Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 71


__ADS_3

Di rumah Ardi, semua orang sangat sibuk menyiapkan acara syukuran. Tak hanya di rumah Ardi, di rumah Hasyim, kafe milik Arfi bahkan sampai semua kantor perusahaan Tuan Salim tengah mengadakan syukuran. Tuan Salim memang selalu melakukannya kala mendapat seorang cucu dan cicit. Beliau ingin selalu membagikan kebahagiaan dengan semua orang.


"Dek, Arfi mana?"


"Tidur Kak, badannya panas"


Bani merebahkan dirinya di pangkuan Alvi, menggenggam tangan sang adik dengan sangat erat. Tak ada kata apapun, ia hanya diam menatap Alvi yang tengah tersenyum bahagia.


"Sayaanggg, kok aku ditinggal sendirian sih" rengek Arfi berjalan mendekat. Ia mengalihkan kepala Bani dari pangkuan sang istri, lalu berganti tidur diatasnya. Arfi terlihat begitu manja hari itu, ia seolah tak ingin lepas dari Alvi.


Alvi tersenyum dan mengelus kepala suaminya dengan lembut. Di tengah semua orang yang sedang sibuk, Arfi ingin bermanja-manja dengan istrinya. Ia membaringkan Alvi di sofa lalu tidur sambil berpelukan.


Maya yang khawatir pun menghampiri menantunya. Ia menanyakan perasaan dan keadaan Alvi. Maya menatap selimut yang terus bergerak, ia pun membuka selimutnya dan mendapati Arfi tengah tidur tetapi kepalanya masuk kedalam kaos Alvi.


"Arfi, astaghfirullah anak ini. Bangun!!" Ucap Maya mengeluarkan Arfi dari pakaian Alvi. Ia menjewer telinga putranya yang nakal itu.


"Hahaha, Bunda sudah tidak apa-apa. Mungkin Mas Arfi ingin dekat dengan anaknya" bela Alvi.


Alvi berpamitan pada Maya dan membawa Arfi masuk kedalam kamar mereka. Menidurkan Arfi kembali agar beristirahat lagi.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Malam tiba...


Ada banyak sekali yang datang ke rumah Ardi untuk mengucapkan selamat. Bahkan teman-teman Alvi juga hadir membawa hadiah. Arfi sudah lebih baik, kini ia juga sibuk menjamu tamu dan berbincang dengan kawan-kawan nya.


Alvi juga tengah berbincang dengan para teman-teman nya. Teman-teman dari kalangan atas yang seperti biasa tengah menyombongkan apa yang mereka miliki.


"Vi, cowok gue baru aja ngelamar gue. Dia kasih mahar satu M dong"


"Oh ya? Waw kaya banget calon suamimu" ucap Alvi menanggapi.


"Hahaha, dulu loe nikah maharnya berapa? Gak mungkin sebanyak itu kan?"


"Tau gak Vi, mahar itu ibaratnya harga diri kita. Kalau loe gak sampai segitu, harga diri loe murah dong hahahha" timpal teman Alvi yang lain.


Alvi mengernyitkan keningnya, ia lupa apa yang Arfi berikan untuk maharnya dulu. Tapi ia ikut tertawa dan hanya menganggapnya sebagai candaan. Namun, tak bisa Alvi pungkiri jika pikirannya teralihkan. Ia menatap Arfi yang tengah mengobrol bersama Kakak dan teman-temannya.


Apa harga diri gue serendah itu? Ntar gue tanya Arfi deh.

__ADS_1


Selepas acara selesai, Alvi menunggu suaminya di dalam kamar. Menatap pintu kamar berharap Arfi akan segera kembali. Waktu berlalu, Alvi terserang kantuk karena menunggu suaminya.


"Sayang, kenapa tidurnya gini?" Oceh Arfi seraya membaringkan tubuh Alvi ditempat tidur.


"Mas Arfi, dulu kita nikah maharnya apa?"


"Kenapa tiba-tiba tanya itu?"


"Temanku dia baru aja dilamar, maharnya satu M. Iya aku gak tau gak mungkin kamu punya uang sebanyak itu, yasudahlah" ucap Alvi kesal setelah melihat raut wajah suaminya.


Arfi terdiam memandangi istrinya yang kembali memejamkan mata. Padahal dulu Alvi tak pernah mempermasalahkan hal seperti ini. Tapi, mungkin memang Alvi harus tau, sikapnya sedikit berubah setelah koma. Ia hanya tersenyum lalu tidur di samping istrinya.


Pagi menjelang....


Arfi sudah bersiap untuk pergi ke Masjid. Ia mencoba membangunkan istrinya, tetapi gadis itu tak mau bangun dan malah memarahinya. Mungkin Alvi terlalu lelah, Arfi mencoba untuk mengerti.


Pukul 09:00...


"Hm..." Alvi terbangun dari tidurnya. Ia meraba-raba tempat tidur disampingnya namun tak menemukan siapapun disana. Ia mencari ponselnya dan mendial nomor seseorang.


"Kamu dimana?" Tanya Alvi.


"Cepat kesini, kamu dimana sih?"


"Kamu darimana? Kenapa aku ditinggal Mas?"


"Aku gak ninggalin kamu sayang, aku ada dibawah ngobrol sama yang lain"


Alvi membalikkan posisinya memunggungi sang suami. Arfi tertawa kecil lalu menarik tangan istrinya agar bangun dan mandi.


"Kenapa cemberut gitu sih sayangnya aku?"


"Maaf"


"Untuk apa sayang?"


"Aku tidak bermaksud menghina Mas Arfi, aku hanya bertanya saja. Mungkin pertanyaan aku melukai kamu"


Arfi berdehem, ia berlutut di depan istrinya yang duduk di kasur. Menggenggam erat tangan Alvi kemudian menciumnya.

__ADS_1


"Maaf, jika aku belum bisa menjadi suami yang kau inginkan. Aku akan berusaha membahagiakan mu dengan caraku Alvi"


"Gak perlu, aku seneng kok kamu disini. Aku juga gak mau tau lagi tentang mahar itu. Aku punya Mas Arfi, itu cukup" ucap Alvi lalu memeluk erat suaminya.


Arfi perlahan melepaskan pelukan itu, ia berjalan menuju lemarinya. Membawa sebuah brankas kecil yang selalu ia simpan disana. Pemuda itu menunjukkan pada sang istri sandi brankasnya, lalu memberikan semua tabungannya pada Alvi.


"Sekarang, semua uangku kamu yang pegang ya" ucapnya dengan senyuman.


Alvi melihat beberapa buku tabungan dan kartu disana. Arfi memang bukan anak orang kaya, tapi ia berusaha menaikkan perekonomian keluarganya.


"Tapi kalau nanti kamu butuh gimana Mas?"


"Tinggal minta kamu lah, jadi kan kamu tau pengeluaran aku"


"Tapi Mas, kamu sudah sisihkan untuk Ayah dan Bunda?"


"Sudah sayang, untuk mereka dan untuk sedekah. Itu sisanya untuk kebutuhan kita"


Alvi kembali memeluk suaminya, entah apa yang kedua orangtuanya lakukan dimasa lalu hingga anak perempuan mereka mendapatkan suami sebaik ini. Arfi begitu sempurna, sungguh tak ada duanya.


"Kamu mau berangkat kerja Mas?" Tanya Alvi kala melihat sang suami mengganti pakaian.


"Iya, kamu kan udah bangun jadi aku mau berangkat. Kenapa? Mau ikut?"


"Emangnya boleh ikut?"


"Bolehlah sayang, mandi sana terus sarapan yang banyak. Ingat, ada anak kita dalam perut kamu jadi jangan malas makan ya"


"Gak jadi ikut deh, ntar aku dikira posesif. Hati-hati Mas berangkatnya" ucap Alvi kemudian masuk kedalam kamar mandi. Ia menghabiskan waktu cukup lama berada disana. Sembari tersenyum malu-malu karena rupanya sang suami lebih baik dari pria manapun. Alvi sangat yakin akan hal itu, tak akan ada pria seperti suaminya apalagi yang lebih baik.


Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya Alvi keluar dari kamar mandi. Ia tertegun melihat Arfi yang masih berada di kamar mereka.


"Kok belum berangkat Mas?"


"Aku gak jadi ke kafe, mau dirumah aja sama kamu" jawabnya dengan tatapan mesumnya. Ia berjalan mendekati sang istri yang hanya berbalut handuk putih.


"Mas, apa? Mau apa? Jangan macam-macam deh, gak boleh sama Bunda"


"Astagfirullah hal adzim, kamu kelihatan cantik banget Vi. Ganti baju gih, aku lihatin"

__ADS_1


Alvi mencubit pipi suaminya.


"Dasar mesum"


__ADS_2