
Selepas mengadakan doa untuk keberangkatan Arfi dan teman-temannya. Arfi dan Alvi pergi meninggalkan desa selepas sholat ashar. Mereka memiliki kegiatan lain tentunya.
"Bunda pamit dulu ya"
"Iya sayang, selamat berbulan madu, jangan capek-capek ya cantik" bisik Maya menggoda menantunya.
Alvi tertawa kecil kemudian berpamitan pada Hasyim serta Arka. Pengantin baru itu kini menuju hotel yang sudah di pesan oleh Ardi. Alvi memang kesayangan keluarganya, ia tak pernah tak mendapatkan apa yang diinginkan.
Salah satu hotel termewah di kota Surabaya, menyuguhkan pemandangan kota yang begitu indah. Alvi bahkan terkagum melihatnya untuk pertama kali. Ia tak menyangka kamar hotel bisa seluas itu. Terlebih ada pemandian hangat di dalamnya dengan menyuguhkan pemandangan kota secara langsung. Keindahan itu membuatnya lupa akan segala hal yang terjadi.
Gadis itu begitu riang kesana kemari mengambil fotonya. Ia bahkan meminta Arfi untuk menjadi fotografer sesaat.
"Sayang, ada apa? Kenapa murung?" Tanya Alvi kala mendapati suaminya yang termenung di sofa.
"Kenapa kamu sangat boros? Berapa banyak yang kau habiskan untuk ini?"
"Jika kita yang mengeluarkan uang sebanyak ini, itu namanya boros. Tapi jika Kakek dan Papa yang mengeluarkannya, itu tidak boros"
"Alvi..."
"Sayang aja panggilnya, mmm..."
Arfi tak lagi bisa bersedih kala melihat sikap manja istrinya. Ia menarik Alvi dalam pelukan dan mengecup pipinya beberapa kali. Gadis itu meronta dan meminta Arfi untuk pergi menjauh sebab dirinya akan mengambil beberapa foto lagi.
Dengan mudah Arfi menuruti nya, ia memilih berendam di air hangat karena sebentar lagi malam tiba. Alvi sudah menyiapkan semuanya, bahkan koper mereka untuk menginap satu malam sudah ada di kamar itu. Makanan mulai berdatangan, padahal mereka baru saja selesai makan. Hanya camilan untuk menikmati hari yang indah.
Setelah puas mengambil begitu banyak foto, Alvi mengganti pakaiannya. Ia menggunakan bi kini dan ikut berendam bersama suaminya.
"Sayang, kamu nonton apa?" Tanya Alvi kala melihat suaminya begitu terpaku pada televisi. Ia memasuki pemandian air hangat itu dan duduk di pangkuan suaminya.
"Astaga, pakaian mu selalu menggoda. Bagaimana nantinya jika aku tak di sampingmu.."
"Aku hanya akan menggunakannya saat bersamamu, janji. Lagian emangnya kamu gak suka lihat aku gini?" Goda Alvi seraya menatap wajah suaminya. Tangan nakalnya sudah mulai mengelus leher Arfi dengan keinginan yang besar.
"Kau memang gadisku yang nakal" jawab Arfi seraya mendekap istrinya.
__ADS_1
Mereka begitu tenang menonton televisi sambil makan camilan. Air hangat menenangkan tubuh mereka yang terasa lelah. Alvi kembali bermain dengan ponselnya dan mengambil beberapa foto. Hal itu membuat Arfi marah dan menyita ponselnya.
"Iiih kenapa?"
"Kamu lagi gak pakai baju, jangan berulah deh"
"Ya lord, aku pakai baju sayang. Kamu gak lihat nih?"
"Ini baju dalam, sudah jangan berdebat. Nikmati saja dan berhenti mengambil foto!!!"
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pukul 19:30..
Alvi sedang melakukan live streaming di sosial media nya. Ia menunjukkan betapa indahnya pemandangan di hotel yang ia tempati. Ada banyak yang berkomentar ini dan itu, menanyakan apa yang Alvi lakukan disana.
Gadis itu mengalihkan kamera ponselnya menatap Arfi yang tengah duduk diatas kasur sambil memandangi ponselnya. Alvi berkata jika dirinya tengah berbulan madu dengan sang suami. Menikmati malam sebelum Arfi pergi bertugas esok hari.
Alvi menjatuhkan dirinya diatas kasur, hanya sesaat sebelum Arfi menyambar ponselnya.
"Ada apa? Bikin kaget aja" oceh Alvi kesal.
Setelah itu, Alvi kembali mengambil ponselnya. Banyak sekali komentar yang menggodanya disana, tak sedikit juga yang khawatir karena tiba-tiba siaran menjadi gelap.
"Jadi, Tuan Arfi masangin gue selendang ini. So sweet banget kan suami gue, udah ganteng mirip Oppa-Oppa, perhatiannya juga bikin hati meleleh" jelas Alvi dengan senyuman lebar.
Alvi kembali menunjukkan betapa indahnya pemandangan dari kamar hotelnya. Ia bahkan lupa jika sedari tadi dirinya merengek karena lapar. Matanya kembali teralih pada Arfi yang masih memandangi ponselnya. Rasa curiga itu kembali muncul.
"Coba lihat hp kamu, lagi ngapain sih dari tadi sibuk lihatin hp mulu"
Arfi menatap istrinya dan memberikan ponselnya tanpa bertanya apapun. Alvi yang masih melakukan live streaming menunjukkan ponsel suaminya. Ia tak bisa menahan senyuman kala melihat ternyata Arfi tengah menonton live nya.
Alvi hendak mengakhiri live streaming nya, namun komentar panjang disana membuat dirinya terpaku. Arfi langsung menyambar ponsel istrinya dan menghentikan live streaming itu.
"Apa?" Tanya Arfi kala matanya tak sengaja bertatapan dengan sang istri.
__ADS_1
Istrinya yang manja langsung saja memeluknya erat. Menenggelamkan kesedihan itu sambil bermanja-manja dalam dekapan sang suami. Arfi tau benar, istrinya akan lebih manja kala sedih seperti ini.
"Arfi, kamu beneran mau nikah sama aku bukan karena ada hal lain kan?"
"Aku harus jujur sama kamu, sebenarnya orang tuaku banyak hutang pada Kakek"
"Apa? Jadi yang orang itu bilang beneran? Karena hutang ya? A..anu be.. begini, aku.. tu..."
"Hahahaha, bercanda sayang. Kalau aku nikah sama kamu karen hutang, mana mungkin aku senafsu ini lihat kamu, hm..."
Mata Alvi masih bergetar kebingungan, entah mana yang harus ia percayai. Arfi menyesal sudah menggoda istrinya, kini ia melihat mata istrinya berkaca-kaca. Inisiatif Arfi berjalan, ia mematikan lampu kamar dan menarik Alvi dalam pelukannya. Istrinya begitu menggemaskan, perlahan ia membuka gaun tidur sang istri.
"Apa aku tidak pantas untuk dicintai? Kenapa aku selalu disakiti oleh cinta?" Lirih Alvi seraya menghentikan tangan suaminya.
"Aku hanya bercanda sayang, aku sangat mencintaimu. Sudah kubilang kan? Aku menunggumu selama dua tahun dan harus melakukan beberapa hal agar mendapat restu dari Kakek"
"Tapi, orang-orang bilang...."
"Sejak kapan kamu memikirkan pendapat mereka yang ngaco itu. Kamu harus percaya pada suamimu yang tampan ini, kau bisa tanya pada semua temanku di SMA, di kampungku bahkan guru-guru SMA kita. Mereka semua tau betapa aku menyukaimu Alvi"
"Mereka semua tau?"
"Iya, mereka semua tau. Bahkan mereka selalu menggodaku sebab aku tak pernah berani menyatakan perasaanku padamu kala itu. Bukan aku tidak berani, aku ingin menjadikanmu lebih berarti dalam hidupku"
"Aaaah so sweeeettttt bangeettt sih suamiku. Mas Arfi mah selalu tahu caranya buat aku jadi bahagia, I love you"
"Love you too, sayang"
Arfi kembali menarik istrinya dalam dekapan, ia melanjutkan malam indah itu dengan membuka gaun tidur istrinya perlahan. Ia menjatuhkan tubuh mungil Alvi diatas tempat tidur. Menatap mata indah itu yang kini tengah malu-malu.
"Kalau nanti aku lagi pingin kamu sentuh gimana Mas?"
"Telepon aku, aku langsung pulang. Hahahaha"
"Dasar cowok mesum"
__ADS_1
"Kamu gadis nakalku, bibirmu terasa manis kala tersenyum dengan malu-malu"
Merekapun melewati malam itu dengan penuh cinta.