
"Alvi tunggu, aku akan mengajari mu mengaji" ucap Arfi menghentikan istrinya yang hendak keluar musholla.
"Gak mau"
"Alvi"
"APA?"
"Baiklah, duduk dan dengarkan saja"
Dengan langkah berat, Alvi kembali masuk dan duduk di samping suaminya. Arfi sudah membuka Al-Qur'an dan bersiap membacanya. Ia memulai dengan ta'awudz dan basmallah. Suara merdunya menggema di seluruh rumah. Bahkan Bani, Oddy dan Bi Inah mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang Arfi bacakan.
Alvi yang memang tak ingin, ia memilih berbaring di dekat Arfi sambil memainkan ponselnya. Semakin lama, suara mengaji Arfi mengusik hati Alvi. Gadis itu pun meletakkan ponselnya dan diam mendengarkan sang suami yang tengah membaca Al-Qur'an.
Cukup lama Arfi mengaji, hingga suara adzan Isya' terdengar. Arfi menyudahi membaca Al-Qur'an. Ia memalingkan wajahnya menatap Alvi yang masih memandangi dirinya.
"Kok nangis sayang?" Tanya Arfi seraya menyeka air mata sang istri.
"Gak tau, aku mau...."
Preettt...
Perkataan Alvi terpotong karena ia kentut. Gadis itu cengengesan di depan Arfi yang terdiam menahan aroma busuk disana. Sedangkan Bani, Oddy dan Bi Inah, langsung pergi mencari udara segar kala mereka hendak masuk ke Musholla. Ketiga orang itu berpencar mencari udara segar yang bisa dihirup.
"Bau ya Fi?"
"Banget" jawab Arfi dengan wajah tegangnya. Ia sudah tak tahan dan segera pergi keluar Musholla. Tak lupa sambil mengoceh meminta Alvi juga pergi keluar. Bisa-bisanya gadis itu buang angin di Musholla tanpa mengatakan apapun sebelumnya.
Ttokk.... Ttok....
Suara ketukan pintu membuyarkan pikiran mereka dari aroma kentut Alvi. Mereka semua saling berpandangan, berpikir jika calon istri Bani telah tiba. Beberapa detik semuanya terpaku menatap pintu. Tetapi nyatanya, Ardi masuk sambil mengucapkan salam.
"Kenapa kalian?" Tanya Ardi kebingungan.
"Alvi kentut bau banget Pa" jawab Bani sembari menunjuk Musholla.
Tak berselang lama Alvi keluar setelah melepas mukenahnya. Ia menatap semua orang dengan kesal dan pergi menuju kamarnya. Arfi berusaha memanggil nama istrinya, tapi Alvi tak peduli dan terus pergi tanpa kata apapun.
Ardi hanya bisa tertawa, putrinya masih saja seperti itu. Dalam lubuk hatinya, ia tak rela bila Alvi cepat dewasa. Ardi masih ingin memanjakan sang putri dan bermain-main dengannya.
__ADS_1
"Biarkan saja, Papa mau mandi dulu. Tunggu Papa ya jama'ah nya" pinta Ardi kemudian bergegas masuk kedalam kamarnya.
Arfi mengambil kesempatan ini untuk menghampiri istrinya. Benar saja, Alvi tengah berbaring diatas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Ia bahkan tak peduli saat Arfi terus memanggil namanya.
"Nyonya Arfi, cepat ambil wudhu"
"Gak mau"
"Aku akan memberimu hadiah nanti setelah acara pertunangan sayang. Ayo cepat, ambil wudhu"
"Kentut aku bau apa gak?"
"Bau banget Vi, udah sana. Jangan bikin aku marah ya!!" Ucap Arfi dengan nada sedikit membentak. Ia kemudian berlalu pergi sambil mencoba menahan tawanya. Astaga, bau kentut semenyengat itu masih ditanyakan, Alvi memang cewek aneh.
"Aaahh Arfi nyebeliiiin"
Untuk kali ini Alvi mengalah, ia tak ingin memperpanjang masalah. Sebab hari ini adalah hari yang penting untuk Bani. Ia mengambil wudhu kemudian turun kebawah. Semua orang sudah menunggu dirinya disana, Ardi juga terlihat duduk di tempat biasa Arfi menjadi Imam. Setelah Alvi bergabung, merekapun mulai menunaikan ibadah sholat Isya'.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pukul 19:30...
Semua keluarga Alvi telah berkumpul, termasuk Pak Kyai yang sudah menjadi bagian dari keluarga Tuan Salim.
"Tapi kan suamiku masih sibuk Kek. Nanti kalau dia pulang pasti dipakai"
"Kakek itu terlalu mahal" sela Arfi.
"Arfi, kebahagiaan cucuku itu lebih mahal nak. Ini tidak seberapa, jangan menolaknya. Kau akan membayar mahal jika membuat cucuku sedih" jelas Tuan Salim memberikan peringatan.
"Kakek, dia suamiku, jangan mengancamnya"
"Jadi sekarang kau lebih menyayangi suamimu daripada Kakek?"
Alvi tak menjawab dan hanya berdehem. Ia memeluk Arfi, itu adalah jawaban yang sangat mudah dipahami bukan. Tentu saja kini dunia Alvi adalah Arfi, ketika Alvi membuka mata Arfi yang ia lihat untuk pertama kali, bahkan ketika matanya hendak terpejam suaminya yang ada disana.
Tuan Salim ingin sekali memukul cucu tersayang nya itu. Tapi jangankan memukul, membentak Alvi saja hatinya tak mampu. Ia hanya sekadar marah lalu bercanda dan kembali memanjakan Alvi. Bagi Tuan Salim, Alvi adalah dunianya, alasan beliau bertahan hidup lebih lama. Ia sangat menyayangi Alvi dibandingkan anak dan cucunya yang lain.
Ttok.. Ttok...
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar, ucapan salam pun tak luput tertinggal. Bi Inah membukakan pintu menyambut para tamu yang datang. Spontan Arfi, Oddy dan Alvi berdiri kemudian pergi ke tempat lain untuk melihat. Mereka mengosongkan tempat duduk untuk para tamu yang hadir.
Para orangtua tengah berbincang, Bani terlihat begitu pasar seraya sesekali mencuri-curi pandang ke arah calon istrinya. Oddy mencoba mengabadikan momen-momen kala wajah Bani terlihat begitu gugup layaknya hendak sidang skripsi. Sedangkan Arfi berusaha membuat istrinya diam karena Alvi terus saja bergerak-gerak dibelakang tubuhnya.
"Arfiiii, Arfiiiiii"
"Ada apa?"
"Mereka so sweet banget sih, aku jadi deg-degan"
"Aku juga deg-degan kalau kamu manja kayak gini sayang"
Alvi tersenyum kecil, ia memukul pelan tubuh suaminya. Pertemuan itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Bani dan gadis bercadar itu resmi bertunangan. Pernikahan mereka sudah ditentukan setelah Bani selesai KKN.
"Aaahh, selamat Kakakku" ucap Alvi seraya memeluk Bani. Ia memberikan jempol pada calon Kakak iparnya, Zahra.
Setelah pertunangan selesai, para tamu kembali pulang sebab hari sudah larut malam. Ketika semua orang memilih untuk beristirahat, tidak dengan Alvi yang terus mengusik Bani. Ia menanyakan bagaimana perasaan Kakaknya, tetapi sekali lagi Bani hanya diam.
Arfi menarik Alvi agar menjauh dari Bani.
"Mas Arfi, apa sih? Aku mau bicara sama Kakak" Sentak Alvi seraya berusaha melepaskan tangan Arfi dari pakaiannya.
"Bani lagi capek, kamu ikut aku aja ke kamar"
"Capek kenapa? Aku mau ngobrol sama Kakak. Kamu ke kamar aja sana, kamu juga capek kan?"
"Sama kamu dong. Kamu pikir kenapa aku pulang? Ayo cepat, jangan kekanakan"
"Aaaaahhh Papaaaa, Kakakkkk, Kakeekkk, tolonggg" teriak Alvi begitu dramatis.
Semua orang yang Alvi panggil, hanya diam memandangi Arfi yang menyeret paksa istrinya untuk masuk kedalam kamar. Arfi menggendongnya di pundak, walau sekeras apapun Alvi memberontak, tenaganya melemah dihadapan orang yang dicintainya.
Bruuukkk.....
Arfi melempar istrinya ke tempat tidur dengan senyuman nakal.
"Ih, bilang dong kalau Mas Arfi lagi pingin"
"Harusnya kamu paham"
__ADS_1
"Eh, tunggu, mana hadiahnya?"
"Pakai sana, kamu ke kamar mandi dulu" bisik Arfi seraya memberikan kotak hadiah. Ia menarik Alvi dan mendorong nya masuk ke kamar mandi. Hadiah istimewa pilihan Arfi yang di tertawa kan oleh Bani dan juga Oddy tentunya.