
Alvi memegangi kepalanya, beberapa memori kembali terlintas. Ingatannya yang hilang perlahan muncul seperti potongan puzzle. Membuat Alvi harus menerka agar tak salah paham untuk kesekian kalinya.
"Apa kepalamu sakit sayang?"
"Ingat perkataan ku ini, jika kau menyembunyikan sesuatu dariku apapun itu, aku tak akan..."
Arfi membungkam bibir istrinya dengan kecupan singkat. Ia tak tahan lagi untuk memendam keinginannya. Ia tak ingin Alvi marah dan pergi karena alasan apapun itu.
"Kenapa kau menciumku? Aku baru saja muntah, apa kau gila?" Sentak Alvi begitu marah.
"Lalu kenapa? Kau istriku kan, aku hanya menciummu karena kau sangat cantik"
Pujian itu datang dari bibir pemuda tampan, wanita mana yang tak meleleh karena gombalannya. Alvi tersipu malu kemudian memukul pelan tangan suaminya. Arfi menariknya dalam pelukan, ia berjanji tak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini.
Bani dan Zahra juga tersenyum senang melihat keduanya akur. Tetapi berbeda dengan Oddy yang merasa ada kejanggalan disini. Oddy memelototi Alvi yang menatapnya.
"Dek, apapun yang akan loe lakukan, kasih tau gue. Jangan sampai gue tau dari orang lain dan tak bisa membantu jika nanti loe terjebak" ucap Oddy kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Raut wajah Alvi seketika berubah, keningnya berkerut memikirkan perkataan Oddy. Sepertinya Oddy merasa curiga dengan keputusan Alvi, sebab biasanya gadis itu tak akan memberikan kesempatan pada orang yang telah menyakiti dirinya. Apalagi jika luka itu tentang perasaan.
"Kecut, mau mandi bareng gak?" Bisik Arfi menggoda.
"Iih cowok mesum kamu"
"Dulu kamu sering banget bilang gitu"
__ADS_1
"Aku mau mandi sendiri, kamu juga mandi sana!! Tapi jangan temui wanita itu" pinta Alvi.
Arfi mengangguk, ia juga tak punya alasan harus menemui Aisya. Ia merapikan tempat tidur Alvi dan mengupas beberapa buah sambil menunggu istrinya yang tengah mandi. Alvi tak sendiri, Zahra membantunya disana. Iri sekali hati Arfi, ia juga ingin melihat istrinya mandi seperti dulu.
Cukup lama Alvi didalam kamar mandi, Arfi dan Bani sedang berbincang serius di sofa. Sambil menonton pertandingan sepak bola yang semalam mereka lewatkan. Beberapa telepon Arfi berdering, Maya mencoba memberitahukan jika Aisya dirawat di rumah sakit. Mungkin karena banyak tekanan yang datang, membuat Aisya tak mampu mengendalikan emosinya.
"Aku tidak bisa pergi Bunda. Aku sudah tak bisa berpura-pura baik lagi kepada Aisya di depan Bunda. Aku tidak mau Alvi membenciku lagi" jelas Arfi.
Bani sebenarnya juga tak ingin Arfi pergi, tapi bagaimanapun Arfi adalah suami Aisya. Ia meyakinkan Arfi untuk pergi menengoknya, dan Bani akan menjelaskan situasinya pada Alvi. Ia yakin sang adik akan mengerti masalah ini.
Setelah Maya menelepon, kini giliran orang tua Aisya yang menghubungi Arfi. Memaki pemuda itu dengan kata-kata kasarnya, mereka masih bersikeras jika putra yang dikandung Aisya adalah anak Arfi. Kehamilan Aisya sudah memasuki tujuh bulan, dan sebentar lagi anak itu akan lahir kedunia ini.
"Pergilah, aku tidak apa-apa Fi" ucap Alvi yang sudah selesai mandi.
"Apa kamu punya bukti jika itu bukan anakmu tanpa hasil tes DNA? Bagaimanapun kau adalah suaminya , pergilah" sahut Alvi dengan nada sedikit bergetar. Jelas sekali ia mencoba menahan tangisnya.
Arfi menangkup kedua pipi istrinya, mengelusnya lembut lalu menghujani wajah Alvi dengan ciuman. Ia punya buktinya, hanya saja ini bukan waktu yang tepat. Arfi, Bani dan Oddy tengah mengumpulkan bukti lain yang menjurus pada sebuah pemerasan. Mereka ingin melaporkan kedua orang tua Aisya yang ikut andil dalam rencana putrinya. Rupanya gadis itu tak sebaik yang mereka kenal selama ini.
Tuan Salim yang merasa bersalah mempekerjakan Ayah Aisya di salah satu toko bangunan miliknya. Namun akhir-akhir ini, Oddy menyadari ada sesuatu yang janggal kala ia melihat laporan keuangan. Pendapatan toko semakin hari semakin menurun dan terancam bangkrut. Karena Bani marah pada keluarganya, ia tak bisa membantu Oddy mengurus usaha Tuan Salim dan malah membangun sendiri usaha konveksi miliknya.
Arfi sesekali membantu Oddy mengecek, sebab ia juga sibuk mengurus bisnis kafe nya yang kini sudah memiliki lima cabang. Darah pebisnis dari keluarga Tuan Salim mengalir pula dalam diri Arfi rupanya.
"Sayang, aku tidak ingin meninggalkan mu"
"Hanya sebentar kan? Aku tidak mau mereka menghina suamiku seperti itu. Lagi pula, para Kakak ku ada disini. Tanpa dirimu aku juga baik-baik saja"
__ADS_1
Entah mengapa kalimat yang Alvi lontarkan terdengar menyakitkan bagi Arfi. Pemuda itu diam menatap Alvi yang melenggang menjauh darinya. Seolah gadis itu berkata jika hidupnya akan baik-baik saja tanpa kehadiran Arfi. Apakah ini pertanda? Arfi tak bisa mengerti semuanya dengan jelas. Ia meyakinkan dirinya jika semua akan baik-baik saja.
"Ban, gue titip Alvi ya. Kalau ada apa-apa telepon gue"
"Iya Fi, hati-hati jangan ngebut loe bawa mobilnya"
Sebelum pergi, mata Arfi kembali menatap istrinya. Tapi gadis itu tak peduli dan malah sibuk makan buah bersama dengan Zahra. Apa ini? Permainan apa yang coba Alvi mainkan? Arfi hanya bisa menebak tanpa berani bertanya.
"Dy, gue pergi dulu ya"
"Fi, Alvi lagi mainin loe ya?"
"Gue gak tau Dy, tapi dia aneh banget. Kadang manja terus tiba-tiba cuek. Dia kenapa?"
"Dia mau ngendaliin loe lewat rasa bersalah loe. Salah satu sifat jeleknya, dia egois. Hari ini dia membiarkan loe pergi agar loe ngerasa bersalah. Tapi suatu hari nanti, dia akan membuatmu menuruti semua kemauannya"
"Gue gak apa-apa Dy, dia kan istri gue. Tapi kalau Alvi terus keras kepala, gue rasa itu akan menimbulkan perdebatan diantara kami"
Oddy mengangguk setuju, ia memberikan sebuket bunga mawar pada Arfi. Hal itu tentu membuat Arfi merasa kebingungan. Namun Oddy sudah menyiapkan cara untuk mengambil alih permainan Alvi. Ini bukan pertama kalinya Alvi melakukan permainan konyol ini. Saat ia berkencan dengan Baim dan melawan semua orang, ia pernah membuat semua orang dikeluarganya menuruti dirinya atas nama rasa bersalah.
Setelah memahami semua penjelasan Oddy, Arfi sudah siap bertempur melawan istrinya. Ia kembali masuk kedalam ruangan dengan buket bunga mawar itu. Berjalan langsung menuju Alvi yang menatapnya dalam diam.
"Aku pergi dulu ya, nanti aku bawakan susu pisang kesukaan kamu. Aku sayang kamu" ucap Arfi seraya memberikan buket bunga mawar. Ia lalu mencium kening Alvi dan mencubit pipinya gemas.
Tatapan mata Alvi berubah, sudut bibirnya juga perlahan naik. Persis seperti yang Oddy bilang, Alvi hanya akan luluh dengan perhatian lebih. Karena itulah sangat mudah mengambil hati Alvi yang sedang marah.
__ADS_1