Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 39


__ADS_3

Alvi memalingkan tubuhnya, namun Arfi menariknya agar mereka saling berhadapan. Mata Arfi memancarkan keteduhan, Alvi tersipu tanpa alasan.


"Aku besok udah balik lagi, kamu yakin mau marah terus"


"Hm, yaudah sana sama cewek kamu itu"


"Aku pulang dulu ya, kamu baik-baik disini. Jangan nakal!!"


"Iiih, iya iya aku pulang, tunggu"


Alvi berlari masuk kedalam rumah Vita dan mengemas semua barangnya. Ia berpamitan pada Ibu dan kedua sahabatnya, dengan senyuman lebar yang tak bisa disembunyikan. Kakinya berlari kencang menghampiri Arfi yang setia menunggu.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Di rumah Ardi ...


Bani dan Oddy sudah menunggu adik perempuan mereka. Sembari menikmati masakan Bi Inah yang sangat mereka rindukan. Pasalnya, selama mereka KKN, makanan terenak yang bisa dimakan adalah ketika para tetangga memberikan mereka makanan atau membeli di warung. Sebab tak ada satupun diantara mereka yang bisa memasak.


"Bi, masakan Bibi enak banget" puji Bani seraya memakan makanannya dengan lahap.


"Tumben Den Bani bilang enak, biasanya ngeluh bosen makan ini mulu"


"Aaah Bibi mah, masakan Bibi tuh paling enak sedunia. Setelah masakan Mama dan Ayam KFC. Hahahaha"


Bi Inah hanya tertawa, ia kembali menghidangkan segelas susu untuk kedua Tuan Mudanya. Sebenarnya rumah Oddy ada di sebelah rumah Bani, tetapi karena orang tua Oddy sering sekali pergi keluar negeri untuk mengurus bisnis mereka, jadilah Oddy selalu tidur di rumah Bani.


Sebelum Oddy masuk kuliah, orangtuanya tak pernah pergi sesering ini. Namun setelah dirinya masuk Universitas, dan dianggap sudah dewasa, kedua orangtuanya melepaskan Oddy begitu saja. Membiarkan sang anak tunggal melakukan apapun yang diinginkan.


Bi Inah kembali bercerita mengenai Nona mudanya yang terus saja sedih karena ditinggal pergi oleh ketiga lelaki tampannya. Alvi terlihat murung setiap hari dan bahkan jarang pulang kerumah. Walau sering mengabari tapi tetap saja, Bi Inah selalu dibuat khawatir olehnya.


Bani dan Oddy juga khawatir meninggalkan adik mereka. Terlebih Alvi berada di masa yang sedang labil. Mereka takut adiknya gegabah dan mengambil keputusan yang akan membuat dirinya terluka.


"Kakaaaaaakkkk" teriakan yang begitu nyaring.


Terlihat Alvi berlari menghampiri kedua Kakaknya dengan senyuman lebar. Ia mencium pipi Bani dan Oddy bergantian. Alvi sangat merindukan kedua Kakaknya yang menyebalkan itu.

__ADS_1


"Loe kok kurusan sih dek? Gak mau makan ya?" Cecar Oddy.


"Em... kangen kaliiaan, jadi mayes mamam tauukk. Oh iya, pacar loe, dia kenapa sih? Kenapa marah-marah ke gue?"


"Pacar? Siska maksud loe? Udah gue putusin"


"Apa? Kak, Mbah kan udah bilang jangan main-main sama perasaan perempuan"


"Ya karena gue gak mau mainin dia, makanya gue putusin. Emang dia ngapain?"


Alvi duduk dipangkuan Bani, memeluknya dengan begitu erat. Ia menceritakan bagaimana menyebalkan nya mantan pacar sang Kakak. Kala itu Alvi sedang berjalan bersama dengan teman-temannya, mereka tak sengaja berpapasan dengan mantan Bani di sebuah pusat perbelanjaan.


Disana, Siska mencoba mencari tahu tentang Bani sebab tak ada kabar sama sekali. Alvi yang memang tak tahu sudah menceritakan sejujurnya. Namun Siska tak ingin percaya, ia malah menjambak rambut Alvi dan membuatnya terjatuh. Alhasil, cucu Tuan Salim menjadi pusat perhatian.


Jika saja saat itu Alvi tau Siska bukanlah pacar Kakaknya lagi, ia sudah membalas dengan lebih brutal. Tapi karena Alvi tak ingin Bani terluka, sebab itulah ia menerima semua perlakuan Siska.


"Kaaakkaakk, gue gak mau punya Kakak ipar kayak Mak lampir" rengek Alvi.


"Dek, kita punya alasan lain pulang kerumah"


Arfi datang mengelus rambut istrinya. Ia menarik Alvi untuk duduk di kursi samping Bani. Gadis nakal itu harus mendengarkan alasan mereka pulang kerumah.


Suasana begitu hening dan tak nyaman, bahkan Bi Inah pun diminta untuk ikut mendengarkan.


Dengan satu tarikan napas, "Gue udah dijodohin sama Kakek" ucap Bani. Nadanya terdengar begitu lesuh, seolah ini adalah kenyataan terburuk dalam skenario terburuk.


Setelah mendengar ucapan Bani, Bi Inah kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Alvi kembali merengek manja pada suaminya. Seolah hal itu bukanlah hal yang penting, emosi Bani memuncak karena berpikir tak ada yang peduli pada nasibnya.


Arfi dan Oddy mencoba menenangkan Bani yang tenggelam dalam amarah. Namun, Bani memancarkan mata kemarahan pada Alvi.


"Dek, gue gak bercanda!!! Bibi aku serius"


"Iya Den, Bibi sudah tau. Calonnya Den Bani cantiiiik banget, kayak Non Alvi. Cuma dia lebih tinggi aja, Solehah"


"Eh, loh, Bibi udah tau? Loe juga tau dek?"

__ADS_1


"Tau kok, gue langsung setuju. Gue tau selera loe Kak, seksi, cantik, mmhh. Pokoknya ini ngeri banget deh, level tinggi"


"Dia pakai cadar bego!! Loe mah gak ngerti apapun tentang gue dek"


"Gue udah lihat wajahnya bego. Nih ya, ntar dia loe dandanin aja pakai pakaian seksi, tapi cuma didalam kamar. Kayak gue sama Arfi, ya kan sayang?"


Arfi mengangguk, setidaknya sang istri belajar sesuatu darinya. Bani sejenak merenung, walau bagaimanapun ia tak akan pernah bisa menolak apapun. Tapi tetap saja, hatinya tak tenang memikirkan masa depannya.


"Oh iya, aku punya hadiah buat kamu" celetuk Arfi.


Entah apa yang membuat Bani tertawa terbahak-bahak setelah mendengar penuturan adik iparnya. Seolah semua kesedihannya sirna begitu saja, ia bahkan tak mampu memandang wajah sang adik. Oddy juga ikut tertawa, namun ia lebih memilih memalingkan wajahnya dari pasangan baru itu.


"Kenapa mereka ketawa? Hadiah kamu, astaga, gak mau ah, pasti jelek bangeeettttt"


"Mereka bilang gitu sih, tapi kan aku suka Vi. Kalau kamu gak mau...."


"Mau kok mau, apapun dari kamu, aku pasti mau umm... gumus deh cayangnya aku, cium dulu cium" sela Alvi dengan sikap manjanya.


Ini adalah sikap yang Arfi rindukan. Ia menggelitik wajah istrinya dengan jenggot yang hampir panjang itu. Hal itu sukses membuat Alvi tertawa geli, ia tak suka melihat ada kumis maupun jenggot di wajah Arfi. Alvi lebih suka wajah mulus suaminya.


"Oh iya Kak Oddy, gimana kabar pacarnya? Ini udah tiga tahun kalian LDR kan?"


"Mm... Mau putus kayaknya"


"Lohh, kenapaaaa??"


"LDR itu gak mungkin dek. Dia punya cowok lain disana, gue mah yaudah putus aja. Lagian, gue udah setuju mau dijodohin sama Kakek"


"Dasar wanita ja lang, udah matre cabe-cabean pula, bagus deh kalau kalian putus. Tapi kenapa sih Kakek selalu jodoh-jodohin cucu-cucunya?"


"Soalnya, kita ini gak cukup baik dimata Kakek. Kita gak sebaik suami loe, jadi ya harus cari pasangan yang baik biar nular gitu" jawab Bani.


"Iya, gue dulu padahal respect banget sama Arfi. Pingin satu geng gitu sama dia biar ya ketularan baiknya dan soleh, eh ternyata dia anaknya dingin banget, jutek, cuek, nyebelin" timpal Oddy.


"Tapi kan sekarang gue adik ipar loe. Loe mau belajar sesuatu bilang aja" sahut Arfi dengan kepedeannya.

__ADS_1


Alvi spontan memukul kepala Arfi dan membela kedua Kakaknya. Pemuda arogan itu masih tak berubah, masih saja menyebalkan dan terlalu percaya diri. Namun, Alvi mengetahui satu hal, rupanya sang suami tak hanya idaman para wanita. Tetapi Arfi juga terlihat mengagumkan bahkan dimata para pria.


__ADS_2