
Di dalam mobil..
Arfi terus saja memandangi istrinya yang sibuk bermain game di ponsel. Ia tak kunjung melajukan mobilnya sebab pikirannya masih tak tenang memikirkan keadaan sang istri.
"Fi, ngapain kamu lihatin aku? Ayo cepat jalan, aku punya hadiah untukmu"
"Kamu gak apa-apa?"
"Emangnya aku kenapa? Ayolah Arfi, anak-anak orang kaya memang terkadang seperti itu. Mereka tidak memiliki sopan santun"
"Tapi sayang, apa kamu yakin? Aku khawatir kamu..."
Alvi yang geram mendengar perkataan suaminya, ia langsung saja mencium bibir Arfi dengan penuh gairah. Ia mengatur kursinya agar sedikit kebelakang. Arfi yang terkejut menghentikan aksi istrinya. Gadis nakal itu tak tahu tempat, Arfi mendorong istrinya agar duduk ketempat semula.
Gadis itu kesal sambil memanyunkan bibirnya. Ia kembali diam dan fokus bermain game di ponselnya. Mobil mulai melaju menuju suatu tempat, showroom mobil. Alvi menggandeng tangan suaminya untuk pergi melihat-lihat mobil disana. Ada banyak sekali mobil yang menarik hati Alvi, tapi ini bukan untuknya melainkan hadiah untuk sang suami darinya.
"Fi, kamu suka yang mana?"
"Kita mau ngapain? Aku gak mau sayang"
"Ini adalah hadiah dari Kakek, kita tidak boleh menolak rejeki kan?"
"Tapi Vi, ini terlalu mahal"
"Untuk kita, tapi tidak untuk Tuan Salim"
Alvi menggenggam tangan suaminya, ia mengangguk meyakinkan Arfi untuk memilih satu yang di sukai. Ini adalah hadiah yang tak bisa mereka tolak. Arfi menyerahkan semua pilihan pada istrinya, ia sungguh tak tertarik membeli mobil apapun. Hal itu tentu saja membuat Alvi bersemangat, ia mengitari showroom mobil sambil membaca brosur.
Sesekali ia berhenti kala ada mobil yang menarik perhatiannya. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli Ferrari F12 Berlineta.
"Ini harganya berapa Pak?" Tanya Arfi pada salah seorang karyawan.
"Ini 12 Miliar Mas"
"Apa? Sayang kamu gila ya, semahal itu? Gak gak, aku gak mau. Kita cari yang ratusan saja"
"Loh, tapi aku udah tanda tangan Fi. Aku juga udah bilang Kakek, udah lunas. Kamu bilang terserah aku"
Kaki Arfi terasa lemas, ia hampir saja jatuh pingsan mendengar harga mobil itu. Salah seorang karyawan disana mengambilkan minum untuk Arfi. Mereka tahu benar apa yang pemuda itu rasakan. Sedangkan Alvi malah tersenyum lebar, ia sudah meminta diuruskan semua surat-surat atas nama suaminya tentunya.
"Sabar Mas, harus ekstra kerja keras untuk nyicil" ucap salah seorang karyawan sambil menepuk pundak Arfi.
__ADS_1
"Anda bilang apa? Nyicil? Ini sudah lunas, sama minggir, jangan dekat-dekat suamiku"
"Hei, gak boleh kasar sama orang Alvi"
"Seenaknya aja dia ngomong gitu, dia gak tau apa kalau kamu punya banyak uang. Dasar!!" gerutu Alvi kesal. Ia menarik Arfi untuk pergi makan siang sebab dirinya sudah sangat lapar.
Lagi-lagi Arfi dibuat tidak mengerti, wanita seperti apa sebenarnya Alvi ini. Apa yang ia dengar tentang Alvi, selalu berbeda dengan apa yang ia lihat sendiri. Bani pernah bilang, jika adiknya adalah perempuan termanja di dunia ini. Namun sejauh yang Arfi lihat kala itu, gadis pemberani yang tak kenal takut. Tetapi kini, ia percaya jika istrinya adalah gadis paling manja yang pernah Arfi temui.
Tak ada rasa penyesalan, Arfi merasa menjadi pria beruntung kala Alvi tersenyum padanya dengan ceria. Ia senang ketika melihat Alvi merengek dan tak ingin jauh darinya. Ketika sang istri menggenggam tangannya dan menangis di dalam dekapan Arfi. Ia merasa jika dirinya adalah sosok yang Alvi butuhkan.
"Sayang, kita sholat dulu ya, udah adzan"
"Iya Arfiku sayang, cium dulu" jawab Alvi seraya menarik suaminya lalu mencium pipi Arfi.
"Kamu lagi mikirin apa? Kamu kalau lagi khawatir pasti manja banget kayak gini"
"Hehehe, aku sebenarnya gak mau jauh dari kamu. Tapi ya mau gimana lagi, hahahaha, I am okay, really"
Arfi mencoba mengerti walau hatinya menolak percaya. Ia melajukan mobil menuju Masjid terdekat untuk menunaikan sholat Dhuhur. Sebelum keluar dari mobil pun, Arfi sekali lagi memastikan jika istrinya baik-baik saja. Ia tak akan bisa tenang jika meninggalkan Alvi ketika istrinya tengah gelisah dan khawatir.
"Iya sayang" jawab Alvi kemudian pergi keluar mobil. Ia berjalan menuju Masjid tanpa penolakan apapun. Hari ini, ia tak ingin ada pertengkaran lagi dengan Arfi.
Selepas sholat dhuhur, Alvi menghampiri suaminya yang tengah berdiri di depan kotak amal. Ia melihat Arfi mengeluarkan semua uang tunai yang ada di dompetnya dan memasukkan nya kedalam kotak amal tanpa menghitungnya. Alvi jelas tampak terkejut, tetapi ia memilih diam dan akan menanyakan nya nanti saat mereka hanya berdua.
Di dalam mobil...
"Fi, bukannya tadi kamu masukkin uangnya kebanyakan ya? Kenapa dimasukkan semua?"
"Gak banyak kok, aku masih punya uang lebih. Lagian itu lebih sedikit dari harga mobil yang kamu beli, hm..."
"Tapi kan Fi, mobil itu untuk kita. Tapi uang itu kan sedekah ke orang kalau gak gitu paling buat bangun Masjidnya"
"Kamu benar, pahala yang kita dapat juga banyak kan. Sedangkan beli mobil apa dapat pahala? Sudah jangan berdebat, aku selalu melakukannya setiap kali sholat di Masjid. Mungkin kamu belum terbiasa"
Gadis itu mengangguk, ia tak marah, hanya heran saja. Arfi mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk bersedekah. Tapi untuk beli sesuatu bagi dirinya, ia akan berpikir seribu kali, pemuda aneh.
Alvi kembali mengatur maps menuju tempat tujuan mereka selanjutnya. Tapi kali ini adalah tempat yang sangat Arfi kenali.
"Aku tidak menerima pertanyaan, ikuti saja" ucap Alvi menyela.
Arfi melajukan mobilnya sesuai maps yang Alvi pasang, menuju rumah kedua orangtuanya. Selama perjalanan, Arfi terus menggenggam tangan istrinya dengan erat. Menikmati perjalanan yang menyenangkan dengan tujuan yang masih tak bisa ia mengerti.
__ADS_1
Setelah lama berkendara dan menahan lapar, akhirnya mereka tiba di perkampungan rumah Arfi. Tak seperti biasanya, hari itu di daerah rumah Arfi lebih ramai penduduk. Para remaja begitu rapi menggunakan baju kokohnya berlalu lalang di jalanan. Mobil Arfi tak berhenti di rumah kedua orangtuanya, melainkan terus melaju hingga di pesantren.
Disana para warga sudah berbaris menyambut kedatangannya. Bahkan Tuan Salim, Ardi, juga kedua orang tua Arfi serta teman-teman kelompok KKN Arfi tentunya.
"Sekarang apalagi Vi? Kenapa semuanya ada disini?"
"Biar kerjaan kamu lancar, kita mau doain kalian sebelum berangkat sayang"
"Kamu banyak kejutan ya hari ini"
"Karena aku mau kamu selalu ingat aku nanti, yuk turun"
Alvi turun dari mobil terlebih dahulu. Barus saja ia menutup pintu mobil, ia langsung mendapatkan dua jeweran di masing-masing telinganya dari Tuan Salim dan Pak Kyai. Beliau menyeret Alvi masuk kedalam pesantren dan memberikannya pada salah seorang pengurus wanita disana. Memintanya untuk memberikan Alvi pakaian yang pantas.
Arfi melongo melihat semua itu, tak hanya ia bahkan para warga juga hanya bisa menahan tawanya. Arfi mengucapkan salam pada kedua orangtuanya dan Ardi tentunya.
"Papa ada disini? Bukannya ada kerjaan diluar kota?"
"Mau bagaimana lagi? Jika putriku yang meminta dengan niat baiknya, aku tak bisa menolaknya"
"Alvi memberiku banyak kejutan hari ini. Tapi, aku semakin tak tenang jika harus meninggalkan dia sendiri"
"Biarkan Alvi tinggal disini saja selama kau pergi. Bunda akan menjaganya, Ayahmu yang akan mengantar jemputnya di kampus" usul Maya.
Ardi mencoba menahan tawanya mendengar penuturan Maya. Ia sebenarnya tak masalah, hanya saja Alvi masih sangat nakal. Gadis itu tak akan betah tinggal di desa kecil dan jauh dari teman-temannya.
"Papaaaa, cepat telepon polisi, para Kakek ini sangat kejam padaku" gerutu Alvi berjalan keluar pesantren. Ia menggunakan rok panjang dan selendang untuk menutupi pakaian atasnya.
"Anak ini benar-benar, berhenti berbuat ulah. Suamimu akan pergi meninggalkan mu" sentak Tuan Salim.
"Arfi tidak meninggalkan ku Tuan, dia hanya akan mengerjakan tugasnya di daerah yang jauh"
"Tidak sopan, dia suamimu, gadis nakal" sela Pak Kyai.
"Kamu lihat? Aku rela terluka demi kamu" rengek Alvi pada suaminya.
"Iya iya, udah, kasihan yang lain udah nungguin. Jangan cengeng"
"Iiih nyebelin"
"I love you Alvi"
__ADS_1
"Aaaaahhh, I love you too"