
Alvi yang tertidur pulas tiba-tiba saja terbangun. Ia merasakan ada sesuatu yang menyentuh dadanya. Dan dugaannya sangat benar, tangan Arfi ada disana. Gadis itu sejenak menoleh ke arah suaminya, mata Arfi masih terpejam rapat. Tapi tangannya bergerak meremas, dan terdengar suara desa han.
"Wah, bagaimanapun Mas Arfi juga laki-laki. Apa dia sedang mimpi ba sah?" Gumam Alvi penasaran. Ia bangkit dari tidurnya dan membuka selimut, milik suaminya terlihat menggembung. Wajah Arfi bahkan terlihat berusaha keras mengekpresikan.
Tanpa Alvi sadari, tawanya lepas begitu saja. Ia pernah sekali melihat ini ketika Bani tengah tidur seusai menonton film tak senonoh. Alvi yang saat itu penasaran, masuk ke kamar Bani dan melihat hal yang sama. Setelah kejadian itu, Bani mengunci kamarnya saat menyalurkan hasratnya agar adiknya tak melihat hal itu.
Alvi kembali tidur dan memeluk Arfi. Mengejutkan sekali Arfi membalas memeluknya, Alvi tak bisa menahan tawanya merasakan sesuatu yang menyentuh di area bawah. Tapi bagaimanapun, Arfi adalah suaminya, ini hal yang wajar.
Pagi menjelang...
Jam menunjukkan pukul 07:30..
Hari ini Alvi tak ada kelas pagi, ia bangun mencuci mukanya dan menggosok gigi kemudian turun ke lantai bawah. Terlihat Arfi yang tengah duduk berkutik dengan leptopnya. Alvi berjalan menghampirinya dan tidur dipangkuan sang suami.
"Mas Arfi gak ada kelas?"
"Gak ada, dosennya lagi sakit. Aku anter kamu ke kampus ya?"
"Gak perlu, aku bisa sendiri. Btw, semalem Mas Arfi mimpi apa?"
"Eeh.. mm.. kenapa? Aku mimpiin kamu" jawab Arfi gugup. Ia berusaha menenangkan pikirannya, apa yang ia mimpikan semalam sungguh membuatnya tersipu malu.
"Mimpi aku? Maksudnya lagi hubungan sama aku ya? Aku lihat loh punyanya Mas berdiri, terus juga dengar suaranya, terus tangan Mas Alvi juga nakal banget sentuh dadaku"
"Ha Apa?"
Arfi bangun dari duduknya, ia menutup leptopnya dan pergi ke kamar. Alvi mengikutinya sambil terkekeh. Ia memeluk Arfi dari belakang, membuat pemuda itu terkejut bukan main.
"Ka...kamu ngapain sih?"
"Ih Mas Arfi nih, aku kan istrimu"
"Tap... tapi Vi, anu aku.."
__ADS_1
Alvi melepaskan pelukannya dan duduk diatas kasur. Ia memandangi Arfi sejenak, lalu mengangguk dan pergi ke kamar mandi. Ia membersihkan dirinya dan bersiap untuk pergi ke kampus. Arfi hanya meliriknya tanpa mengatakan apapun saat Alvi berlalu lalang di depannya.
Setelah Alvi siap, ia lebih dulu turun ke bawah, menunggu Arfi yang sedang buang air kecil. Karena suaminya berjanji akan mengantarkan Alvi ke kampus.
"Maaf Vi, hati gue belum siap. Bego banget gue jadi cowok" gumam Arfi seraya menatap dirinya di cermin kamar mandi. Ia merapikan rambutnya lalu pergi turun menghampiri sang istri.
Arfi mengantarkan Alvi pergi ke kampus dengan motornya. Ia memeluk erat Arfi seraya sesekali tersenyum menatap spion. Beberapakali kali Alvi mencoba membuka pembicaraan, tapi jawaban singkat Arfi membuatnya merasa kesal. Hingga tangan Alvi menjalar menyentuh dada Arfi, ia bisa merayakan debar jantung suaminya yang kencang.
Alvi bisa mengerti, sepertinya Arfi masih gugup. Alvi juga pernah merasakannya kala dekat dengan orang yang sangat ia cintai. Kenyataan ini membuat Alvi tersipu malu, harusnya dari dulu ia sadar ada pemuda setampan Arfi yang mencintainya.
Saat sampai di kampus, Alvi mencium tangan Arfi dan pergi masuk kedalam. Ia tak ingin berbincang lagi, takut jantung suaminya akan benar-benar mencuat keluar.
Dengan langkah ceria Alvi menuju kelasnya, setiap mahasiswa maupun mahasiswi yang ia temui, ia sapa dengan semangat. Bahkan dosen-dosen yang lewat pun Alvi sapa dengan senyuman lebar. Tak ada yang tak tahu siapa Alvi, rumor mengenai dirinya adalah cucu Tuan Salim sudah tersebar bahkan sebelum ia masuk ke kampus itu.
Alvi mengikuti pelajaran dengan seksama dan mencatat semua materi dengan rapi. Bahkan Vita dan Tasya sampai keheranan dibuatnya.
Usai kelas, Alvi dan teman-temannya menuju kantin. Ia sangat lapar sebab belum sempat sarapan, dan sebentar lagi kelas selanjutnya akan dimulai. Sembari berbincang seperti biasanya layaknya anak muda zaman now.
Mata Alvi tiba-tiba saja menatap ke satu arah, menatap Ambar yang tengah berjalan menghampiri mejanya. Alvi tersenyum miring, ia sudah siap melawan perkataan Ambar, apapun itu.
"Menurut loe?" Sahut Alvi meremehkan.
"Loe gak pantas buat Kak Arfi, gak akan pernah pantas sampai kapanpun"
"Excusme, loe orang ke sekian yang ngomong gitu. Tapi nyatanya, Mas Arfi cintanya sama gue. Dan ya, sekeras apapun usaha loe, dia milik gue"
Ambar tampak kesal dengan jawaban Alvi, Ia menarik Alvi dan hendak menamparnya. Tapi Alvi mendorongnya menjauh lebih dulu.
"Bangs*t, bajing, anjing, babi loe. Harusnya gue yang marah, loe selingkuh sama pacar gue, cuih, persetan Pela cur kayak loe" umpatan demi umpatan Alvi lontarkan dengan amarahnya. Ia sudah tak bisa menahannya lagi, ia sangat marah dengan semua yang Ambar katakan. Cukup, batas kesabaran nya habis, walau mereka teman, Ambar sangat keterlaluan.
Ambar berdiri dan langsung menampar Alvi, mendorongnya hingga terjatuh dan menginjak tangannya. Vita dan Tasya mendorong Ambar menjauh. Mereka segera membantu Alvi dan membawanya menjauh dari kantin meninggalkan Ambar yang kini menjadi pusat perhatian. Bodoh, Alvi tidak akan membiarkan harga dirinya diinjak-injak, tapi biar penonton yang menghakimi Ambar.
Sudut bibir Alvi tertarik naik kala ia diobati di UKK. Berbeda dengan Vita dan Tasya yang khawatir bukan main melihat luka ditangan Alvi. Mereka takut jika luka di tangan kiri Alvi akan menyakiti sahabat mereka itu. Tapi Alvi malah tertawa tanpa alasan, seolah tak ada rasa sakit sama sekali.
__ADS_1
"Gue gak apa-apa, yuk ke kelas, gue gak mau dihukum karena terlambat" ucap Alvi mengajak kedua temannya.
Vita dan Tasya sudah biasa melihat ini, tapi tetap saja mereka khawatir pada Alvi. Selama mengikuti kelas pun, kedua sahabat Alvi terus saja curi-curi pandang pada gadis itu. Sedang Alvi masih tak peduli dan fokus mencatat materinya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Setelah kelas usai, Alvi tak langsung pulang kerumah. Ia malah singgah di rumah Vita dan tidur disana. Tanpa tahu ada keributan besar yang ia ciptakan. Keributan yang sudah tersebar di sosial media.
Alvi yang memang mematikan ponselnya, ia sedang tak ingin diganggu siapapun. Begitu juga dengan Vita yang sibuk membantu ibunya memasak di dapur.
Ttok... Ttok... Ttok...
"Assalamualaikum, Vittaaa"
"Waalaikumsalam, Tasya? Kak Arfi, Kak Bani ada apa? Kok panik gitu?"
"Vit, loe tau Alvi kemana gak? Kita telepon gak aktif hpnya" jelas Tasya.
"Alvi? Tuh lagi tidur dikamar, ada apa sih? Oh gue lupa, gue mau beli obat pereda nyeri dulu, kayaknya tangan Alvi sakit banget deh. Dia dari tadi ngigau" ujar Vita kemudian pergi setelah mempersilahkan tamunya masuk.
Ibu Vita menyambut kedatangan tamunya dengan ramah. Beliau juga mengucapkan selamat serta mendoakan pernikahan Arfi dan Alvi langgeng sampai tua nanti.
Arfi dan Bani menjelaskan maksud kedatangan mereka. Kedua pemuda itu ingin membawa Alvi pulang. Terlihat jelas ada masalah yang telah terjadi di keluarga Alvi. Ibu Vita mencoba mengerti, beliau mempersilahkan Arfi untuk membawa Alvi yang masih tertidur pulas. Namun mereka pergi setelah Vita kembali, mereka juga mengatakan untuk tidak khawatir.
"Kak Arfi" panggil Vita. Ia tampak ragu ingin mengatakan sesuatu.
"Katakan" ujar Arfi lugas.
"Ambar bilang Alvi tidak pantas untukmu. Karena itu, Alvi marah, ini bukan salahnya, Ambar selalu memulai pertengkaran. Jangan marah padanya"
"Iya Kak, gue juga denger sendiri. Terus itu anu apa, ya gitu, Alvi sayang banget sama Kak Arfi. Jangan marah ke dia ya, kita gak mau lihat dia sedih" imbuh Tasya.
"Gue juga sayang dia. Makasih udah khawatir sama gadis nakal ini kita pergi dulu. Assalamualaikum" pamit Arfi. Ia kemudian pergi menghampiri Bani yang sudah menunggu di mobil.
__ADS_1
"Waalaikumsalam"