Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 46


__ADS_3

Alvi dan Arfi tengah duduk dibawah pohon rindang. Menikmati sarapan pagi yang amat sangat dibenci oleh Alvi, makanan rumah sakit. Dokter belum membolehkan Alvi untuk makan yang macam-macam selain dari yang dokter sarankan.


"Kenapa loe ikut makan ini Fi? Gak enak tau rasanya"


"Biar kamu ada temannya"


"Jujur deh Fi, dokter bilang gue amnesia. Apa kita punya hubungan? Gue pikir, loe, aahh auuuhh kepala gue sakit" erang Alvi seraya memegangi kepalanya.


Arfi memegang kening istrinya, ia mengusap kerutan disana. Kerutan yang timbul kala gadis dihadapannya tengah berpikir keras. Pemuda itu menggenggam tangan Alvi, ia juga ingin mengatakan semuanya, namun tak sanggup bila melihat istrinya berusaha mengingat apa yang dilupakan.


"Hei, jangan dipaksakan. Kita jalani aja seperti ini, lagi pula emangnya kamu mau punya hubungan spesial sama aku? Kamu bilang benci banget sama aku"


"Idih, ge'er bet dah lu Fi. Inget, loe tuh disini buat jagain gue"


Arfi mengangguk mengerti, ia kembali menyuapi Alvi makanan.


Setelah selesai makan, Alvi meminta untuk pergi ke area belajar berjalan. Ia ingin bisa cepat berjalan lagi agar dapat menemui dan bermain dengan teman-temannya.


Dengan tekad yang begitu kuat, Alvi mencoba menahan rasa sakit itu. Ia mencoba melangkah satu demi satu seraya memegangi Arfi sebagai penopangnya. Bagaimana hati Alvi tak luluh, jika masalalu tak pernah membiarkannya pergi dan lupa akan kenangan dulu. Hanya satu persen fokusnya untuk belajar berjalan, sedangkan fokus lainnya tertuju pada pemuda tampan itu.


"Modus ya kamu, pegang-pegang"


"Apa sih Fi? Rese banget loe jadi orang"


Begitulah pelajaran berjalan Alvi berlangsung dengan penuh perdebatan.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Seminggu berlalu sudah, kegiatan Alvi hanya seputar menghabiskan waktu bersama Arfi. Beberapakali keluarga Alvi menengok secara bergantian. Tapi para teman-teman Alvi belum terlihat satupun, sebab mereka tengah fokus pada kegiatan KKN. Terlebih mereka juga belum tau bila Alvi telah sadar. Ini memang dirahasiakan sebab Tuan Salim tak ingin cucunya berada dalam bahaya.


Minggu kedua masih sama, Alvi menjadi amat sangat bosan. Namun kali ini, Arfi meminjami ponsel dan akun sosmed. Jadi gadis itu bisa bermain sosmed tanpa orang tau jika dirinya telah sadar. Walau Arfi terus mengawasi, sebab takut istrinya akan mencari tahu hal yang aneh-aneh.


Satu bulan pun berlalu, Alvi sudah sedikit lancar berjalan. Seperti anak kecil yang abru saja bisa berjalan. Tetapi sekali lagi dokter menyarankan untuk tidak berlari atau berbuat hal yang bisa membuat tubuhnya lelah. Satu bulan menginap di rumah sakit, membuat Alvi merasa hidup di penjara. Walau rumah sakit itu layaknya kamar hotel, bagi Alvi itu adalah sangkar.

__ADS_1


Ditemani oleh Arfi dan Ardi, hanya mereka berdua sebab Bani serta keluarga lainnya tengah menghadiri wisuda. Wisuda mereka memang sempat ditunda oleh pihak kampus, akhirnya hari ini pun tiba.


"Arfi, loe gak ikut wisuda?"


"Gak perlu, aku mau temenin kamu aja"


"Pa, kita ke kampus Arfi. Jangan gitu dong, orang tua loe pasti bangga, mereka juga ingin lihat putranya di wisuda. Lagian, gue dengar dari Kakak, loe jadi lulusan terbaik. Hebat"


"Aku mau nemenin kamu aja. Kita pulang aja Pa"


Alvi Kembali mengerutkan keningnya, kini gadis itu punya cara baru agar semua permintaannya dituruti. Arfi kembali luluh dan mengikuti permintaan istrinya. Ia juga menelepon kedua orang tuanya untuk turut hadir disana. Selagi masih bisa melihat Alvi tersenyum, Arfi tak masalah apapun yang diinginkan istrinya.


Sebelum ke kampus, Alvi meminta Papanya untuk mengantar mereka ke salon langganan. Ia begitu bersemangat memilihkan setelan yang akan Arfi gunakan nantinya. Gadis itu juga ingin dirias cantik, sebab dirinya ingin terlihat cantik di depan keponakannya nanti. Benar, Alvi belum menemui keponakannya sama sekali, sebab dokter melarang keluarga Alvi membawa anak kecil kala menemui gadis itu.


Cukup lama Alvi dan Ardi menunggu Arfi yang tengah berganti pakaian. Ardi keluar sebentar membeli bunga, buket untuk ketiga putranya yang tengah wisuda. Bani dan Oddy pasti terkejut melihat kehadiran Alvi disana.


"Vi, ganteng gak?" Tanya Arfi yang baru saja selesai. Ia terlihat begitu tampan, bahkan Alvi sampai tak bisa menutup mulutnya karena kagum.


"Hei, malah bengong. Aku ganteng banget ya?" Goda Arfi seraya berjongkok dihadapan Alvi. Ia memandangi Alvi dengan senyuman yang begitu menawan.


"Nanti selesai wisuda, ikut aku ya kerumah orang tuaku"


"Apa? Ngapain? Lo..loe bercanda ya?"


"Suasana disana itu bagus buat pemulihan kamu. Udah ikut aja, Papa eh Om Ardi sudah mengijinkan kok"


Alvi menoleh ke arah Ardi, beliau mengangguk dan membenarkan hal itu. Sebab dirinya harus pergi keluar kota, ia pikir Alvi akan merasa senang disana. Ardi bisa melihat jika putrinya sedih, setiap kali Ardi hendak pergi keluar kota atau kemanapun, Alvi akan bertanya apakah pekerjaan itu tidak bisa digantikan oleh orang lain. Beliau tau benar jika selama ini putrinya pasti kesepian. Terlebih sang Kakak yang sering sekali keluar rumah dan tak pulang, maklum anak laki-laki.


Arfi mencoba mencairkan ketegangan itu, ia mengajak mereka untuk segera berangkat.


"Gak sabar mau lihat Kakak"


"Kamu cantik banget sih Vi" celetuk Arfi menyela.

__ADS_1


Pletak...


Ardi menjitak kepala pemuda itu, beraninya dia menggoda Alvi tepat di depan Papanya. Alvi hanya bisa tertawa kecil menyaksikan keduanya.


"Om, aku suka Alvi"


"Arfi apa'an sih? Sebenarnya Arfi ini siapa aku sih Pa? Kalau dia emang pengawal yang jagain aku, kenapa dia berani banget ngomong gitu di depan Papa?"


"Menurut kamu dia siapa sayang?" Tanya Ardi balik.


"Eits, gak boleh mikir yang berat-berat. Cukup berat badanmu aja yang berat" sela Arfi.


"Aaaahhhh Papaaa, turunin Arfi disini Pa"


Ardi dan Arfi tertawa puas menggoda Alvi hingga merengek.


Akhirnya, merekapun tiba di kampus Arfi. Rupanya acara masih belum dimulai, jelas terlihat beberapa mahasiswa yang masih sibuk berfoto diluar gedung. Ardi mendial nomor Bani, mencari tahu keberadaan mereka. Begitu juga dengan Arfi yang menelepon kedua orangtuanya.


"Pa aku mau foto sama Alvi. Eh, Om Ardi, boleh saya foto sama Alvi?" Ucap Arfi berkelit sebab Alvi memandangi dirinya dengan heran.


"Boleh, sini Papa foto kalian berdua"


Arfi merangkul pundak istrinya, sembari tangan lainnya menggenggam tangan Alvi. Alvi tak bisa menahan rasa bahagianya, ia bahkan tak sanggup menatap kamera ponsel sang Papa. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di bahu Arfi.


"Vi, lihat Papa sini sayang" pinta Ardi yang telah bersiap.


"Ada apa Vi? Kaki kamu sakit?"


"Gak mau ah, malu tau, banyak yang lihat tuh pasti fans loe kan?"


"Yakin malu? Kok peluk-peluk sih?"


"Iiih, kaki gue agak sakit. Tapi jangan bilang Papa, gue gak apa-apa"

__ADS_1


Tanpa kata apapun, Arfi menggendong Alvi. Ia juga meminta istrinya melihat ke kamera jika ingin turun dari gendongannya. Semesta memang jahat, mempermainkan perasaan Alvi begitu keji. Ia yang tak tahu apapun, kembali berharap akan sebuah hubungan. Walau harapannya selalu di selingi oleh luka dalam benaknya. Bukan orang lain, tapi Alvi menyakiti dirinya sendiri dengan pemikiran negatif itu.


__ADS_2