
Dua tahun berlalu....
Alvi masih terbaring di rumah sakit, matanya masih terpejam rapat.
"Sayang, kau tidak merindukanku?" Bisik seorang pemuda dengan janggut dan kumis yang panjang. Arfi benar-benar tak merawat dirinya dengan baik, hingga berat badannya pun turun drastis.
Benar, Arfi tak pernah pergi sedetikpun dari sisi Alvi. Ia akan selalu mengunjungi Alvi, tidur disana dan berdoa setiap hari untuk kesembuhan sang istri. Semuanya telah berubah, Alvi harus bangun untuk melihat semuanya.
Bani telah menikah, kini putranya berusia satu tahun. Sebentar lagi, kedua Kakak dan suami Alvi akan wisuda, gadis itu harus bangun sekarang. Ardi mengurungkan niat untuk pergi ke Papua, ia mengutus orang untuk menjalankan bisnis disana. Kini Ardi tinggal di rumahnya dan hanya sesekali pergi keluar kota. Bagitu juga Tuan Salim yang membangun Masjid besar di beberapa kota atas nama Alvi. Hanya kesembuhan cucunya yang beliau inginkan.
Pukul 03:00 pagi..
Arfi baru saja menyelesaikan sholat malamnya. Ia kembali duduk di samping ranjang Alvi seraya menggenggam tangan istrinya erat. Air mata tak tertahankan pun menetes deras, Arfi tak sanggup lagi melihat istrinya terbaring seperti ini.
"Kenapa kau menangis?" Tanya seseorang dengan nada begitu lirih.
"Alvi? Kau... Kau sadar? Tunggu, jangan tutup matamu lagi" ucap Arfi begitu bersemangat. Ia memencet tombol memanggil suster agar segera datang. Tak hanya satu, dua dokter datang dengan dua suster lainnya. Alvi memang mendapatkan pengawasan khusus atas permintaan Tuan Salim.
Selagi Alvi diperiksa, Arfi menghubungi keluarganya untuk kabar baik ini. Seperti dugaan, mereka langsung bersiap untuk menghampiri Arfi dirumah sakit.
"Apa dia baik-baik saja dokter?"
"Keadaannya sangat baik, hanya saja dia..."
"Maaf, anda siapa ya? Apa anda karyawan Kakek yang menjagaku?" Sela Alvi penasaran.
Bak disambar petir, Arfi terpaku menatap istrinya. Ia pikir Alvi tak mengenali dirinya kare janggut dan kumis panjang ini. Namun dokter membenarkan jika Alvi memang mengalami amnesia pasca trauma. Tapi ini hanya sementara, dan kejadian terakhir yang Alvi ingat adalah, dia melajukan mobilnya kencang setelah memergoki kekasih dan sahabatnya berselingkuh.
Para dokter kembali ke tempat mereka, mencari pengobatan terbaik agar Alvi kembali pulih dengan cepat. Anak sultan ini akan selalu menjadi prioritas dimanapun.
"Gue ingat, loe Ketua OSIS nyebelin itu kan? Kenapa wajah loe lusuh gini sih?" Tanya Alvi beruntun. Ia telah kembali, seolah tak pernah terjadi apapun padanya sebelumnya.
Alvi terlihat duduk di atas ranjang, ia menghela napasnya panjang. Dokter sudah menceritakan semuanya, dua tahun? Ia merasa tubuhnya sakit dan tak bisa bergerak dengan mudah. Alvi tak mengira, hal bodoh yang ia lakukan membuatnya koma selama itu.
__ADS_1
Walau sudah berbicara panjang lebar, Arfi hany diam memandangi Alvi. Matanya begitu indah memancarkan rasa cinta yang amat dalam. Bahkan Alvi merasa mata Arfi begitu membuatnya merasa nyaman dan terlindungi.
"Ketua OSIS, loe ngapain disini?"
"Aku yang bakal jagain kamu"
"Jagain gue? Loe pengawal gue? Kakek ya yang nyuruh? Tapi kenapa loe kerja jadi pengawal? Dan kenapa wajah loe gak ganteng lagi kayak dulu sih?"
"Dulu? Waktu kita masih sekolah? Emangnya aku ganteng ya?"
"Hm, ganteng, tapi nyebeliiiin. Coba aja loe gak nyebelin, pasti gue suka sama loe, hahaha. Gue pingin jalan-jalan, bosen tau gak, tapi badan gue rasanya kaku... Aahhhh sebel"
Arfi tersenyum melihat istrinya mengoceh begitu banyak. Ia bangkit dari duduknya kala semua keluarga datang. Arfi sejenak menahan mereka, memberitahu apa yang dikatakan oleh dokter tentang Alvi. Dari semua orang, Arfi lah yang terkena dampak paling hebat. Mereka semua menatap Arfi dengan perasaan iba, tapi Arfi begitu yakin istrinya akan segera mengingat dirinya.
"Papaaaaa" teriak Alvi seraya merentangkan kedua tangannya.
"Putri Papa sudah sadar, bagaimana perasaan mu?"
"Aku baik-baik saja, hanya pegal. Papa, aku mau pulang"
Ardi menghujani putrinya dengan ciuman. Alvi hanya bisa tertawa geli merasakan janggut Papanya yang juga tumbuh lebat. Ia sangat menyukai semua ini, Alvi tak suka melihatnya.
"Papa kan tau aku gak suka cowok yang punya janggut dan kumis, cukur sana, jelek tau. Ini juga apa? Aku kan gak suka warna merah iiih" celoteh Alvi kala melihat selimut berwarna merah di dekatnya.
Merah? Alvi tak menyukai warna merah. Memori Arfi kembali berputar mengingat malam itu. Ia memberikan gau merah untuk istrinya, pantas saja Bani dan Oddy menertawakan dirinya. Tapi Alvi tak mengatakan apapun, apa karena ia tahu jika Arfi suka warna merah? Misteri ini hanya Alvi yang tahu jawabannya.
"Kakeeeekkkk, mau mobil lagi, mobil ku rusak ya?"
"Apapun yang kau mau aku belikan, berjanjilah tidak akan sakit lagi" janji Tuan Salim seraya memeluk Alvi erat.
Pak Kyai menjewer telinga Tuan Salim, sudah cukup selalu saja memanjakan Alvi ini dan itu. Mereka semua bergantian menyapa Alvi dan memeluknya dengan cinta. Hingga ketika Bani berada dihadapannya, Alvi tertawa menggoda mencari istri dan anak sang Kakak.
Benar, sedikit banyaknya Arfi menceritakan tentang semua hal yang terjadi kala Alvi tertidur lama.
__ADS_1
"Maaf ya, gue nikahnya gak nungguin loe bangun"
"Maaf? Tidak semudah itu, bawa istri dan anak Kakak bertemu dengan ku. Aku sudah menjadi Tante, astaga"
"Dek, jangan gini lagi. Gue takut kehilangan loe"
"Gila loe, memang hanya Kakek dan Kakek Kyai yang tau betapa kuatnya Alvi. Ini mah kecil, kecelakaan biasa Kak. Jangan berlebihan deh!!"
Tak ada tenaga pada diri Bani untuk memarahi adiknya.
Suara adzan Subuh mulai terdengar, mereka semua berpamitan untuk pergi dan akan kembali setelah matahari terbit. Semua orang pergi, kecuali Arfi yang masih tetap disana. Pemuda itu berpamitan sejenak pada Alvi, sebab dirinya ingin mandi dan sholat.
Tak ada alasan bagi Alvi untuk menolak, ia mengiyakan dan kembali berbaring diatas tempat tidurnya. Cukup lama Alvi menunggu Arfi yang tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.
"Arfiii, loe gak ketiduran kan?" Teriak Alvi penasaran.
Ceklek.....
"Iya sayang? Eh maksud aku, Alvi. Ada apa?"
Glekk...
Alvi menelan ludahnya menatap pemuda tampan yang berjalan mendekati dirinya. Ini sungguh Arfi? Pemuda itu terlihat lebih tampan daripada saat mereka SMA. Untuk sebuah alasan yang jelas, jantung Alvi berdetak begitu kencang menatap Arfi. Bahkan bibirnya tak bisa disembunyikan kala menahan senyuman megah itu.
"Ada apa Alvi?"
"Loe, loe ganteng banget... Hm... kan gue udah bilang, loe tuh lusuh banget pakai jenggot sama kumis. Ash, sial"
"Gak boleh ngomong kasar ya, aku mau sholat dulu"
"Di Masjid? Terus gue disini sendiri?"
"Sholat disini kok. Kamu tidur lagi aja ya kalau masih ngantuk"
__ADS_1
Sial, kenapa gue jadi deg-degan gini waktu lihat Arfi? Apa perasaan itu masih ada?, batin Alvi.