
Arfi sudah kembali dari puskesmas. Ia menjelaskan pada orang tua disana jika istrinya kelelahan.
"Kelelahan? Apa kalian berusaha memiliki anak?" Tanya Tuan Salim menyelidik.
Pak Kyai memukul lengan Tuan Salim karena pertanyaan konyolnya.
Maya dan Arfi tampak saling berpandangan. Jelas terlihat jika mereka menyembunyikan sesuatu. Tuan Salim yang penasaran terus meminta jawaban, hingga akhirnya Maya pun membuka mulut menceritakan semua yang terjadi pada Alvi.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan Salim?" Tanya Pak Kyai.
"Aku tidak akan melakukan apapun jika Alvi tak memintanya padaku. Tapi gelang itu memang sangat berharga untuknya"
"Kalian tolong jaga Alvi baik-baik ya. Aku dan Salim pamit pergi" pamit Pak Kyai. Beliau membawa Tuan Salim pergi ke pesantrennya. Pesantren yang berada di perkampungan Arfi, pesantren yang cukup terkenal milik Tuan Salim tentunya.
Selepas Tuan Salim dan Pak Kyai pergi. Arfi masuk ke kamarnya, Alvi masih tertidur pulas diatas kasur. Padahal gadis itu belum makan apapun sejak siang tadi. Maya menepuk pundak Arfi, ia meminta putranya untuk makan. Jika Arfi juga sakit, siapa yang akan menjaga Alvi nantinya.
"Bunda, apa Alvi tahu jika itu rumah Arif?"
"Tidak, Bunda tak mengatakan apapun. Apakah Arif dan Alvi saling mengenal?"
Arfi menggeleng, ia bergegas menyelesaikan makanannya dan pergi masuk ke kamar dengan membawa sepiring makanan jikalau nanti Alvi terbangun. Ia duduk di samping istrinya seraya mengelus kepala Alvi dengan lembut. Cukup lama Arfi melakukan itu sembari diselingi membaca Al-Qur'an.
Malam semakin larut, Susana begitu sepi kala itu. Alvi terbangun dari tidurnya, dan berjalan menuju kamar mandi. Baru saja ia membuka pintu kamar, kakinya langsung melesat kembali ke tempat tidur.
"Mas bangun Mas" ujar Alvi sembari menggoyang tubuh suaminya.
"Ada apa sayang? Kamu lapar?"
"Aku mau pipis, anterin"
"Aku ngantuk, sendiri aja sana, dekat kan kamar mandinya"
"Ih, tau ah" ujar Alvi kesal. Ia berbalik memunggungi suaminya dan menutupi dirinya dengan selimut.
__ADS_1
Arfi menghembuskan napasnya kasar, ia mencoba bangun dari tidurnya dan menatap pintu kamar yang terbuka. Pasti istrinya melihat atau mendengar sesuatu saat hendak pergi. Aneh, tidak biasanya seperti ini, Arfi bahkan tak pernah sekalipun di ganggu.
"Sayang ayo, nanti ngompol loh"
"Biarin"
Gadis keras kepala ini, Arfi langsung menggendongnya dan membawa Alvi ke kamar mandi. Alvi memanyunkan bibirnya, ia mewanti-wanti Arfi agar tak meninggalkannya sendirian.
Ketika menemani Alvi, saat itulah Arfi menyadari sesuatu. Ada hal yang tak bisa ia lihat terus berusaha mendekat. Biasanya mereka tak seaktif ini, tapi hari ini gangguan sungguh keterlaluan. Mereka membuat Alvi ketakutan tanpa alasan.
Sampai di kamar, Arfi memeluk istrinya dengan erat. "Apa kau memiliki sesuatu sayang?"
"Apa? Sesuatu apa? Kenapa ya Mas aku selalu seperti ini di tempat baru. Aku selalu sakit dan merasa ada yang mengawasi ku. Sepertinya aku harus ke psikiater"
"Tidak apa-apa sayang, kau sudah sehat sekarang? Kau tau, Kakek pikir kita sedang berusaha mendapatkan anak"
Alvi menatap suaminya dengan raut wajah bingung. Ia tak bisa mengerti apa yang Arfi katakan. Sebagai suami yang pengertian, Arfi mencoba menjelaskan maksud perkataan Kakek. Beliau pikir, pengantin baru ini sedang berusaha begitu keras mendapatkan seorang anak dengan melakukan hubungan setiap ada kesempatan.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pagi menjelang...
Para warga tengah melakukan kerja bakti di kampung. Membersihkan selokan dan menebang ranting-ranting pohon rindang. Beberapa warga wanita lainnya tengah memasak di pesantren.
Arfi dan keluarganya membersihkan pekarangan rumah mereka dan jalanan di sekitar pos ronda depan rumah. Para anak muda yang senang nongkrong disana juga.
"Arfiiiiii" teriak seseorang dari dalam rumah.
Arfi melempar sapu ditangannya dan langsung berlari masuk kedalam kamar. Ia melihat istrinya meringkuk ketakutan di bawah selimut.
"Sayang, ada apa?"
"Kenapa loe ninggalin gue? Gue udah bilang jangan pergi kan? Kenapa? Gue mau pulang. Sekarang!!!"
__ADS_1
"Alvi hei tenang, aku ada di depan rumah"
"Gue mau pulang" ucap Alvi dengan nada dinginnya.
Arfi semakin bingung dibuatnya, ia menyibak selimut Alvi dan memandangi istrinya. Mata Alvi dipenuhi amarah, wajahnya juga memerah. Suhu tubuh istrinya naik lagi, badan Alvi sangat panas hingga membuat tangannya gemetar.
Pemuda itu semakin yakin, ada sesuatu yang aneh. Ia segera mendial nomor Tuan Salim, untuk memberitahu keadaan Alvi. Tak butuh waktu lama, Pak Kyai dan Tuan Salim datang ke rumah Arfi.
Pak Kyai meminta Arfi untuk pergi ke sisi lain, beliau menekan dahi Alvi sambil membacakan doa. Alasan kenapa Alvi sangat sensitif, karena mata batinnya sudah terbuka sejak ia lahir. Pak Kyai dan Ayah Levia mencoba menutupnya, terlebih khodam dari Ayah Levia kini turun kepada Alvi sebagai pemilik pilihannya.
Khodam itu tak pernah menampakkan wujudnya pada Alvi, beliau hanya menjaganya sebab sejak Alvi kecil gadis itu selalu menjadi sasaran dari pesaing bisnis Tuan Salim dan Ardi. Itu juga alasan lain kenapa Alvi adalah cucu tersayang Tuan Salim. Sebab gadis itu selalu saja terluka karena bisnis sang Kakek.
"Apa terbuka lagi?" Tanya Tuan Salim penasaran.
"Sedikit. Kenapa musuhmu selalu menargetkan Alvi? Untung khodam dari Kakeknya menjaga dia"
"Aku harus apa? Aku juga tidak tahu kenapa mereka selalu menyakiti cucu perempuanku? Apa dia akan baik-baik saja? Aku takut dia pergi seperti menantuku"
Arfi hanya diam mendengarkan pembicaraan kedua orang tua itu. Ia mulai menyimpulkan, alasan semua hal yang mengganggu Alvi rupanya ada penyebab tak kasat mata. Pantas saja Alvi selalu sakit saat datang ke tempat baru.
"Arfi, semalam kau membaca Al-Qur'an di dekatnya?"
"Iya Pak Kyai"
"Syukurlah. Pak Kyai, apakah tidak ada penangkal yang bisa melindungi cucuku?"
"Karena itulah, kau harus sering mengaji dan berdoa untuk cucumu. Agar Allah SWT melindunginya dari para musuhmu Salim"
"Baiklah-baiklah kau menang. Tutup lagi mata batinnya, dan Arfi, jaga dia baik-baik ya. Jika Alvi berkata kasar dalam keadaan seperti ini, pasti ada sesuatu yang mempengaruhinya"
"Benar kata Tuan Salim. Jangan dimasukkan hati kata-katanya. Ia bahkan dulu hampir menghabisi nyawanya sendiri. Sekarang dia baik-baik saja, dia akan kembali seperti sebelumnya"
Arfi mengangguk mengerti, ia mengusap tangan istrinya dan mengecupnya singkat. Ia kemudian mengantarkan Pak Kyai serta Tuan Salim untuk pergi keluar rumah. Arfi tak menyangka jika gadis ceria yang dulu ia lihat, dan terkenal nakal ini juga punya kisah yang menyedihkan. Sayangnya Alvi memilih untuk melupakan kisah sedih itu. Ia yakin jika keluarga Alvi menyembunyikan kebenaran pada gadis penakut ini. Jika tidak, Alvi mungkin tak bisa menghadapinya.
__ADS_1