
Mata Arfi terpaku memandangi istrinya yang baru saja keluar kamar mandi menggunakan lingerie merah. Senyuman tanpa sadar terukir di wajah Arfi.
"Kamu suka warna merah?" Tanya Alvi dengan raut wajah sedikit tak senang.
"Iya, bagus kan? Kenapa Bani dan Oddy tertawa?"
"Kenapa kamu beli gaun malam ini sih sayang? Kamu tuh hish, dasar aneh" cibir Alvi seraya memeluk manja suaminya.
Arfi tersenyum, ia berkata kala melihat gaun malam ini, ia langsung teringat sang istri. Hanya Alvi yang terlintas dalam benaknya. Ia mendekap istrinya dan menciumi wajah Alvi berkali-kali.
"Kamu gak lagi capek kan sayang?" Bisik Arfi begitu merdu ditelinga istrinya.
"Capek banget Mas, pusing aku. Tugas tuh numpuk banget, Mas Arfi kan gak bisa bantuin aku karena jauh, sedihh"
"Maaf ya, tapi malam ini masih punya tenaga kan?"
"Gak punya, capek banget. Ngantuk, hoam" ucap Alvi kemudian melangkah ke atas tempat tidur. Ia membaringkan tubuhnya seraya mematikan lampu.
Arfi terlihat menghela napasnya perlahan, ia menatap Alvi sejenak kemudian pergi ke area balkon kamar. Alvi melihat semua itu, ia mencoba menahan tawanya. Perlahan ia bangkit, dan berjalan mendekati suaminya. Di peluknya Arfi dari belakang yang tengah termenung sendirian.
"Sayang, masuk, dingin"
"Aku pakai selimut kok Mas, kamu yang harusnya masuk" jawab Alvi seraya melingkarkan selimut yang dikenakannya di tubuh Arfi juga.
"Sayang, tangan kamu ngapain sih, udah sana tidur" sentak Arfi seraya menepis tangan Alvi dari bagian vitalnya.
"Katanya tadi mau, baru di pegang aja udah bangun. Udah ayo masuk sayangnya Alviiii"
"Jangan dipaksa sayang, aku gak apa-apa kalau kamu capek"
"Cuma bercanda kok, kalau gak mau yaudah, aku mau bo.... Aaaa Arfi mah nakal" ucapan Alvi terpotong sebab Arfi menggendongnya masuk kedalam kamar.
Sebelum memulai olahraga malam itu, Arfi mengecek semua pintu dan jendela. Ia tak ingin malamnya bersama Alvi diganggu oleh orang lain. Ia melompat dengan sempat ke atas kasur. Alvi hanya bisa menggeleng tertawa karena sikap konyol suaminya.
Satu bulan harus berpisah, membuat pasangan ini menahan rindu yang begitu berat. Alvi mengelus tengkuk leher suaminya, rasa nikmat yang diberikan oleh jari jemari Arfi ditubuhnya. Membuat Alvi tak bisa menahan diri lagi, suara desa han keduanya semakin menggila di tengah suasana sepi. Olahraga yang melelahkan, tapi baik Arfi maupun Alvi, keduanya sangat menyukainya.
"Aku kangen baunya Mas Arfi"
__ADS_1
"Sayang, kalau ada apa-apa kamu jangan diemin aku. Aku khawatir waktu kamu gak angkat teleponku"
"Hahaha, itu karena kamu gak pernah kencan sebelumnya. Kamu sadar ya Mas ada yang beda? Gitu banget lihatin nya, malu tauuu"
"Kamu apakah itu? Kenapa bisa gini? Kamu gak aneh-aneh kan?"
"Aneh-aneh apa? Aku dapat tips dari calon Kakak iparku tauu, punya dia bisa besar gitu, terus aku tanya. Ya udah aku ikutin caranya, sedikit besar kan? Hahahaha"
"Tidak perlu merubah apapun, kau tetap cantik dan akan selalu menjadi kesayangan ku"
Alvi tentu tau hal itu, tapi ia menyukai semua saran dari calon Kakak iparnya. Tapi keinginan Arfi, bagaimana mungkin ia bisa menolaknya. Terlebih kala Arfi selalu memujinya setiap kali mereka berbincang. Alvi merasa tak membutuhkan orang lain lagi, ia cukup terlihat cantik di mata suaminya. Orang yang paling Alvi cintai saat ini, sang suami tercinta, Arfi.
Setelah cukup lama mereka saling mencurahkan cinta, keduanya berhenti sejenak untuk mengembalikan stamina. Alvi memainkan pipi dan hidung Arfi dengan gemas, mencubit serta menciumnya.
"Mas Arfi, boleh gak, aku, Tasya dan Vita kerja di kafe kamu? Yang dekat kampus aku aja, tapi kamu jangan bilang ke karyawan kamu kalau aku...."
"Kenapa gak boleh bilang? Biar mereka gak godain kamu"
"Iih apa sih? Jangan gombal deh, aku gak mau aja nanti Vita sama Tasya mikir macem-macem. Ya anggap aja kita bertiga lagi latihan kerja, aku juga gak bilang kalau itu kafe kamu"
"Baiklah, tapi Alvi, mungkin setelah ini kita tidak akan sering berbincang. Jadi aku minta tolong, jaga dirimu dan hatimu ya"
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pagi menjelang...
Ketiga pemuda itu harus segera kembali ke lokasi KKN mereka. Alvi merasa sedih melepas semua pria tercintanya. Suami dan Kakak yang harus pergi mengabdi pada masyarakat. Serta Ardi yang mengatakan akan tinggal di luar pulau Jawa untuk membangun usaha barunya, di Provinsi Papua.
"Harus sekarang ya Pa perginya? Gimana kalau nanti aja waktu mereka pulang?"
"Papa mau selesaikan dengan cepat, agar bisa tinggal disini bersama kalian"
Air mata Alvi lagi-lagi menetes, terkadang ia merasa menjadi kesayangan, namun terkadang rasanya tak ada yang menyayangi nya sama sekali.
"Pergilah, aku bisa hidup sendiri. Hati-hati" ujar Alvi begitu dingin melepas ke empat pria yang menatapnya khawatir. Sekeras apapun Alvi memohon, mereka memang harus pergi.
Semenjak kepergian ke empat ksatria, Alvi kembali menjalani hidupnya hanya bersama dengan Bu Inah. Beberapa kali Alvi terus saja mengeluh sebab para lelakinya tak ada kabar. Setiap kali Alvi menelepon, mereka memang mengangkatnya, tapi hanya sesaat dan berkata akan menelepon lagi sebab mereka masih sibuk.
__ADS_1
Ini sudah Minggu kedua sejak kepergian empat ksatria, dan Alvi serta kedua sahabatnya sudah mulai bekerja di kafe milik Arfi beberapa hari yang lalu. Ia lebih memilih fokus bekerja untuk melupakan semua hal yang membuatnya marah. Bahkan Tuan Salim pun tengah keliling kota untuk mengecek bisnisnya. Kini sudah tak ada lagi siapapun pria di dekat Alvi. Mereka begitu sibuk dengan urusan masing-masing.
Pekerjaan di kafe terbilang mudah, walau beberapakali harus menghadapi pelanggan yang membuat Alvi harus menahan kesabaran.
Khususnya hari ini...
"Mbak, bisa temenin saya malam ini?" Goda salah seorang tamu pada Vita yang tengah melayani nya.
"Maaf Mas tidak bisa"
"Saya bisa kasih kamu berapapun yang kamu mau" ucapnya lagi seraya mengelus pantat Vita.
Vita tersentak, ia begitu terkejut hingga tak sadar bersikap kasar pada pelanggan itu. Hal tersebut tentu membuat sang pemuda marah dan membuat keributan. Dengan drama menjijikkan ia mulai menyalahkan Vita untuk berbagai hal tak masuk akal. Hingga manager kafe harus datang untuk menengahi.
"Maaf Pak, ada yang bisa kamu bantu?"
"Pak, tolong ajarkan pegawai anda untuk bersikap sopan. Dia bersikap kasar pada saya"
"Maaf untuk ketidaknyamanan ini. Vita, minta maaf"
"Tapi Pak, dia..." ujar Vita gelagapan.
Bbukkkk... Bbukkkk...
Pukulan demi pukulan juga makian terdengar begitu bringas. Alvi tak bisa lagi menahan emosinya dan bertindak diluar kendali. Beberapa lelaki disana mencoba melerainya, namun kemarahan Alvi membuat mereka kewalahan.
"Denger ya cowok brengsek, hidupmu akan menderita jika terus menggoda perempuan seperti itu!!!" Teriak Alvi meracau.
"Alvi cukup, minta maaf"
"Minta maaf? Dan loe manager, cuuih, apa jabatan sepenting itu daripada harga diri karyawan perempuan anda? Saya yakin pemilik kafe ini tidak akan setuju dengan keputusan anda"
"Kamu, Kamu saya pecat, pergi kalian bertiga dari sini" ucap sang manager tanpa basa-basi. Dua orang satpam datang dan meminta Alvi, Vita serta Tasya untuk keluar dari kafe. Mereka diperlakukan begitu tidak hormat, tapi setidaknya ini lebih baik bila harus meminta maaf pada orang menjijikkan itu.
"Sorry, ini salah gue" lirih Alvi ada teman-temannya.
"Bagus deh kita gak disana lagi, gue juga udah gedek tau gak sama karyawan cewek disana. Massa mereka ngerumpi mulu" ujar Tasya.
__ADS_1
"Iya, makasih ya Vi. Gue juga pingin banget nonjok tuh cowok gila. Kita cari kerja di tempat lain aja lah" saran Vita.
Alvi tersenyum senang, ia sempat takut kedua temannya kecewa karena sikap yang ia pilih.