Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 65


__ADS_3

Setelah keduanya kembali berbaikan, Arfi melajukan mobilnya menuju rumah Ardi. Terlihat Bani yang tengah menggendong Niza di teras rumah.


"Eh, bukannya tadi kalian berangkat gak barengan? Kok pulangnya berdua?" Tanya Bani.


Alvi bergelayut manja di lengan suaminya sambil cekikikan.


"Dek, jagain Niza ya malam ini. Kakak sama Zahra mau, hehehe"


"Kok gitu sih Ban? Bukannya gue gak mau, tapi kan gue sama Alvi...."


"Apa? Kemarin kan udah, pengertian dikit kenapa Fi?"


"Udah-udah gak apa-apa, sini Niza sama kita aja. Kalian have fun ya hahahaha" sela Alvi sambil mengambil alih Niza dari gendongan Bani. Ia berjalan masuk lebih dulu meninggalkan dua pria yang masih saling menatap tajam.


Alvi menidurkan Niza diatas tempat tidur, memainkan tangan kecilnya yang lucu dan menggemaskan. Tak lama Arfi masuk sambil mengeluh, ia masih ingin berdua bersama istrinya, tapi kenapa Alvi malah menyetujui untuk menjaga Niza malam ini.


"Sini sayang" panggil Alvi.


Arfi langsung saja melupakan amarahnya setelah panggilan manis itu. Ia berjalan menghampiri Alvi dan bersandar dalam pelukannya. Sambil memegang tangan Niza yang sudah tertidur dalam dekapan sang istri.


Melihat Alvi yang begitu telaten mengurus Niza, ia sudah terlihat sangat pantas menjadi seorang Ibu. Tapi, Arfi masih sedikit ragu sebab istrinya masih terlalu muda untuk memiliki anak. Terlebih Alvi baru saja sadar dari koma dan kehilangan beberapa tahun masa bermainnya.


"Sayang, kamu mau punya anak?" Tanya Arfi penasaran.


"Aku akan terima kalau di kasih sama Allah. Suka ada anak kecil, soalnya aku gak kesepian lagi"


"Gimana kalau kita jalan-jalan? Kita bawa Niza juga"


"Tunggu dia bangun ya, lucu banget kan Niza, gemes. Suamiku juga gemes banget sih, sini cium"


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Selepas sholat Isya', Arfi, Alvi dan Niza keluar kamar. Mereka berpapasan dengan Bani yang tengah makan malam bersama dengan Zahra.


"Ban, gue mau jalan-jalan"


"Loh? Terus Niza gimana?"


"Kita bawa kok, loe emang gak tau diri. Ini pertama dan terakhir, awas aja kalau loe ganggu malam gue lagi"


"Hehe, iya-iya, thanks adik ipar. Pulangnya yang lama ya, hati-hati dek, dadah anak Papa"

__ADS_1


Alvi melambaikan tangannya dan pergi menghampiri Arfi yang sudah membukakan pintu mobil untuknya. Perlakuan manis dari pria paling tampan memang berbeda. Arfi membawa kedua perempuan itu menuju kafenya. Sebenarnya hari ini ada launching makanan baru, tapi karena melihat istrinya tengah berdebat dengan seseorang, Arfi meninggalkan acara itu dan menyerahkan semuanya pada karyawan.


Tapi kini Alvi ingin mencoba menu baru di kafe Arfi. Apalagi jika menjual makanan pedas, tentu Alvi harus mencobanya sebagai penikmat makanan pedas.


"Vi, datang lagi? Mau coba menu baru ya?" Ucap Vita menyambut kedatangan Alvi. Ia juga mengarahkan Alvi ke arah lain, melihat sahabat mereka Tasya yang tengah makan malam bersama kekasihnya.


"Tasya" sapa Alvi berjalan mendekat.


"Alvii, aaah kangen. Halo Niza, cantik banget sih lucu"


"Udah punya cowok gue gak dikasih tau, sebel ah" rengek Alvi.


"Hai, gue Rega" sela pacar Tasya seraya mengulurkan tangannya.


Alvi membalas mengucapkan namanya, tapi tidak dengan uluran tangan itu. Ia hanya mengangguk sebagai tanda jika dirinya menerima perkenalan ini.


"Sayang, kamu mau coba mie level berapa?" Teriak Arfi yang sudah duduk manis.


"Paling tinggi dong Pak bos, Alvi kan suka pedas" jawab Vita.


"Ngawur, yang sedang aja. Dia masih dalam tahap pemulihan, kecapnya banyakin ya Vit"


Setelah Vita berlalu pergi, Alvi menghampiri suaminya. Ia memesan daging ayam dan kentang yang dikukus lalu dihaluskan. Pesanan yang tak pernah ada di menu hanya bisa di pesan oleh istri pemilik kafe.


Manager kafe menghampiri Arfi dan membawakan mie pedas sebagai contoh makanan. Mie pedas itu memiliki topping lengkap dan tersedia dalam beberapa level.


"Jangan, kamu kan gak bisa makan pedas" ucap Alvi mencoba menghentikan suaminya.


"Bisa kok, aku mau selera kita sama biar bisa makan bareng" jawab Arfi lalu memasukkan satu suapan ke mulutnya.


"Jangan kayak anak kecil, makan yang lain aja" oceh Alvi seraya menyeka bumbu yang ada di mulut suaminya. Padahal Arfi terlihat kepedasan hanya dengan satu suapan. Alvi pun memesan susu putih hangat untuk suaminya.


Makanan Niza tiba, Alvi menyuapinya dengan perlahan. Gadis kecil itu begitu suka memakannya, jelas sekali terlihat jika Niza terus tertawa dalam pangkuan Alvi.


"Mas, sudah aku bilang jangan dimakan. Makan yang lain" omel Alvi sekali lagi. Ia menjewer telinga Arfi yang terbatuk-batuk karena makanan pedas.


Mana mungkin Alvi tidak tau jika suaminya tak suka pedas, ia sudah mencari tau banyak hal tentang Arfi dari Maya.


"Niza makan yang banyak ya sayang, biar kalau besar nanti bisa pukul semua cowok brengsek di dunia ini" ucap Alvi seraya menyuapi Niza. Gadis itu kecil itu tampak tertawa mendengar ucapan Alvi.


Sedangkan beberapa orang yang mendengar, begitu terkejut dengan penuturan Alvi.

__ADS_1


"Pengalaman ya ketemu banyak cowok brengsek?" Sahut Arfi.


"Iya, besok kalau Niza besar, harus ketemu cowok kayak Ofi ya. Eh, dia ketawa Mas, lucu banget sih"


"Ofi siapa sayang?"


"Ofi itu Om Arfi"


"Terus kamu Tavi? Nanti anak kita panggilnya Pafi Mavi?"


"Aaahh Mas Arfi emang pinter. Lihat kan Niza, Ofi yang terbaik"


Vita yang tak sengaja mendengar nya hanya tertawa geli. Alvi masih tak berubah sama sekali, masih saja norak seperti dulu. Ia selalu menyukai hal-hal konyol seperti ini. Tapi itu yang membuat Alvi istimewa, ia tak peduli bahkan jika orang lain menghina seleranya. Alvi akan melakukan apapun yang membuatnya bahagia.


Bahkan beberapa orang ikut tertawa mendengar hal konyol itu. Tak terkecuali manager kafe yang datang mendekat.


"Bos, istrinya lucu ya" celetuk manager kafe yang dibalas tatapan tajam oleh Arfi.


Arfi begitu sensitif saat ada yang memuji istrinya.


"Bu bos, mau coba es krim pisang?" Ucap sang manager mengalihkan suasana.


"Mauu, minta satu ya. Mas, gendong Niza bentar, aku mau ke kamar mandi"


Setelah Alvi pergi ke kamar mandi, Arfi memberikan kode pada manager kafe. Beberapa karyawan datang dan membereskan semua makanan disana. Menata kembali meja dengan hiasan bunga, kue berbentuk pisang dan es krim rasa pisang. Mereka juga membawa kembali makanan yang belum Alvi habiskan.


Dan sebuah buket bunga dengan boneka monyet yang membawa pisang. Itu adalah ide Vita sebagai sahabat yang paling mengenal Alvi tentunya.


Dari kejauhan terlihat Alvi berjalan mendekat, senyuman sudah terlihat di wajahnya ketika hendak sampai di mejanya.


"Uwaa, Mas Arfi apa'an sih ini? So sweet banget"


"Kejutan untuk sang istri tercinta, I love you sayang"


"Love you too sayang" balas Alvi lalu mencium pipi suaminya. Ia mengambil kembali Niza dari gendongan Arfi, lalu menjatuhkan dirinya di pelukan sang suami.


"Niza ikut senang tuh, ketawa mulu dari tadi"


"Niza senang karen Ofi nya juga tertawa lebar. Jangan sedih lagi ya Ofi, Ofi ganteng kalau senyum" ucap Alvi berlagak menjadi Niza.


Arfi menepuk kepala istrinya perlahan kemudian mencubit pipinya gemas. Hadiah terindah yang tak akan pernah ia lupakan. Kehadiran Alvi untuk keduakalinya dalam hidup ini.

__ADS_1


__ADS_2