
Pagi menjelang, Alvi terbangun dari tidurnya. Matanya memandang ke segala penjuru kamar, ia tak menemukan siapapun disana. Dengan langkah berat, Alvi berjalan menuju jendela, hanya sekedar untuk mengintip terangnya di luar rumah.
Apa mereka benar-benar tidak ada hubungan? Kenapa Aisya tersenyum selebar itu? Apa Arfi juga tersenyum padanya?, batin Alvi. Ia tak sengaja menatap suaminya yang tengah berbincang dengan Aisya di depan rumah. Karena Arfi membelakangi rumah, Alvi jadi tak bisa melihat raut wajah suaminya.
Gadis itu berusaha menepis semua pikiran buruknya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi pun, Alvi masih tak melihat suaminya di dalam rumah. Ia kembali mengintip lewat jendela kamar dan mendapati Arfi yang masih berbincang dengan Aisya disana. Entah apa yang mereka bicarakan hingga selama ini.
"Vi, mau Bunda masakin sesuatu atau mau beli makanan diluar?" Tanya Maya yang memasuki kamar menantunya. Ia belum mendapat jawaban dari Alvi yang begitu terpaku menatap keluar jendela.
Maya menepuk pundak gadis itu dan membuatnya terkejut bukan main. Alvi langsung gelagapan dan salah tingkah seolah ia kedapatan melakukan sesuatu yang salah. Sedangkan Maya mencoba mengintip melalui jendela, lalu kemudian tertawa kecil.
"Kamu cemburu?"
"Gak, aku gak lagi lihat mereka kok Bund"
"Tapi Bunda kan gak bilang kalau kamu lihatin mereka"
Glekk...
Alvi menelan ludahnya, ia menghembuskan napasnya kasar dan duduk di tepi kasur.
"Itu namanya cinta, sayang"
"Nggak aku aku... aku emang sayang sama Mas Arfi. Kenapa cewek itu disini Bund?"
"Tadi Aisya bawain makanan, tapi udah habis dimakan Arfi sama adiknya"
Alvi semakin sebal dibuatnya, kenapa suaminya tidak membangunkan dirinya? Apa Arfi tak mau berbagi makanan itu dengan Alvi? Tapi kenapa? Apa karena ia menyukai masakan buatan Aisya atau ada hal lain?
Maya menarik Alvi untu bangun dari duduknya. Membawanya keluar rumah untuk melihat lomba masak yang diadakan di kampung sebelah. Ibu-ibu sudah menunggu Maya, ia hanya ingin sejenak memastikan jika menantunya tak lupa makan. Tapi sepertinya kini ia harus mengikutsertakan Alvi dalam kegiatannya hari ini.
"Bunda ada dipihakmu, jika kau marah pada Arfi, Bunda tak akan ikut campur. Ayo kita pergi saja, katanya nanti dibagiin buku resep loh" bujuk Maya. Ia berusaha membuat menantunya tak sedih lagi.
"Bunda sama Kakak ipar mau kemana?" Tanya Arka yang tengah berbaring di sofa ruang tamu.
"Ke kampung sebelah, lihat lomba masak"
Tanpa basa-basi, Arka bangun dan mengikuti kedua wanita itu. Arfi dan Aisya menoleh kala mendapati pintu rumah yang terbuka. Aisya memberi salam pada Maya serta mencium tangannya. Sedangkan Alvi dan Arka berjalan lebih dulu tanpa memandang keduanya sama sekali. Apapun alasannya, Alvi sangat kecewa.
"Bunda, istriku kenapa? Dia bahkan tidak menatapku"
__ADS_1
"Benarkah? Bunda pikir kau yang tak menyadarinya, dia menatapmu dari balik jendela kamar kalian"
Mendengar penjelasan Maya, Arfi langsung berlari mengejar Alvi. Namun gadis itu dan Arka malah ikut berlari kencang seakan di kejar sesuatu. Arfi mencoba memanggil nama Alvi berkali-kali, tapi tetap tak didengar.
"Sayang, hei, tunggu, capek nih" ucap Arfi seraya menarik tangan Alvi. Ia menatap kedua mata istrinya yang tampak berkaca-kaca.
Alvi hanya diam, walau berusaha. mengatur napasnya yang naik turun. Gadis itu bungkam seribu bahasa. Tak ada kata apapun, Alvi melepaskan genggaman tangan Arfi dari tangannya.
"Jangan menyentuh ku"
"Alvi, ada apa? Kau mau pergi kemana? Aku antar ya?"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri"
"Mana mungkin aku membiarkanmu pergi sendiri saat aku ada disini"
"Bisa, kau hanya perlu pergi dan berbincang dengan cewek itu"
Dingin, sikap Alvi begitu dingin pada suaminya. Ia bahkan tak menatap Arfi saat berbicara. Biasanya, walau kesal atau marah, Alvi tetap menatap mata suaminya saat mereka berdebat. Namun kali ini, gadis itu hanya memandang ke arah lain. Seolah kekecewaannya terlalu besar untuk dilupakan.
"Bilang aja kalau cemburu, itu wajar sayang. Jangan diemin aku kayak gini, hm..."
"Cemburu itu"
"Gak Mas"
"Iya cemburu itu namanya, sayang"
"Mas Arfi !!!!"
Arfi menatap istrinya, ia gerakkan dagunya meminta penjelasan. Hanya dalam hitungan detik, Alvi memeluknya dan memukuli dada Arfi perlahan. Pemuda menyebalkan itu, Alvi merasa sangat kesal dibuatnya.
Dipeluknya sang istri dengan penuh cinta, ia kecup kening Alvi sambil menuturkan kata maaf.
"Bisa kita pulang sekarang sayang? Kamu mau kemana?"
"Mau lihat lomba masak di kampung sebelah. Loh Arka mana Mas? Apa ketinggalan ya?"
"Hahaha, dia udah pergi sama temannya. Rumah lagi sepi nih, kita pulang aja yuk, hm.."
__ADS_1
"Aku mau lihat lomba masak"
"Pulang aja, ayo sayang"
"Gak mau Mas, aku mau ke kampung sebelah. Siapa tau menu lomba nya steak"
Arfi terkekeh, ia mendekatkan dirinya dan mensejajarkan bibirnya dengan telinga Alvi. "Mas lagi pingin nih, kamu yakin gak mau nemenin?" Bisik Arfi perlahan.
Alvi tertawa terpingkal-pingkal, ia tak sanggup melihat wajah suaminya. Setelah berpikir selama sekian detik, Alvi mengikuti suaminya pulang kerumah. Walau sedikit heran karena tiba-tiba Arfi menginginkannya di siang hari.
Begitu mereka sampai dirumah, Arfi langsung mengunci pintu kamarnya dan jendela. Ia nyalakan televisi dengan volume cukup kencang.
"Mas Arfi habis lihat apa hayo? Kenapa tiba-tiba jadi..." belum saja perkataan Alvi usai. Arfi langsung menyambar bibir istrinya begitu saja. Ciuman panas itu sungguh bergairah, Alvi sedikit takut dibuatnya.
"Mas jawab dulu"
"Kamu semalam gak ingat? Kamu mainin punyaku, masuk-masuk tuh tanganmu kedalam celanaku"
"Pantes aja, aku juga mimpi anu ahahaha. Kenapa semalem gak bangunin aku Mas?"
"Kamu tidur nyenyak banget, lagian, aku juga suka sih"
Penuturan jujur Arfi membuat istrinya tertawa bahagia. Suaminya sungguh manis dan lucu. Mereka kembali memulai ciuman penuh nafsu itu. Satu persatu pakaian mereka mulai terlepas, Arfi semakin menjadi mengelus tubuh mulus istrinya.
Pemuda itu begitu lihai memuaskan sang istri, bibirnya perlahan turun menggelitik leher Alvi. Hasrat Alvi semakin tak bisa ia tahan, suara desa han nya begitu keras terdengar. Arfi kembali menurunkan bibirnya, sejenak ia menatap dada mungil milik istrinya itu.
"Punya kamu juga kecil nih" tutur Arfi menggoda istrinya. Ia melahap pu ting milik Alvi dan sesekali menghisapnya. Darah ditubuh Alvi semakin mendesir tak karuan. Ingin rasanya bibir kecil itu mengumpat sebab Arfi begitu asik bermain dengan tubuhnya.
Setelah beberapa waktu, Arfi kembali melanjutkan menjelajahi tubuh istrinya. Ia sejenak berhenti di pusar Alvi kemudian menciumnya beberapa kali sebelum menemui inti dari semua rasa memuaskan itu. Arfi mengelus area vital istrinya, ia kembali mengecupnya beberapa kali. Harum, Alvi menjaganya dengan sangat baik.
Perlahan ia kecup dan jilat, terkadang ia hisap. Istrinya semakin tak bisa menahan diri menerima semua rangsa Ngan ini.
Arfi kembali menatap wajah istrinya yang begitu menggemaskan.
"Sayang"
"Ayo Mas, kenapa berhenti, lagi"
"Anak nakal" gumam Arfi lalu melu mat kembali bibir istrinya. Sembari perlahan memulai hubungan in tim dengan penuh cinta itu.
__ADS_1