
Maya dan Alvi menghentikan jalan mereka ketika hendak melewati sebuah rumah besar yang memiliki beberapa mobil didalamnya. Rumah itu tampak biasa saja untuk Alvi, sangat tak menarik baginya.
Sayangnya, seseorang yang berdiri disana sukses mengunci pandangan Alvi yang hendak melintas. Seorang nenek tua yang tengah menawarkan cobek pada pemilik rumah besar itu. Namun sungguh disayangkan, sikap wanita pemilik rumah itu begitu kasar. Ia memakai nenek tua itu dan tak ingin membeli cobeknya.
"Bibi, jika tidak mau membeli ya sudah. Kenapa Bibi marah-marah?" Sela Alvi yang geram melihat perlakuan kasar itu. Ia berusaha membantu nenek tua dan mengambil beberapa cobek yang pecah karena di tendang oleh sang pemilik rumah.
"Hei kau, gadis kecil tidak perlu ikut campur. Dasar kalian orang miskin, dan apa ini gelang yang kau pakai? Murahan" oceh wanita itu seraya menarik gelang yang ditangan Alvi hingga terputus.
Alvi berusaha mengambil gelangnya yang ada di tangan wanita itu. Tapi entah apa yang dipikirkan oleh sang wanita aneh itu, ia malah memainkan gelang Alvi.
"Bu RT, jangan ganggu putri saya, kembalikan gelang miliknya" ucap Maya menengahi.
Wanita kaya yang memiliki gelar Bu RT itu menjatuhkan gelang Alvi ke tanah. Saat gadis itu hendak mengambilnya, beliau berpura-pura tak sengaja menendang nya hingga gelang itu jatuh ke selokan.
Tanpa pikir panjang, Alvi langsung merogoh selokan itu dengan tangan kosong. Ia tak mau kehilangan gelang itu, harta paling berharga baginya. Gelang peninggalan sang Mama tercinta.
"Vi, Alvi, Bunda panggil Arfi ya, berhenti sayang, itu kotor"
"Tidak Bunda, aku harus mendapatkan nya"
Maya bingung harus berbuat apa, ia mendial nomor Arfi dan memintanya untuk datang segera. Alvi semakin menjadi-jadi, mengobrak-abrik selokan tanpa peduli pakaiannya telah kotor dan menjadi perhatian warga. Maya semakin khawatir, ia berusaha menghentikan Alvi namun gadis itu tak mau mendengar.
Cukup lama Maya menunggu, akhirnya Arfi datang bersama dengan Rama. Ia sangat terkejut melihat istrinya yang sudah berlumuran air selokan.
"Alvi hei, sudah sudah, biar aku yang cari"
"Gelang Mama Mas, gelang Mama" ucap Alvi berulang. Matanya sudah tak bisa fokus dan gemetar. Air mata Alvi menetes, ia kembali menggali selokan mencari gelang miliknya.
Arfi tak tega, ia pun turut membantu begitu juga dengan Rama. Maya dan sang nenek pun ikut membantu memilah diantara sampah selokan bekas galian yang ada diatas jalanan. Beberapa warga yang melihat pun merasa iba, terlebih sebagian dari mereka tau jika Alvi adalah cucu Tuan Salim. Seseorang yang begitu baik dan disegani di kampung itu.
Tak ada yang tak mengenal Tuan Salim. Orang yang membuka banyak lapangan kerja, mulai dari petani sawah sampai buah. Bahkan pabrik hingga mebel di sekitar kampung.
"Ada apa ini? Kenapa kalian semua berkumpul di depan rumah saya?" Tanya Pak RT yang baru saja tiba. Beliau tak bisa masuk rumah sebab ada banyak warga di depan rumahnya.
__ADS_1
Bu RT yang sedari tadi berada di dalam dan tak peduli pun akhirnya keluar. Beliau hanya memandang rendah para warga yang melakukan hal konyol untuk membantu gadis miskin itu.
"Ini pak, gelang nak Alvi jatuh ke selokan. Kami membantu mencari" jawab salah seorang warga.
"Yaampuun, gelang murah juga, biar saya belikan yang baru" celetuk Bu RT dengan nada arogan.
Pak RT mencoba membubarkan kerumunan, walau Maya sudah mencoba menjelaskan. Tapi kegiatan ini menutup akses warga lain yang hendak lalu lalang. Sebagian dari mereka mulai berhenti dan menepi, tapi tidak dengan tiga remaja yang masih terus mencari.
"Nak Alvi, saya akan membelikan yang baru untuk anda. Kita hentikan saja ya, ini kotor nak" kata Pak RT menawarkan.
"Baru? Apa Bapak bisa membeli Mama saya? Itu peninggalan terakhir sebelum beliau pergi. Apa bisa diganti dengan yang baru? Semua kenangan itu?"
Pak RT dan Bu RT terdiam, mereka tak tahu jika gelang itu amat sangat berharga untuk sang gadis remaja. Bu RT masih tak peduli dan kembali masuk kedalam rumahnya.
"KETEMU, Alvi ketemu gelang loe" teriak Rama begitu heboh. Ia meminta seorang warga memberinya air yang digunakan untuk membersihkan gelang Alvi.
"Ketemu, Mas ketemu, Bunda. Makasih ya Ram" ucap Alvi sembari mengambil gelang dari tangan Rama. Ia tak bisa mengatakan betapa senangnya ia hari itu. Berterimakasih pada seluruh warga yang telah membantunya.
Di rumah Arfi...
Alvi tak langsung masuk kedalam rumah, Maya memintanya untuk membersihkan diri di depan halaman bersama dengan Rama dan Arfi.
"Wah loe mah gila Vi, tuh sepatu loe harganya 10 juta jadi bau selokan deh"
"Sepuluh juta? Sepatu?" Seru Maya tak percaya.
"Ahahah gak apa-apa kok, lagian ini gak ada harganya dibandingkan gelang pemberian Mama. Loe mau Ram? Ntar gue ambilin sepatu Kak Bani ya"
"Gak deh makasih, gue seneng kok kalau loe seneng" ucapan Rama itu sukses mendapat getokan gayung dari Maya. Berani sekali pemuda konyol itu menggoda menantunya.
"Akan gue pastikan loe dapat hadiah. Mas mandi yuk, bau nih"
Arfi mengangguk dan mengajak istrinya masuk kedalam. Mereka mandi berdua sambil sesekali bercanda di dalam kamar mandi. Maya yang tak sengaja mendengar pun hanya bisa tersenyum senang mengetahui bila keluarga kecil putra sulungnya baik-baik saja.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Selepas Maghrib...
Alvi sudah duduk lebih dulu di meja makan. Sembari menatap Bunda yang menyiapkan makanan. Maya tak mengijinkan Alvi ikut membantu, beliau ingin memanjakan sang menantu di hari pertama datang ke rumahnya. Terlebih kejadian menyedihkan itu masih mengusik pikiran Maya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, Ayah sudah pulang. Haloo" sapa Alvi sembari mencium tangan mertuanya.
"Loh Vi, badanmu kok panas?" Tanya Hasyim terkejut.
Maya yang mendengar itu segera menghampiri dan memeriksa suhu tubuh Alvi. Benar saja, suhu tubuhnya naik tinggi. Maya menggiring Alvi kembali ke kamar Arfi dan memintanya berbaring. Ia juga menelepon Arfi agar cepat pulang dari Masjid. Walau Alvi berkata baik-baik saja, rasa khawatir Maya tak tertandingi.
Hasyim menyarankan untuk pergi ke dokter namun menantunya menolak.
"Ayah, Bunda, aku baik-baik saja"
"Assalamualaikum, Ayah, Bunda, istriku kenapa?"
"Arfi, bujuk dia untuk kerumah sakit. Badannya panas sekali" pinta Hasyim.
Alvi terlihat menggeleng, ia sungguh tak ingin pergi ke rumah sakit.
"Kakak Kakak, ada Tuan Salim dan Pak Kyai" teriak Arka dari luar rumah.
Hasyim dan Maya memutuskan untuk keluar menyambut kedatangan tamu mereka. Sedangkan Arfi memeriksa keadaan istrinya. Sepertinya Alvi tidak tahan mandi dengan air dingin.
"Badanmu panas sekali sayang, kita kerumah sakit ya? Ku mohon"
"Aku mau tidur saja"
Arfi udah tidak bisa menuruti permintaan istrinya, ia menggendong Alvi dan membawanya ke luar kamar. Ia menyapa Tuan Salim dan Pak Kyai, kemudian melesat pergi menggunakan mobil untuk menuju puskesmas terdekat. Ia tak ingin istrinya sampai kenapa-kenapa.
__ADS_1