Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 54


__ADS_3

Di salah satu rumah sakit mewah, ruang VVIP tentunya. Seorang perempuan tengah duduk memandangi jendela luar. Pemandangan kota terlihat sangat jelas, bahkan ia bisa melihat kemacetan di jalan raya dari sofa itu.


"Aku kangen Mama" lirihnya mengenang masalalu. Tak ada siapapun disana yang menemani dirinya, sepertinya semua orang tengah makan siang. Ia tak berharap siapapun datang dan menghiburnya, sebab kesunyian ini membuat Alvi merasa tenang.


"Assalamualaikum sayang" ucap seseorang. Ia berjalan menghampiri Alvi yang menatapnya sedih. Ah, mana mungkin. Arfi bisa menahan perasaannya ketika sang istri terlihat begitu manis.


"Dia gak apa-apa?"


"Baik kok. Kamu keadaan nya gimana sayang? Aku bawa sesuatu buat kamu" jawab Arfi seraya mengeluarkan kue pisangnya. Ia membeli kue itu selama perjalanan pulang, kala melintasi toko kue.


Alvi menatap kue itu, kemudian menatap mata suaminya. Lagi-lagi perlakuan manis Arfi membuat hatinya luluh. Ia tersenyum malu dan menjatuhkan dirinya ke pelukan Arfi. Keduanya menikmati momen menyenangkan bersama.


Arfi membuka kotak kue kemudian menyuapi istrinya. Seperti anak kecil, Alvi masih saja makan belepotan. Tak kuasa Arfi menahan perasaannya untuk tidak menyentuh sang istri. Ia menarik tubuh Alvi untuk mendekat, menyibak rambut gadis itu kebelakang. Jarak mereka begitu dekat hingga Arfi memulai ciuman itu lebih dulu.


Tangan Alvi menarik erat pekaian Arfi, ia sudah terjatuh dalam suasana romantis itu. Arfi juga tak ingin melewatkan kesempatan lagi, ia mengelus seluruh tubuh istrinya, membangunkan sesuatu yang lama tak Alvi rasakan.


"Sialan kamu Fi" bisik Alvi dengan napas terengah-engah.


"Kok kasar ngomongnya? Aku gak bisa tahan kalau lihat kamu cantik banget kayak gini" puji Arfi yang lagi dan lagi membuat Alvi tersipu malu.


Mereka hendak melanjutkan adegan romantis itu, namun sebuah deheman membuat mereka menoleh. Tuan Salim, Ardi, Bani, Zahra dan Oddy sudah berdiri di depan pintu memandangi keduanya.


"Ini rumah sakit" ucap Ardi dengan wajah garangnya.


Arfi merasa tak enak pada sang mertua, ia kelabakan lalu menjaga jarak dari sang istri. Sedangkan Alvi malah tertawa lebar melihat tingkah konyol Arfi.


Ardi menghampiri putrinya yang sedang melanjutkan makan kue. Ia menatap Alvi dengan rasa bersalah, sungguh tak ada niatan bagi Arfi untuk menyakiti putri bungsunya.


"Pa, aku mau liburan. Sebagai permintaan maaf Papa" ujar Alvi langsung ke intinya.


"Kalau Kakek? Kamu mau minta apa dari Kakek sayang?" Sela Tuan Salim. Ia juga ingin permintaan maafnya diterima oleh sang cucu.


"Kirim Arfi kembali kepada istrinya, katakan padanya jika aku akan bersamanya setelah dia dan wanita itu bercerai"


Permintaan Alvi membuat suasana kembali tegang. Bak di sambar petir Arfi kelabakan meminta Alvi untuk menarik ucapannya. Disisi lain, Alvi menatap ke arah Oddy dengan mata yang menyatakan peperangan. Ia tau Oddy tengah merencanakan sesuatu untuk menggagalkan keinginan Alvi. Tapi gadis yang keras kepala itu tentu tak ingin mengalah.

__ADS_1


Oddy menghela napasnya berat, ia terduduk di sofa sambil mengeluh atas perbuatan Alvi.


"Aku tidak mau. Vi, kenapa? Apa aku buat salah lagi?" Cecar Arfi dengan banyak pertanyaan.


"Baiklah Kakek setuju, kalian bertiga akan tinggal bersama di rumah Arfi"


"Apa? Aku tidak mau satu rumah dengan wanita itu!!"


"Kenapa Alvi? Takut karena tidak bisa menahan rasa cemburu?" Sahut Oddy mengejek.


Pandangan Alvi kembali menatap Kakaknya, tantangan ini membuat hati Alvi semakin menggebu. Tanpa pikir panjang ia menyetujui permintaan Tuan Salim. Oddy tersenyum miring melihat adiknya terjebak dalam rencananya sendiri. Jika Arfi dan Alvi tinggal satu rumah, itu mungkin akan menyakiti Aisya. Tapi mereka hanya ingin Arfi dan Alvi kembali dekat. Bagi mereka kini Aisya bukan lagi seorang putri, tapi benalu yang memiliki banyak wajah.


Tuan Salim berbalik dengan senyuman lebar, ide Oddy rupanya berhasil. Kini mereka hanya tinggal menunggu anak Aisya lahir dan mengungkap semua kebusukan wanita itu. Hanya saja, dua bulan mungkin bukanlah waktu yang singkat untuk Alvi.


"Mau liburan kemana sayang? Biar Papa pesankan tiket dan siapkan semuanya untukmu?" Tanya Ardi.


"Korea Selatan"


"Berapa lama? Mau Papa temenin atau cuma berdua sama Arfi?"


"Bilang aja mau bulan madu, pakai malu segala. Istirahat sana, kalian jangan macam-macam ya, Alvi harus sembuh dulu" nasihat Ardi kemudian ikut pergi menyusul Tuan Salim. Ada banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan.


Arfi kembali menghampiri istrinya, ia memasang wajah sedih. Bagaimana bisa Alvi mengatakan hal sekejam itu? Menyuruhnya pergi dan tak boleh menemui Alvi lagi. Itu adalah sebuah cobaan yang besar bagi Arfi.


"Aku cuma bercanda. Mana mungkin aku biarin kamu dekat sama dia, kamu kan cuma milik aku"


"Bercandanya jahat banget sih sayang" keluh Arfi seraya menempelkan keningnya ke kening Alvi. Ia kembali mendekatkan jarak mereka kemudian mengecup bibir Alvi singkat.


Arfi menjatuhkan dirinya dalam dekapan Alvi.


"Kalian ada rencana punya anak ya?" Goda Bani.


Jawaban berbeda yang di dengar oleh semua orang. Arfi menginginkan namun Alvi menolak. Karena gadis itu tak ingin kerepotan mengurus anak kecil.


"Kan ada Niza, bawa dia kesini dong Kak. Mau gendong, bosen banget nih gak ada yang bisa diajak main"

__ADS_1


"Mau main apa? Aku akan ada disini sayang"


"Tapi kan beda. Si Arfi kenapa sih manja banget gini? Inget gak dulu sering banget marahin aku, bentak-bentak gak jelas bikin orang bete"


"Itu kan dulu, sekarang maunya dimanja sama kamu. Waktunya istriku tidur siang, Bobo bareng yukk"


"Hooeekkk" terdengar suara Oddy dan Bani yang hendak muntah. Jijik sekali mereka melihat Arfi yang berlebihan. Walau disisi lain mereka senang sebab Arfi kembali ceria. Tidak seperti dulu, hanya termenung dan menatap Alvi dengan sedih.


Arfi menggendong istrinya kembali ke ranjang. Ia akan memastikan Alvi istirahat total agar cepat sembuh.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Satu Minggu berlalu...


Alvi sudah diperbolehkan pulang, kini dirinya tengah mengemasi barang-barang. Tuan Salim memberinya kue berbentuk pisang kesukaan sang cucu. Sesuai perjanjian, Alvi akan tinggal di rumah mertuanya.


Selama perjalanan, perasaan gadis itu tak tenang. Ia terus gelisah menatap keluar jendela. Ini adalah pertama kalinya, Alvi harus tinggal di daerah lain. Sebab ia tak pernah jauh dari tempatnya tinggal walau sering sekali ditinggal oleh keluarganya.


"Gugup ya? Kamu tuh lucu banget tau gak. Makanya aku sayanggg banget sama kamu"


"Fokus aja nyetirnya"


Arfi terkekeh melihat sikap dingin itu, ia kembali menggoda Alvi dengan mencolek-colek bahu gadis itu. Mereka hanya pergi berdua, Ardi pikir ini adalah saat yang bagus agar keduanya saling dekat.


Sejenak Alvi menoleh ke arah jalanan yang dipenuhi oleh warga disana. Mereka memperhatikan mobil Arfi dengan seksama, mobil asing yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


"Mereka ngapain lihatin kita Fi?"


"Bukan kita, tapi mobilnya. Aku gak pernah pakai mobil ini, jadi ya mereka pasti penasaran sama pemiliknya"


"Apa? Emang disini gak ada yang punya mobil Fi?"


"Ada, tapi ya beberapa. Lagipula ini kan kampung sayang, semua orang bisa tau. Dan, kabar tentang anak yang ada dikandungan Aisya pun sudah menyebar. Aku jadi kasihan sama dia, eh bukan maksud aku..."


"Gak apa-apa kok Fi, wajar sebagai seorang suami untuk mikirin istrinya"

__ADS_1


Entah mengapa, setiap kalimat yang Alvi lontarkan, membuat hari Arfi merasa tak nyaman.


__ADS_2