Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 69


__ADS_3

Keluarga kecil Arfi dan Bani berangkat bersama menuju rumah Tuan Salim. Pesta itu begitu meriah, ada banyak mobil mewah terparkir di sekitar rumahnya. Rumah Tuan Salim terlihat bagaikan istana mewah dengan banyak hiasan. Semua yang datang juga terlihat berkelas.


"Kakeeekkk" teriak Alvi memeluk Tuan Salim.


"Assalamualaikum" jawab Tuan Salim sambil mencubit hidung cucunya.


"Waalaikumsalam"


"Cucu Kakek cantik sekali memakai hijab seperti ini"


Alvi tersipu mendengar pujian itu, ia berjalan menjauh dan menggandeng suaminya yang mendekat bersama Bani. Kedua pemuda itu mengucap salam dan mencium Tangan Tuan Salim.


Niza juga terlihat cantik dengan hijab, sangat lucu dan menggemaskan. Bani menurunkan sang putri dari gendongannya, menunjukkan pada Tuan Salim jika cicitnya sudah bisa berjalan sendiri.


"Cicitku memang pintar, seperti Alvi saat kecil" ucap Tuan Salim senang. Beliau menggendong Niza dan memperkenalkan nya pada semua orang disana.


"Anak Papa mana nih?"


"Papa? Kok gak bilang kalau pulang? Jahat banget ih" oceh Alvi kesal.


Ardi mendekap putrinya yang terlihat cantik seperti Levia. Matanya berkaca-kaca melihat Alvi yang sangat anggun seperti Mamanya dulu. Bahkan mertua Alvi dan Bani juga memuji penampilan gadis itu.


Arfi mencoba menahan tawanya, ia tak bisa berhenti tertawa melihat wajah istrinya tersipu malu karena di puji banyak orang. Walau Bani maupun Oddy mengajaknya berbincang, pikiran Arfi masih terus tertuju pada sang istri. Tatapannya tak pernah sekalipun berpaling dari Alvi.


Tuan Salim mendekati para pemuda yang tengah berkumpul, mengenalkan calon istri Oddy. Penampilannya sangat sederhana, jelas sekali jika keluarga wanita itu berasal dari keluarga golongan menengah kebawah. Tuan Salim memang seperti itu, ia hanya akan mencarikan menantu terbaik yang bisa mengurus cucunya.


"Arfi, jika nanti ada yang merendahkan mu. Ingatlah kau adalah menantu terbaikku" pesan Tuan Salim sebelum pergi membawa calon istri Oddy untuk di kenalkan pada para wanita dikeluarganya.


Baru sebentar Tuan Salim pergi, seseorang datang mendekati Arfi, Bani dan Oddy. Mereka satu persatu memperkenalkan diri, juga menyombongkan para putra mereka yang menjadi lulusan kuliah di luar negeri.


"Kalian ada disini? Ayo kita temui yang lain!!" ucap Tuan Salim berusaha menjauhkan Arfi dari orang-orang disana.

__ADS_1


"Tuan Salim, kami baru saja ingin mengobrol dengan menantumu. Kami dengar, suami Alvi menikah lagi, bukankah aku sudah bilang kalau kau terlalu cepat menikahkannya?"


Tuan Salim hanya tertawa mendengarnya, ia kembali menarik Arfi agar pergi dari tempatnya sekarang. Tapi sekali lagi salah satu dari mereka mulai mengatakan yang tidak-tidak. Arfi tak bereaksi sedikitpun, ia hanya diam mendengarkan.


Dari kejauhan, Maya, Hasyim dan Ardi melihat pemandangan yang kurang menarik itu. Alvi yang awalnya tak menyadari pun akhirnya terusik. Ia berjalan mendekati tempat dimana Kakeknya berada. Ardi tersenyum lebar, ia sudah menduga jika putrinya pasti akan berbuat ulah.


Alvi mengambil dompet Arfi, di tangan kirinya ada yang satu lembar seratus ribu, dan ditangan kanannya ada banyak lembaran uang seratus ribu rupiah.


"Biarkan saya bertanya pada putra anda, jika saya memberi semua uang ini, mana yang akan kau masukkan ke kotak amal di Masjid?"


Ketiga putra dari para orang berada itu memilih satu lembar uang seratus ribu. Alvi menanyakan alasannya, mereka bilang, seratus ribu itu sudah cukup banyak untuk beramal.


"Karena itulah Tuan Salim memilih pemuda ini sebagai suami cucunya. Sebab dia memilih apa yang tidak kalian pilih, dan itulah kenapa dia sangat istimewa dibandingkan kalian"


Seketika semua terdiam, hanya terdengar suara tepuk tangan Ardi dari kejauhan.


"Kakek, aku tidak ingin berada di tempat dimana suamiku tidak dihargai" jelas Alvi lalu menarik tangan Arfi pergi menjauh. Ia mengajak Arfi untuk pulang ke rumah, tak ada hal istimewa disana, yang ada hanyalah luka.


Alvi juga tidak mengerti, kenapa Arfi diam saja saat di rendahkan oleh orang-orang yang mengaku berpendidikan itu. Padahal apa yang mereka katakan tidaklah benar, justru Arfi lebih baik dibandingkan para anak mereka. Merintis usaha dari nol hingga menjadi pengusaha muda yang sukses tanpa sokongan orang tua. Menjadi lulusan terbaik walau tak kuliah di luar negeri adalah suatu kebanggaan juga.


"Aku gak suka mereka merendahkan mu seperti itu. Memang mereka siapa? Menyebalkan"


"Terimakasih sudah membelaku sayang"


"Aku akan minta Kakek untuk menghancurkan mereka semua. Kenapa Kakek dan Papa hanya diam saja? Aku tidak menyukainya"


Arfi tertawa keras, ia merangkul pundak istrinya dan membawanya masuk kedalam. Di dalam sepertinya sedikit kacau, Tuan Salim mengusir orang-orang yang berani merendahkan suami cucu kesayangannya. Alvi tertegun melihat semua itu, ia semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Kita tak perlu membalas apa yang orang lain katakan, terlebih jika itu menyakiti kita. Buktikan saja pada mereka jika kita lebih baik tanpa perlu bicara tinggi" bisik Arfi di telinga istrinya.


"Aku akan tetap melakukan hal yang sama jika ada yang berani merendahkan suamiku. Merendahkan mu sama artinya dengan merendahkan aku, karena kamu dan aku itu satu"

__ADS_1


"Hahaha, hubungan seperti apa yang ingin kau miliki sayang?"


"Hubungan yang tak mudah goyah, seperti hubungan kita. Saat salah satu dari kita berusaha mempertahankan, hubungan itu pasti berjalan dengan baik"


"Dengan aku yang selalu mengalah maksudmu?"


Alvi mengangguk, ia berdiri di hadapan Arfi. Menggenggam tangan nya dengan erat, lalu menciumnya.


"Terimakasih, sudah hadir untuk membuatku mengerti. Kamu adalah seseorang yang tak akan pernah bisa aku lupakan. Aku mencintaimu, suamiku"


Riuh tepuk tangan menggema di rumah Tuan Salim. Pernyataan cinta Alvi mengambil alih tema hari ini. Arfi hanya bisa tertawa menahan rasa malunya. Ia tak tahu harus bagaimana menanggapi pernyataan cinta yang begitu berani itu.


"Arfi, cucuku menyatakan cintanya. Apa kau hanya akan diam mematung seperti itu?" Sahut Tuan Salim.


"Apa yang harus aku katakan Kakek, aku sudah membuktikan betapa aku sangat mencintai Alvi. Sangat mencintainya, terimakasih sudah memilihku untuk keduakalinya" ujar Arfi seraya menarik istrinya dalam dekapan.


*Hubungan? Hubungan seperti apa yang Alvi inginkan?


Takdir memberinya hubungan terbaik diantara yang paling baik. Mendapatkan begitu banyak cinta dari seseorang yang rela menunggu dirinya selama bertahun-tahun.


Cinta itu memang sedikit rumit untuk diartikan, namun cinta jelas bisa dilihat dengan adanya pembuktian. Alvi mulai mengerti, hubungan singkatnya dengan banyak pria brengsek adalah sebuah proses untuk menemukan cinta lamanya. Seseorang yang ia anggap tak pantas karena terlalu tinggi untuk digapai.


Tapi terkadang persepsi itu bisa salah, tak semua yang kita harapkan atau pikirkan akan menjadi apa yang tertulis oleh takdir. Seperti kisah Alvi dan Arfi yang dimulai oleh kebencian*.


Alvi membalas dekapan itu dengan erat, benar Arfi adalah miliknya. Dan tentang siapapun yang hadir dalam kehidupan mereka, itu hanyalah cerita pemanis kisah cinta ini.


"Sayang, jadi pingin punya anak deh. Mau punya anak"


"Boleh mau berapa sih Nyonya Arfi?"


"Sepuluh, kuat gak?"

__ADS_1


"Kebanyakan, aku gak mau lihat kamu kecapekan. Nanti kamu jadi gendut banget loh kalau anaknya sepuluh, serius"


"Aaaahhh, Kakekkk, Arfi nyebeliiiin"


__ADS_2