
Alvi yang tengah asik menikmati filmnya, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang menyentuh perutnya. Ia mendapati tangan Arfi yang tengah memainkan kaos Alvi. Gadis itu tersenyum nakal, ia menarik tangan suaminya dan memasukkan tangan itu kedalam pakaiannya.
Arfi menarik Alvi semakin erat, fokusnya kini teralihkan pada sang istri. Tangannya yang sudah ada di dalam kaos Alvi, perlahan mengelus tubuh istrinya. Ia membuka kaitan pakaian dalam Alvi dan menyentuh dua gundukan milik sang istri. Ia remas perlahan dan sukses membuat Alvi merasa melayang ketagihan.
"Kenapa Mas?" Tanya Alvi ketika Arfi tiba-tiba menarik tangannya.
Pemuda itu tak menjawab, ia bangun dari tidurnya dan berjalan mendekati pintu. Ia mengunci pintu dan kembali menghampiri istrinya.
"Kau siap sayang?"
Alvi mengangguk dengan senyuman malu-malu. Begitu mendapat ijin, Arfi memulai kembali berciuman dengan istrinya. Sembari perlahan membuka semua pakaian sang istri dan pakaian miliknya.
"Kenapa sayang?"
"Maluu Mas" jawab Alvi seraya mencoba menutupi bagian tubuhnya.
"Sama suami sendiri kok malu, sini lihat, lucu kok mungil" goda Arfi dengan tawanya.
"Punya Mas Arfi juga mungil"
"Enak aja kamu hahahhaa. Jangan takut, aku pelan-pelan kok"
Arfi menahan kedua tangan istrinya di kanan dan kiri. Ia perlahan mulai bercinta dengan sang istri, walau awalnya Alvi merasa sedikit kesakitan tapi gadis itu kembali menikmati sentuhan suaminya.
Beberapa menit berlalu...
Kedua pengantin baru itu sudah kelelahan dan berbaring diatas tempat tidur sambil berpelukan. Dan hal yang membuat Arfi tertawa karena kalimat polos istri kecilnya ini.
"Enak ya Mas ternyata"
"Hahaha, kamu ini nakal ya. Aku sayang kamu Vi"
"Aku juga sayang banget sama Mas Arfi, sangat" jawab Alvi sembari mencium bibir suaminya.
Mereka saling berpelukan menghabiskan malam bersama. Alvi pikir malam itu sangat menyenangkan, pantas saja mantan kekasihnya dan Ambar melakukan hal seperti itu. Arfi sedikit heran sebab mendengar istrinya tertawa kecil tanpa alasan dalam dekapannya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pagi menjelang..
Suara adzan Subuh mulai terdengar, Arfi mencoba membangunkan istrinya yang masih tertidur pulas.
"Ngantuk Mas"
"Ayo sholat subuh dulu sayang, mandi ayo, nanti masuk angin loh gak pakai baju"
__ADS_1
"Mas Arfi aja, aku mau tidur lagi"
"Sayang, mau aku marahin lagi?"
Alvi masih tak menggubris suaminya, dan melanjutkan tidur. Arfi yang geram, menyibak selimut sang istri dan menggendongnya ke kamar mandi. Mereka mandi berdua diguyur air hangat pagi itu.
Selepas mandi, Arfi menggelar sajadah di kamarnya. Ia tak bisa sholat di musholla rumah sebab Bani dan kawan-kawan tengah tidur memenuhi ruang tamu. Dan untuk pertama kalinya, Arfi sholat berdua bersama sang istri.
Dengan mata yang masih mengantuk, Alvi berusaha dengan sekuat tenaga agar tak tertidur dan menunaikan sholat subuh bersama suaminya.
Selepas sholat dan berdzikir serta berdoa, seperti biasa Alvi mencium tangan Arfi dan mendapatkan ciuman di keningnya. Arfi tidur dipangkuan istrinya yang masih menggunakan mukenah. Ia menatap Alvi dan bermanja di pangkuan sang istri tercinta.
"Sayang"
"Hm ... ngantuk Mas"
"Semalam asik ya, muka kamu lucu banget tau gak"
"Iiihh emang asik sih. Pantes aja ya Mas si Baim sama Ambar kayak gitu. Jadi pingin lagi"
"Jadi semalam kamu mikirin mereka ya? Sampai ketawa-ketawa sendiri"
"Um.. tiba-tiba keinget aja, aku mau tidur lagi ya, ngantuk banget nih" lirih Alvi kemudian tidur diatas kasur setelah melepas mukenahnya.
Berbeda dengan Arfi yang tak melanjutkan tidurnya, ia turun kebawah dan membangunkan para pria pembuat onar itu. Meminta mereka untuk segera menunaikan sholat subuh sebab masih ada waktu. Tapi sayangnya, para brandal nakal itu tak bergeming sama sekali. Rumah sangat berantakan, sampah pun berserakan dan bekas botol minuman ada dimana-mana.
Pukul 07:30...
Semua orang dirumah Ardi sudah bangun, termasuk Alvi yang sedang sarapan sebab akan berangkat ke kampusnya.
"Assalamualaikum" ucap Arfi memasuki rumah.
"Waalaikumsalam"
Arfi menghampiri istrinya dan memberikan ciuman selamat pagi di pipi sang istri.
"Mas Arfi darimana?"
"Habis lari pagi terus ngobrol sama satpam kompleks. Ada apa?"
"Gak apa-apa cuma tanya aja. Mas Arfi kalau keringetan gitu kelihatan seksi tau gak, iya kan Bi?"
Setelah pujian Alvi, terdengar suara para lelaki yang hendak muntah karenanya. Iri sekali ingin menjadi sosok Arfi yang bahkan di puji saat dalam keadaan kucel sekalipun. Arfi menjewer telinga istrinya kemudian pergi menuju kamar. Ia bergegas mandi dan mengganti pakaian agar bisa mengantar sang istri ke kampus.
"Naik mobil aja" ucap Bani ketika pasangan baru itu hendak keluar rumah.
__ADS_1
"Gak mau, naik motornya Mas Arfi aja. Pakai aja mobilnya buat jemput cewek loe yang manja itu"
"Loe juga manja bego"
"Tapi gue gak semanja cewek loe yang sok kaya, ew"
"Ban, gue berangkat dulu ya. Assalamualaikum" sela Arfi menengahi kakak beradik itu.
"Waalaikumsalam, hati-hati Fi. Buang aja tuh istri loe ditengah jalan"
Diluar rumah, Arfi kembali menjewer telinga istrinya. Ia mencoba menasihati Alvi agar tidak berbuat ulah dan menggoda kakaknya seperti itu. Selama perjalanan itu, Alvi hanya memejamkan matanya dan tak mendengarkan ocehan Arfi yang menyebalkan.
Padahal itu adalah hal biasa, ia dan Bani selalu seperti itu. Tapi Arfi selalu saja memarahi Alvi setiap kali ia dan sang Kakak bertengkar. Alvi rasa, Arfi tak bisa tahu rasanya memiliki seorang adik perempuan dan seorang Kakak laki-laki. Karena itulah caranya berpikir berbeda.
Setiap kali Bani dan Alvi bertengkar, mereka akan segera berbaikan. Hanya pertengkaran sesaat, dan selalu Bani yang mengalah sebab jika tidak, ia tak akan pernah mendapatkan apa yang ia inginkan dari sang Kakek. Karena hanya lewat Alvi lah, Bani mendapat banyak hal.
Sesampainya di kampus, Arfi dan Alvi tak sengaja berpapasan dengan Baim serta Ambar. Mereka menyapa seolah kenal begitu dekat dengan Alvi. Terutama Ambar yang sekali lagi mencoba mendekati Arfi tentunya.
"Kak Arfi, hai" sapa Ambar dengan nada begitu ceria.
"Hai Vi, kelihatan seneng banget kamu hari ini? Lagi happy ya" celetuk Baim menyapa.
Alvi tersenyum dan tertunduk malu, kejadian malam itu membuatnya tak bisa menahan rasa bahagia.
"Hei, loe tau Baim, ternyata enak ya begituan" ceplos Alvi tanpa berpikir.
Baim dan Ambar mencoba mengerti, sedangkan Arfi menyentil bibir istrinya gemas. Bisa-bisanya Alvi menceritakan hal semacam itu pada orang lain.
"Heheh, aku masuk dulu ya Mas. Suamiku pulangnya hati-hati ya" ujar Alvi begitu mesra seraya mencium bibir suaminya tepat di depan Baim dan Ambar.
"Nakal, gak boleh gitu sayang. Aku pulang dulu ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, daaah sayang"
Setelah Arfi pergi menjauh, Alvi membalikkan badannya menatap mantan pacar dan mantan sahabat nya itu. Ia tersenyum begitu megah, seolah sudah tak terpengaruh lagi pada kedua makhluk menjijikkan di hadapannya itu.
Baim sangat kecewa, ada rasa bersalah dan penyesalan dimatanya. Ia ingin Alvi kembali padanya, sebab Ambar sebenarnya sangat membosankan dan menyebalkan. Ia bahkan lebih manja daripada Alvi juga memiliki banyak tuntutan ini dan itu.
"Puas loe udah permalukan gue?"
"Loe permaluin diri loe sendiri"
"Inget ya, gue akan balas loe lebih kejam. Dan ya, Baim aja bisa gue rebut dari loe. Apalagi Kak Arfi yang jauh lebih sempurna dan tak pantas bersama loe" bisik Ambar dengan penuh keyakinan.
"Silahkan, sayangnya gue cewek pertama yang tidur sama Mas Arfi. Ah, seperti kata loe dia sempurna dalam segala hal" balas Alvi berbisik kemudian pergi meninggalkan Ambar dan Baim.
__ADS_1
Alvi tak peduli apapun yang Ambar katakan, perasaan senangnya melebihi apapun hari ini.