Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 67


__ADS_3

"Mas, keluar kota nya jadi gak?"


"Gak jadi, salah tanggal ternyata. Minggu depan undangan pernikahan nya"


Alvi mengambil alih Niza kemudian pergi ke ruang keluarga. Ia menyalakan televisi dan mempertontonkan film kartun untuk keponakannya. Sambil bermain banyak mainan dan mengajari Niza agar bisa berjalan lebih sering.


"Kakak ipar, aku akan merepotkan mu mulai sekarang. Kau harus menjaga dua orang putri, Alvi pasti akan mengajak Niza bermain sepanjang waktu" celetuk Arfi seraya memakan makanannya.


"Kau benar, mereka pasti akan merepotkan. Niza sangat dekat dengan Alvi, mereka sangat lucu" sahut Zahra.


Bani dan Oddy juga menyetujui hal itu. Mereka bisa melihat jika Niza mulai seperti Tante nya, suka berbicara dan bermain. Mereka kembali berbincang membahas acara yang akan diadakan hari ini. Tuan Salim sudah menyiapkan pesta untuk cicit pertamanya. Pesta ini lumayan besar, sebab hari ini ada seseorang yang akan beliau kenalkan pada Oddy. Seorang wanita yang mungkin nantinya akan menjadi istri Oddy.


Tuan Salim memiliki banyak cucu, walau beliau menyayangi semuanya, kebanyakan dari mereka memilih untuk tinggal di luar negeri. Bahkan anak-anak Tuan Salim tak pernah datang berkunjung kecuali mereka membicarakan sesuatu yang menguntungkan.


Hanya Oddy, Bani dan Alvi yang tinggal satu negara dengannya. Dan hanya mereka bertiga yang selalu menghubungi Tuan Salim apapun keadaan yang terjadi. Mengenalkan pacar mereka, meminta ini dan itu. Bahkan seringkali Alvi membuat onar di rumah Sang Kakek sebab tak diijinkan berkencan dengan orang yang ia sukai.


"Kalian jangan punya anak dulu deh Fi" saran Bani.


"Kenapa emangnya?"


"Ribet, jadi susah cari waktu berduaan. Harusnya gue berusaha tahan kalau tau ending nya begini"


"Tapi, kayaknya si Alvi mau punya anak tuh. Dia lengket banget sama Niza"


"Ya jelas lengket lah, Alvi kan suka anak kecil. Karena kalau ada anak kecil dirumah, dia gak akan pernah ngerasa kesepian. Gue mau ke salon dulu, Kakek udah berisik nih dari tadi nelfon" sela Oddy. Ia berdiri setelah menghabiskan sarapannya dan pergi usai mencium pucuk kepala Alvi serta Niza.


Hari ini adalah hari yang sibuk untuk Oddy, ia harus pergi ke salon dan berdandan agar terlihat sempurna untuk acara malam ini. Sebenarnya Oddy tak keberatan dengan pilihan sang Kakek, hanya saja ia masih belum sepenuhnya move on dari sang mantan kekasih.


Selesai makan, Arfi menghampiri istrinya. Ia bermanja-manja di dekat Alvi mencari perhatian nya. Tapi Alvi yang tengah asik bermain dengan Niza, malah memukul Arfi dan menyuruhnya pergi menjauh.


Zahra yang melihat hal itu, mengambil alih Niza dari Alvi. Ia mengajak putrinya untuk makan sebelum melanjutkan bermain. Serta memberikan waktu agar Arfi dan Alvi bisa menghabiskan waktu berdua.

__ADS_1


Alvi berdiri dari lantai dan merebahkan dirinya di sofa, merentangkan tangannya agar Arfi ikut bergabung.


"Ada apa sih suamiku ini, pingin di manja-manja ya?"


"Jalan-jalan yuk, pingin deh pacaran sama kamu. Gandengan tangan, makan di suapin, kamu perhatiin, kamu marahin, di panggil sayang. Aku iri sama mantanmu"


"Hahahha, yang ada mereka iri sama kamu. Kamu kan dapat apa yang tidak akan pernah mereka dapatkan dari aku. Oke, aku ganti baju dulu ya, kita kencan. Kamu juga ayo aku dandanin, biar makin ganteng"


Arfi menggendong istrinya masuk kedalam kamar. Alvi kemudian begitu sibuk memilih pakaian yang akan mereka kenakan. Dengan warna senada seperti pasangan muda lainnya. Keduanya memakai kaos berwarna biru langit dengan motif yang berbeda. Alvi memadukan kaosnya dengan rok selutut berwarna hitam, sangat sederhana.


"Cantik banget sih sayang" puji Arfi memeluk istrinya dari belakang.


"Sayangku juga ganteng, yuk pergi!! Kamu yang traktir ya hari ini, lain kali kalau keluar lagi aku yang traktir"


"Mana bisa gitu sayang? Aku akan selalu membelikan apapun keinginan mu. Uangku itu uangmu, sedangkan uangmu itu milikmu seorang"


"Aaahhh, ini baru namanya cowok, keren. Yuk berangkat" ucap Alvi seraya menggandeng lengan suaminya.


"Sayang, belanja baju ya? Kan baju aku jadi tinggal dikit karena kamu larang pakai di luar rumah"


"Iya sayang, ambil aja. Ntar kalau aku gak bisa bayar pakai uang kamu ya"


"Iihhh nyebelin, yaudah gak usah beli aja" ucap Alvi kesal.


"Eh, Alvi. Mau belanja ya? Emang loe punya duit? Cowok loe juga kelihatan biasa aja, walau ganteng tapi kere ya" celetuk seorang wanita. Ia menatap Alvi dengan rendah dan menyombongkan barang belanjaannya.


Alvi mendengus kesal, itu adalah teman SMP nya. Teman yang tak pernah Alvi harapkan kehadirannya, sayangnya tak semua teman Alvi tau jika ia adalah anak dan cucu dari pengusaha kaya. Karena sedari dulu Alvi berteman dengan teman yang memandang nya bukan karena harta. Ia juga tak pernah memposting foto dirinya bersama Tuan Salim ataupun Ardi di sosmed. Terlebih hanya orang-orang di kalangan atas dan pebisnis yang bisa mengenali siapa Alvi.


"Ya udah sih emang kenapa ha? Yang penting gue punya cowok kan, ganteng pula bisa di pamerin. Wleee" ledek Alvi menjulurkan lidahnya.


"Emang loe doang, gue juga punya cowok ganteng tuh. Sayang sini sayang" teriaknya memanggil seseorang yang tak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Cowok gue tuh, walau masih muda tapi pekerjaannya udah bagus. Makanya dia bisa beliin gue ini dan itu. Loe tuh jadi cewek harus pinter pilih pasangan" ocehnya tak karuan.


Alvi memutar bola matanya malas, harusnya ia memposting lebih banyak foto saat dirinya bersama dengan Arfi. Agar teman-teman nya tau jika Alvi sudah menikah dan memiliki suami yang tampan juga seorang pebisnis. Tak apa, masih ada waktu dan Alvi pasti akan melakukan hal itu mulai sekarang.


Tak lama seorang pemuda mendekat, Alvi terdiam memandangi pemuda itu sambil menahan tawanya. Tampan? Astaga, sepertinya teman Alvi harus memeriksakan matanya. Bahkan pemuda ini tak akan bisa dibandingkan dengan ketampanan Bani, apalagi Arfi, tidak mungkin.


"Jadi ini cowok tampan loe? Kaya dan yaaa waw" ledek Alvi.


"Udah-udah, jadi belanja gak ini" sela Arfi menengahi keduanya. Ia mencubit bahu Alvi agar tak berkata yang tidak-tidak.


"Emang kalian punya uang? Sayang, lihat deh mereka mau sok belanja disini padahal gak punya duit" rengek wanita itu.


"Disini harganya lumayan mahal loh Mas, mending cari toko lain aja" saran pemuda itu. Ia juga memandang Arfi dengan remeh.


Hampir saja Alvi melayangkan tinjunya, tapi Arfi mencoba menahan amarah sang istri. Ia mengeluarkan dompetnya dan memberikan black card pada Alvi sambil menggerakkan kepalanya agar sang istri masuk kedalam toko.


"Ha? Kamu punya black card sayang? Wah, kamu gila ya, kenapa bikin beginian? Buang-buang uang aja kamu" sentak Alvi kesal.


Disaat Alvi memarahi Arfi, kedua orang di hadapan mereka terdiam tak percaya.


"Disuruh Kakek sayang, aku mah ikut aja"


"Lain kali jangan dengerin Kakek, fee nya mahal tau. Nanti, ah ini urusan pribadi. Maaf ya, kita pergi dulu" pamit Alvi pada temannya. Ia tak jadi belanja dan malah memarahi suaminya. Ia tak akan membiarkan Arfi memiliki kartu kredit jenis apapun, walaupun itu permintaan Kakek.


Mereka berdua berhenti di salah satu toko yang tutup dan melanjutkan pembicaraan. Alvi menghela napasnya panjang memberikan ceramah pada sang suami.


"Iya iya maaf, aku kan cuma menerima apa yang Kakek berikan. Akan aku kembalikan"


"Inget ya sayang, aku gak mau kamu punya kartu kredit. Harus debit, kamu, Bunda, Ayah ataupun Arka, gak boleh punya kartu kredit. Kakek dan Mama bilang, tidak boleh berhutang apapun alasannya"


"Iya sayang, maaf. Papa udah ingetin aku, tapi aku gak enak nolak permintaan Kakek. Akan aku kembalikan, jangan marah ya, kita kan mau kencan sayang"

__ADS_1


"Hm..."


__ADS_2