvi sangat kesal, ia melirik ke arah Oddy yang tengah memelototi dirinya. Jika saja mata itu tak erat tertempel, pasti sudah menggelinding keluar sekarang.


Jika Oddy memelototi Alvi, berbeda dengan Arfi yang mencoba menahan tawanya. Sungguh, senang rasanya melihat Alvi berusaha keras mencari restu untuk hubungan mereka.


"Gue mau ke salon, anterin dong"


"Gue juga mau ke salon dek, potong rambut. Ayo"


"Arfi, kamu gak ikut?"


"Kenapa ngajak Arfi? Dia bisa pergi sendiri" ujar Oddy seraya menarik tangan Alvi keluar rumah.


Alvi menatap sedih ke arah kekasihnya, sepertinya Oddy tak merestui hubungan mereka. Ia hanya bisa diam memanyunkan bibir selagi pergi ke salon bersama Oddy. Mereka begitu hening tak ada percakapan apapun. Karena Alvi merasa kesal sebab Oddy sangat keterlaluan.


Bahkan ketika sampai di salon pun Alvi memilih tak ingin menatap Oddy yang mencoba mengajaknya berbincang.


"Dek, bukan gue gak ngerestuin. Gue tau Arfi cowok baik, kalau dia beneran cinta sama loe, hubungan kalian gak akan diam-diam"


"Si Arfi masih ada pengecut. Sampaikan padanya, jika terus bersembunyi dan takut, dia akan benar-benar kehilangan orang yang dicintainya"


"Kakaaakkk, jangan bikin gue nangis deh"


Oddy hanya berdehem dan memejamkan matanya. Ia membiarkan karyawan salon memotong rambutnya seperti biasa. Sedangkan Alvi ingin rambut panjangnya di rapikan dan di curly. Ia juga mewarnai rambutnya dengan warna baby blue dan grey. Karena kulit Alvi yang putih bersih, ia terlihat seperti seorang turis yang tengah berlibur.


"Dek, gila loe ya, Arfi bakal marah kalau tau loe cat rambut kayak gini" sentak Oddy terkejut.


Alvi dan beberapa karyawan lainnya tak kalah terkejut karena teriakan Oddy.


"Ini semi permanen Kak, tahan satu bulan doang. Iya kan Mbak?"


"Iya Den Oddy, ini semi permanen" jawab manager salon.


Oddy sudah lelah mewanti-wanti Alvi, tapi jika gadis itu tak mau dengar ya sudahlah. Setelah selesai menata rambut, mereka kembali pulang. Ardi sudah menelepon memberitahu jika semua orang telah berkumpul. Arfi begitu khawatir dirumah, sebab dokter sebenarnya masih tak mengijinkan Alvi untuk beraktivitas. Tapi gadis itu begitu kerasa kepala dan nakal.

__ADS_1


Ttokk.... Ttok....


Suara ketukan pintu terdengar. Bi Inah berjalan cepat menghampiri pintu dan membukanya.


Semua orang melongo melihat siapa yang ada dihadapan mereka. Oddy dan Alvi bersama rambut barunya. Gadis itu tersenyum lebar memamerkan hasil pekerjaan karyawan salon ke semua orang.


"Apa-apaan kamu? Kenapa gak bilang aku dulu?" Sentak Arfi marah. Raut wajahnya bahkan menunjukkan kekesalan yang mendalam.


"Kenapa? Ini hak aku kan? Bagus tau"


"Kenapa gak tanya aku dulu? Kamu pikir ini bagus?"


"Kamu kenapa sih marah -marah? Kalau gak suka ya udah, kenapa marahin aku? Kakek, Papa, kedua Kakak ku bahkan tak pernah membentak ku"


"Tapi ini salah Alvi" lirih Arfi memelankan suaranya.


"Kalian pergi saja, aku ingin istirahat" ujar Alvi dengan air mata menetes. Ia berlari menuju kamar, membanting pintu kamar lalu menguncinya. Ia merasa hatinya begitu sakit, siapa Arfi yang membentaknya seperti itu di depan banyak orang. Bahkan keluarga Alvi pun tak pernah memarahinya sekejam itu.


Suara gedoran pintu dan panggilan nama Alvi terus terdengar. Arfi merasa bersalah, ia harusnya bisa menahan emosinya. Arfi bahkan meyakinkan para keluarga untuk berangkat lebih dulu, sebab ia akan meyakinkan sang istri agar mau ikut pergi.


"Sayang, hei, aku minta maaf ya. Buka pintunya!!! Ayo kita pergi, semua orang sudah pergi, Bi Inah juga sudah pulang"


"Loe aja, gue mau dirumah"


"Kamu yakin? Lihatlah ke arah jendela yang sepi itu, bagaimana jika ada yang mengetuk? Alvi, sayang, hei buka ya"


Ceklek.... pintu kamar terbuka..


"Gak lucu tau bercandaan nya" rengek Alvi ketakutan. Ia begitu kesal, hingga memukul-mukul dada Arfi.


Arfi kembali meminta maaf, ia tak pernah bermaksud menyakiti hati Alvi. Hanya saja semua itu membuatnya sangat terkejut.


"Jangan nangis ya, kamu cantik kok kayak gini. Ini semi permanen kan? Lain kali kalau mau cat rambut bilang aku ya sayang"


"Mm... maaf, aku kan mau bikin kejutan buat kamu. Eh ternyata kamu malah marah ke aku"

__ADS_1


Arfi menarik Alvi dalam pelukannya, ia mengelus rambut panjang indah itu. Alvi merasa begitu nyaman dalam dekapan sang suami.


__ADS_2