Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 45


__ADS_3

Air mata Alvi menetes mendengar suara mengaji Arfi. Ia kembali teringat semua kenangan masalalu. Kenangan yang hanya diingat oleh Alvi, dan tidak ada satupun orang yang tahu selain dirinya.


"Kenapa nangis?" Tanya Arfi seraya menyeka air matanya.


Kenapa takdir begitu jahat? Mempertemukan kita kembali, disaat aku sudah tak ingin berharap lagi, batin Alvi.


Bagaimana bisa, ia menatap pemuda dihadapannya ini? Pemuda yang sukses membuat Alvi tergila-gila kala mereka duduk di bangku SMA. Benar, kebenaran yang hanya diketahui oleh Alvi.


Kini hati gadis remaja itu tengah bimbang, pemuda yang dulu amat sangat ia cintai, ada dihadapannya. Alvi menghembuskan napasnya perlahan, sungguh ia ingin memeluk Arfi. Tapi karena tak ada status apapun diantara mereka, itu adalah hal yang mustahil.


"Fi, gue mau pipis. Panggilkan suster dong"


"Aku bantu, ayo"


Alvi tak bergeming, ia memandangi Arfi yang menunggu dengan uluran tangannya. Tak lama, air mata Alvi kembali menetes, Arfi dibuat kebingungan oleh gadis ini.


"Ada apa Alvi? Kau baik-baik saja kan?"


"Apa aku tidak bisa berjalan lagi?" Lirih Alvi seraya memandangi kakinya yang begitu berat di gerakan.


"Bisa, besok kita belajar jalan ya. Aku gendong kamu, Nona Alvi"


Aah, hati Alvi kembali dibuat meleleh dengan sikap manis itu. Ia tertunduk malu dan membungkam mulutnya. Bahkan tangan Alvi sebenarnya juga terasa begitu kaku, tapi ia masih bisa menggerakkannya.


Arfi menyibak selimut Alvi, lalu ia gendong gadis itu masuk kedalam kamar mandi. Disinilah Alvi tersadar akan sesuatu, walau dia anak nakal, tapi ia masih punya harga diri. Bagaimana mungkin ia membiarkan Arfi mask melihat Alvi yang tengah buang air kecil, itu tidak boleh terjadi.


"Hei, loe mau jadi cowok mesum ya?" Sentak Alvi dengan wajah garangnya.


"Gadis nakal, aku mau membantumu. Aku tidak akan mengintip, sudah diam saja, bawel"


Bodoh, aku sudah lihat semua milikmu Alvi. Harus ku akui, penantian panjang ku tak pernah bisa membuatku terbiasa. Jantungku masih berdetak begitu kencang saat mata kita bertatapan, cinta ini sungguh besar untukmu, pikir Arfi dalam benaknya.


Pemuda itu membantu Alvi melepaskan celananya, dengan mata tertutup sesuai perintah gadisnya. Tak hanya Arfi, jantung Alvi kembali berdetak kencang memandang wajah Arfi sedekat ini, takdir tak pernah mengecewakan. Alvi sekali lagi dipermainkan oleh takdir yang tak bisa ia hindari.


Selesai buang air kecil, Arfi kembali menggendong Alvi. Mendudukkan gadis itu di tepi ranjang.

__ADS_1


"Nona Alvi, apa kamu lapar?"


"Jangan memanggil gue Nona, Alvi aja cukup. Sayang juga boleh kok, hehehe"


"Kamu nih. Oh iya, gimana perasaan kamu? Masih ada yang sakit?"


"Tau gak sih Fi, gue ngerasa aneh aja. Setelah gue tahu Baim dan Ambar berkhianat tapi rasanya biasa aja. Apa karena udah dua tahun ya? Oh iya loe udah nikah Fi? Gue lihat cincin ditangan loe. Loe cuma kerja jadi pengawal gue aja? Apa..."


Arfi membungkam mulut gadis itu. Baru saja sembuh, Alvi sudah begitu aktif bertanya banyak hal. Arfi menggeleng, meminta Alvi untuk berhenti. Ia akan menceritakan semuanya, semua hal yang Alvi lewatkan selama dua tahun ini. Gadis itu pun mengangguk dan kembali berbaring diatas kasur.


"Cincin ini punya dua arti. Jika di depan wanita lain, ini berarti aku sudah ada yang punya. Tapi didepanmu, ini tak berarti apapun"


"Kenapa gitu? Wah loe mah parah, loe suka ya sama gue? Hahahah"


Iya, sangat. Cincin ini tak berarti apapun dihadapanmu, karena semua orang tau kau adalah milikku, Alvi.


Alvi yang bosan menunggu jawaban Arfi, ia pura-pura batuk untuk menciptakan suara dikeheningan itu. Arfi tersadar, tapi Alvi sudah tak tertarik lah mendengar jawaban sang pemuda. Ia lebih memilih untuk tidur dengan mata terbuka. Rasa lelah menyerang, tenaga Alvi seolah habis terkuras.


Tak ada rasa kantuk, Alvi hanya berbaring dengan mata yang menatap langit-langit. Ditemani oleh Arfi yang terus memandangi dirinya dengan penuh harapan. Alvi tak bisa merasakannya, ia bahkan tak yakin dengan perasaan nya sendiri. Lantas bagaimana mungkin ia bisa merasakan ada seseorang yang begitu sangat mencintainya.


"Loe cinta banget ya sama dia Fi?"


"Iya"


"Tapi kan yang suka sama loe banyak Fi. Kenapa masih nunggu dia?"


"Karena cinta. Ah, aku laper, kamu laper gak?"


"Laper, mau jalan-jalan. Boleh keluar gak?"


"Bentar, aku tanya dokter dulu ya"


Arfi pun pergi keluar ruangan untuk mencari dokter yang merawat Alvi.


Ketika Arfi pergi, Alvi kembali menghela napasnya panjang. Pikirannya kembali berkelana mencari jawaban. Siapa gadis yang begitu dicintai oleh pemuda seperti Arfi? Gadis paling beruntung yang dapat meluluhkan hati pemuda idaman wanita itu.

__ADS_1


Tak bisa Alvi pungkiri, Arfi memanglah idaman para wanita. Tampan, pintar, pandai mengaji, dan sangat perhatian.


"Bahkan disaat kita dipertemukan kembali oleh waktu, gue masih berpikir jika gue gak pantas buat loe" gumam Alvi. Ia tak bisa berbohong mengenai perasaannya. Jujur, ia juga sudah jatuh dalam pesona Arfi semenjak mereka masih duduk di bangku SMA.


Bagaimana mungkin Alvi tak menyukainya, jika setiap saat, waktu mempertemukan mereka beberapakali. Walau kenyataannya, selalu ada perdebatan diantara keduanya. Tapi bagi Alvi, ia merasa senang setelah pertemuan singkat dengan Arfi.


"Harusnya loe tau Fi, alasan gue selalu nakal di sekolah. Aaahhh, kenapa sih mereka bilang gue gak pantes buat loe? Apa gue seburuk itu?" Lirih Alvi bertarung dengan pikirannya. Ia tak mengerti, ketika semua orang berkata jika Alvi bukanlah wanita yang pantas bersanding dengan Arfi, lalu kenapa seolah takdir terus membawa mereka untuk bertemu. Harapan itu kembali muncul diiringi rasa sakit akan kenyataan yang pahit.


"Alvi, kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu terlihat sedih?"


Gimana gue gak sedih, kalau cowok yang selama ini gue suka ada dihadapan gue? Tapi, kenyataannya ia mencintai wanita lain. Sangat mencintai wanita itu.


"Alvi kok bengong? Ayo jalan-jalan, kata dokter kau sudah baik-baik saja. Tapi jangan terlalu banyak pikiran ya, nanti sakit lagi"


"Kenapa Fi? Kenapa loe selalu baik dan perhatian ke gue? Loe juga selalu tanya apa gue baik-baik aja setelah dihukum. Kasih gue minum, perhatian banget"


Karena kamu gadisku. Aku sayang kamu.


"Oh ya? Emangnya aku gak boleh perhatian ke kamu? Ada yang marah ya? Uuh ringan banget badan mu" celoteh Arfi seraya menggendong Alvi ke kursi roda.


"Hahaha, tuh kan tuh kan. Gue heran sama anak-anak dulu, mereka selalu bilang loe irit banget kalau ngomong. Tapi gue gak ngerasa gitu, loe mah banyak omong"


"Mau aku mandiin gak? Kecut nih"


"Aaah cowok mesum"


Sudut bibir Arfi tertarik keatas, itu kalimat yang sangat familiar. Kalimat lama yang tak pernah Arfi dengar lagi dari bibir istrinya. Seandainya saja, ah seandainya saja semua berjalan baik. Mungkin rasa sakit penantian tak akan sesakit ini.


"Gu..gue bercanda Fi" celetuk Alvi kala melihat Arfi yang terdiam.


"Gak apa-apa kok, kamu juga gadis nakal"


"Sialan loe, hahahaha"


*It's okay selagi itu loe yang ngomong. Karena gue suka loe Fi.

__ADS_1


Lemah hatiku lihat kamu ketawa gini Vi. Aku sayang kamu, sayang*.


__ADS_2