Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 63


__ADS_3

Arfi baru saja menyelesaikan sholat Subuh. Ia memandangi istrinya yang masih terlelap dalam tidur. Arfi duduk memandangi pemandangan kota di pagi yang petang sambil mengecek laporan keuangan dan ditemani secangkir kopi. Ia begitu fokus pada leptopnya hingga tanpa sadar matahari sudah naik tinggi.


Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun Alvi masih belum terbangun.


"Sayang, bangun, udah siang ini" teriak Arfi sembari melempar bantal ke arah tempat tidur. Namun Alvi sama sekali tak bergerak, hal ini bukannya membuat Arfi marah tapi khawatir jika istrinya sakit. Ia pun menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Alvi.


Nihil, tak ada siapapun di kasur itu, hanya bantal yang berselimut. Arfi mencari istrinya ke kolong kasur, kamar mandi, dan disetiap sudut hotel tapi tak menemukan siapapun disana. Ponsel Alvi ada di atas meja, tas dan semua barang-barang Alvi juga masih ada di kamar itu.


"Sayang? Sayang kamu dimana? Alvi?"


"Apa sih Mas teriak-teriak?" Tanya Alvi seraya menutup pintu kamar hotel. Ia baru saja dari luar kamar, lebih tepatnya keluar hotel untuk sarapan bakso di pinggir jalan.


"Ka..kamu darimana?"


"Sarapan lah, siapa suruh fokus banget ke leptop, aku panggil gak nyahut"


Arfi hanya diam menatap istrinya yang terus mengomel sambil mengemasi barang-barang mereka. Setelah semuanya siap, Alvi mengatakan pada Arfi untuk makanan dulu sebelum pergi sebab dirinya sangat lapar.


"Tadi katanya udah sarapan?"


"Mana ada? Aku turun kebawah tapi malah ketemu cowok brengsek. Dia lagi mabuk, terus aku tonjok aja karena nyebelin"


Glek...


Arfi menelan ludah mendengar cerita mengesankan itu. Rupanya istrinya masih saja galak seperti dulu. Ia juga bergegas mengemasi semua barang-barang dan pergi menyusul Alvi yang sudah turun lebih dulu. Ia menghampiri resepsionis untuk mengembalikan kunci dan mengurus lainnya. Setelah itu barulah ia mencari keberadaan istrinya di restoran hotel.


"Arfi?" Panggil seseorang mendekat.


"Iya, oh Dino ya? Apa kabar?"


"Cih, ngapain loe disini? Jadi simpenan tante-tante ya?" Ejek pemuda itu seraya memperhatikan Arfi dari atas hingga bawah. Pakaian sederhana Arfi, dengan kaos dan celana jeans. Ia juga membawa sebuah koper berwarna kuning bergambar pisang. Pastilah itu bukan koper Arfi tentunya.


Dino, dia adalah teman kuliah Arfi. Hubungannya dengan Arfi memang terbilang buruk, semenjak kekasih Dino yang menjalin hubungan selama empat tahun memutuskannya demi mengejar Arfi.


"Kakak, ada apa?" Sela seorang gadis remaja yang datang menghampiri kedua pemuda itu. Gadis lugu dengan kacamata dan rambut yang di kepang dua. Ia tampak malu-malu menatap Arfi yang ada di depannya.


"Jangan dekat-dekat dia, salah. satu contoh cowok brengsek" jawab Dino pada adiknya.

__ADS_1


Adik Dino tampak tak percaya, ia bisa melihat jika Arfi terlihat seperti pemuda baik-baik. Terlebih wajah tampannya selalu bisa memikat hati wanita.


"Hai adik cantik, kita bertemu lagi" sapa Alvi ikut bergabung. Ia sudah menunggu Arfi lama di dalam restoran, tapi tak kunjung datang. Padahal dirinya sudah memesan banyak sekali makanan.


"Oh, Kakak, tadi kita belum kenalan. Namaku Diana"


"Nama Kakak, Alvi. Kamu sekolah di SMA Insan ya?"


"Iya, kok Kak Alvi tau?"


"Gantungan kuncinya, Arka punya satu kayak gitu. Katanya, cuma murid terbaik yang di kasih gantungan spesial itu"


Diana begitu antusias mendengarkan penjelasan Alvi. Pasalnya, ia juga tau siapa Arka, anak terpandai di seangkatannya. Tak ada yang tak mengenal Arka, ia sama populer nya dengan Arfi di sekolah.


Gadis remaja itu memperkenalkan Alvi pada Kakaknya. Sayangnya, Dino malah terdiam memandangi gadis dihadapannya ini. Seolah terpanah akan sesuatu yang ada dalam diri Alvi. Ia tersenyum begitu manis sambil mengulurkan tangannya.


Alvi menatap ukuran tangan itu, kemudian berpaling menatap ke arah Arfi. Ia meminta persetujuan, setelah Arfi mengangguk barulah Alvi menerima uluran tangan itu dengan singkat.


"Kak Alvi kenal sama laki-laki ini? Tapi Kakakku bilang dia brengsek" celetuk Diana.


"Hahaha, dia emang brengsek. Dan cowok brengsek ini adalah suami ku, namanya Arfi"


"Kita emang jodoh, aku yakin. Yuk ikut makan bareng, aku udah pesan banyak makanan" ajak Alvi pada Dino dan Diana.


Belum saja Alvi menerima jawaban, seorang manager restoran datang menghampiri dirinya dengan berlari. Sebab beliau terkejut Alvi meninggalkan meja tanpa meninggalkan barang-barang satu pun disana. Mereka sempat berpikir jika Alvi pergi tanpa membayar.


Arfi menjewer telinga istrinya setelah meminta maaf pada sang manager restoran. Ia juga berkata jika mereka akan kembali kesana segera.


"Siapa suruh Mas Arfi lama, aku kan jadi bete nunggunya. Udah aku bilang kan kalau dia itu brengsek" bisik Alvi pada Diana.


"Kak Alvi, kalian lucu banget deh" ucap Diana.


Mereka berempat berjalan menuju meja yang Alvi pesan. Benar saja, disana ada begitu banyak makanan. Arfi hanya bisa menggeleng menatap semua makanan diatas meja.


"Alvi, loe udah berapa lama nikah sama Arfi?" Tanya Dino.


"Dua tahun"

__ADS_1


"Apa? Kok bisa? Bukannya loe dekat sama Yunita? Terus loe selingkuh gitu?" Cecar Dino dengan kesal sambil menatap Arfi.


"Kamu selingkuh Mas?" Celetuk Alvi sambil terus mengunyah makanannya. Ia seolah acuh tak acuh menanggapi apa yang Dino katakan.


Sikap Alvi membuat Dino tak memahami sesuatu, biasanya jika seorang wanita mendengar pasangan nya selingkuh pasti akan sedikit panik dan gugup. Tapi Alvi malah seolah tak memedulikan hal itu. Ia malah menyuapi Arfi macam-macam makanan.


"Mana mungkin aku selingkuh. Dan loe, Yunita itu siapa? Perasaan gue gak punya teman namanya Yunita"


"Sialan, loe emang cowok brengsek"


"Jangan salahkan dia, salahkan mantan kekasihmu yang mudah berpaling. Jika dia benar mencintaimu, dia tidak akan pergi. Harusnya loe bersyukur dijauhkan dari wanita seperti itu"


"Loe tau apa sih? Suami loe ini..."


"Dia nungguin gue yang koma selama dua tahun. Dan loe mau mempertanyakan kesetiaan nya di depan gue?"


Dino bungkam mendengar penuturan Alvi. Tak ada kata apapun, mereka bertiga hanya diam mendengarkan Alvi mengoceh banyak hal. Ia memuji betapa Arfi begitu setia mendampingi diri ya selama ini. Hal yang tak akan bisa di temukan pada pria lain.


"Malah senyum-senyum, Kakak kamu agak stress ya Di?"


"Hm, aku juga gak tau Kak Alvi. Kak Alvi pinter banget ngomongnya, aku jadi semakin kagum" puji Diana.


Dino tiba-tiba berdiri dan pergi ke kamar mandi. Ia mencuci mukanya sambil menepuk-nepuk pipinya beberapakali. Memastikan jika ia tidak sedang bermimpi.


"Dia istri gue, jangan menatapnya seperti itu"


"Istri loe cantik, baik, pinter, menarik. Kalau gue suka kenapa? Loe takut dia berpaling?" Ucap Dino kemudian pergi meninggalkan Arfi.


Arfi hanya menghela napasnya perlahan, satu lagi seseorang yang ingin merebut istrinya. Ia sungguh tak mengerti, padahal ada banyak perempuan di dunia ini. Tapi kenapa harus Alvi yang menjadi tujuan mereka? Padahal Alvi adalah istri orang.


"Gue harus ekstra jagain dia, Bani bilang Alvi gampang banget suka sama orang. Gadis nakal itu selalu saja, menakjubkan. Pantas saja gue sangat mencintai dia" gumam Arfi sambil tersipu malu seorang diri. Ia tertawa kecil lalu menatap ke cermin.


Terlihat seorang waiters tengah menatapnya takut.


"Ma...maaf Pak, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Ada apa? Kenapa anda melihat saya seperti itu?"

__ADS_1


"Maaf Pak, beberapa tamu yang masuk mengatakan ada pria yang tersenyum sendiri di sini. Karena itu saya..."


Apa mereka pikir gue gila?, batin Arfi.


__ADS_2