Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 49


__ADS_3

Arfi berdiri meninggalkan kamar Alvi. Tapi sebelum itu, ia berbisik sesuatu pada Bani, "Sialan loe Ban"


Bani mencoba menahan tawanya. Ia tak tahu jika adik dan adik iparnya sedang memadu kekasih. Ia hanya ingin mengecek keadaan Alvi sebelum pergi kerumah mertuanya untuk beberapa hari. Bani tak ingin Alvi sedih memikirkannya, ia berjanji akan menjadi suami yang baik.


"Kak Oddy sendirian dong, apa dia mau ikut gue ke rumah Arfi?"


"Apa? Ngapain loe kesana?"


"Diijinkan Papa kok, katanya suasana disana bagus buat pemulihan. Terus katanya, disana ada pesantren Pak Kyai juga. Jadi Kakak jangan khawatir"


Si Arfi bisa juga modusnya, batin Bani.


Bani menyetujuinya, ia juga akan memberitahu Oddy bila mungkin Oddy ingin ikut bersama. Sepertinya sudah saatnya bagi Oddy untuk mencari pendamping. Sebab sepupunya sudah memiliki rumah tangga masing-masing.


Setelah Bani pergi, Arfi kembali masuk membawa sepiring makanan.


"Makan dibawah aja, bareng-bareng ya" rengek Alvi.


"Iya sayang"


"Eh, emang dulu manggilnya sayang ya? Terus aku panggil kamu apa?"


"Mas Arfi"


"Iuuuu, gak mau ah kuno. Panggil Arfi aja, dah yuk makan dibawah" ucap Alvi kemudian pergi meninggalkan Arfi.


Arfi mengelus dadanya, menyabarkan diri dari tingkah konyol sang istri. Padahal Alvi yang bertanya, ia pula yang mengoceh.


Di meja makan, Zahra tengah mempersiapkan makanan untuk Bani. Sedangkan Bi Inah menyiapkan makanan untuk Oddy. Alvi langsung duduk di tempat duduknya dulu. Memang tak ada yang bisa mengambil alih tempat duduk Alvi disana.


"Dek, makan kok jalan-jalan, kasihan Arfi" ujar Oddy.


"Dia aja yang sok tau, gue kan gak mau makan dikamar. Kakak ipar, si kecil mana? Mau gendong dong"


"Gak boleh, loe masih sakit. Nanti kecapekan terus pingsan gimana?" Larang Bani.

__ADS_1


"Sini aku gendong kamu aja, ayo" sela Arfi.


"Aah cowok mesum dataaangg, Kakaaaakkk hahahha auh ah Arfi ih geli tauuu" rengek Alvi sebab Arfi menggelitiknya. Ia tertawa begitu lebar sambil mencoba menahan tangan Arfi.


Bani, Oddy bahkan Bi Inah terharu mendengar suara tawa gadis yang sangat mereka rindukan.


Selepas makan siang, Alvi bermain di kamar Bani, menggoda keponakan kecilnya yang tengah tertidur pulas. Keponakan perempuannya sangat lucu dan menggemaskan, Niza. Pertama kalinya Alvi bertemu dengan Niza, mereka sudah sangat akrab seolah mengenal dari lama.


"Loe mirip Mama dek kalau gitu. Jadi inget waktu loe masih kecil" ujar Bani memasuki kamar. Ia duduk diatas kasur di samping Alvi yang tengah menggoda putrinya.


"Kak, gue gak tau alasan gue nyembunyiin semua ini dari loe. Tapi, cowok yang sering gue ceritain ke loe waktu kita SMA itu si Arfi"


"Apa? Arfi? Cowok yang bikin adik gue susah tidur dan galau setiap hari? Brengsek tuh si Arfi, biar gue kasih dia pelajaran"


"Aah Kakak, jangan dong!!" Ucap Alvi sembari menahan lengan Bani.


Alvi duduk dihadapan Bani dengan wajah cemberutnya. Ia tak pernah menyembunyikan apapun dari Bani, bahkan tentang seseorang yang ia sukai. Tapi berbeda kala ia menyukai Arfi, sebab Alvi pun mengakui jika dirinya tak pantas untuk Arfi.


"Uwaah, Kakak ipar, seksi. Gue juga mau itu" puji Alvi kala melihat Kakak iparnya yang baru saja keluar dari kamar mandi tanpa mengunakan kerudung dan cadar.


"Beda dong, dia kan emang cowok mesum. Tapi gue kan mau buat diri gue sendiri" jelas Alvi seraya mendekati Zahra. Ia begitu kagum melihat sesuatu yang Zahra miliki di dadanya.


Bani menggendong Niza dan memberikannya pada Alvi. Meminta adiknya untuk merawat Niza sejenak, sebab ia ingin membicarakan hal penting dengan istrinya. Bani sialan, Alvi tidak sebodoh itu, ia tahu benar apa yang hendak Bani perbuat. Walau begitu, Alvi menerimanya dan membawa Niza keluar. Duduk di ruang keluarga bersama dengan Oddy dan Arfi yang tengah berkutik dengan leptop.


"Kak Oddy kapan nikah? Gue juga mau gendong ponakan lagi. Jangan sampai keduluan Kak Bani tuh yang jadi lagi anaknya" cibir Alvi.


"Hahaha, insyaallah. Ntar gue kenalin ya, makasih ta'aruf Vi"


"Apa? Pilihan Kakek juga ya? Gue gak mau sama pilihan Kakek, maunya nikah sama orang yang gue cinta" ujar Alvi sembari memandang Arfi. Sayangnya pemuda itu begitu fokus menghadap leptopnya, sambil berbincang dengan beberapa orang sepertinya.


Alvi dan Niza menonton film kartun sambil bercanda gurau. Hingga beberapa jam berlalu akhirnya Bani dan Zahra keluar kamar dengan koper besar mereka.


"Baik-baik ya kalian, dan jangan lupa makan!!"


"Lama bener berduaan nya, jadi pingin coba" celetuk Alvi kesal.

__ADS_1


"Ayo Vi" sahut Arfi yang langsung menutup leptopnya. Ia berdiri menghampiri Alvi dengan begitu semangat.


Hal itu sukses membuat Alvi menendangnya menjauh. Alvi segera berdiri dan menggendong Niza yang tertidur keluar kerumah. Wajahnya sudah memerah menahan malu karena sikap konyol Arfi. Berbeda dengan para lelaki disana yang mengejek Arfi karena tak mendapatkan jatah.


Bani, Zahra dan Niza pun pergi meninggalkan kediaman Arfi. Mengunjungi rumah orang tua Zahra yang memang sudah menjadi jadwal mereka berkunjung setiap akhir pekan.


Tak lama setelah mobil Bani pergi, mobil Ardi memasuki pekarangan rumah. Akhirnya semua orangtua itu kembali dengan selamat. Pak Kyai juga terlihat sumringah menatap Alvi yang ceria menyambut kedatangan mereka.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, Papaaa gendong"


"Hush, kamu itu udah dua puluh tahun. Sana masuk, dimana yang lainnya?" Oceh Ardi.


"Biar Kakek aja yang gendong, sini cucu Kakek" sela Tuan Salim sambil memberikan punggungnya menghadap Alvi.


Ardi tak habis pikir melihat tingkah konyol Papa nya. Mana mungkin beliau bisa menggendong Alvi, pada akhirnya Ardi pun yang mengambil ahli. Selama perjalan keruang tamu pun yang ada hanya pertanyaan mengenai perasaan Alvi sekarang ini. Apakah gadis itu sudah lebih baik atau masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Everything it's okay, i am fine and thank you" jawab Alvi cengengesan.


"Kalian sudah pulang? Kenapa Alvi ada disana? Sini aku gendong aja!!"


Plaaakkk...


Alvi memukul kepala Arfi dengan mata melotot. Memberikannya kode agar tak berlebihan bersikap di depan keluarganya. Sebab Alvi masih berpikir jika hubungan mereka tersembunyi. Walau pada nyatanya semua tau tentang pernikahan keduanya.


"Buahahaha, astaga, apa'an sih nih drama kok gini" kata Oddy seraya menatap ponselnya. Sebenarnya ia tengah mengomentari drama percintaan Arfi dan Alvi yang menyedihkan ini.


"Turun Vi, turun"


"Aaahh, Papa udah tua sih, mentang-mentang udah punya cucu"


"Enak aja kamu, naik lagi. Papa bisa angkat kamu seharian tau"


"Hahahaha, aku sayang Papa" ujar Alvi seraya mencium pipi Papanya. Senang rasanya jika keluarga Ardi kembali pada suasana yang hangat ini. Setelah dua tahun diselimuti kesedihan dan hilangnya harapan.

__ADS_1


__ADS_2