Rel(A)Tionship

Rel(A)Tionship
A - 33


__ADS_3

Sore hari...


Alvi baru pulang dari kampusnya, ia merasa amat lelah karena ada banyak tugas yang di dapatnya.


"Assalamualaikum Alvi" ucap Arfi kala melihat istrinya yang memasuki rumah.


Gadis itu tak menjawab, bahkan berhenti pun tidak. Ia melengos pergi seolah tak mendengar apapun disana. Bani yang sedang menemani Arfi mengerjakan tugas berusaha menenangkan adik iparnya itu. Alvi memang selalu seperti itu saat dirinya sedang lelah.


Alvi bergegas membersihkan dirinya, lalu turun untuk makan sebelum pergi lagi keluar rumah.


"Aku mau pergi" ucap Alvi sembari melangkah keluar rumah.


"Mau kemana Vi? Kenapa pakai baju itu? Ganti dulu bajunya"


"Berisik loe"


Braakkk....


Pintu rumah dibanting dengan amat keras. Arfi berjalan mengintip di jendela, ia melihat Alvi pergi dengan mobilnya.


Esok hari tiba...


Arfi terbangun hendak melaksanakan sholat subuh. Namun ia tak mendapati Alvi disampingnya. Ia ingat jika dirinya tidur lebih dulu sebab Alvi bilang akan pulang sedikit larut. Langkah kaki cepat Arfi turun kebawah, ia mendapati istrinya tertidur di sofa ruang keluarga. Sepertinya Alvi habis minum-minum dan tak sadarkan diri. Arfi bisa mencium aroma alkohol dengan jelas.


Arfi memindahkan tubuh kecil istrinya ke kamar. Menyelimutinya dengan penuh kasih sayang lalu mengecup keningnya.


"Aku sayang kamu Vi, akan selalu seperti itu" bisik Arfi. Ia kemudian pergi untuk bersiap sholat subuh.


Pagi menjelang...


Arfi dan Bani tengah duduk berbincang di meja makan. Tak lama, Alvi terlihat menuruni tangga dengan tergesa. Ia kemudian pergi tanpa berpamitan pada siapapun. Kemarahan Alvi masih tak bisa di kendalikan, bahkan beberapa kali Arfi mencoba menegurnya namun tak di hiraukan.


Beberapa hari berlalu seperti ini, bahkan Bani dan Oddy sudah bosan melihat mereka yang tak akur. Hingga dua hari sebelum Arfi pergi ke desa untuk melaksanakan KKN.


Malam itu, Alvi hendak pergi ke club dengan teman-temannya. Di rumahnya tengah ramai teman-teman Arfi menyiapkan barang-barang yang akan akan mereka bawa ke lokasi KKN esok hari.


"Aku mau pergi "


"Pergilah, kau pergi setiap hari" jawab Arfi cuek. Ia bahkan tak memandang istrinya sekalipun.


Alvi terdiam sejenak, biasanya Arfi akan bertanya kemana Alvi pergi. Lalu mengomel tentang pakaian dan memintanya untuk mengganti. Tapi hari ini, bahkan mata Arfi tak sekalipun memperhatikan Alvi. Hal itu sukses membuat Alvi terusik dengan hal tak biasa ini.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Kenapa masih disini? Pergilah!!! Jangan menggangguku aku sibuk"


Gadis itu mendengus kesal, ia pun segera pergi dengan mobilnya meninggalkan rumah. Tapi Alvi tak benar-benar pergi, ia membunyikan mobilnya di garasi rumah Oddy. Sebab hatinya tak tenang setelah melihat Freya disana. Memang dasar perempuan aneh, ia boleh dekat dengan siapapun tapi tak rela kala suaminya berada di tempat yang sama dengan perempuan lain.


Alvi terus memandangi sosmed suaminya, kalau-kalau ada yang aneh disana. Beberapa temannya membuat insta story kegiatan mereka di rumah Ardi. Dan dari sanalah, Alvi melihat suaminya yang tengah berbincang dengan Freya.


"Dasar laki-laki brengsek. Kalian semua sama saja" gerutu Alvi kesal. Ia membanting ponselnya di tempat tidur Oddy, mencoba melupakan apa yang ia lihat.


Tapi malah ponsel Alvi terus berdering sebab ada pesan masuk di sosmed Arfi. Rupanya Freya mengirim capture insta story teman mereka kepada Arfi. Sambil mencoba membuka pembicaraan di sana. Alvi juga melihat Arfi yang membalasnya dengan emoticon tertawa.


Hari semakin larut, tapi sepertinya Arfi dan Freya begitu menikmati waktu chatting mereka. Walau pembahasan mereka hanya seputar kegiatan KKN nanti, tetap saja ini sudah terlalu larut malam. Bahkan tak ada satu pun pesan masuk di ponsel Alvi dari suaminya.


"Aku emang bilang kamu boleh pergi, bukan berarti kamu bermain dengan wanita lain di belakang ku" gumam Alvi. Ah, sesak sekali rasanya. Ia benci di selingkuhi seperti ini, rasa sakit di dadanya sungguh menyiksa tanpa belas kasihan. Yang ada dalam pikirannya hanya kebencian untuk sang suami. Ia merasa Arfi membuka hati untuk Freya, padahal jelas dari cara membalas pesan pun, Freya mencoba menggodanya.


Pagi kembali menjelang..


Alvi masih enggan pulang dan hanya berdiam di kamar Oddy. Oddy membiarkan adiknya disana tanpa mengatakan apapun pada Bani maupun Arfi. Keras kepala Alvi selalu bisa menekan Kakaknya.


Sampai pagi berganti pun, masih tak ada satu pesan pun dari Arfi. Alvi sudah tak bisa menahannya lagi setelah pesan masuk dari Freya yang meminta Arfi untuk menjemputnya dan pergi bersama ke lokasi mereka.


"Loe darimana dek? Bikin orang khawatir aja, gue telepon kenapa gak diangkat ha?" Bentak Bani ketika Alvi masuk kedalam rumah.


"Gue mau pergi ke rumah Kakek"


"Alvi, berhenti!! Jangan kekanakan, kita bicara dulu" teriak Bani seraya mencengkram tangan adiknya. Ia menatap tajam Alvi, namun hatinya luluh seketika kala melihat mata adiknya berkaca-kaca. Tidak, ini bukan Alvi yang keras kepala. Adiknya tengah bersedih akan sesuatu.


"Bani, ada apa? Alvi kenapa?" Teriak Arfi berlari dari kamarnya. Ia terlihat begitu rapi, seakan ingin pergi ke suatu tempat. Matanya juga memandangi istrinya, khawatir, itu yang Arfi rasakan.


Alvi berusaha pergi setelah Bani melepaskan tangannya. Namun Arfi berusaha menahan kepergian Alvi.


"Kamu darimana?"


"Apa? Kamu masih peduli? Bukannya kamu mau pergi sama Freya? Pergi aja!!! Kalian kelihatan serasi kan semalam? Pergi aja, pergi sana, aku gak butuh kamu" ucap Alvi dengan nada bergetar. Seperti dugaan Bani, adiknya meneteskan air mata.


"Kamu yang gak pernah mau dengerin aku"


"Terus? Ya udah, gak usah peduli sama aku. Pergi aja, aku udah baca semuanya kok. Ini lihat, cih serasi? Iya kalian serasi, aku benci kamu"


Alvi mendorong Arfi menjauh dari hadapannya. Ia berlari masuk kedalam kamar dan mengunci kamar itu. Sambil menangis ia mengemasi semua bajunya kedalam koper. Walau terdengar suara ketukan di pintu, Alvi sudah tak ingin tau apapun.

__ADS_1


Selesai mengemas semua pakaiannya, Alvi bergegas turun. Arfi masih mengikutinya kemana-mana, ia berusaha menghentikan Alvi yang kekanakan. Ditariknya Alvi dan dibawanya masuk kembali ke dalam kamar. Arfi mengunci kamarnya, ia membiarkan istrinya yang terus mengomel tanpa henti.


"Udah selesai ngomongnya?"


"Hm..."


Arfi menangkup kedua pipi Alvi dan ciumnya perlahan, "Cewek bodoh. Kenapa kamu cemburu? Kamu sudah melihat semua milikku, aku hanya mencintaimu Alvi"


"Aku mau pergi, minggir. Bukannya kamu ada janji dengan Freya? Pergilah!!"


"Freya? Aaah, kami akan pergi bersama-sama dengan mobil. Kamu tidak membacanya dengan benar ya?"


Sembari menjelaskan situasinya pada Alvi, Arfi menuntun istrinya ke arah cermin. Ada sebuah kado disana, Arfi membuka kadonya dan terlihat beberapa selendang disana. Ia mengambil salah satunya dan memakaikan selendang itu pada istrinya.


"Cantik, kamu selalu cantik. Kalau pakai ini gak masalah kan?"


"Kenapa?"


"Aaah, aku gak rela kalau ada yang lihatin istriku dengan nafsu. Hanya aku yang boleh melakukannya"


"Tapi kemarin kenapa Mas Arfi gak bilang apa-apa? Kenapa kemarin cuma diem aja? Terus kenapa gak ngelarang aaku pergi? Kenapa ngebiarin aku pergi dan gak ngehubungi aku sama sekali? Apa Mas Arfi..."


Arfi menutup mulut istrinya, ia memeluk Alvi dari belakang sambil memperhatikan cermin.


"Kalau cemburu, bilang aja"


"Aku gak cemburu"


"Itu namanya cemburu sayang"


"Gak gak gak"


"Kalau gak cemburu, aku boleh pergi sama Freya kan?"


"Aaaaaahhhh iya iya cemburu, puas kamu? Sekarang apa? Mau manas-manasin aku lagi?"


"Masih marah gak nih? Emangnya kamu mau aku pergi tapi kamu masih marah? Nanti kamu nyesel lagi pingin ketemu. Lagian, kamu gak rindu sentuhan suamimu ini?"


"Aaaaa Kakaaaakkk Mas Arfi messuuum"


Arfi hanya tertawa melihat istrinya yang pergi keluar kamar dengan berteriak.

__ADS_1


__ADS_2