Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 35


__ADS_3

Pagi menjelang....


Untuk pertama kalinya Arfi enggan berolahraga selepas sholat subuh. Ia lebih memilih tidur menemani sang istri. Ia mainkan pipi istrinya sambil sesekali mencubit gemas.


"Arfi, ada apa? Aku ngantuk tauuu"


"Ya kamu benar, aku lebih suka kamu memanggil ku seperti ini. Jadi ingat kenangan dulu"


"Fi, waktu kamu sakit, kenapa gak telepon aku sama sekali? Gak kangen ya?"


"Aku tau kamu ada dirumah sakit. Kamu itu lucu, mau berlagak gak peduli padahal khawatir banget. Dasar!!"


Alvi mendengus kesal, ia menyibak selimutnya lalu pergi masuk ke kamar mandi. Arfi hanya bisa tertawa melihat istrinya yang begitu sensitif di pagi hari. Ia turun kebawah menghampiri Bani yang tengah bermain game bersama dengan Oddy. Arfi ikut bergabung dan berbaring diatas sofa memperhatikan kedua iparnya. Baru saja ia duduk, Alvi sudah berteriak memanggilnya.


"Kalian ribut lagi?" Tanya Bani penasaran.


"Biasa, urusan rumah tangga" jawab Arfi kemudian pergi masuk ke dalam kamarnya. Ia begitu terkejut kala melihat istrinya yang terlihat sangat cantik dengan dress selututnya. Senyuman indah tak bisa hilang dari bibir Arfi.


"Sini Mas, duduk"


"Eh, kangen manggil Mas ya"


"Ssstt, diem aja"


Alvi memaksa suaminya untuk duduk di depan cermin. Ia memilihkan beberapa pakaian untuk sang suami. Hari ini, Alvi akan mendandani suaminya agar terlihat sangat tampan di kencan mereka. Arfi begitu pasrah kala istrinya mencoba memoles dirinya, merapikan rambut dan mencukur jenggotnya yang sudah mulai tumbuh bulu-bulu kecil.


Tak butuh waktu lama, Arfi sudah selesai di dandani. Ia terlihat amat sangat tampan seperti para Oppa Korea. Wajah tampan Arfi memang tak ada yang bisa menandingi, bahkan bentuk tubuhnya pun begitu indah.


"Turtleneck ini cocok banget buat kamu, wah aku tergoda"


"Lihatlah wanita nakal ini, sudah selesai mendandani ku? Bagus, aku memang tampan"

__ADS_1


"Suamiku emang tampan, berhenti memanggil ku wanita nakal!!"


Arfi menarik istrinya dalam dekapan, ia mencium kening Alvi berkali-kali. Sentuhan terakhir, Alvi memakaikan jas pada suaminya berwarna senada dengan gaunnya. Mereka kini tampak seperti pasangan paling serasi di dunia.


Alvi sangat senang dan turun ke bawah dengan senyuman megah. Bahkan Oddy dan Bani ternganga melihat perubahan Arfi yang begitu memukau.


"Waah, kalau urusannya jadi ganteng gini, gue juga mau nikah Fi" celetuk Bani melantur. Berbeda dengan Oddy yang menawarkan diri untuk mengambilkan foto mereka berdua. Sebab dirinya baru saja mendapatkan hadiah kamera dadi Papanya.


Setelah puas mengambil foto, Arfi dan Alvi pergi menuju sebuah restoran mewah. Ini bukan kejutan dari Alvi, tapi gadis itu ingin mengenalkan Arfi pada teman-temannya. Teman-teman yang Alvi dapatkan dari hubungan kerjasama Ardi dengan pengusaha lain. Beginilah cara hubungan lain terbentuk dalam hidup Alvi.


"Aku gak suka disini" bisik Arfi kala melihat tempat yang begitu mewah dan ada banyak wanita yang memakai pakaian kekurangan bahan. Ia tak peduli pada mereka, tapi ia tak suka kala setiap mata pria menatap istrinya.


"Cuma sebentar, aku juga males harus ketemu mereka sendiri" gerutu Alvi kesal. Ia sebenarnya tak ingin datang, tapi karena tak ingin Ardi di cap jelek. Ia pun memutuskan untuk datang ke tempat yang selalu membuatnya tak nyaman.


Bagaimana tidak? Jika disana hanya berisi tentang bagaimana mereka menyombongkan kekayaan orang tua mereka.


"Waah cowok baru loe Vi"


"Ganteng juga"


"Dia suami gue, kenalin namanya Arfi. Gak perlu salaman" ucap Alvi seraya menahan tangan suaminya agar tak membalas uluran tangan itu. Ia membuat Arfi duduk di sudut agar tak berdekatan dengan siapapun. Lalu menaruh tangan Arfi di atas pahanya untuk menutupi kakinya.


"Gue denger loe baru beli mobil sport ya" celetuk salah seorang wanita.


"Yoi, yah karena gue berhasil masuk ke Universitas"


"Cuma itu hadiahnya? Gue juga dibeliin mobil sih, tapi diajak jalan-jalan juga ke Korea" salah seorang lainnya.


Mereka memulai kembali saling menyombongkan hadiah yang di berikan. Alvi hanya diam mendengarkan sambil menikmati makanan. Ia asik sendiri dengan dunianya bersama sang suami. Percuma saja mendengarkan hal yang tak penting, hanya akan merasakan sakit dan rasa iri semata.


Cukup lama mereka mengobrol hak tak berguna itu. Arfi sudah meminta Alvi untuk pulang karena ia merasa tak nyaman disana. Alvi sebenarnya ingin pulang, tapi sebelum itu, ada seseorang yang harus ia temui sebelum pergi.

__ADS_1


"Waaah akhirnya Tuan Putri datang juga" celetuk salah seorang pemuda.


Terlihat seorang wanita datang dengan pemuda yang sangat familiar untuk Alvi. Gadis itu sudah menduganya, sayangnya bukan Alvi yang terkejut namun wanita itu.


"Kak Arfi? Kenapa ada disini?" Ucapnya keheranan. Wanita itu berjalan mendekati Arfi tanpa sadar, senyuman megah jelas terlihat diwajahnya.


"Aaah, gue sama suami gue balik dulu ya. Kita mau kencan" pamit Alvi seraya mendorong wanita itu menjauh dari Arfi.


"Suami? Jangan bercanda deh!! Murahan banget si loe Vi"


"Bukan gue tapi loe. Ya, loe cuma bisa dapet sesuatu yang gue tinggalin. Tapi gue selalu dapat apa yang orang lain inginkan"


Wanita itu sudah tersulut emosi karena perkataan Alvi. Ia mendorong Alvi dan mencengkram tangan wanita itu dengan kasar. Arfi mencoba memisahkan, namun Alvi memintanya untuk tidak ikut campur. Ini adalah urusan antara wanita.


"Loe bisa berada disini hanya karena cucu Tuan Salim. Seandainya loe bukan siapa-siapa, loe gak lebih dari sampah!!" maki wanita itu dengan amarah. Pemuda yang datang bersamanya mencoba untuk memisahkan, namun wanita keras kepala dan pemarah malah memarahinya tanpa alasan.


"Hahahaha, jikalau pun gue bukan cucu Tuan Salim. Tapi gue putri dari Ardi Salim. Ingat ya, seperti kata loe, gue bisa merendahkan harga diri gue di depan Tuan Salim demi menghancurkan keluarga loe" sentak Alvi tak mau kalah. Ia sudah membalas ajakan peperangan itu dengan penuh percaya diri.


"Tamara cukup, kenapa loe selalu aja cari masalah dengan Alvi. Dia gak pernah sekalipun nyakitin loe, cukup" sela salah seorang teman mereka.


Tamara masih tak terima, matanya tak sengaja menatap Arfi yang terus memperhatikan Alvi. Rasa benci dan cemburu semakin menggebu-gebu. Ia sudah kalut dalam kebencian itu, sebab rasa iri dan cemburunya pada Alvi sudah tak lagi bisa dibendung.


"Dasar cewek murahan, pantes aja Mama loe pergi ninggalin loe. Dia jijik dan malu punya anak kayak loe" satu kalimat menyakitkan keluar dari bibir Tamara. Semua orang disana terkejut dan merasa kecewa. Namun yang lebih terasa adalah rasa takut yang begitu nyata, amarah Tamara membuatnya lupa jika Alvi adalah cucu Tuan Salim. Orang yang sangat berpengaruh.


"Sayang kita pulang, jangan dengarkan perkataannya" ujar Arfi seraya menarik Alvi untuk pergi.


Gadis itu menggeleng, ia meminta Arfi menunggu sebentar. Sedangkan dirinya mendekati sang mantan pacar yang terus memandangi dirinya dengan iba.


"Jangan menatap gue seperti itu. Gue gak pernah sedih kehilangan sampah demi berlian"


Bbuuukkk...

__ADS_1


Setelah satu pukulan, Alvi berjalan pergi. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Ia baru mengetahui jika mantan kekasihnya itu pernah berusaha menyakiti Arfi dengan cara menyerempetnya. Itu pun terjadi kala Arfi tengah mencoba menghampiri Alvi di club pesta ulang tahun Vino. Pantas saja sepeda motor Arfi terlihat tergores dan ada luka di tangan Arfi.


Namun saat itu, Arfi berdalih jika dirinya terjatuh sebab mengantuk. Tapi kebenarannya, salah seorang teman Alvi melihat kejadiannya. Bahkan kamera dashboard nya menangkap kejadian itu saat tak sengaja berpapasan di jalan.


__ADS_2