
Di sisi lain...
Arfi tengah berada di salah satu kafe bersama dengan teman-temannya. Mereka tengah membahas mengenai lokasi KKN yang akan dituju.
"Ciyaaa, Fi, gadisku nelfon nih" celetuk salah seorang teman Arfi.
Pemuda itu langsung menyambar ponselnya saat temannya hendak mengangkat telepon itu.
"Ehem.. Assalamualaikum sayang" ucap Arfi dengan nada manisnya.
Para teman-teman Arfi mencoba menahan tawa mereka. Sembari menggoda dirinya dan mencuri-curi dengar. Mereka langsung bergidik ngeri ketika Arfi menatap tajam namun berbicara dengan sangat manis kepada lawan bicaranya.
Cukup lama Arfi menerima panggilan itu, akhirnya ia menutupnya. Lalu memperingatkan para teman-teman nya untuk bersikap wajar dan tak berbuat ulah. Sebab sebentar lagi seseorang akan datang menghampiri dirinya.
"Mas Arfi" panggil seseorang dari kejauhan.
Arfi melambaikan tangannya dengan senyuman lebar. Sedangkan para teman-teman Arfi dengan kompak memanggil nama perempuan itu, "Alvi"
"Kalian kenal dia?" Tanya Arfi penasaran.
"Eh, kalian temannya Mas Arfi ya? Wah, dunia itu sempit ya" celetuk Alvi seraya memberikan tas yang Arfi mau. Tas itu berisi beberapa dokumen yang Arfi berikan, ia lupa membawanya dan meminta Alvi untuk mengantar ke kafe dekat kampusnya.
Arfi menarik Alvi untuk duduk di sampingnya, seraya menyelidik mencari tahu kebenaran. Alasan dibalik kenalnya Alvi dengan para teman-teman Arfi. Teman-teman Arfi tampak kikuk dan hanya tertunduk malu, tak ada yang mau menjelaskan apapun padanya.
Berbeda dengan Alvi yang langsung saja menceritakan semuanya. Tak ada yang ia ingin sembunyikan dari Arfi, apalagi hanya hubungan pertemanan biasa. Alvi beberapa kali bertemu dengan teman Arfi, mereka juga sering memberikan Alvi makanan ataupun hadiah. Itupun dengan dalih sebuah pertemanan. Bahkan diantara mereka pun sama terkejutnya, sebab tak saling tau jika mereka mendekati wanita yang sama.
"Jadi dia alasan kalian sering bolos kerja kelompok ya?"
"Aku? Kenapa aku Mas?" Sela Alvi.
"Ah, gak gitu Vi... Anu... itu.. hahaha" sahut salah seorang teman Arfi.
Alvi mengangkat alisnya bingung, ia menoleh ke arah Arfi yang tampak kesal.
"Mas Arfi gak mau kenalin aku ke teman-teman Mas?"
"Bukannya udah kenal? Hm... kenalin Alvi, istri gue"
"APA???" Ujar para teman Arfi berbarengan.
Tak lama setelah keterkejutan itu, teman-teman wanita Arfi datang bergabung. Mereka meminta maaf sebab terlambat dan berebut duduk di samping Arfi tentunya.
"Eh, dia siapa? Dia mau gabung ke kelompok kita juga? Gak kebanyakan nih?" Cecar salah seorang wanita yang duduk di samping Arfi.
__ADS_1
Alvi menatapnya kesal, sebab wanita itu duduk terlalu dekat dengan suaminya. Karena tak ingin ada keributan, Alvi hanya tersenyum kikuk dan berpamitan pergi.
"Mas, kunci motornya mana?"
"Buat apa ?"
"Mas kan pulangnya malam, naik mobil aja, aku yang naik motor"
Arfi menolak saran itu, bagaimanapun dia adalah seorang laki-laki. Ia sudah biasa pulang malam dengan motor. Tapi Alvi berusaha meyakinkan jika itu berbahaya, ia tak ingin suaminya terluka nantinya.
Setelah berdebat kecil, Arfi harus mengalah pada gadis kepala itu. Alvi memberikan jaketnya pada Arfi dan juga kotak makanan yang ia bawa dari rumah.
"Apa ini?"
"Kak Bani bilang Mas Arfi lagi sakit. Aku buatin bubur, ini obatnya dan vitamin juga, pakai jaketku. Baju Mas Arfi terlalu tipis, aku tau Mas Arfi pinter, tapi tolong jaga kesehatan" ucap Alvi dengan penuh perhatian. Ia memakaikan jaket kepada Arfi, lalu memberikan semua yang ia bawa pada suaminya.
"Kau masak untukku? Apa ini bisa dimakan?"
"Gak lucu" rengek Alvi kesal. Ia menyambar kunci motor Arfi dan bergegas pergi.
Namun sebelum itu, Arfi menariknya untuk mendekat. Ia mencium kening Alvi dan mengatakan jika hanya istrinya lah yang paling lucu.
"Kalau ada apa-apa telepon aku ya. Assalamualaikum Alvi"
Setelah Alvi tak terlihat dari hadapannya, Arfi kembali melanjutkan tugasnya. Ia mulai kembali membuka ide untuk tugas mereka nantinya. Walau banyak mata yang menatapnya dengan pertanyaan, Arfi seperti biasa tak menggubris dan hanya fokus pada pekerjaan.
Arfi dan teman-temannya kembali sibuk menggarap rancangan KKN mereka. Sisi lain yang mereka lihat dari Arfi, wajah pemuda itu berseri senang dengan senyuman yang tak pernah hilang sejak kedatangan Alvi.
Para gadis itu mengeluh, mereka sungguh ingin tahu siapa wanita yang duduk di samping Arfi beberapa menit yang lalu.
Malam pun tiba, kini hari sudah petang. Jam menunjukkan pukul 21:00...
Arfi dan teman-temannya baru menyelesaikan beberapa bagian dari proyek mereka. Mereka memutuskan untuk melanjutkan esok hari sebab hari semakin larut malam.
"Fi, serius loe sama Alvi udah nikah? Kok kita gak dengar kabar apapun sih?" Tanya salah seorang teman pria Arfi.
"Gue cabut dulu ya, istri gue nungguin nih nelfon dari tadi. Kangen kayaknya"
"Ha? Arfi udah nikah? Kapan?" Sela seorang wanita yang duduk disamping Arfi.
Pemuda itu tak menjawab, ia hanya tersenyum dan berpamitan pergi meninggalkan kafe. Diikuti oleh para lelaki yang juga ingin pulang kerumah. Sedangkan para wanita masih stay dan memesan beberapa makanan lagi.
"Frey, bukannya cewek itu yang dekat sama Arif ya?" Tanya wanita lainnya.
__ADS_1
Wanita bernama Freya yang duduk di samping Arfi sebelumnya, membenarkan hal itu. Sedari awal ia memang sudah tak asing dengan sosok Alvi. Tapi kini dugaannya semakin kuat, perempuan penggoda itu tidak mungkin istri Arfi, itu mustahil.
"Wanita sialan, dia pasti main guna-guna. Gak mungkin Arfi suka sama cewek kayak dia" cecar Freya begitu kejam.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Di rumah Ardi...
Sama halnya dengan Freya, Alvi juga mengingat dirinya. Gadis menyebalkan yang pernah menjambak rambutnya kala ia dan Arif tengah jalan bersama. Gadis yang memfitnahnya menjadi orang ketiga antara Arif dan sahabat Freya. Padahal Arif dengan jelas mengatakan jika dirinya tak memiliki hubungan dengan siapapun.
Dan satu hal lagi yang membuat Alvi tak bisa tenang. Pandangan mata Freya kepada Arfi, jelas sekali jika perempuan itu menaruh hati pada suami Alvi.
Alvi gusar menunggu Arfi yang tak kunjung pulang. Walau Bani mencoba menenangkannya, perasaan Alvi sebagai seorang istri tetap tak tenang.
"Loe kenal Freya Kak?"
"Kenal, kenapa? Cantik kan dia, pinter pula, rivalnya si Arfi waktu SMA. Besok kita juga KKN satu kelompok"
"Dia suka Mas Arfi ya?"
"Eh, tapi Arfi gak suka kok dek. Loe tau kan Arfi emang gak pernah peduli sama orang di sekitarnya"
"Gue ngantuk Kak, mau tidur" ucap Alvi kemudian pergi naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Bani menghela napasnya, ia memandangi pintu dan berharap Arfi cepat pulang.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, Arfi, buruan istri loe marah tuh"
"Kenapa lagi?"
"Fix, dia cemburu sama Freya. Tadi dia lihat kalian bareng ya? Dia nungguin loe tau gak, terus tiba-tiba marah. Sana, awas aja kalau dia nangis ya, gue hajar loe"
Arfi mengangguk dan pergi menuju kamarnya. Ia mendapati Alvi yang tengah berbaring diatas kasur. Padahal ponsel Alvi berdering, tapi sepertinya istri Arfi benar-benar tertidur. Ia berjalan mendekat dan melihat ponsel istrinya. Tak ada nama, Arfi pun mengangkatnya.
"He cewek sialan, loe belum cukup ya ngerebut Arif dari sahabat gue? Sekarang Arfi? Loe tuh emang cewek murahan, cih jijik gue. Ingat ya, sampai kapanpun loe gak akan pernah pantas untuk Arfi"
Ttutttt....
Panggilan itu berakhir, Arfi tidak mengerti siapa yang berani mengatakan hal kasar pada istrinya. Merebut? Alvi bahkan tak pernah tau tentang perasaan Arif maupun Arfi padanya. Arfi segera memblokir nomor itu dari ponsel Alvi, ia tak ingin gadisnya memikirkan hal yang macam-macam lagi.
"Maaf ya sayang. I love you" lirih Arfi seraya mengecup kening istrinya.
__ADS_1