Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 68


__ADS_3

Arfi menarik tangan istrinya yang hendak berjalan pergi. Dengan wajah memelas ia meminta maaf pada istrinya dan berjanji akan segera mengembalikan kartu kredit itu pada Tuan Salim.


"Iya oke"


"Terus kamu mau kemana sayang?"


"Mau belanja lah, kartu udah ditangan massa dikembalikan sebelum belanja?"


Isi pikiran perempuan memang tak bisa di tebak, batin Arfi. Ia merangkul pundak istrinya dan masuk kedalam toko pakaian.


Seperti kebanyakan wanita, Alvi berkeliling melihat semua pakaian yang ada. Juga mencari tahu keluaran terbaru. Tangannya seolah bergerak sendiri mengambil beberapa pakaian yang ia sukai. Arfi hanya bisa diam melihat istrinya berbelanja sebanyak itu. Tak masalah, Alvi pasti sangat merindukan belanja.


"Sayang, habis ini makan terus ke toko temanku ya" bisik Alvi.


"Mau belanja lagi?" Tanya Arfi tak percaya.


"Iya, dia jual baju gamis gitu deh. Kemarin dia nawarin aku, tapi aku belum sempat kesana"


"Oh, iya oke sayang. Udah ya belanjanya, aku capek keliling" pinta Arfi kelewat jujur.


Bukannya berhenti, Alvi malah meminta Arfi untuk duduk di sofa dan menunggu dirinya. Ia ingin berputar sekali lagi mencari sesuatu disana. Kini langkahnya pergi ke arah pakaian pria, memilih beberapa pakaian untuk sang suami yang mirip dengan baju pilihannya. Benar, Alvi ingin mereka selalu terlihat serasi saat pergi bersama nantinya.


Setelah selesai berbelanja, Alvi akhirnya mengajak sang suami untuk makan sushi. Di salah satu restoran di pusat perbelanjaan disana. Ia menyuapi Arfi sambil menggenggam salah satu tangannya, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang begitu jatuh cinta. Membuat orang yang melihat merasa iri karenanya.


Selepas makan, mereka melanjutkan kencan mendatangi toko teman Alvi. Namun sebelum itu, Arfi berhenti di salah satu Masjid untuk melakukan sholat dhuhur. Seperti biasa, usai sholat ia akan menguras uang tunai di dompetnya untuk dimasukkan ke kotak amal.


"Sayang, kenapa di masukkan semua?" Tanya Alvi keheranan.


"Kau pernah menanyakan hal yang sama, ini tidak sebanding dengan belanjaan mu" jawab Arfi singkat. Ia merangkul pundak istrinya dan masuk ke dalam mobil.


Alvi masih tidak mengerti, apa suaminya selalu seperti ini? Kenapa Arfi begitu baik mengeluarkan semua uangnya untuk beramal? Alvi mengerutkan keningnya, mencoba mencari jawaban dalam pikirannya.


Arfi menghapus kerutan di dahi sang istri, lalu mengelus pipinya dengan lembut. Tidak ada alasan untuk berbuat baik, hanya menginginkannya saja, jawaban yang sangat sederhana.


"Tapi kan sayang, kalau kamu masukkan semua uangmu, terus kita gimana?"

__ADS_1


"Kenapa kamu takut? Rejeki itu akan datang, sudah jangan pikirkan apapun"


Astaga, pria seperti apa yang aku nikahi ini?


Arfi kembali melajukan mobilnya menuju toko teman Alvi. Toko pakaian sederhana yang terletak di pinggir jalan. Alvi begitu antusias mendatangi nya, ia langsung saja masuk dan meninggalkan Arfi yang mencari tempat parkir untuk mobilnya.


"Pemilik tokonya ada?" Tanya Alvi pada salah satu karyawan.


"Maaf, anda siapa dan ada perlu apa?"


"Alviiiiiiii, haiii akhirnya loe datang kesini juga" sela seseorang. Ia adalah teman Alvi, sekaligus pemilik toko tersebut. Mereka berpelukan dan saling bertukar kabar. Teman Alvi merasa senang karena bisa melihat gadis itu itu lagi, setelah banyak kabar yang beredar jika Alvi mengalami koma.


"Gue gak ngerti nih baju-baju gini, pilihkan baju terbaik buat acara gue nanti malam ya" pinta Alvi.


Pemilik toko mengajaknya masuk kedalam, ke area baju dengan model terbaru yang terlihat begitu anggun. Ia mencoba memilih satu dari sekian banyak dan di cocokkan pada tubuh Alvi tentunya.


"Loe kurusan ya, habis nikah kok jadi turun sih berat badannya"


"Kan gue baru sembuh, loe mah gak pengertian"


Sebuah gamis berwarna abu-abu dengan sentuhan manik-manik putih di bajunya. Indah, cantik dan terlihat anggun. Tak butuh banyak penawaran, Alvi langsung memilih nya. Hanya butuh sepuluh menit memilih baju, tapi mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol. Begitu seru, ada banyak hal yang mereka bicarakan. Hingga perlahan memori Alvi kembali terulang kala temannya menunjukkan sebuah video pertengkaran antara dirinya dan Ambar.


Ambar? Alvi tak ingat jelas, sepertinya apa yang terjadi antara dirinya dan Ambar lebih dari yang ia pikirkan selama ini.


"Sayang, ini sudah dua jam kalian mengobrol. Sudah adzan Ashar, kita sholat dulu ya" sela Arfi yang lelah menunggu.


"Astaga, gue dateng sama suami gue, lupa kan jadinya karena keasyikan ngobrol"


Alvi memperkenalkan Arfi pada temannya, setelah itu ia membayar semua belanjaan dan pergi bersama sang suami.


Selama perjalanan pulang selepas dari Masjid, Alvi terus memandangi suaminya. Ia ingin bertanya tapi ada keraguan dalam dirinya. Entah Arfi tau atau tidak tentang sesuatu yang akan Alvi tanyakan.


"Tanyakan saja" celetuk Arfi.


"Apa?"

__ADS_1


"Kamu selalu melihat ku seperti itu saat ragu bertanya. Tanyakan apa yang ada dalam otak kecilmu itu"


"Iiih nyebelin. Kamu tau gak, masalah antara aku dan Ambar? Ambar itu...."


"Sahabat kamu waktu SMA, dia rebut pacar kamu dan.... Hufftt, nih lihat hp ku" jawab Arfi seraya memberikan ponselnya.


Alvi masih tak mengerti, akhirnya Arfi menepikan mobilnya dan membuka roomchat yang tak ia hapus. Jangankan hapus, ia buka pun tak pernah. Semua foto dan video tentang Ambar masih tersimpan disana, Alvi membelalakkan matanya lebar melihat Ambar yang mencoba menggoda suaminya.


"Wanita brengsek, dia yang bilang kalau aku gak pantas buat kamu"


"Tenang, sudah biarkan saja. Kamu sudah membuktikan padanya jika aku hanya milikmu"


"Benarkah? Aku melakukan itu? Lalu dia, kenapa masih mencoba menggodamu? Blokir saja nomornya, hissh wanita sialan ini" oceh Alvi tak karuan.


Arfi sudah menjelaskan, sekalipun ia mencoba memblokir nomor Ambar, wanita itu pasti akan mengganti nomor dan mencoba menghubungi Arfi lagi. Arfi meminta ponsel Alvi, melakukan hal yang sama seperti dua tahun yang lalu. Ia ingin Alvi tau, jika tak akan ada satupun orang yang bisa masuk dalam hubungan mereka.


"Kenapa? Kamu pikir aku gak percaya sama kamu?"


"Bukan begitu, tapi dulu kamu sangat takut kehilangan ku, karena itu aku melakukan ini untukmu"


"Iih apa sih? Siapa bilang? Kamu mungkin yang takut kehilangan aku"


"Iya sangat, sangat takut"


Arfi sialan, selalu saja bikin gue deg-degan.


Alvi yang tak bisa menyembunyikan perasaannya, meminta Arfi melakukan hal yang sama pada ponselnya. Ia juga ingin Arfi tau, jika tidak akan ada tempat bagi pria manapun dalam hidupnya. Walau Arfi menolak, Alvi kali ini memaksa, ia tak mau jika suaminya curiga yang tidak-tidak. Padahal Alvi merasa senang jika mengetahui Arfi cemburu.


"Kenapa wajahmu merah?"


"Apa sih? Gak kok, Mas Arfi nyebelin"


"Tapi sayang kan?"


"Sayang baangetttt, I love you"

__ADS_1


"Love you too"


__ADS_2