
Oddy, Arfi dan Alvi hanya diam memandangi Bani yang terus mondar-mandir. Hatinya tengah bimbang dilanda kegalauan yang begitu nyata adanya. Ia mencoba memantapkan hati menerima semua yang terjadi.
"Kak, udah terima aja"
"Dek, gimana gue bisa Nerima dia gitu aja? Kakek kasih tau gue semua tentang dia, gimana gue bisa langsung terima semuanya?"
"Kak, itu bukan salah dia. Dia hanya tidak beruntung karena mendapatkan pelecehan itu, lagipula dia pasti juga butuh waktu untuk pulih Kak"
"Terus maksud loe, gue harus Nerima dia yang udah gak suci gitu? Diluar sana itu banyak cewek yang,, aahh pokoknya hati gue masih belum sanggup dek"
"Kak, dihari pernikahan gue, gue bilang ke Arfi kalau gue bukan cewek suci. Tapi jangankan berdebat, dia bahkan hanya menganggap nya sebagai angin lalu" jelas Alvi lirih.
Bani memandangi adiknya, mata Alvi memancarkan kesedihan. Sejenak ia lupa jika adiknya juga seorang wanita. Walau Bani tau Alvi bisa menjaga diri, bukan tidak mungkin hal itu bisa terjadi pada Alvi juga. Namun sebagai seorang Kakak yang mempunyai adik perempuan, harusnya Banu tak berpikir picik. Itu bukan kesalahan perempuan tersebut, hanya keadaan yang menempatkan nya dalam situasi itu.
Tatapan mata Bani juga terlihat sedih, ia berlutut dihadapan adiknya. Sembari menggenggam tangan Alvi, ia berkata, "Baiklah, gue akan mencoba menerimanya. Demi adik perempuan gue yang paling cantik ini"
"Eh, kayaknya Kak Bani perlu di ruqyah deh Fi. Dia aneh banget gak sih" cibir Alvi yang menimbulkan tawa. Dari segi manapun, Alvi masihlah remaja belia yang butuh banyak bimbingan orang tua.
Bani mengelus rambut adiknya dengan penuh kasih sayang. Ia mencium kening Alvi lalu memeluknya erat.
"Fi, jagain adik gue. Dia itu kesayangan gue, jangan sakitin dia"
"Kakak kenapa sih? Gue jadi sedih tauu" keluh Alvi seraya mendongak menatap Bani.
"Gue sayang loe dek"
"Gue juga sayang Kakak, sayang bangeeetttt. Gue lebih sayang Kakak daripada Kakek dan Papa, soalnya kan Kak Bani yang selalu jagain gue. Mama bilang, Kakak gak akan pernah ninggalin gue sendiri, dan gue masih percaya itu sampai sekarang" tutur Alvi dengan air mata yang menetes.
Bani kembali mendekap adiknya erat, dia teringat kembali janjinya pada sang Mama. Ia akan selalu menjaga Alvi sampai kapanpun, mengajarinya banyak hal di dunia ini. Tapi Bani lupa, ia terlalu asik dengan dunianya dan malah seringkali bertengkar dengan sang adik. Levia benar, Alvi adalah alasan kenapa keluarga mereka tetap bersatu. Karena para lelaki itu terlalu sibuk dengan dunia mereka. Kala mereka mengingat Alvi, itu adalah alasan kenapa mereka harus kembali bersama, untuk menjaganya.
Tangan Bani menggenggam tangan Alvi, ia melihat gelang pemberian Levia.
__ADS_1
"Kenapa gelangnya di pakai? Nanti kalau hilang gimana?"
"Ya gue cari kalau hilang, lagian kata Mama, gue cantik kalau pakai ini"
"Dasar bodoh" cibir Bani. Ia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari sakunya. Sebuah gelang yang sama persis dengan yang diberikan Levia untuk Alvi. Bani melepas gelang pemberian Levia dan disampaikannya didalam kotak perhiasan itu. Lalu memakaikan gelang pemberiannya pada Alvi.
"Kok dilepas sih? Nanti gak cantik lagi"
"Masih cantik kok, ini kan gelangnya sama. Yang dari Mama, di simpen aja biar gak hilang ya"
Alvi menatap gelang pemberian Bani, terlihat sama. Ia pun setuju lalu pergi ke kamarnya untuk menyimpan gelang pemberian Levia. Bani merasa sedih kala mengetahui adiknya rela mengobrak-abrik selokan demi gelang pemberian Levia. Karena itulah ia memesan gelang yang sama persis walau harus menunggu lama untuk itu.
"Udah lah Ban, loe tuh mau nikah, berubah gih jadi dewasa" celetuk Arfi.
"Sialan loe, inget ya, biar gimanapun loe tetep adik ipar gue"
"He'em.. Udah buruan mandi, sebentar lagi Magrib. Kita kan harus pergi buat pertunangan loe, haahha"
Bani, Oddy dan Arfi pergi ke kamar masing-masing. Mereka harus mempersiapkan diri dan berdandan dengan rapi.
Arfi yang baru saja masuk kedalam kamarnya, berpapasan dengan sang istri yang hendak keluar. Ia menarik tangan Alvi dan menyudutkannya ke pintu kamar. Memandangi sang istri dari dekat dengan jantung yang berdebar kencang. Arfi masih tak bisa mengendalikan perasaannya kala berdua dengan Alvi dalam suasana yang romantis.
"Bisa gak, jangan mandang rendah aku kayak gitu!!" Sentak Alvi kesal. Ah, gadis nakal ini selalu saja merusak suasana romantis ini.
"Aku gak pandang kamu rendah, kamu aja yang pendek. Dasar cewek aneh" cibir Arfi kemudian berpaling pergi. Ia sedikit kesal karena istrinya merusak suasana.
Alvi berjalan ke arah yang sama dengan Arfi, mereka kembali berdebat karena Arfi pikir Alvi mengikutinya. Pertengkaran kecil biasa untuk pasangan yang sebenarnya saling merindukan. Setelah berdebat singkat, keduanya kembali diam saling memandang.
Lagi dan lagi, Arfi akan selalu mengalah. Ia menghampiri istrinya dan meminta maaf karena kemarin tak ada telepon darinya. Bukan tanpa sebab, Arfi harus menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu karena ia harus pulang hari ini. Ia tak ingin teman-temannya kerepotan karena kekurangan personil. Arfi adalah pemuda yang bertanggungjawab.
"Maaf ya, aku salah"
__ADS_1
"Iiih, kan bisa bilang, telepon sebentar atau chat aku kan bisa Mas"
"Mau buat kejutan sayang. Maaf, aku salah"
"Kamu gak salah kok, aku seneng kamu pulang, kangeeen banget" ucap Arfi seraya memeluk suaminya.
"Berapa kali gue harus bilang, dikunci pintunya" celetuk Bani yang sudah berdiri di pintu kamar dengan tangan melipat didepan dada. Ia hanya menggeleng lalu pergi keluar kamar. Bani hanya ingin mengecek sebab dirinya mendengar suara pertengkaran mereka dari luar kamar saat tak sengaja melintas.
Alvi kembali memeluk Arfi dan meraba perut suaminya yang semakin mengecil.
"Kamu kurusan deh Fi"
"Aku gemes banget sama kamu, kadang panggil Arfi, Mas, sayang. Labil banget sih cewek nakal ku ini"
"Biarin wleee, suka-suka aku dong. Emang disana gak ada makanan?"
"Gak ada yang bisa masak, jadi ya terima aja hahahaha. Kangen masakan kamu"
"Tuh kan, masakan aku enak kan? Kamu dulu gak percaya sih, dasar"
"Iya enak, kamunya juga enak"
"Aaahhh cowok mesuuummmm"
Teriakan Alvi membuat Bani kembali masuk ke kamar mereka. Kini Bani tak sendiri, Oddy juga ikut serta menghampiri TKP. Alvi terlihat cengengesan seraya bergelayut manja di lengan suaminya. Sedangkan Arfi menjelaskan lewat isyarat agar kedua Kakak iparnya tak khawatir. Pasti karena tinggal jauh dari Alvi membuat mereka semakin khawatir jika ada hal kecil mengusik adik mereka.
Arfi mengunci kamar dan menggendong istrinya untuk segera mandi bersama. Ia sudah rindu sekali berduaan bersama sang istri tercinta.
Selepas mereka mandi, adzan Maghrib berkumandang. Mereka semua berkumpul di musholla rumah termasuk Bi Inah yang masih belum pulang. Bi Inah mendapatkan tugas khusus dari Ardi untuk menyiapkan jamuan makanan yang mewah. Sebab calon istri Bani yang akan datang kerumah, serta melaksanakan tunangan mereka di rumah Ardi.
Kini Ardi tengah dalam perjalanan dari luar kota. Ia mencari penerbangan tercepat untuk menghadiri pertunangan sang putra sulungnya.
__ADS_1