Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 70


__ADS_3

Hari berganti....


Alvi tengah duduk di depan teras, bermain dengan keponakan kecilnya. Ia dan Niza tengah menunggu Zahra yang sedang membuatkan camilan untuk mereka.


"Vi, muka kamu kok pucat" celetuk Zahra. Ia memeriksa suhu tubuh Alvi. Sedikit demam, Alvi terlihat kelelahan.


"Kak, dada gue sakit banget ya, apa mau haid?"


"Kita kerumah sakit ya? Aku takut kamu kenapa-napa"


Alvi menggeleng, ia langsung berlari kedalam rumah dan menuju kamar mandi. Perutnya terasa mual hingga membuatnya ingin muntah. Bi Inah memapah Alvi masuk kedalam kamar. Membaringkan nona mudanya yang terlihat begitu lemah.


Zahra yang hendak menutup pintu dirumah, dikejutkan oleh Arfi yang pulang secara mendadak. Wajahnya juga pucat seperti Alvi.


"Kau sakit adik ipar?"


"Kayaknya gak enak badan, dari tadi perut rasanya mual sekali" jawab Arfi lesuh. Ia berpamitan masuk ke dalam kamar pada Kakak iparnya.


Saat menuju kamar, Arfi berpapasan dengan Bi Inah yang keluar dari kamarnya. Bi Inah menyampaikan jika Alvi sedang sakit dan tak ingin di bawa kerumah sakit. Arfi langsung saja masuk ke kamar tanpa peduli jika dirinya juga kelelahan. Ia memeriksa suhu tubuh Alvi yang naik, wajahnya begitu pucat.


"Mas, kamu sakit? Kok pucat banget wajahnya"


"Kamu juga, kamu kenapa?"


Belum saja mereka mengobrol lama, Bani dan Oddy masuk ke dalam kamar. Bani menggendong adiknya masuk kemobil, serta Oddy memapah Arfi masuk ke mobil. Zahra mengirim pesan di grup keluarga jika Arfi dan Alvi tengah sakit secara bersamaan. Mereka semua panik dan langsung menuju ke rumah.


Bani melajukan mobilnya menuju rumah sakit, ia terus menggenggam tangan adiknya.


"Aku gak apa-apa Kak, cuma mual, kayaknya masuk angin" oceh Alvi.


Saat Alvi masih bisa mengoceh, Arfi hanya terdiam dan menyenderkan kepalanya pada Oddy. Ia merasa kehabisan tenaga dan tak bisa melakukan apapun. Terlebih Arfi terus mengeluh ingin muntah di dalam mobil.


Sampai di rumah sakit, Bani dan Oddy langsung masuk kedalam dan membawa suami istri menemui dokter. Dokter bergantian memeriksa Arfi dan Alvi. Padahal Alvi sudah terlihat baik-baik saja, tapi Arfi masih meringkuk merasa mual.

__ADS_1


"Suaminya yang mana ya?" Tanya dokter itu menatap ketiga pemuda disana.


"Saya dok" jawab Arfi. Ia lalu bangun dan duduk di tepi ranjang, masih memegangi perutnya.


"Selamat ya Pak, istri anda hamil. Usia kandungannya baru tiga hari, tolong dijaga dan jangan sampai kelelahan"


Alvi tersenyum lebar, Bani dan Oddy menganga tak percaya. Arfi langsung melompat dan memeluk istrinya erat. Kebahagiaan yang membuatnya lupa tentang luka. Di hujaninya sang istri dengan ciuman di wajah.


Setelah dokter meresepkan obat untuk Arfi dan vitamin untuk Alvi. Bani dan Oddy membawa keduanya pulang ke rumah. Di rumah Ardi semua orang sedang berkumpul. Bahkan Ardi yang tengah melakukan rapat penting langsung pulang untuk menemui putrinya.


Zahra dan Bi Inah sedang sibuk di dapur menyiapkan jamuan. Beberapa pelayan dari rumah Tuan Salim pun dikirimkan untuk membantu menyiapkan syukuran. Tuan Salim selalu tak pernah menunda merayakan hal baik yang datang di keluarganya.


"Aku jadi Kakek lagi Pa" ucap Ardi seraya menggendong Niza. Ia terlihat bersemangat seperti saat Zahra hamil dulu. Tak sabar menunggu cucunya terlahir ke dunia ini.


Keluarga Arfi juga sudah tiba disana, mereka juga sama bahagia nya menantikan cucu pertama mereka. Cucu yang benar-benar merupakan darah daging putranya.


"Zahra, Papa akan merepotkan mu lagi. Apa kau butuh baby sister? Alvi pasti akan menyusahkan mu juga. Dulu saat Mamanya hamil Alvi, ia tak bisa diam dan terus saja pergi ke tempat-tempat aneh. Papa sampai lelah mengikutinya" jelas Ardi begitu antusias. Ia teringat kembali memori tentang istrinya kala hamil. Pasti Alvi juga akan sama sebab memiliki darah Levia.


"Waalaikumsalam, anak Papa" teriak Ardi. Ia langsung menghampiri Alvi dan memeluknya erat. Menghujani sang putri dengan ciuman. Ia juga menggendong Alvi dan mendudukkan nya di sofa.


"Papa sih, Papa itu udah jadi Kakek, jangan gendong-gendong aku. Aku juga lagi hamil, pasti berat" oceh Alvi kala melihat Ardi memegangi punggungnya.


Semua orang hanya tertawa, memaklumi Ardi yang kelewat bahagia. Ia kembali menggendong Niza kecil dan mengajak bayi yang ada dikandungan Alvi berbincang. Mengenalkan Niza pada saudara barunya.


"Tavi adik peyut"


"Iya, di perut Tavi ada adik kecil. Nanti kalau sudah keluar adiknya, Niza ajak main ya" jelas Ardi.


Alvi tak kuasa melihat Papanya sangat lucu, ia mencium pipi Ardi dan mengatakan jika dirinya sangat menyayangi sang Papa. Alvi mengedarkan pandangannya, menatap Arfi yang terlihat lemas di samping Tuan Salim.


"Aku masuk ke kamar dulu ya, ayo Mas" ajak Alvi.


Arfi berdiri dan berjalan mengikutinya. Saat sampai di kamar, Alvi menarik sang suami untuk tidur dipangkuan nya. Mengelus rambut Arfi dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Allah sayang banget ya sama kamu Mas. Aku dengar doa mu setiap hari, ingin diberikan seorang momongan"


"Keinginanmu adalah keinginan ku"


"Sekarang aku tidak bisa pakai semua baju ketat, pendek, seksi. Aku harus beli baju yang longgar bias anak kita gak sesak napas nantinya. Sekali lagi keinginan Mas Arfi terwujud"


Arfi hanya tertawa kecil, ia bangun dari tidurnya dan memposisikan dirinya dalam dekapan Alvi. Ia tahu Alvi sedang hamil, tapi istrinya terlihat begitu cantik dan menggoda saat ini. Arfi seolah tak ingin lepas dari kasih sayang sang istri. Alvi kembali mengelus dan menepuk suaminya yang sedang manja, mungkin karena sakit Arfi jadi seperti ini.


Ceklek....


Pintu kamar terbuka, Maya terlihat memasuki kamar membawa segelas susu untuk Alvi dan segelas teh untuk Arfi. Ia hanya menggeleng melihat Arfi yang bermanja-manja pada istrinya.


"Fi, ingat ya istrimu sedang hamil. Hamil muda itu masih rawan, jadi jangan macam-macam dan mencoba menyentuhnya" pesan Maya seraya berusaha mengalihkan Arfi dari dekapan Alvi.


"Apa'an sih Bund? Dia kan istri ku, aku ingin didekatnya"


"Badanmu berat, kasihan Alvi. Udah sana tidur aja kamu, mukamu pucat gitu" oceh Maya seperti kereta api. Lancar tanpa hambatan.


"Tidak apa-apa Bund, biarkan saja. Mas Arfi sedang sakit, biarkan dia seperti ini. Aku menyukainya" sela Alvi.


Maya sebenarnya tak setuju, namun melihat Alvi yang tersenyum senang, itu baik untuk keadaan sang bayi. Sang ibu harus terus merasa bahagia agar bayinya sehat. Maya menyuapi susu untuk Alvi menggunakan sendok, ini untuk mencegah agar Alvi tak merasa mual saat minum susu.


"Makasih ya sudah kasih Bunda cucu"


"Bunda, terimakasih sudah menjagaku seperti anak Bunda sendiri. Aku senang berada di dekat Bunda. Kenapa Bunda tidak tinggal di sekitar sini saja, biar kita bisa sering bertemu"


"Begitukah? Tapi Ayah Arfi tidak mau, dia sudah terikat dengan rumahnya disana"


"Aku akan sering-sering berkunjung ke rumah Bunda. Aku suka disana, banyak orang yang memperhatikan aku"


"Tentu saja, Bunda akan masak yang banyak buat kamu. Bunda juga akan buatkan banana smoothies kesukaan menantu Bunda ini"


Maya dan Alvi sangat asyik mengobrol berdua. Hingga melupakan Arfi yang tengah tertidur dalam pelukan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2