Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 17


__ADS_3

Selepas menunaikan sholat Maghrib, secepat kilat Alvi melesat masuk ke kamarnya. Bahkan Bani yang baru selesai mengucapkan salam melongo tak percaya sebab adiknya sudah pergi menghilang. Bani tak langsung pergi, ia mengikuti Arfi yang tengah berzikir.


Beberapa menit berlalu sudah, Arfi mengakhirinya dengan bacaan Ayat Al-Qur'an. Ia menoleh kebelakang dan menyalami Bani, sama terkejutnya dengan sang Kakak ipar sebab tak melihat Alvi disana. Bani menggerakkan kepalanya, meminta Arfi untuk kembali ke kamar.


Ceklek ....


Pintu kamar terbuka, Alvi tengah duduk diatas kasur membelakangi pintu masuk.


"Sayang, kok langsung pergi? Belum salim ke aku kan, kamu gak doa dulu ya tadi?"


"Tidak ada hal yang aku inginkan, jadi tak perlu berdoa"


"Sayang, berdoa bukan selalu tentang meminta. Tapi bersyukur atas semua yang diberikan pada kita"


Terdengar helaan napas berat dari Alvi. Arfi mencoba menahan diri untuk tidak berdebat. Ia berjalan menghampiri istrinya dan merangkulnya dari belakang.


"Kamu marah?"


"Enggak kok, aku tau, Kak Bani yang suruh kan? Aku dengar semuanya Mas" jelas Alvi seraya menyuapi makanan ke suaminya.


Rupanya sedari tadi Alvi sudah mengetahui kebenarannya, dan ia hanya tengah menikmati makan croffle bukannya marah. Arfi membuka mulutnya lebar, ingin mencoba makanan yang membuat istrinya melupakan kejadian dengan begitu mudah.


"Belepotan ih" ujar Alvi seraya menyeka makanan yang tertinggal di bibir suaminya. Ia lalu menjilat tangannya dan tersenyum senang.


"Vi"


"Apa Fi?"


Arfi mengigit pundak Alvi gemas, beraninya dia memanggil suaminya seperti itu. Mereka saling bercanda, menggelitik dan menggigit satu sama lain. Hingga waktu membuat mereka terdiam dengan mata yang saling memandang. Arfi mendorong Alvi perlahan hingga gadis itu terjatuh diatas tempat tidur. Dengan jantung yang lagi-lagi berdebar kencang, Arfi mencoba memberanikan dirinya mendekat.


Suasana hening nan romantis, membuat keduanya terlena akan keadaan. Arfi mulai menyentuh bibir istrinya dengan bibirnya. Manis, sepertinya remahan croffle yang Alvi makan masih tertinggal disana. Perlahan Arfi memulai ciuman itu, hal yang ia pelajari bersama Bani dan Oddy di rumah Tuan Salim.


Alvi yang memang sudah terbawa suasana sejak awal, membalasnya dengan lebih lihai. Ia bukanlah orang seperti Arfi yang menjaga jarak dengan lawan jenis. Terlebih Vita dan Tasya suka mengajaknya menonton drakor bersama. Alvi tau benar cara berciuman. Ia melingkarkan tangannya di leher Arfi dan menariknya lebih mendekat.


"Ehem... bisa di kunci gak pintunya?" Celetuk seseorang mengehentikan pengantin baru itu.


Bani terlihat biasa saja melihat adegan mesra itu. Ia hanya menggeleng dan menghela napas perlahan kemudian pergi meninggalkan kamar adiknya.

__ADS_1


Arfi menjatuhkan dirinya di pelukan sang istri, ia merasa malu karena Bani melihat semuanya. Alvi hanya tertawa kecil, lucu sekali suaminya ini. Biarkan saja Bani melihat, toh mereka sudah halal ini.


"Mas, aku sering lihat Kak Bani sama ceweknya. Malahan di kolam renang, Bi Inah aja Sampek greget mukul-mukul aku"


"Tapi kan, aaahh malu aku sayang. Lain kali ingetin aku kunci pintu ya"


"Dih, siapa juga yang mau lagi. Gak asik, aku mau turun aja, ikut pesta" kata Alvi kemudian pergi menyusul Bani ke lantai bawah.


Arfi terdiam sejenak, ia memegangi dadanya. Senyuman terukir disana, dengan hati yang berbunga-bunga, ia mengganti pakaian kokohnya dengan kaos kemudian ikut bergabung dengan Bani dan yang lain.


Sampai di bawah, ia melihat Alvi yang tengah asik mengobrol bersama teman-teman Bani diruang tamu. Mereka terlihat begitu dekat dan menyayangi Alvi sebagai seorang Kakak. Arfi ikut bergabung dan duduk di salah satu sofa. Para teman Bani tentu sudah tau siapa pemuda tampan itu.


Teman-teman Bani kembali mengucapkan selamat dan menggoda Arfi tentunya. Pemuda yang dikenal dengan sikap dinginnya kini sudah menjadi milik wanita lain dalam sekejap.


"Kak, kita boleh ikut barbeque an kan? Lapar nih, kasihan Mas Arfi laper" pinta Alvi merengek pada Bani.


"Bukannya kalian punya sesuatu yang harus dilakukan?" Goda Bani seraya menatap Arfi dan mengedipkan sebelah matanya.


"Sini sayang" ucap Arfi memanggil Alvi untuk mendekat. Ia menarik istrinya untuk duduk dipangkuannya sambil berbisik, "Kita pesta sendiri aja dikamar. Tadi kan udah beli banyak makanan"


"Kamu besok ada kelas pagi kan? Jangan tidur malam-malam Nona Alvi"


Alvi bangun dari pangkuan Arfi dan duduk kembali di samping Bani sambil merengek. Ia ingin ikut bergabung dengan Bani dan teman-temannya. Tiba-tiba saja Bani membisikkan sesuatu yang membuat Alvi tersenyum nakal menatap suaminya. Ide cemerlang dari sang Kakak yang membuat adik perempuannya berandai-andai.


Suara adzan Isya' mulai berkumandang. Hanya dengan satu tatapan dari Arfi, para pemuda disana segera berdiri dan mengambil wudhu. Alvi rasanya hendak berlari sejauh mungkin, tapi Arfi lebih dulu mencengkram kerah belakang pakaian nya dengan senyuman.


"Ayo sayang" ajak Arfi dengan wajah yang dibuat seolah penuh perhatian.


Alvi hanya bisa tertawa kikuk dan mengikuti suaminya pergi kedalam kamar untuk mengambil wudhu. Sembari bersenandung kecil, Alvi menunggu Arfi yang begitu lama di kamar mandi.


"Cantiknya istriku" puji Arfi gemas.


"Suamiku juga ganteng, idaman"


Langkah kedua pengantin baru itu terhenti kala mendapati para jemaah yang sudah menunggu.


"Assalamualaikum Arfi" ucap Bani dan sekawan nya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam" jawab Arfi dan Alvi bersamaan. Alvi tertawa kecil menatap Arfi yang terkejut karena semua teman Bani memilih sholat dirumah dan bukannya di Masjid.


Karena Musholla tak cukup untuk menampung semuanya, Arfi menyarankan untuk pindah ke ruang tamu yang lebih luas. Ia meminta semua pria untuk menggelar sajadah maupun sarung disana. Barulah ia memimpin sholat Isya' malam itu.


Selepas sholat, mereka semua masih duduk mengikuti Arfi yang berdzikir. Begitu juga dengan Alvi yang masih tinggal untuk berdoa bersama. Selesai berdoa, Arfi menghampiri dirinya dan menjulurkan tangan ke arah Alvi tentunya. Ia mencium kening istrinya dan mencubit pipinya gemas.


Bani dan yang lain sudah berberes dan bersiap untuk menonton film sebelum mereka mengadakan barbeque. Alvi dan Arfi tentu saja ikut serta disana.


"Kita nonton film apa Kak?"


"Horror"


Mendengar kata horror, Alvi bergegas pergi dan duduk di dekat suaminya.


"Mas, kita nonton sendiri aja dikamar yuk"


"Kenapa? Katanya mau ikut pesta?"


"Gak mau nonton horror Mas, ayo ayo, ayo Mas"


Bani terlihat tertawa puas mengerjai adiknya, Arfi yang menyadari hal itu menginjak kaki Bani sebelum mengajak sang istri pergi ke kamar.


"Lihat romance ya Mas?"


"Iya sayang"


Setelah mendapat persetujuan, Alvi mencari film romantis yang ingin ditontonnya. Tapi sayangnya ia lebih tertarik menonton film tentang hiu. Ia pikir Arfi tak akan keberatan menonton film menegangkan ini. Ia pun memutar filmnya dan beralih mendekati Arfi yang sudah duduk diatas kasur.


Arfi meredupkan lampu, ia masih berpikir jika film yang mereka tonton adalah film romance.


"Loh kok, tadi katanya romance?"


"Heheh, habisnya ini kayaknya lebih menarik deh Mas"


Pemuda itu tersenyum dan mengangguk. Ia mengangkat tubuh Alvi dan memindahkan sang istri untuk duduk di depannya. Sedangkan dirinya memeluk Alvi seraya memainkan tangan istrinya.


Mereka berdua tampak asik dan tenang menonton film. Walau sesekali Alvi terkejut karena adegan yang menyeramkan.

__ADS_1


__ADS_2