Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 12


__ADS_3

Selang beberapa menit berlalu, Alvi turun dengan koper besar miliknya.


"Aku mau pulang" ucapnya ketika melewati ruang keluarga. Ia melewati ruang tamu dan menyambar kunci mobilnya yang ada diatas meja.


Arfi segera bangun dari duduknya dan berlari keluar rumah menghampiri Alvi. Ia menghadang jalan istrinya, dan menatap Alvi dengan bingung. Ia tidak mengerti kenapa mood istrinya cepat sekali berubah. Dan Arfi juga tidak tahu bagaimana cara menghadapi Alvi yang seperti ini.


Sendu, Arfi melihat mata yang dipenuhi kesedihan. Ia hanya diam menunggu Alvi menceritakan apa yang tak ingin Arfi tanyakan. Ia ingin Alvi percaya padanya, membagi duka dan bahagia tanpa sebuah pertanyaan.


"Gara-gara aku ya, Mas Arfi sama Arif berantem?"


Arfi terkejut dengan pertanyaan itu, ia menarik Alvi dalam pelukannya. Tidak, bukan seperti ini yang ia inginkan. Arfi hanya diam memeluk Alvi yang terluka untuk kesekian kalinya. Istrinya pasti merasa tertekan, walau nyatanya ini bukan salah Alvi.


Pemuda itu menatap sekitar, meminta semua orang untuk masuk dan tidak khawatir dengan bahasa isyarat. Setelah memastikan tidak ada siapapun kecuali mereka berdua, Arfi menarik kepala sang istri. Menghapus air matanya, ia menangkup kedua pipi Alvi dan mengelusnya dengan lembut.


Dengan detak jantung yang tak karuan, Arfi berusaha memberanikan dirinya. Mendekatkan jarak mereka berdua, dan mengecup bibir Alvi selama beberapa detik. Seperti orang kikuk, Arfi hanya diam seperti itu. Hingga membuat Alvi tak bisa menahan tawanya dan mendorong Arfi menjauh.


"Aku gak lagi bercanda Mas"


"Aah, anu.. itu.. ahahah" Arfi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia benar-benar malu dan tak tahu harus berbuat apa.


"Aku mau pulang, baju Mas Arfi masih dikamar. Kita bertemu dirumah, jangan ganggu aku" ucap Alvi kemudian berlalu masuk kedalam mobilnya. Ia melajukan mobil sport nya dengan kencang meninggalkan rumah Tuan Salim.


"Malu banget gue, ayo Arfi loe pasti bisa. Gue akan coba lagi, rasanya jantung gue mau copot" gumam Arfi. Ia masuk kedalam rumah dan mengemasi pakaiannya.


Sebenarnya Tuan Salim meminta mereka untuk tinggal selama beberapa Minggu. Tapi karena Alvi yang ingin pulang, tak ada yang akan melarangnya. Ia memang kesayangan semua orang.


"Arfi, sabar ya, putriku memang sangat keras kepala" ujar Ardi ketika Arfi hendak keluar dengan kopernya.


"Hahaha, biarkan saja dia Pak Ardi. Arfi harus belajar mengurus rumah tangga nya sendiri. Pengalaman adalah guru terbaik" sahut Hasyim.


Para orang tua itu tertawa, sedangkan Arfi hanya tersenyum kikuk. Tuan Salim memanggil Arfi untuk mendekat. Ia meminta Arfi duduk disampingnya. Sedangkan beliau sibuk membuka dompetnya, ia keluarkan sebuah black card lalu diberikannya pada Arfi.


"Tidak Kakek, aku akan bertanggungjawab atas semua pengeluaran Alvi"


"Bodoh, ini milik Alvi. Dia tidak pernah mau menerimanya, setidaknya biarkan aku memberikan kalian hadiah. Simpan, apa aku harus memohon?"


"Tapi Kek.."


"Arfi, simpan saja. Tuan Salim akan sedih jika kau juga menolaknya" sela Pak Kyai.


Arfi masih ragu, tapi Tuan Salim sangat memaksa. Ia menatap kedua orangtuanya, beliau pun juga menyerahkan semua keputusan pada sang putra. Arfi menerima pemberian Tuan Salim, ia mengucapkan banyak terimakasih atas apa yang Tuan Salim berikan padanya dan keluarga.

__ADS_1


"Kek, apa Kakek akan mewujudkan permintaan Alvi?" Celetuk Bani.


"Tentu saja, dia cucu kesayangan ku"


"Tapi Kek, bukankah menjatuhkan keluarga Baim dan Ambar itu keterlaluan?"


"Ah, itu ya, tapi mereka membuat cucuku menangis"


"Salim, itu tidak baik, jangan turuti permintaannya" sela Pak Kyai.


Sayangnya Tuan Salim sudah berjanji pada Alvi, dengan imbal balik persetujuan pernikahan ini. Pak Kyai geram dan memukul Tuan Salim dengan tongkat. Arfi hanya bisa tertawa kecil, ia lalu berpamitan pergi diantar oleh supir Tuan Salim. Selama perjalanan, yang ia pikirkan hanya cara agar Alvi tak marah lagi.


Dalam perjalanan pulang, ia melihat pinggir jalan. Ia melihat banyak penjual makanan, tetapi bingung sebab ia tak begitu tau makanan kesukaan Alvi.


Triiing...


Ponsel Arfi berdering, ada panggilan masuk dari istrinya...


Gadisku🄰 calling...


Arfi : "Assalamualaikum, sayang"


Alvi : "Mas, beliin pisang yang warna kuning yang besar"


Alvi : "Waalaikumsalam"


Setelah menjawab salam Arfi, Alvi mematikan panggilan itu. Arfi hanya menggeleng, tapi ia memiliki tekad akan mengatur Alvi bagaimanapun caranya. Gadisnya itu sangat nakal dan suka semaunya. Arfi berhenti disalah satu supermarket untuk membeli pisang pesanan sang istri.


Saat Arfi tengah memilih beberapa buah lain, seseorang terlihat menghampiri dirinya. Seorang wanita berpakaian muslim dengan banyak belanjaan ditangannya.


"Assalamualaikum Arfi"


"Waalaikumsalam, Aisya? Ngapain loe disini?"


"Lagi belanja, loe sendirian aja?"


"Iya nih, istri gue minta dibeliin pisang. Lucu ya dia"


"Oohhh"


Aisya mencoba mengalihkan topik dengan mengajak Arfi berbincang mengenai pesantren di dekat rumah mereka. Pesantren yang biasa mereka datangi untuk belajar mengaji dan mengajar anak-anak kecil disana. Tapi sayangnya Arfi menjawab acuh tak acuh, ia terus saja mencari celah menghindari percakapan dengan Aisya dengan memasukkan nama Alvi disetiap jawabannya.

__ADS_1


Hingga Aisya tak bisa menahan rasa kesal dan berpamitan pergi untuk mencari belanjaan lainnya. Arfi masih tetap acuh, ia memilih beberapa buah lain untuk persediaan dirumah. Juga membeli es krim dan beberapa coklat.


Di rumah Ardi....


"Assalamualaikum, sayaaaang"


"Waalaikumsalam, den Arfi belanja banyak banget. Saya sudah beritahu non Alvi, tapi dia sangat keras kepala. Terimakasih ya den Arfi" sahut Bi Inah seraya mengambil alih barang belanjaan yang ada ditangan Arfi. Beliau juga mengambil koper Arfi, lalu menyuruh suami nona mudanya itu pergi menemui Alvi yang tengah berjemur di kolam renang.


Sembari membawa pisang dan es krim untuk istrinya. Arfi mencoba menenangkan hatinya, takut melihat sesuatu yang akan membuatnya berdebar lagi.


"Sayang"


"Oh Mas Arfi udah datang, sini Mas"


Arfi berjalan mendekati Alvi yang tengah berbaring dengan matras pelampung di tepian kolam renang. Benar seperti dugaannya, jantung nya kembali berdetak dengan kencang memandangi Alvi yang seperti ini. Padahal istrinya tak mengenakan bikini, hanya celana super pendek dan kaos tanpa lengan.


Alvi meminta Arfi untuk duduk di tepi kolam, menemani dirinya yang sedang menghibur diri.


"Wah, pisang nya besar, aku suka yang besar dan panjang"


"Hahaha, aku juga punya" bisik Arfi menggoda.


"Aaah, mesuuum"


"Apa? Nih, aku juga bawa pisang lain. Kamu yang mesum"


Alvi tertawa mendengar hal itu. Ia menatap Arfi seraya memakan pisangnya. Sedangkan Arfi juga menikmati es krim yang ia beli.


"Mas, maaf ya, harusnya aku gak marah ke Mas Arfi"


"Mood kamu dari kemarin berubah-ubah terus, lagi haid ya?"


"Iyaa, kok Mas Arfi tau?"


"Bunda yang bilang, kalau cewek lagi haid biasanya moodnya naik turun"


Selagi berbincang singkat, Arfi juga menceritakan tentang pertemuannya dengan Aisya. Awalnya Alvi bingung, ia merasa tak mengenal seseorang bernama Aisya. Tapi setelah Arfi menjelaskan, barulah ia ingat kembali alasannya marah pada Arfi.


"Maaf ya sayang" ucap Alvi begitu manja. Ia menidurkan kepalanya di paha Arfi seraya bermain dengan tangan suaminya.


"Oke untuk terkahir kalinya. Kalau ada apa-apa cerita ya, jangan tiba-tiba marah. Aku gak tau harus gimana kalau kamu marah"

__ADS_1


"Iya iya, mau pisang lagi Mas, suapin"


__ADS_2