
Motor yang dikendarai Arif menjadi perhatian banyak warga kala ia melintas. Mereka memperhatikan seseorang yang ada di belakang Arif. Walau tak ada kata, mereka sebenarnya ingin bergosip. Namun apa daya bila nyatanya seseorang itu adalah cucu dari Tuan Salim.
Akhirnya motor Arif memasuki halaman Masjid. Disana banyak sekali warga yang tengah beristirahat menikmati camilan dan secangkir kopi.
"Mas Arfiiiii" panggil Alvi begitu riang. Ia hendak turun dari motor Arif namun Arfi melarangnya. Pemuda itu berlari menghampiri Alvi dan membantunya untuk turun.
"Aku bisa turun sendiri Mas"
"Ada banyak paku sayang, kamu kan ceroboh, pasti tadi mau asal lompat kan?"
Alvi hanya cengengesan mendengar apa yang suaminya katakan.
"Kenapa kamu bisa sama Arif?"
"Tadi aku nyasar gak tau jalan, terus ketemu Arif. Dia baik deh, aku dikasih voucher susu pisang, kreatifitas yang mengesankan. Kamu udah makan Mas?" Jelas Alvi sambil menunjukkan voucher pemberian Arif.
Arfi menatap ke arah Arif yang berjalan mendekat. Ia tidak kesal, karena pemuda itu menolong istrinya. Hanya saja kenapa harus Arif dari sekian banyak orang. Alvi berterima kasih pada Arif karena telah mengantar dirinya dan atas hadiah unik pemberiannya juga. Arif tersenyum lebar memandangi Alvi yang juga tersenyum ceria. Hal ini menimbulkan kilatan tak suka dari mata Arfi.
Pemuda itu menarik tangan istrinya agar menjauh dari Arif.
"Kenapa? Takut dia berpaling?" Ejek Arif dengan tawanya.
"Cuma jaga-jaga"
"Cucu Kakek" panggil seseorang.
Alvi menolah dan berlari memeluk Tuan Salim. Ia merasa senang melihat Kakek, Bani, Zahra dan Niza disana. Setelah memeluk semua orang, Alvi mengambil alih Niza dari gendongan Bani. Keponakan kecilnya sangat lucu dan menggemaskan.
"Vi, Kakak mau ajak loe buat beli hp" ucap Bani.
"Dia pergi sama gue Ban" sela Arfi.
"Sama Kakek aja, Kakek mau jalan-jalan sama cucu Kakek" ujar Tuan Salim tak mau kalah.
Ketika mereka berdebat siapa yang akan pergi dengan Alvi, gadis itu malah tak peduli sama sekali. Ia asik menunjukkan pada Niza pohon mangga yang berbuat lebat di dekat sana. Tapi bukannya Niza yang terkejut, malah Alvi yang dibuat keheranan. Sebab Niza menunjuk ke arah batang pohon sambil tertawa. Alvi mencoba celingukan namun tak menemukan apapun disana.
__ADS_1
"Nona Alvi, keponakan mu sangat cantik, kemarilah kami ingin lihat" teriak teman Arfi. Ia adalah pemuda yang sama, yang bisa melihat apa yang tak bisa orang lain lihat.
"Kenapa loe panggil Alvi? Emangnya loe suka anak kecil?" Bisik Rama penasaran.
"Keponakannya bisa lihat ada mbak-mbak rambut panjang. Arfi bilang si Alvi takut begituan kan? Mending kita suruh kesini aja daripada dia ketakutan tanpa alasan" jelasnya.
Rama dan yang lainnya mengangguk mengerti, ini sudah biasa untuk mereka jika tiba-tiba ditampakkan oleh sesuatu.
Alvi menghampiri Rama dan kawan-kawan, memperkenalkan keponakan cantiknya pada mereka semua. Padahal mereka sudah mengenal Niza sejak dulu, tapi semenjak Arfi menikah lagi, Bani hampir tak pernah sekalipun berkunjung ke pesantren Pak Kyai. Ia tak ingin melihat istri kedua adik iparnya.
Melihat Alvi begitu dekat dengan Niza, membuat beberapa mata tersenyum. Maya dan para Ibu lainnya juga berpendapat mengenai apa yang mereka lihat. Berpikir jika sudah waktunya Arfi dan Alvi memiliki seorang anak. Tapi ini tidak mudah bagi Alvi yang kehilangan masa mudanya, ia masih berpikir dengan pola pikir anak remaja. Butuh waktu bagi Alvi untuk menyesuaikan diri di masyarakat.
"Lucunya, cantik kayak Tantenya" celetuk Arif seraya mengelus pipi Niza.
"Iya dong, harus cantik ya sayang"
"Apa? Kamu manggil siapa?" Tanya Arif antusias.
"Loe tuh kepedean banget sih Rif, dah sana main sama temen-temen loe. Ngapain loe disini ha?" Celetuk Rama kesal. Ia menggerakkan tangannya untuk mengusir Arif agar pergi.
Bukannya Arif, malah Alvi yang pergi karena Niza terus memanggil mamanya. Arif tersenyum kemudian mengikuti kemana Alvi pergi. Itu yang Arif inginkan, tapi sebelum pemuda itu sempat berdiri, Rama menariknya dengan kuat. Alhasil mereka berdua malah terjatuh sambil berpelukan. Hal itu membuat semua orang tertawa sebab tingkah konyol mereka.
"Dari teman-teman Mas Arfi, kalian tuh debat apa? Tentang Hp baru? Aku udah punya kok, tadi Papa yang bawain. Memang cuma Papa yang mengerti aku, dah ah aku mau ke Bunda. Yuk Kakak Ipar"
Alvi pergi berlalu bersama dengan Zahra dan Niza. Ketiga pemuda itu saling memandang kemudian pergi ke arah yang berbeda. Tidak ada yang bisa menyaingi rasa sayang seorang Papa pada putri tercintanya.
Setelah sejenak beristirahat, para warga kembali sibuk dengan kegiatan mereka. Para Ibu juga tengah memasak besar. Ini yang Alvi sukai, bisa makan dengan banyak orang, itu sangat menyenangkan. Ia membantu Maya memotong beberapa bumbu dapur. Sambil mengajak Zahra berbincang.
"Vi, aku dengar dari Bani kau pandai memasak. Harusnya kau mengajariku cara memasak"
"Tentu, tidak ada yang tidak Alvi kuasai, hehehehe"
"Kehadiran mu membawa kebahagiaan di wajah banyak orang. Aku kagum, kau sangat istimewa rupanya"
"Kakak ipar ngomong apa sih? Apa Kak Bani nakal?"
__ADS_1
Jika harus mengingat masalalu, yang Zahra ingat hanyalah kesedihan yang mendalam. Itu semua karena mereka kehilangan alasan mereka menjalani hidup dengan bahagia, Alvi.
"Tidak, kamu sangat lucu. Aku suka memiliki adik ipar seperti mu"
"Aaaahhhh, Kak Zahra apa'an sih? Jadi malu heheheh"
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, para pria menghentikan pekerjaan mereka dan pulang kerumah masing-masing. Untuk membersihkan diri mereka dan bersiap sholat Jum'at di Masjid.
Alvi juga ikut pulang bersama dengan Arfi, Bani dan Zahra. Sedangkan Maya masih harus menyelesaikan beberapa hidangan lagi bersama para warga.
"Dek, kalau ada apa-apa kabarin Kakak ya" pinta Bani.
"Kenapa? Gue punya Mas Arfi yang akan jagain gue, Kakak jangan khawatir"
"Iya tapi kan suami loe pengecut"
Duugg...
Bani terkejut dan memegangi kakinya yang terasa sakit. Ia tak menyangka jika tenaga Alvi masih sekuat dulu.
"Dia suami gue, jangan macam-macam ya!!!" ucap Alvi dengan mata melotot.
Bani menoyor dahi adiknya dan mencubit hidung Alvi dengan sangat keras. Hingga gadis itu merasa kesal dan hendak membalas Bani. Tapi lagi-lagi, Arfi selalu menengahi pertengkaran itu, masih sama seperti dulu.
Adegan ini, membawa memori Alvi kembali, sedikit demi sedikit ia mulai mengingat.
"Mas Arfi masih sama ya, nyebelin. Aku sama Kakak itu selalu bertengkar, tapi Mas Arfi selalu pisahin kita dan marahin aku"
"Kamu inget Vi? Semuanya? Kamu udah ingat semuanya tentang kita?"
Alvi merasa sedih melihat antusias Arfi, ia hanya menggeleng sambil tertunduk lesuh.
"Tidak apa sayang, kamu pasti akan ingat semuanya. Hari ini kamu cantiiikkkkk banget, aku makin sayang" bisik Arfi lalu mencium pipi istrinya.
__ADS_1
Gadis itu kembali tersipu malu, ia menggandeng tangan Arfi dan berjalan beriringan dengan senyuman.
Astaga, aku tidak sabar menunggu malam ini. Istriku terlihat begitu mempesona.