
Selepas sholat ashar, Arfi memutuskan untuk kembali pulang ke rumah mertuanya. Kini pengantin baru itu tengah berpamitan pada Hasyim dan Maya. Sedih sekali rasanya kedua orang tua itu melepas anak-anak mereka. Berbeda dengan Arka yang tampak bahagia sebab mendapatkan satu set perlengkapan sholat mahal dari Kakak iparnya.
"Kalian hati-hati ya pulangnya, jangan ngebut-ngebut. Jaga kesehatan" pesan Maya seraya memeluk erat menantunya.
"Cepat balik ya, nanti Ayah ambilkan buah pisang yang banyak"
"Iya, Ayah dan Bunda jangan sedih dong. Kita bakal balik secepatnya kok, iya kan Mas?"
Arfi tampak tak yakin, sebab sebentar lagi ia harus pergi KKN. Mungkin mereka tak akan datang kesana lagi selama tiga bulan. Namun Arfi mengijinkan istrinya jika ingin datang menjenguk mertuanya seorang diri.
Hasyim membawakan satu tandan pisang untuk menantunya. Alvi begitu senang, ia bahkan memangku satu sisir untuk dimakan selama perjalanan pulang. Alvi melambaikan tangannya ketika mobilnya pergi menjauh dari rumah sang mertua.
"Mas, aku gak mau ditinggal. Aku boleh ikut kamu KKN gak?"
"Cuma tiga bulan sayang"
Alvi menatap jalanan sambil memakan pisang. Ia menyapa setiap warga yang ia temui, seolah ia adalah warga disana. Tak sedikit yang memberikan gadis itu makanan untuk dibawa pulang kerumah. Alvi menjadi kesayangan semua warga hanya dalam dua hari.
Tttiiinn...
Arfi membunyikan klakson kala melintasi pos ronda di dekat pintu masuk kampung. Para pemuda disana menoleh dan melambaikan tangannya. Mereka juga sedih karena harus melepas Arfi dan Alvi pergi dari kampung. Bahkan para bocil dari kampung sebelah juga ikut melepas kepergian Alvi.
"Kalian ngapain disini?" Tanya Rama keheranan.
"Kita juga mau lihat Kakak ipar pergi" jawab salah seorang anak lelaki.
"Daaah, sampai ketemu lagi ya" pamit Alvi dengan senyumannya. Ia melakukan tos dengan semua bocah kecil temannya bermain layangan.
"Assalamualaikum" ucap Arfi kemudian melajukan mobilnya pergi. Ia menyadari jika istrinya memang sangat istimewa. Semua warga menyukai Alvi bahkan semenjak mereka bertemu dengannya.
Selama perjalanan, Alvi hanya diam menikmati makanannya. Sedangkan Arfi sibuk berbincang di telepon membahas rancangan KKN nya. Mereka tak langsung pulang kerumah, tetapi sejenak singgah di sebuah kafe sebab Arfi harus bertemu dengan teman kelompoknya. Awalnya Alvi menolak, tapi karena Arfi memaksa, gadis itu menyetujui dengan syarat dibelikan baju baru.
Mobil Alvi berhenti di kafe yang sangat mereka kenali, A'Cafe. Arfi terus menggandeng tangan istrinya yang merasa malas untuk berjalan masuk ke dalam. Ia hanya sedang tak ingin berjumpa dengan penggemar Arfi yang menyebalkan.
"Alviii, oeeyyy" panggil seseorang seraya melambaikan tangannya.
__ADS_1
Alvi yang merasa namanya dipanggil, mendongakkan kepala dan menatap sekitar. Beberapa teman SMP nya tengah berkumpul di meja lain, sepertinya reuni kecil-kecilan. Belum saja Arfi sempat berbicara, gadis itu langsung melesat pergi dengan riang.
"Anak nakal"
"Dia buat ulah lagi Fi?" Tanya Oddy.
"Tadi katanya gak mau kesini, giliran ketemu temannya langsung pergi gitu aja. Lain kali gue ikat aja tangannya, seenaknya pergi gak pamit" gerutu Arfi begitu kesal. Ia masih memandangi Alvi yang langsung duduk dan berbincang dengan kawan lamanya.
Bani memukul pelan lengan adik iparnya, ia tak akan membiarkan Arfi jika pemuda itu berani menyakiti adik perempuannya. Setelah semua teman Arfi berkumpul, mereka mulai membahas kembali rancangan kegiatan mereka. Juga menentukan spot berdasarkan cetak biru yang mereka dapatkan dari Kepala desa disana.
Disisi lain, Alvi tengah asik mengobrol dan mengenang masalalu. Ia juga tak lupa memberitahu temannya jika dirinya telah menikah. Dan suaminya adalah pemuda tampan yang datang bersamanya.
Ditengah keasikan acara masing-masing, di meja yang letaknya tak jauh dari tempat Alvi duduk, ada sebuah keributan. Samar mencuri dengar, wanita itu memergoki suaminya yang berselingkuh dengan sahabat wanita itu. Bukannya malu, si pria malah menyalahkan sang wanita karena tak becus mengurus suaminya. Bahkan tangan ia layangkan dengan begitu ringan tanpa peduli sekitar.
Bbukkk...
Satu pukulan juga melayang tanpa aba-aba. Si pria tersungkur dan menabrak meja di belakangnya.
"Sialan, siapa kau?" Sentak pria itu memakai kasar.
Pria itu tampak sangat emosi dan menahan malu. Ia berusaha mencengkram Alvi tapi malah balik diserang oleh gadis nakal itu. Ia sudah bilang, tak akan ada yang bisa lepas jika orang itu menyentuh dirinya tanpa ijin.
"Kakaaaakk"
Sekali lagi ia mencoba menyakiti Alvi, namun dengan satu teriakan, Oddy dan Bani bangkit dari duduknya. Kedua pria yang awalnya acuh dan tak peduli dengan keributan disana, langsung siaga kala adik mereka memanggil. Kesempatan bagus, Alvi kembali melumpuhkan pria kasar itu.
"Lepaskan aku, dasar wanita bodoh. Apa salahku? Aku juga ingin bahagia, pernikahan tanpa cinta ini hanyalah paksaan"
"Lalu kenapa kau setuju menikahi dirinya?"
"Aku terpaksa"
"Terpaksa? Jika kau terpaksa, kau tidak akan menyentuh nya bodoh. Berhenti membela dirimu, istrimu sedang hamil. Kau akan menyesal jika terjadi sesuatu padanya, pria sialan seperti mu tak pantas mendapatkan wanita sebaik dirinya. Dia bahkan hanya diam saat kau memakinya, buka matamu brengsek"
Kata-kata kasar nan bijak Alvi lontarkan dengan sangat lihai. Padahal pria dihadapannya jauh lebih tua darinya, tapi tak ada rasa takut sedikitpun Dimata Alvi. Ia malah menatap pria itu dengan amarah dan rasa jijik.
__ADS_1
Sejenak pria itu terdiam, ia menghampiri istrinya dan menanyakan kebenaran atas apa yang Alvi katakan. Walau wanita itu juga terkejut dengan penuturan Alvi, memang benar jika dirinya tengah hamil. Ia ingin memberi kejutan untuk suaminya, namun yang terjadi malah dirinya yang terkejut.
"Mas, aku akan jelaskan pada orang tua kita jika kamu tidak menyukai pernikahan ini. Maafkan aku tidak pintar menjadi seorang istri. Terimakasih ya Mbak" lirih wanita lugu berhijab itu. Ia pergi dengan mata yang berkaca-kaca.
Pria itu mengejar istrinya, dan sang pelakor. Alvi menahannya agar tak mengganggu hubungan yang akan membaik itu.
"Cewek sialan loe, brengsek"
"Loe cantik kok, banyak cowok lain yang belum bersuami. Sadarlah, harga diri loe itu rendah kalau loe terus ganggu suami orang, cih"
Wanita itu menatap Alvi dengan amarah, ia memaki-maki tanpa alasan yang jelas. Sedangkan Alvi hanya diam dan tak peduli, sikapnya sungguh menyebalkan. Beberapa karyawan kafe datang dan membawa pergi wanita yang terus mengoceh itu.
Salah seorang karyawan pun mencoba menyeret Alvi keluar kafe.
"Andi" panggi seseorang.
"Iya bos" jawab karyawan bernama Andi seraya menatap pemuda yang memanggil namanya.
"Lepaskan, dia istriku. Jangan cari kesempatan menyentuh nya, atau dia akan memukulmu" ucap Arfi mewanti-wanti karyawan kafenya.
Karyawan bernama Andi itu melepaskan genggaman nya. Ia juga meminta maaf pad Alvi dan pengunjung lain atas ketidaknyamanan yang terjadi.
Alvi berjalan mendekati Arfi. Pemuda itu menarik Alvi dalam pelukannya dan mencium kening istrinya.
"Kamu tidak apa-apa sayang?"
"Mas Arfi, boleh aku pergi? Aku ingin memastikan jika wanita itu baik-baik saja, aku khawatir"
"Baiklah, jika terjadi sesuatu, telepon aku dulu. Mengerti?"
Gadis itu mengangguk, ia kemudian bergegas turun ke lantai bawah. Matanya masih terus memandang ke arah parkiran. Pasangan itu sepertinya masih berselisih debat di depan mobil mereka. Alvi takut terjadi sesuatu dengan kandungan sang wanita.
Namun kekhawatiran nya itu hanya sebuah rasa yang wajar. Pasangan itu terlihat saling berpelukan, bahkan sang suami mengelus perut istrinya dengan senyuman lebar.
"Untung aja mereka baikan. Tapi kok gue bisa tau ya kalau wanita itu hamil? Apa karena wanita itu terus mengelus perutnya? Sudahlah" gumam Alvi kebingungan sendiri. Ia pun memutuskan untuk kembali setelah melihat mobil pasangan itu pergi meninggalkan kafe.
__ADS_1