
Alvi cukup lama tidur dipangkuan sang Papa, ia merasa amat sangat bosan karenanya. Ia terus mengoceh tanpa henti dan meminta pada Ardi agar membiarkannya pergi.
"Vi, Vi, Alviii" ucap seseorang yang sudah berada di depan pintu rumah Ardi.
"Oey Vin, mobil baru tuh, hadiah ulang tahun ya, gaya loe anak sultan ckckck" seru Bani.
"Hahaha, yoi Kak. Alvi mana?"
"Ngapain loe cariin istri orang" cetus Oddy.
"Yaelah, cuma mau ngembalikan dompet nih, tadi ketinggalan di kafe"
Bani berteriak memanggil-manggil nama adiknya. Tapi bukan Alvi yang menghampiri, melainkan Ardi. Ia melotot menatap Bani, sebab berani mengganggu putrinya yang tertidur.
"Om Ardi, apa kabar?"
"Kamu, Vino? Wah, lama gak ketemu, makin oke aja gayamu"
"Om bisa aja. Om kenapa sih nikahin Alvi buru-buru, kan saya juga mau daftar jadi calonnya"
"Ngawur kamu, memang kamu berani bicara sama Tuan Salim? Beliau yang memilihkan jodoh Alvi" jelas Ardi.
Vino tertawa sambil menggeleng, jangankan bicara dengan Tuan Salim, mendengar namanya saja menciutkan nyali Vino. Cukup lama Vino dan Ardi berbincang di depan teras, hingga Alvi terbangun dan mencari sosok Papanya. Dengan wajah khas bangun tidur, ia melintasi ruang tamu. Arfi dan kawannya masih berbincang serius membahas KKN mereka.
Alvi melangkah keluar rumah, ia mendapati Vino dan Ardi yang masih mengobrol disana.
"Ngapain loe kesini?"
"Vi, gue mau balikin dompet loe. Eh ketemu bokap loe, yaudah kita ngobrol deh, sampai lupa kalau udah sore" jelas Vino.
Alvi menerima dompetnya dan meminta Vino untuk segera pulang. Sebab pemuda itu harus menyiapkan pesta ulang tahunnya dengan sempurna. Setelah Vino pulang, para teman-teman Arfi juga telah usai membahas rencana mereka. Kini tinggallah Arfi, Oddy dan Bani yang masih berbincang kecil di ruang tamu. Ardi juga sudah kembali fokus pada pekerjaannya.
"Mas, aku mau ke club, ke acara ulang tahun temanku barusan"
"Club? Vino jadi ngerayain di club? Ikutan ah, pingin clubbing gue" sela Bani.
"Kalau aku ngelarang, apa kamu mau mendengarkan ku?"
"Tidak, aku akan tetap pergi"
Arfi mengangguk, ia mengemas semua barangnya dan pergi masuk kedalam kamar. Bani dan Oddy sudah asik berbincang, Alvi awalnya sedikit terusik namun ya sudahlah toh Arfi tak melarangnya. Gadis itu pergi ke kamarnya dan segera bersiap untuk pergi.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Selepas sholat Isya', Alvi berdandan di depan meja riasnya. Sudah lama sekali ia tak pergi ke club bersama teman-temannya. Sesekali matanya melirik ke arah Arfi yang terpaku pada leptop dihadapannya. Walau begitu Alvi berusaha tak peduli dan kembali merias diri.
Ia menggunakan gaun malam selutut yang menunjukkan bentuk tubuhnya. Ia bahkan menambahkan sumpelan untuk dada dan bo kongnya agar terlihat lebih menonjol. Gaun Alvi sangat terbuka di bagian belakang, menunjukkan punggungnya yang mulus. Tetapi gadis itu menggerai rambut panjangnya agar punggung Alvi tak terlalu terlihat.
"Kau akan memakai baju itu?" Celetuk Arfi kala melihat istrinya tengah berkaca membenarkan gaunnya.
"Iya, bukankah ini cantik? Aku menyukaimu, sangat seksi dan menawan"
"Punggungmu sangat terbuka, apa kau tidak memakai sesuatu di dalamnya?"
Alvi berjalan menghampiri suaminya, Arfi malah menutup leptopnya dan menutup diri dengan selimut. Ah, hati Alvi kembali bimbang, ia merasa tak enak jika melihat Arfi seperti ini. Namun, ia sudah berjanji pada teman-temannya. Langkah kecil Alvi yang terus berhenti sambil menatap suaminya, akhirnya menghilang dibalik pintu kamar.
Mobil sport Alvi melaju menuju club biasa mereka datangi. Kini dengan suasana yang berbeda, Alvi sedikit melupakan tentang Arfi yang ada dirumah. Ia juga ingin menikmati masa remajanya bermain bersama teman-temannya.
Teman-teman Alvi menyambut sang ratu dengan amat meriah.
"Wow, lihat ratu kita, selalu mengagumkan" puji Vino seraya merangkul pundak Alvi.
"Makasih pujiannya, kalau loe gak singkirin tangan loe sekarang juga, gue patahin" ancam Alvi dengan senyuman mematikan.
Mereka semua tertawa dan menarik Vino menjauh dari Alvi. Tak ingin ada keributan dan korban disini, mereka kembali menikmati pesta dengan sangat bahagia. Lagu-lagu dan tarian membuat tubuh mereka melenggang dengan sempurna.
Alvi bertemu dengan Bani dan Oddy yang tengah duduk menikmati minuman. Bani pikir adiknya tidak jadi pergi sebab suaminya sakit. Sontak saja hal itu membuat Alvi kebingungan, pasalnya Arfi tak mengatakan jika dirinya sakit. Namun Oddy membenarkan, sejak siang tadi Arfi terus muntah-muntah dan badannya demam. Tetapi pemuda itu memaksakan diri untuk ikut andil dalam membahas perencanaan.
"Tadi Freya, tuh cewek ternyata gak bener ya. Udah tau Arfi punya istri, masih aja coba buat deketin Arfi" celetuk Oddy.
"Vi, Nona Alvii" panggil Vino menyela pembicaraan mereka.
Alvi menoleh, begitu juga dengan Bani dan Oddy. Vino tertawa nyengir menunjukkan deretan giginya. Ia membisikkan sesuatu pada Alvi yang membuat gadis itu segera berlari keluar tempat club. Matanya kesana-kemari mencari seseorang yang Vino katakan. Tak jauh dari sana, ia melihat seorang pria yang mendorong motornya. Alvi pun menghampirinya sambil berlari.
"Kenapa kamu disini?" Tanya Alvi penasaran.
Pemuda itu terkejut, ia hanya diam menatap Alvi. Ia mengikuti kemana Alvi pergi mendorong motornya. Duduk berdua di depan tempat club.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Alvi lagi.
"Cuma lewat"
"Bohong, kamu khawatir sama aku? Kenapa gak telepon aja? Terus kenapa kamu gak bilang kalau lagi sakit?"
"Aku gak mau ngerepotin kamu"
"Omong kosong, aku ini istrimu Mas. Ayo kita pulang, badanmu panas banget" cecar Alvi sedikit kesal. Ia meminta Vino untuk mengantarkan motor suaminya ke rumah besok. Sebab Alvi akan membawa Arfi pulang dengan mobilnya.
__ADS_1
Padahal malam itu dingin sekali, tapi Arfi malah keluyuran dalam keadaan sakit. Alvi terus mengomel dalam perjalanan pulang. Mereka tak langsung pulang, sebab Alvi membawa suaminya pergi menuju rumah sakit. Arfi terus menggenggam tangan Alvi, bisa gadis itu rasakan jika suaminya tengah demam tinggi.
Sesampainya dirumah sakit, Alvi terus merasa cemas kala dokter memeriksa suaminya. Ia terus menatap dokter yang serius memeriksa keadaan Arfi.
"Dokter, saya tidak apa-apa. Saya mau pulang" ucap Arfi.
"Dia baik-baik saja? Apa perlu menginap? Apa perlu disuntik? Dia sakit apa? Kenapa bisa sakit? Apa salah makan? Atau..." rentetan pertanyaan Alvi terhenti kala dokter menatapnya dengan senyuman.
"Dia pacar kamu ya? Mbaknya khawatir sekali"
"Bukan, dia suami saya"
"Kalian nikah muda ya? Tidak apa-apa, dia hanya kelelahan dan makanannya tidak teratur. Dia harus banyak istirahat dan minum vitamin agar daya tubuhnya kuat" jelas dokter kemudian berpamitan pergi.
Alvi menatap Arfi dengan tajam, bisa-bisanya suaminya itu makan tak teratur. Kembali Alvi mengoceh panjang lebar. Ia tahu jika suaminya pandai dan suka sekali belajar maupun bekerja. Tapi tetap saja, kesehatan adalah nomor satu. Jika Arfi sampai lupa makan, sungguh itu sangat keterlaluan dan berlebihan menurut Alvi.
"Sayang, berhenti" pinta Arfi.
Mobil pun berhenti, Alvi menatap Arfi dengan khawatir. Sungguh, ia takut terjadi sesuatu pada suaminya.
"Vi, apa kamu mencintai aku?"
"Tentu saja"
"Apakah jika aku melarang mu pergi, kau akan mendengarkan aku?"
Alvi tersenyum tipis, ia mengelus rambut suaminya. Matanya menatap mata Arfi dengan dalam, sungguh, Alvi tak menyukai kala suaminya terlihat sangat lemah seperti ini. Ia mengelus pipi Arfi yang terasa panas, bahkan hembusan napas Arfi terasa seperti uap panas.
Gadis itu mendekat dan mengecup bibir suaminya singkat.
"Aku akan mengajak Mas Arfi ikut lebih dulu. Tapi jika kamu benar-benar tak mengijinkan, aku tetap akan pergi jika aku merasa itu tak masalah bagiku ataupun kamu"
"Maaf, aku bukan suami yang baik"
"Mas, kamu itu idaman semua wanita. Tapi istri kamu ini, sedikit keras kepala. Aku mengakui nya, jangan salahkan dirimu. Kau suami terbaik, aku yakin"
Mobil kembali melaju menuju rumah, sepi, Ardi pergi lagi keluar kota untuk mengurus pekerjaan nya. Alvi memapah suaminya perlahan menuju kamar, ia baringkan Arfi di tempat tidur dan menyelimuti nya.
Arfi menarik Alvi yang hendak pergi.
"Tadi aku tanya gak dijawab. Kamu gak pakai bra ya?"
"Bodohnya suamiku, lihat nih pegang, udah puas kan?" Pinta Alvi seraya melepas gaunnya di hadapan sang suami.
__ADS_1
"Oh, aku baru tau ada yang kayak gini. Aku pikir yang pakai baju gini gak pakai bra, hehehe"
Alvi mengecup kening Arfi dan memintanya untuk tidur, sedangkan dirinya pergi untuk berganti pakaian sebelum ikut tidur menemani suaminya.