Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 19


__ADS_3

Setelah semua kelas Alvi selesai..


Alvi tengah berjalan seorang diri, sebab Vita dan Tasya harus pergi lebih dulu karena urusan lain. Langkahnya terhenti oleh seorang pemuda yang sangat ia kenali. Pemuda yang singgah di hati Alvi selama dua tahun terakhir. Pemuda yang pernah sangat ia cintai.


"Vi, bisa kita bicara?"


"Gue gak ada waktu, harus pulang. Lain kali ya"


"Alvi tunggu" ucap Baim menahan tangan gadis itu.


Belum saja Alvi memberontak, sebuah tangan lain muncul dan menghempas Baim begitu saja. Seorang pemuda yang menatap Baim dengan penuh kebencian.


"Pergi, jangan pernah ganggu dia lagi atau kami tidak akan melepaskan mu begitu saja" ucap pemuda itu dengan nada dinginnya. Teman-teman sang pemuda tertawa kecil melihat wajah Baim yang ketakutan.


"Makasih ya, gue cabut dulu" ucap Alvi dengan senyuman lebarnya.


"Vi, loe lupa nama gue ya?"


Alvi terdiam mendengar pertanyaan itu, ia mencoba mengingat namun seolah ingatannya hilang begitu saja. Dengan cengengesan ia menggeleng seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Brian"


"Ooh ahhh, Brian iya hahaha, makasih ya"


"Anak nakal, hati-hati ya pulangnya. Salam untuk suamimu"


Alvi mengangguk dan pergi berlalu meninggalkan Brian serta kawan-kawannya. Ia merasa ada yang aneh tapi tidak ingat apa itu. Hanya pemikiran sesaat, Alvi kembali melanjutkan jalannya sebab Arfi sudah menjemputnya di depan kampus. Ia harus bergegas cepat, jika tidak para wanita itu akan mencoba mendekati suaminya.


Ketika sampai di halaman depan kampus, ia mengedarkan pandangannya. Sayangnya tak melihat sosok Arfi dimanapun. Cukup lama Alvi berdiri dan mencari, hingga sebuah mobil menghampiri dirinya. Mobil yang sangat ia kenali, benar, mobil sport miliknya.


"Sayang, masuk"


"Oh, Mas Arfi kok jemput pakai mobil? Motornya kemana?"


"Ah, disuruh Bani, katanya hari ini panas banget"


"Dih sok perhatian banget dia, khawatir sama aku ya?"


"Hm... katanya dia takut adik iparnya kepanasan, nanti jadi kucel. Hahahha"


Alvi mencibir kesal mendengar alasan itu. Bisa-bisanya pria menyebalkan itu memikirkan suami Alvi. Gadis itu yakin, Bani pasti memamerkan ketampanan Arfi untuk mendekati cewek-cewek di kampusnya. Memang dasar pria bodoh dan idiot, Alvi selalu saja dibuat kesal oleh kelakuan konyol sang Kakak.

__ADS_1


"Mas, tadi aku ketemu Brian, dia titip salam buat Mas Arfi. Emang Mas Arfi kenal ya?"


"Brian ? Hm... sepertinya kami pernah bertemu. Kenapa kau bersamanya?"


"Aah itu dia menolongku, karena Baim mencoba menghalangi jalanku. Pria brengsek itu, aku hampir menonjok nya, sungguh, wajahnya menyebalkan"


Arfi hanya bisa mengiyakan setiap omelan sang istri yang ditujukan untuk mantan pacarnya itu. Terlihat sangat lucu dan manis kala marah diselingi ocehan seperti anak kecil. Sebelum pulang, Arfi mengajaknya untuk mampir membeli es krim.


Seperti yang Bani katakan, hari ini sangat panas. Untungnya Arfi mendengarkan Kakak iparnya dan membawa mobil.


"Massss, hm ..." gumam Alvi begitu manja.


"Sekarang apa?"


"Hari ini kita nginep dirumah Ayah dan Bunda kan?"


"Iya, kenapa? Kamu gak mau?"


"Bukannya gak mau, tapi nanti kita gak ada waktu buat berdua gimana? Kamar Mas Arfi kedap suara kan? Gimana kalau kedengaran nanti waktu kita anu hayo"


Arfi mengangkat alisnya tak mengerti. Apa yang tengah gadisnya ini pikirkan, memang melakukan apa sampai tak boleh terdengar Ayah dan Bunda.


Alvi memutar bola matanya malas, ia memperagakan apa yang mereka lakukan semalam menggunakan kedua tangannya. Hal itu sukses membuat mata Arfi terbelalak lebar. Ia mencubit gemas pipi istrinya dan kembali melajukan mobil setelah es krimnya habis.


Selesai berkemas, Alvi menuju dapur dan membawa semua persediaan buah pisang yang ada disana.


"Sayang, kamu ngapain?"


"Bawa pisang, nanti kalau di rumah Mas Arfi gak ada pisang gimana hayo? Daripada beli kan mending aku bawa ini semua"


"Hahaha, Ayah punya kebun pisang di belakang rumah"


"Apa? Mas Arfi gak bohong kan?"


Arfi mengangguk, ia membantu Alvi memasukkan buah-buahan itu kembali ke tempatnya. Ia mengajak Alvi bergegas karena Bunda sudah menunggu dan menyiapkan makanan untuk menantunya.


Mobil Arfi melaju menuju sebuah perkampungan yang cukup jauh dari rumah Ardi. Perkampungan yang masih asri dengan beberapa sawah yang terlihat disana. Rumah Arfi memang berada di pinggiran kota yang belum begitu banyak gedung-gedung tinggi. Hanya saja, daerah rumahnya tak bisa dibandingkan dengan daerah rumah Ardi yang begitu megah serta mewah.


Saat memasuki perkampungan, mobil yang Arfi gunakan sudah menarik mata setiap orang disana. Bukan karena tak ada yang memiliki mobil, hanya saja mobil sport Alvi belum ada yang memilikinya di daerah itu.


"Bundaaa" teriak Alvi kala melintasi sebuah warung kecil.

__ADS_1


"Alvi? Eh gak usah turun nak, langsung saja ke rumah" ucap Maya menahan menantunya yang hendak keluar mobil.


"Aku mau jalan sama Bunda. Mas boleh kan?"


Arfi mengangguk setuju, lalu melanjutkan jalannya setelah Alvi turun dari mobil. Alvi mencium dan memeluk Maya melepaskan rindu. Maya terlihat sangat senang menyambut menantunya. Ia bahkan mengenalkan Alvi pada orang-orang yang berkumpul di warung. Sebenarnya mereka juga datang disaat pernikahan Arfi dan Alvi, hanya saja tak ada waktu berbincang karena saat itu banyak sekali tamu yang datang.


"Wah, menantumu sangat cantik ya" puji salah seorang ibu-ibu.


Alvi tersenyum dan mengucapkan terimakasih, ia mencium semua tangan Ibu-ibu disana dengan sangat sopan.


"Eh, tangan Ibu kotor nak jangan" ujar salah seorang Ibu lainnya.


"Tapi aku ingin mendapat doa dari Ibu. Mama bilang tidak masalah bila tangannya kotor, yang penting doanya. Hehehe"


"Menantumu lucu ya. Bunda Maya sangat beruntung, dia cucu Tuan Salim tapi sangat sopan pada orang lain" sahut salah seorang ibu lainnya.


Wajah Alvi memerah mendapatkan banyak pujian. Maya segera berpamitan pergi sebab tak ingin menantunya merasa tak nyaman karena di goda oleh Ibu-ibu disana.


Selama perjalanan pulang, kedua wanita itu tampak sangat dekat. Seolah tak habis topik yang mereka bicarakan. Bahkan Alvi terus memaksa ingin melihat kebun pisang secepat mungkin. Ia tak sabar ingin makan banyak pisang disana.


"Assalamualaikum, Bunda" sapa seorang gadis berkerudung.


"Waalaikumsalam, Aisya"


Alvi menatap gadis dihadapannya yang berdiri dengan senyuman lebar. Aisya? Apakah dia adalah gadis yang diperebutkan Arfi dan Arif? Aisya memang terlihat cantik, bahkan Alvi mengakuinya. Ia merasa kecil dan tak bisa dibandingkan dengan Aisya.


"Oh Aisya, kau sudah mengenalnya bukan? Ini menantuku Alvi"


Alvi mengulurkan tangannya dengan senyuman lebar. Tapi Aisya hanya menatap sekilas kemudian berpamitan pergi begitu saja. Dengan perasaan kecewa, Alvi menarik tangannya kembali.


Maya mencoba menghiburnya dengan menanyakan makanan kesukaan Alvi. Berbagai makanan gadis itu sebutkan, hanya makanan barat yang sangat populer di tengah kota. Maya sejenak berpikir, ia takut bila menantunya tak menyukai masakan buatannya nanti.


"Alvi, bagaimana jika kita pesan makanan kesukaan mu?"


"Kenapa Bunda? Mas Arfi bilang Bunda sudah masak banyak untukku"


"Tapi, sepertinya....."


"Bunda, Mamaku bilang, saat seseorang mengunjungi kita sebagai tamu. Tuan rumah harus menyuguhkan apa yang biasa kita makan, bukan sebaliknya. Jika tamu saja diperlakukan seperti itu, bagaimana denganku yang bukan seorang tamu? Aku adalah putri Bunda, aku harus memakan semua masakan Bunda ku"


"Ahaha, kau ini, Levia benar-benar mengajari mu dengan sangat baik"

__ADS_1


Pembicaraan kedua wanita itu berlanjut membicarakan pertemuan antara Maya dan Levia dulu. Mereka sempat berteman sesaat sebelum Levia menikah tentunya. Itupun karena mereka mengaji di tempat Pak Kyai.


__ADS_2