Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 51


__ADS_3

Pemuda itu membawa Alvi masuk kedalam kamar, ia tak lupa mengunci pintu tentunya. Walau tak ada siapapun dirumah itu selain mereka berdua.


"Kamu mau apa? Aku bisa pukul loh ya"


"Vi, tolong jangan pergi lagi. Mungkin aku tidak akan sanggup menunggu sekali lagi"


"Aku kan disini bersamamu. Aku tidak akan pergi, asal kau tidak memarahi ku lagi"


Arfi menarik Alvi kemudian mencium keningnya. Jadi ini kenapa Arfi begitu pengecut, ia bisa saja melakukan lebih tapi pemuda itu benar-benar susah ditebak. Sedikit kecewa, namun Alvi berusaha mengerti sebab Arfi adalah pria yang berbeda.


Alvi mendorong Arfi keluar kamarnya, ia hendak mengganti pakaiannya sebelum mereka berangkat ke restoran. Ia mengenakan gaun selutut berwarna senada dengan pakaian Arfi, persis seperti pasangan.


Selesai berganti pakaian dan berdandan, Alvi menghampiri Arfi lalu memeluknya. Mereka berdua berangkat menggunakan mobil Arfi, mobil yang selama ini ia simpan tanpa pernah ia pakai sekalipun sejak membelinya. Sebab Arfi ingin mengendarai nya bersama dengan Alvi.


Di sebuah restoran mewah, keluarga Alvi tengah berkumpul sambil berbincang serius. Ada hal yang membuat mereka bimbang diantara pilihan. Terutama Ardi yang begitu frustasi dengan kenyataan ini. Sebagai seorang Papa, ia tak sanggup bila harus menyembunyikan ini begitu lama.


"Haloo semuanya" sapa Alvi dengan ceria.


"Anak Papa cantik sekali" puji Ardi seraya memeluk putrinya erat. Alvi tentu membalasnya dengan gembira, tapi matanya menangkap seorang wanita asing yang duduk disamping Maya. Walau begitu, Alvi berusaha biasa saja, ia pikir mungkin seseorang yang tidak ia ingat.


Alvi dan Arfi duduk berdampingan, jelas sekali terlihat Arfi tak bisa mengalihkan pandangannya dari sang istri sedetikpun. Mereka melanjutkan makan malam dengan pembicaraan yang ringan.


"Cukup, aku datang kesini bukan untuk menyakiti diriku" celetuk seseorang yang membuat mereka semua terdiam.


Alvi kembali mengerutkan keningnya, ia tak ingat siapa wanita itu. Ia menatap ke arah Arfi yang terus memandangi Alvi dengan senyuman, tanpa menghiraukan apa yang terjadi.


Maya terlihat berusaha menenangkan wanita itu, ia memintanya untuk bersabar karena mereka akan menjelaskan semuanya pada Alvi hari ini. Ini terlalu sulit, pasti akan ada banyak yang terluka nantinya.

__ADS_1


"Aku harus menunggu berapa lama lagi Bunda? Alvi harus tau kalau aku adalah istri Arfi" ucapnya dengan nada sedikit keras.


Jantung Alvi berdetak begitu kencang, ia tak tahu harus bagaimana bereaksi. Matanya mulai gemetar menahan air mata yang ingin mengalir keluar.


"Apa yang kalian sembunyikan dariku?" Lirih Alvi.


"Semuanya, semua hal mereka sembunyikan. Aku adalah istri Arfi, dan kenapa kau datang merusak pernikahan kami?"


"Diam kau!!!" Sentak Tuan Salim marah.


"Apa kau tau Alvi, kau dan Arfi juga sudah menikah. Tapi kenapa mereka menyembunyikan nya darimu?"


"Aisyah cukup, hentikan" ujar Maya kemudian menarik tangan Aisya. Membawanya pergi menjauh dari meja makan.


Sakit, hati Alvi begitu sakit hingga dadanya terasa sesak. Air mata sudah tak terbendung, apa yang sebenarnya terjadi tak bisa ia pahami. Menikah? Dia sudah menikah dengan Arfi tapi kenapa semua orang diam? Dan wanita itu juga istri Arfi? Apa yang terjadi selama dua tahun ini, Alvi tak mengerti sama sekali.


"Alvi maafkan Papa. Arfi juga laki-laki, kami pikir kau tak akan..."


"Bukan begitu sayang, Kakek sangat ingin kau kembali pada kami" sahut Tuan Salim.


"Kenapa Kakek berpura-pura menyayangi aku? Aku merasa sesak dan terluka, lebih baik aku tak pernah bangun lagi"


Mereka semua berusaha menjelaskan pada Alvi situasi nya. Para orangtua hanya tak tega melihat Arfi yang kesepian seorang diri. Sebagai seorang laki-laki pasti Arfi juga membutuhkan wanita, terlebih ia sudah menikah.


"Alvi, aku sudah berusaha menolaknya. Tolong percaya padaku, jangan paksakan dirimu"


"Lalu? Loe tetep nikahin dia kan? Kalau loe mau nikah sama dia, kenapa loe gak biarin gue pergi? Loe itu cowok paling brengsek didunia ini"

__ADS_1


"Aku gak pernah menyentuhnya sedikitpun, percaya padaku"


"Tapi loe suaminya, lebih baik kita berpisah. Gue benci banget sama loe" ujar Alvi dengan mata penuh kebencian. Ia menatap Arfi dengan amarah yang tak tertahankan. Apapun alasannya, Arfi dan Aisya kini suami istri. Alvi tak ingin hadir diantara keduanya, ini sangat menyakitkan.


Alvi mencoba kuat menahan semuanya, ia hendak pergi namun tubuhnya menolak. Kakinya terkulai lemas sebelum kegelapan muncul. Ia kembali tak sadarkan diri bersamaan dengan hidungnya yang keluar darah. Arfi dengan sigap menggendongnya pergi keluar restoran. Ia bahkan tak peduli kala melintasi Maya dan Aisya yang tengah berdebat.


"Aisya, Arfi bilang tak pernah menyentuhmu. Lalu anak siapa yang kau kandung?" Tanya Hasyim menghampiri Maya dan menantunya.


Wajah Aisya berubah menjadi tegang, ia seolah kelabakan mencari jawaban. Sedangkan Maya terkejut bukan main, hingga ia tak mampu menerima kenyataan dan ikut jatuh pingsan.


Hari ini adalah hari terkacau dalam hidup Tuan Salim. Untuk pertama kalinya, beliau melihat Alvi menatapnya dengan benci dan amarah. Pak Kyai berusaha menguatkan Tuan Salim, apapun resikonya, keputusan telah dibuat dan harus dijalankan.


"Ban, loe tau kan gue gak menerima pernikahan ini"


"Iya Fi, Alvi hanya butuh waktu. Tenangkan dirimu, dia akan baik-baik saja"


"Ban, gue takut dia ninggalin gue lagi. Gue gak akan sanggup"


"Fi, fokus. Alvi adik gue, dia akan baik-baik saja. Gue akan ngebut, kalian pegangan" tutur Bani pada Oddy dan Arfi.


Bani dan Oddy sebenarnya tak menerima keputusan itu. Sebab keduanya tau betapa Arfi mencintai Alvi. Alasan Bani tinggal dirumah mertuanya pun juga karena ia tak setuju dengan keputusan Kakek dan Papanya. Ia mengembalikan semua fasilitas dari keluarganya dan kerja membangun usahanya sendiri dari bantuan Arfi serta Oddy.


Oddy juga memilih hidup jauh dari keluarganya. Tinggal bersama Arfi dikontrakkan kecil dekat rumah sakit Alvi dirawat. Keluarga Tuan Salim menjadi kacau balau setelah pernikahan Arfi dan Aisya. Walau Arfi sesekali mengunjungi rumahnya untuk sekedar menyapa keluarga dan istrinya. Tapi kebenaran yang tersembunyi, Arfi tak pernah sedikitpun menyentuh Aisya. Sebab pikirannya hanya untuk Alvi.


Arfi tentu tahu tentang kehamilan Aisyah, namun ia memilih bungkam karena tak ingin menambah masalah. Ia bahkan tahu siapa Ayah dari bayi yang dikandung istrinya. Sedih kala melihat Maya dan Hasyim begitu menyayangi Aisya tanpa tahu kebenarannya. Tapi mereka akan lebih kecewa kala mengetahui kebenarannya.


"Fi, sekarang semuanya terbongkar. Mereka pasti akan menyudutkan Aisya" ucap Oddy.

__ADS_1


"Biarkan saja, gue diam karena tak ingin mereka menikahkan gue lagi. Jika pun mereka meminta gue berpisah dengan Aisya, toh sekarang Alvi ada disini. Gue gak akan biarkan dia pergi lagi, gak akan pernah"


Ya Allah, aku tau rencana -Mu adalah yang terbaik. Tolong, aku tak sanggup lagi melihatnya terluka. Jika kali ini dia benar-benar pergi dari dunia ini, aku ikhlas bila hari ini pun adalah saat terakhir bagiku..


__ADS_2