Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 32


__ADS_3

"Uwaaaa" Alvi terbangun dari tidurnya. Ia terkejut kala melihat matahari yang sudah terbit. Matanya beralih mencari sosok Arfi yang tak ada disampingnya.


"Kakaaaaaakkkk" teriak Alvi kala mendapati suaminya yang tertidur diatas sajadah.


Tak berselang lama, Bani dan Oddy datang mengetuk pintu. Alvi membukanya dan langsung meminta sang Kakak untuk membawa Arfi ke rumah sakit. Ia amat sangat khawatir, tanpa basa-basi mereka bertiga melesat pergi ke rumah sakit.


Setelah Arfi di periksa, Bani meminta Alvi untuk pulang dan mandi. Ia harus membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Awalnya Alvi menolak, tapi Oddy menyeretnya paksa karena Arfi pasti akan marah jika melihat Alvi mengenakan pakaian tidur itu.


Alvi mengerti dan langsung pulang, ia bergegas membersihkan, memasak makanan untuk Arfi lalu kembali ke rumah sakit secepat yang ia bisa.


Sedangkan di rumah sakit, Oddy dan Bani memandangi Arfi yang telah sadarkan diri.


"Lemah banget sih loe Fi. Keseringan main ya kalian, tapi Alvi baik-baik aja tuh" ejek Bani.


"Sialan loe Ban"


"Uwa uwa, Arfi ngomong kasar. Ckckck, masih muda massa iya harus pakai obat kuat, loyo ya Mas" imbuh Oddy mengejek.


Arfi hanya berdehem mendengarkan ejekan para iparnya. Ia mengalihkan pandangan, mencari sang istri tercinta. Bani dan Oddy kembali menggodanya, mengatakan jika Alvi sedang jalan bersama dengan Alif. Benar saja, Arfi memaksa bangun dari tidurnya dan hendak pergi keluar kamar.


"Mas Arfi udah sadar? Mau kemana? Tidur aja" celoteh Alvi yang langsung saja duduk di samping suaminya.


Mata Arfi terbelalak lebar, Bani dan Oddy memilih keluar kamar, tidak ingin terlibat tentunya. Arfi menatap pakaian yang di kenakan istrinya, pakaian ketat itu membuat Arfi terusik. Terlebih kini pakaian yang Alvi kenakan terlihat seperti kekecilan hingga membuat perut Alvi terlihat dengan begitu jelas.


"Kenapa harus pakai itu, keluarin" pinta Arfi seraya mencoba mengeluarkan sumpelan bra dalam dada istrinya. Alvi berusaha menolak, mereka berdua sedikit beradu mulut karena hal kecil itu.


"Ah, kalian lagi sibuk ya. Nanti Kakek kembali lagi" ucap Tuan Salim yang tak sengaja melihat adegan itu.


Alvi membiarkan Arfi mengeluarkan sumpelan itu, sedangkan dirinya hanya diam sambil menatap suaminya. Ia mengelus pipi Arfi yang masih terasa panas, lalu menjatuhkan dirinya dalam dekapan sang suami.

__ADS_1


"Aku pingin dimanjain kamu, tapi malah kamu yang semakin manja, hm..."


"Aku sedih tau, kenapa Mas Arfi sakit sih? Jangan sakit, aku khawatir"


"Maaf ya" ucap Arfi seraya mengelus rambut istrinya penuh kasih sayang. Sejenak ia lupa apa yang istrinya lakukan, sikap manja Alvi selalu bisa membuat hatinya luluh.


Pintu kembali di ketuk, Bani menjulurkan kepalanya sambil menutup mata. Ia bertanya apakah pengantin baru itu sudah selesai bermesraan, sebab dokter ingin memeriksa keadaan Arfi lagi.


Arfi meminta Bani dan semuanya untuk masuk, lagipula mereka tak melakukan apapun disana, itu hanyalah kesalahpahaman. Alvi berdiri disamping suaminya, sambil terus memperhatikan Arfi yang tengah di periksa oleh dokter.


Masih sama, para dokter yang memeriksa Arfi berkata jika pemuda itu kelelahan dan makan tidak teratur. Karena itulah ia jatuh sakit dan demam tinggi.


"Dokter, apakah saya boleh pulang?"


"Tidak, biarkan dia menginap beberapa hari disini Dok. Dia harus benar-benar sembuh agar bisa pulang, aku benar kan Kek?" Sela Alvi.


Tuan Salim mengangguk, beliau ikut keluar bersama dokter tersebut untuk membicarakan beberapa hal. Alvi kembali bergelayut manja di lengan suaminya. Hangat, badan Arfi terasa hangat dan nyaman. Padahal Bani dan Oddy tengah membahas beberapa hal dengan Arfi.


Alvi sebenarnya merasa kesal, ia ingin suaminya beristirahat total tanpa memikirkan apapun. Tapi itu sudah kewajibannya sebagai Ketua kelompok. Sungguh, Arfi selalu menyukai hal seperti itu, ia memang pantas menjadi seorang pemimpin.


"Kamu gak kuliah hari ini?"


"Gak, aku mau jagain kamu sayang"


"Bohong, dia mah cari alasan buat bolos" celetuk Bani seraya berjalan pergi bersama Oddy.


Gadis itu cengengesan, memang benar dia sangat tak menyukai belajar. Tapi demi dibelikan sebuah mobil sport, Alvi rela menuruti permintaan Tuan Salim untuk kuliah. Itupun juga karena Ardi memaksa agar putrinya berpendidikan.


Alvi membuka kotak makanan, ia menunjukkan berbagai macam masakan yang sehat untuk suami tercintanya.

__ADS_1


"Kamu gak bawa jaket?"


"Apa sih Mas? Aku kan dandan cuma buat kamu"


"Tapi ini bukan kamar kita, pasti ada banyak mata yang lihat ketika kamu keluar dari ruangan ini"


"Ya berarti itu rejeki mereka. Kalau kita memberi rejeki pada orang lain, kita dapat pahala kan?"


"Bodoh, bukan begitu konsepnya" sentak Arfi kesal.


Detik kemudian Arfi tersadar dan meminta maaf setelah melihat istrinya yang cemberut. Ia tak bisa menahan emosi karena pemikiran konyol istrinya itu. Arfi mengambil ponselnya dan menelepon Bi Asih, memintanya membawakan jaket untuk Alvi. Sekali lagi gadis itu mendengus kesal, Arfi sungguh membatasi dirinya dan itu menyebalkan.


"Mas, denger ya, aku bisa, tau ah males aku sama kamu"


"Vi, boleh pakai cuma di depan aku. Bukan untuk orang lain"


"Cukup, aku gak suka Mas Arfi mengaturku seperti itu. Terserah, aku mau pergi, urus diri Mas sendiri. Kalau mau ceraikan aku ya silahkan, aku tak peduli bahkan bila harus jadi janda"


"Alvi, Alviii" Arfi terus meneriakkan nama itu. Ia berusaha mengejar Alvi namun Tuan Salim yang datang menghentikan dirinya. Meminta Arfi untuk membiarkan Alvi sendiri saat gadis itu sedang marah.


Tuan Salim mewanti-wanti Arfi agar cepat sembuh agar bisa menjaga Alvi nantinya. Jika Arfi terus sakit, bukan tidak mungkin Alvi akan mencari kesempatan untuk berbuat nakal lagi. Mendengar begitu banyak nasihat, Arfi mencoba mengerti dan melanjutkan makan kemudian meminum obatnya. Walau hatinya masih tak tenang memikirkan Alvi yang tengah marah.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Dua hari berlalu sudah, kini Arfi pulang kerumah. Ia masih tak tenang sebab Alvi masih tak menemuinya sejak mereka bertengkar. Bani dan Oddy selalu mengatakan jika Alvi baik-baik saja untuk membuat Arfi tak lagi khawatir. Bahkan saat kini Arfi pulang, istrinya malah tak ada untuk menjemputnya.


Minggu depan, Arfi sudah akan pergi untuk KKN. Ia tak bisa meninggalkan Alvi dalam keadaan seperti ini. Mereka harus berbaikan lebih dulu sebelum Arfi pergi.


"Alvii, Alviii" panggil Arfi memasuki kamarnya.

__ADS_1


Nihil, tak ada siapapun disana. Tentu saja, sebab Alvi tengah berada di kampus. Arfi benar-benar lupa, ia duduk diatas ranjangnya. Memandangi tempat tidur yang berantakan seperti biasanya. Selalu seperti itu, Alvi tak pernah menata tempat tidur setelah bangun.


__ADS_2