Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 72


__ADS_3

"Papaaa" teriak Alvi kala melihat Ardi yang tengah bermain dengan cucunya.


"Kesayangan Papa, sini nak"


Alvi berjalan mendekati Ardi, ia bermanja-manja dipelukan sang Papa. Ia tidur dipangkuan Ardi sambil memainkan ponselnya.


"Pa, Papa gak mau nikah lagi? Aku setuju kok Pa" celetuk Alvi tiba-tiba.


"Gak, Papa gak butuh istri. Papa punya putri dan seorang menantu yang akan merawat Papa. Papa hanya butuh cucu yang banyak biar gak sepi"


"Papa cinta banget ya sama Mama? Nanti kalau di surga mau jadi pasangan Mama?"


"Insyaallah sayang"


"Aku juga gak mau nikah lagi kok Vi" celetuk Arfi menyela.


Bukannya memuji, Alvi malah marah-marah. Ia mengoceh jika Arfi mendoakan agar dirinya cepat tiada. Arfi terkejut dan kembali diam membisu. Astaga, di depan istrinya selalu saja salah. Bani yang mendengar pembicaraan seru itu, ikut menghampiri dan duduk di samping Arfi.


"Kalau loe, mau nikah lagi dek?"


"Mau lah, apalagi kalau cowok ya ganteng, um gemes"


"Auh, sakit tapi tak berdarah" ucap Arfi memegangi dadanya.


Semua orang tertawa terbahak-bahak disana. Alvi berdiri dan berjalan mendekati suaminya. Ia duduk dipangkuan Arfi seraya memainkan tangannya. Sekali lagi gadis itu mengatakan pada Ardi agar mencari pengganti Almarhumah Levia. Alvi tau, sebagai seorang lelaki, pasti keinginan itu akan muncul.


Namun sekali lagi Ardi menolak, ia tak ingin semua itu. Keinginannya hanyalah kedua anak dan menantunya tinggal di rumah bersamanya. Menemani hari tua Ardi dengan penuh tawa dari para cucunya kelak. Alvi berkaca-kaca mendengar perkataan manis dari sang Papa.


"Pa, aku dan Alvi mau nginep di rumah Bunda seminggu boleh Pa?"


"Boleh Fi, satu bulan juga boleh. Disana bagus suasananya, pasti orangtua kamu juga ingin merawat menantunya"


"Makasih Pa, Bunda kangen Alvi katanya"


Usai mendapat ijin, Arfi masuk ke kamarnya untuk mengemas barang-barang mereka. Sedangkan Alvi kembali bermanja tidur dipangkuan Ardi, sembari mengelus perutnya yang masih rata.


Tak lama Arfi turun kebawah membawa sebuah koper. Ia memasukkan kopernya lebih dulu ke dalam mobil sebelum meminta istrinya yang manja untuk segera pergi.


Ardi membangunkan Alvi yang masih asik bermain ponsel sambil tiduran dipangkuannya.


"Gendong Maaasss" rengek Alvi seraya mengulurkan kedua tangannya.

__ADS_1


Arfi menggendongnya setelah berpamitan pada Ardi. Mereka berdua kemudian pergi menuju rumah orang tua Arfi. Selama perjalanan, Alvi hanya diam sambil memainkan ponselnya. Menonton video-video pendek di sosmed.


"Mas, aku mau makanan pedas"


"Gak boleh, kan sekarang ada anak kita sayang. Jangan makan yang pedas-pedas"


"Tapi aku pingin Mas, ayo ayo Mas, ke restoran kamu sebentar aja. Beli makanan pedas, ya ya pliiiisssss"


"Gak boleh sayang, aku bilang gak ya gak. Makan yang lain aja"


"Mas Arfi!! Aku tuh mau makan yang pedas-pedas, ngerti gak sih? Jadi cowok gak peka banget" teriak Alvi dengan kesal.


Arfi meminggirkan mobilnya ke tepi, ia menatap Alvi sejenak.


"Jangan kayak anak kecil, kamu tuh mengandung anak kita. Aku bilang jangan ya jangan, ini demi kebaikan kamu juga"


"Maaasssss"


"ALVI!!! Sekali aja dengerin aku, aku ini suamimu" bentak Arfi dengan nada tinggi.


Seketika hal itu membuat Alvi terdiam menahan tangisnya. Ia membenarkan duduknya dan mencoba menahan air mata yang ingin keluar. Alvi tak suka saat ada seseorang yang membentaknya seperti itu, karena Tuan Salim dan Ardi tak pernah melakukan hal seperti itu pada Alvi.


Setelah melihat Alvi yang kembali diam, Arfi pun melajukan mobilnya lagi. Tanpa ia sadari jika istrinya merasakan sakit hati sebab perkataan itu. Mobil Arfi mulai memasuki pintu masuk desa, keadaan yang sepi membuatnya leluasa untuk menyetir.


"Fi, Alvi habis nangis?" Tanya Maya ketika melihat baju menantunya yang basah.


Arfi bergegas keluar mobil, ia menggendong Alvi masuk kedalam rumah dan menidurkan nya dikamar. Usai menyelimuti istrinya, Arfi kembali keluar kamar menemui Maya dan Hasyim. Ia menceritakan jika mereka sempat berdebat ketika dalam perjalanan.


Maya yang mendengar hal itu, menjewer telinga putranya dengan kesal.


"Kok di jewer Bund? Aku salah apa? Aku cuma gak mau dia dan anak kami kenapa-napa Bund"


"Oalah Fi,Fi, istrimu lagi ngidam itu. Dasar cowok gak peka, Ayah mau keluar dulu ngumpul sama Bapak-bapak. Sekalian periksa sawah dan kebun, males disini ada cowok gak peka" ucap Hasyim kemudian pergi keluar rumah. Beliau sudah tidak lagi menarik taksi, Arfi sudah memberinya lapangan pekerjaan lain untuk mengurus sawah dan kebun yang dibelinya.


"Kamu sana beli buah, biar Bunda bikinkan rujak buah untuk istrimu. Fi, saat hamil begini, Alvi pasti gak tahan terlalu banyak makan pedas. Kasih cabai satu aja pasti udah kepedasan dia, sana beli buah" pinta Maya.


Arfi hanya bisa pasrah dan pergi membeli buah menggunakan motornya. Motor yang tak akan pernah ia jual sampai kapanpun. Itu adalah motor kesayangannya, terlebih ia membonceng Alvi pertama kali juga menaiki motornya itu.


Pemuda itu berkeliling mencari tukang buah yang biasanya mangkal di dekat pos ronda. Di sana rupanya ada teman-teman Arfi yang berkumpul menikmati buah di siang hari.


"Tuan Arfi, pulang kampung nih? Nyonya Arfi mana?" Celetuk salah seorang temannya menggoda.

__ADS_1


"Ada dirumah, baru datang nih langsung disuruh cari buah buat rujak"


"Hahahha, enaknya jadi Bapak jadi pingin nikah nih gue"


Arfi hanya bisa cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia membeli banyak buah-buahan kesukaan istrinya.


"Assalamualaikum" ucap seseorang ikut bergabung.


"Waalaikumsalam" jawab semua orang.


"Fi, apa kabar loe?"


"Baik Slam, loe apa kabar?"


"Alhamdulillah baik juga" jawab Yislam. Ia ikut bergabung dan duduk di pos ronda bersama yang lainnya.


Para pemuda itu berkumpul sambil berbincang ria bertukar kabar dan menceritakan pekerjaan masing-masing. Hingga mereka lupa jika hari semakin sore, dan adzan Ashar berkumandang. Itulah saat mereka tersadar lalu kembali pada kegiatan masing-masing selepas sholat Ashar.


Arfi berboncengan bersama Rama dan Yislam, karena rumah mereka satu arah. Motor Arfi perlahan melambat kala mendekati rumahnya, ia menatap seseorang yang tengah bercanda gurau di pos ronda depan rumahnya.


"Sih Arif tuh, ngapain dia sama Alvi disana?" Celetuk Rama.


"Hahahaha, Kakak Ipar kelihatan seneng banget tuh" goda Yislam.


Arfi kembali melajukan motornya hingga tepat di depan pos ronda. Ia langsung memarkir motor dan menghampiri istrinya serta Arif.


"Assalamualaikum" ucap Yislam.


"Waalaikumsalam, hai, kalian makin ganteng aja" jawab Alvi bersemangat.


"Kamu ngapain disini berduaan sama dia?" Cecar Arfi dengan wajah kesalnya.


"Akhirnya pulang juga kamu Fi, Bunda dan istrimu menunggu lama dirumah. Kamu darimana?" Sela Maya yang datang membelah kerumunan. Ia menyuguhkan minuman untuk Alvi dan Arif yang tengah menikmati rujak buah.


Maya sejenak masuk kedalam mengambilkan minuman yang habis. Ia juga menceritakan pada Arfi jika Arif begitu baik membelikan mereka buah untuk membuat rujak. Karena menunggu Arfi yang begitu lama serta tak bisa dihubungi sebab ponsel Arfi tertinggal.


"Kalian mau? Makan aja, pedes banget loh ini" ujar Alvi yang begitu menikmati.


"Hahaha lucu banget sih, padahal cabainya cuma satu. Padahal dulu kamu kuat banget makan pedas, emang orang hamil gitu ya Bund?" Celetuk Arif.


"Ya sebagian aja Rif. Nih ya kalau istri sedang hamil, harusnya sebagai suami harus peka, bukannya malah keluyuran ninggalin istrinya yang ngidam" jawab Maya. Ia kemudian berpamitan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Arfi memandangi sang Bunda dengan sedih, ia sungguh lupa akan hal ini.


__ADS_2