
Malam telah tiba, Alvi tengah duduk di pos ronda depan rumah mertuanya bersama Arka dan kawan-kawan. Ia menunggu Arfi yang masih belum pulang ke rumah dari Masjid.
"Kak, emangnya bener ya anak yang dikandung Kak Aisya itu bukan anak Kak Arfi? Terus itu anak Ayah tirinya Kak Aisya?" Tanya Arka penasaran.
"Arka, jangan dengarkan kata orang saat kebenaran belum dipastikan. Tau gak kenapa?"
"Kenapa Kak?"
"Karena rasanya sangat sakit saat dituduh padahal kita tak melakukan kesalahan. Lebih baik loe belajar dan bermain saja ya. Jangan ikut campur urusan orang dewasa" nasihat Alvi begitu bijak.
Baru saja gadis itu selesai berbicara, seorang wanita datang menghampirinya dan langsung menampar Alvi tanpa kata apapun. Matanya menatap Alvi dengan kebencian yang besar, bahkan makian demi makian wanita itu lontarkan pada Alvi.
Alvi hanya diam, mendengarkan semua hinaan. Ia juga menghentikan Arka dan yang lainnya agar tak ikut campur.
"Kenapa loe benci banget sama gue?" Tanya Alvi setelah wanita itu berhenti berbicara.
"Kenapa? Loe punya segalanya di dunia ini, dan apapun yang loe mau bisa loe dapetin. Kenapa loe ngerebut Arfi dari gue? Dia satu-satunya orang yang tulus menyayangi gue"
"Gue gak ngerebut siapapun dari loe"
"Loe tuh emang gak tau diri, loe gak akan pernah bahagia. Dan gue pastikan, Arfi akan jadi milik gue" ucapnya dengan amarah yang menggebu. Aisya kemudian pergi masuk kedalam rumah Arfi.
Alvi menghela napasnya panjang, ia mendongak menatap langit malam yang sepi tanpa bintang. Ia sangat merindukan sang Mama tercinta. Ia tak mengerti, kenapa banyak sekali yang membencinya? Alvi tak pernah berniat menyakiti orang lain, tapi sepertinya apapun yang ia lakukan selalu salah dimata orang.
Gadis itu mencoba berdiri dari duduknya, namun sesak didada kembali melemaskan kaki Alvi. Arka dan teman-temannya dengan sigap membantu Alvi untuk berdiri dan kembali duduk di pos ronda. Bahkan Arka dan kawan-kawan tak mengerti, padahal Alvi begitu baik tapi selalu saja ada yang tak menyukainya.
"Kak Alvi jangan nangis" pinta Arka seraya menghapus air mata Alvi yang menetes.
"Kenapa gue hidup? Gue salah apa sih Ka? Kenapa seolah semua masalah di dunia ini salah gue ya? Apa harusnya gue tiada?"
"Kak, Kak Alvi ada disini karena takdir. Kak Alvi itu diciptakan untuk Kak Arfi, makanya kalian bertemu"
__ADS_1
Tidak, bukan jawaban seperti itu yang Alvi inginkan. Namun kebenaran valid tentang dirinya yang hidup kembali setelah koma selama dua tahun. Mengapa takdir tak mengijinkan ia untuk pergi selamanya? Jika kenyataan membuat luka setiap saat dihatinya.
"Alvi kenapa Ka? Sayang kamu kenapa? Ini pipi kamu kenapa merah?" Cecar Arfi yang baru saja tiba bersama kawan-kawannya.
"Kak Aisya, nampar Kak ipar, dia juga maki-maki dengan kata kasar. Tadi Kak Alvi hampir jatuh waktu jalan" jelas Arka.
"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku lagi, kau mengerti?!!" Ucap Arfi seraya menatap Alvi dengan mata melotot.
Gadis dihadapannya hanya diam tertunduk. Ada dua hal yang tak Arfi sukai pada diri istrinya, saat Alvi sedih dan diam. Karena disaat itu, Arfi tak bisa mengetahui apa yang harus dia lakukan agar gadisnya kembali ceria atau marah lagi.
Suara langkah kaki membuyarkan keheningan di pos ronda. Aisya dan Maya keluar rumah bersamaan dengan koper yang besar. Tatapan Aisya masih sama, penuh kebencian.
"Kalian mau kemana?" Tanya Alvi sembari berjalan mendekat.
"Ini semua gara-gara loe, gue harus pergi karena loe tinggal disini."
"Tidak, bukan begitu. Gue gak maksud..."
Alvi hendak menyusulnya, namun Arfi menghentikan gadis itu. Ia tak ingin Alvi kembali terluka dengan mengikuti Aisya. Arfi meminta Alvi untuk masuk kedalam rumah dan tidur sebab hari sudah malam.
"Kalau begitu, ikuti dia. Pastikan dia sampai rumah dengan aman"
"Aku tidak mau"
"Mas, ku mohon"
"Ini permintaan pertama dan terakhir, kau mengerti? Ram, ayo ikut gue. Kalian jagain istri gue, jangan biarkan dia pergi kemanapun" ucap Arfi kemudian pergi setelah mencium kening Alvi. Ia bersama Rama mengikuti Aisya dari kejauhan. Sedangkan Alvi kembali duduk di pos ronda bersama yang lainnya.
Teman-teman Arfi mulai mengajaknya berbincang. Menceritakan tentang masalalu mereka, kala Arfi pertama kali menyukai seorang perempuan. Setiap hari yang Arfi lakukan adalah memuji betapa mengagumkan gadis itu di matanya. Walau mereka sering bertengkar, tapi Arfi menyukai setiap momen kebersamaan mereka.
"Arfi gak pernah nyebut nama loe, tapi dia selalu bilang, gadisku" ucap salah seorang teman Arfi dengan tawanya.
__ADS_1
"Hahahha, dia disini selalu memastikan kalau loe bakal jadi miliknya. Tapi di depan loe, dia cuma pengecut" timpal teman Arfi lainnya.
Semakin lama, pembicaraan itu membuat Alvi tertarik. Ia mengatur posisi duduknya dan mendengarkan dengan seksama. Sesekali ia tertawa mendengar cerita mengenai suaminya yang sungguh tak pernah Alvi bayangkan sebelumnya. Ia tak menyangka jika Arfi sangat mencintainya.
Sayang sekali, seandainya dulu Alvi tau akan perasaan Arfi, ia pasti akan menyatakan cinta lebih dulu.
"Emangnya Kak Alvi dulu gak suka sama sekali sama Kak Arfi?" Sela Arka.
Pertanyaan macam apa itu? Mana mungkin ada perempuan yang tak menyukai Arfi? Itu sangat tidak mungkin, sebab pemuda itu adalah cerminan pria idaman wanita. Pipi Alvi merona hanya dengan mendengarnya, ia tersipu malu tanpa alasan yang jelas.
"Sayang, kamu kenapa? Ada yang gangguin kamu lagi?" Cecar Arfi begitu sampai di pos ronda. Ia berlari sekencang mungkin sebab melihat Alvi tertunduk.
"Kalian apain dia? Jangan macam-macam ya!!!" Sentak Arfi dengan nada dinginnya. Ia menatap satu persatu pria disana dengan tatapan tajam seolah ingin menerkam mereka semua.
Alvi mengelus pipi suaminya, mencoba menenangkan Arfi yang tengah marah.
"Kamu gak apa-apa kan sayang? Masih sakit pipinya?"
Mendengar Arfi berkata dengan sangat manis, semua pria di pos ronda itu mengeluh mual mendengarnya. Padahal beberapa detik yang lalu pemuda itu berkata dengan sangat kasar seperti seorang psikopat.
"Aku sayang kamu Mas Arfi"
"Eh, aku juga sayang kamu" jawab Arfi kemudian mencium pipi istrinya. Ia merangkul erat Alvi dengan perasaan gembira yang tak tertahankan.
"Mas, besok aku beliin hp dong. Aku gak punya hp nih"
"Iya, apapun akan aku belikan untukmu"
"Gue juga Kak, hp gue kan udah lama gak ganti nih. Ngelag mulu buat main game" sela Arka.
"Waah, kita beli yang kembar yuk Arka, boleh kan Mas?"
__ADS_1
Arfi hanya bisa tertawa canggung mendengar permintaan itu.