Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 73


__ADS_3

Arif, Rama dan Yislam merasa canggung dengan situasi yang terjadi. Mereka memutuskan untuk pergi setelah memakan buah-buahan itu hingga habis. Alvi dan Arfi masuk kedalam rumah membawa semua peralatan makan itu. Maya masih terlihat kesal pada Arfi yang melupakan perintahnya dan malah berkumpul dengan teman-temannya.


"Vi, maaf ya" lirih Arfi kala keduanya berada di dalam kamar.


"Jangan sama aku, Bunda marah banget sama kamu. Aku udah jelasin ke Bunda kalau aku gak mau makan pedas lagi, tapi Bunda malah hm....."


Alvi menatap suaminya yang masih tertunduk lesuh. Ia memeluk Arfi dan mencium pipinya singkat.


"Jangan sedih dong, nanti baby Ar ikut sedih loh"


"Baby Ar?"


"Iya, Ardi, Arfi, Arka, jadi nanti anak kita namanya juga Ar raarrr" jelas Alvi seraya menirukan suara macan.


"Kamu gak marah sama aku sayang? Tadi kan, kamu marah karena aku bentak-bentak"


Alvi tertawa kecil, ia duduk di tepi kasur sambil memandangi suaminya. Tentu saja Alvi marah, kesal dan kecewa, harusnya Arfi tak seperti itu. Namun melihat Bunda yang marah pada suaminya, Alvi merasa tak suka bila seseorang marah pada suaminya.


Setelah menjelaskan semuanya, Arfi berjalan keluar kamar menemui Maya. Ia mencium tangan sang Bunda dan meminta maaf atas kesalahannya. Namun Maya yang terlanjur kecewa, hanya mengangguk kemudian berpamitan pergi untuk mengajar anak-anak mengaji. Arfi kembali masuk kedalam kamar dengan perasaan sedih.


"Alvi, Bunda masih marah"


"Oh"


"Kok kamu cuek juga sih Vi? Tadi katanya sudah maafin aku?"


"Hm..."


"Vi, Alviii"


Alvi yang kesal memandangi suaminya dengan wajah cemberut. Ia tak suka kala Arfi memanggil namanya seperti itu. Alvi lebih suka kala suaminya memanggilnya dengan panggilan sayang. Arfi tertawa sebab istrinya marah hanya karena hal kecil ini, sungguh sangat sensitif hati seorang wanita.


"Iya iya sayang, maaf ya sayangnya Arfiii" goda Arfi dengan nada manjanya.


"Iiih nyebelin, gemes tauuu"


Ketika mereka tengah bercanda, terdengar suara salam. Arfi dan Alvi menjawabnya kemudian saling berpandangan lalu berjalan keluar kamar. Terlihat Arka yang tengah berdiri di depan pintu, ia seperti tengah berbincang dengan seseorang.


"Arka" panggil Alvi.


Pemuda itu menoleh, ia terbelalak lebar dan langsung berlari hendak memeluk Alvi. Namun Arfi dengan sigap berdiri di depan adiknya memeluk Arka. Terlihat teman Akrab satu persatu masuk kedalam rumah sambil mengucapkan salam. Alvi menyambut mereka dengan ramah sebagai Tuan Rumah.

__ADS_1


"Kenalin, ini Kakak gue dan perempuan cantik ini Kakak ipar gue" ucap Arka pada temannya.


Semua wanita disana tersipu malu menatap Arfi, pasti karena ketampanan tiada duanya. Mereka memuji ketampanan Kakak Arka yang tiada duanya. Sedangkan salah satu teman lelaki Arka terkejut memandangi Alvi. Ia tertunduk sejenak kemudian kembali menatap Alvi selama sepersekian detik.


"Kakak ipar loe ada yang jagain ya Ka?" Tanyanya.


"Iya, loe bisa lihat kan?"


"Jagain apa? Siapa?" Sela Alvi yang mendengar percakapan itu.


"Biasa Kak, dia mah genit, suka godain cewek. Kan Kak Arfi jagain Kak Alvi terus hehehe" jelas Arka.


Teman Arka mengernyitkan dahinya, ia rasa Arka tak mengerti perkataan nya. Namun Arka menggeleng sambil menatapnya. Arfi yang sadar situasinya pun langsung mengajak Alvi kedapur untuk membuat minuman.


"Bukan itu maksud gue Ka"


"Iya gue paham. Tapi Kak Alvi gak tau, semua orang juga gak ada yang kasih tau dia. Dulu dia juga kayak loe, tapi karena penakut banget jadi ditutup" jelas Arka. Ia juga meminta pada teman-teman nya untuk tidak mengatakan hal yang berhubungan dengan sesuatu tak kasat mata seperti itu.


Tak berselang lama, Alvi kembali dengan membawakan makanan serta minuman. Menjamu teman-teman Arka dengan begitu baik. Arfi terus mengikuti istrinya kesana-kemari, ia layaknya seseorang yang kebingungan.


"Bilang aja kali Kak, loe mau pergi kan? Selalu aja kayak gitu kalau mau minta ijin" celetuk Arka yang sudah terbiasa dengan gelagat sang Kakak.


"Mau pergi kemana Mas?" Tanya Alvi.


"Pergi aja, aku gak apa-apa kok. Kan ada Bunda, Ayah sama Arka yang jagain aku disini"


"Iya Kak pergi aja, lagian yang naksir Kakak ipar kan banyak" sahut Arka dengan senyuman nakalnya.


Alvi hanya tertawa garing kemudian masuk kedalam kamar. Arfi tampak sedikit tersentak, ia pun pergi keluar rumah untuk menelepon seseorang. Hanya sesaat, ia kemudian kembali masuk dan menuju kamarnya. Ia baringkan tubuhnya di pelukan sang istri yang tengah membaca buku.


"Kenapa masih cemberut? Kan udah diijinin"


"Gak jadi, nanti kalau Arif datang kesini lagi gimana?"


"Ya biarin kan bertamu, udah sana kelihatan banget kalau kamu pingin main sama teman-teman kamu"


"Kalau gitu kamu ikut aja, lagian teman-teman ku juga bawa pacar nya kok. Kamu mau kan sayang?"


Alvi mencium pipi suaminya dengan lembut, ia mendekap Arfi seraya meminta maaf. Bukan menolak, tetapi Alvi tak akan bisa pergi sebab Maya sudah melarangnya untuk pergi kemanapun hari ini. Karena siang tadi perut Alvi sempat sakit, jadi Maya tak ingin menantunya kelelahan melakukan sesuatu.


Arfi terlihat sangat kecewa, ia masih memandangi Alvi dengan penuh harapan. Kalaupun Alvi mengijinkan, belum tentu Maya akan baik-baik saja jika Arfi meninggalkan istrinya.

__ADS_1


"Pergi aja gak apa-apa Mas"


"Maaf ya, lain kali aja deh aku ikut mereka. Sekarang mau jagain kamu sama baby Ar aja"


"Terserah kamu aja"


"Kamu sayang aku kan? Kamu gak suka cowok lain kan sayang? Tadi kamu juga gak terkesan sama sikap Arif kan?"


"Harusnya aku yang takut kehilangan kamu, aku gak suka ada cewek yang lihatin kamu dengan cara yang berbeda. Bahkan teman-teman Arka buat aku cemburu, hm...."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari berganti malam...


Arfi membawa sebuah kotak besar berjalan mendekati istrinya. Kotak yang terlihat usang dengan pita penuh debu diatasnya. Jelas terlihat jika Arfi sudah lama tak menyentuhnya.


"Apa ini Mas?"


"Harapanku"


Perlahan Arfi membuka kotaknya, terlihat sebuah kain berwarna hitam dengan beberapa corak keemasan. Arfi memakaikan kerudung panjang pada istrinya, kemudian mengikatkan cadar.


Alvi langsung menarik cadar itu dan melepas kerudungnya. Ia menatap Arfi dengan raut wajah yang bahkan ia sendiri tak bisa mengerti perasaan nya.


"Aku tidak memaksa"


"Aku ngantuk Mas, mau tidur. Aku juga tidak lapar, katakan pada Bunda aku tidur"


Arfi kembali mengemas semua hadiah yang telah ia siapkan sejak lama. Tanpa sadar air mata Arfi menetes kala mengembalikan semua itu pada tempatnya semula.


"Sayang, makan ya, nanti kamu sakit loh"


Hening.


"Maaf sayang" gumam Arfi kemudian pergi keluar kamarnya. Ia berjalan mendekati meja makan, terlihat semua orang telah berkumpul disana.


"Mana menantuku Fi?" Tanya Hasyim.


"Dia tidur, tak lapar katanya" jawab Arfi lesuh.


"Paling juga berantem, kan Kakak mau keluar main futsal malam ini. Ninggalin Kakak ipar, ckck" sahut Arka mengejek. Dalam hitungan detik ia langsung mendapatkan jeweran telinga dari Hasyim.

__ADS_1


Maya menghela napasnya, sambil menatap kamar Arfi yang tertutup rapat.


__ADS_2