
Acara wisuda dimulai..
Alvi, Ardi, dan kedua orangtua Arfi duduk di bangku undangan. Di depan mereka ada kedua orang tua Oddy yang terus saja memeriksa keadaan Alvi setiap menitnya.
"Tan, aku gak apa-apa. Tante mah selalu berlebihan" gerutu Alvi kesal.
Mama Oddy mengangguk dan mencoba mengerti, walau nyatanya ia tetap melakukan hal yang sama.
Acara pembukaan begitu meriah, ada banyak suguhan yang di pertunjukkan. Hingga tiba saatnya para mahasiswa diwisuda dan pengumuman Mahasiswa terbaik.
"Vi, nanti kalau aku maju kedepan, kamu tepuk tangan ya, terus teriak yang kencang" ucap Arfi yang tiba di depan Alvi dengan napas terengah-engah. Pemuda itu berlari secepat mungkin hanya untuk membawakan berita tersebut.
Alvi yang kebingungan, hanya mengangguk setuju kemudian menatap kepergian Arfi dalam diamnya. Ia bertepuk tangan kala kedua nama Kakaknya disebutkan. Ia juga begitu antusias menunggu nama Arfi untuk disebut. Hingga tanpa sadar semua itu menyerap tenaga Alvi begitu banyak.
Sial, tahan Vi, Arfi mau pidato. Loe cewek kuat, tahan Alvi, batin Alvi. Ia merasa kepalanya sangat sakit, hingga semua yang ada di depannya sedikit berbayang. Suara Arfi samar terdengar, namun hanya sesaat sebelum Alvi melihat kegelapan dan sunyi.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Tiga jam setelah Alvi pingsan....
Mata Alvi terbuka perlahan, kepalanya terasa berat dan cahaya begitu terang menusuk mata. Ia sedikit mengerang kesakitan, kepalanya ia gerakkan ke sisi kiri tempat tidurnya.
Pemuda itu, ia duduk di lantai sambil membaca Al-Qur'an. Alvi ingat benar suara merdunya, menenangkan hati hingga membuatnya menangis tanpa alasan. Ia tersenyum tipis mendengar doa Arfi yang begitu tulus untuknya.
"Apa arti loe dalam kehidupan gue sebenarnya Fi?" lirih Alvi.
"Alvi? Kau sudah bangun, Papa, Kakek, Oddy, Om" panggil Arfi membangunkan semua orang. Ia kemudian berlari mendekati ranjang Alvi dan memencet tombol untuk memanggil dokter. Wajah Arfi kembali berseri melihat istrinya membuka mata.
"Kak Bani gak ada disini ya? Kenapa? Kenapa aku selalu jadi nomor dua buat Kakak? Kenapa orang lain lebih penting dibandingkan aku? Apa aku anak tiri Papa?"
Semua orang terdiam mendengar Alvi mengoceh begitu banyak, sepertinya gadis itu mengingat hal yang membuatnya bersedih.
Beruntunglah dokter segera tiba untuk memeriksa keadaan Alvi. Ia menanyakan beberapa hal pada pasiennya, kemudian pergi dan berbincang dengan para orangtua disana. Dokter meminta Alvi untuk istirahat sebab suhu tubuhnya kembali naik tinggi.
"Kak Oddy aku mau pulang"
__ADS_1
"Iya, kita tunggu dokter dulu ya"
"Sekarang, sekarang, sekarang"
"Diem, jangan seperti anak kecil. Aku sudah bilang untuk tidak sakit lagi, kenapa kau tidak pernah mendengar kan aku? Apa segitu bencinya kau padaku?" Sela Arfi. Ia membantu Alvi untuk duduk dan merapikan rambutnya dengan penuh kasih sayang. Omelan itu hanyalah sebuah pengalihan untuk menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Brengsek, pergi loe dari hadapan gue. Gue benci sama loe" ucap Alvi dengan air mata yang menetes. Ia menepis tangan Arfi dan mendorongnya menjauh. Sakit, hatinya terasa begitu perih kala kenangan itu kembali terlintas dibenaknya. Ia ingat, kala dirinya tengah membuka ponsel Arfi dan melihat roomchat pemuda itu dengan Ambar.
Semua pria sama saja, Alvi juga kembali teringat perkataan Ambar kala mereka masih duduk di bangku SMA. Ia yang selalu begitu antusias membicarakan Arfi.
"Hei, kamu kenapa?" Tanya Arfi panik. Matanya bergetar menahan rasa sakit setelah mendengar perkataan pahit dari istrinya.
"Gue inget kok, hubungan kita, dan loe sama Ambar. Ahs, sial, pergi, PERGIIIII!!!" Teriak Alvi meracau.
Oddy menarik Arfi untuk pergi keluar ruangan. Alvi sepertinya mengingat sesuatu yang membuatnya terluka. Oddy mencoba menenangkan Arfi yang kalut dalam perasaannya.
"Dy, kok jadi gini sih? Gue harus gimana?"
"Loe tunggu disini aja, biar gue cari tau apa yang Alvi ingat. Dan, tolong kabari Bani, Alvi benar-benar marah karena dia tidak ada disini"
Arfi terduduk di depan ruangan Alvi. Dengan perasaan sedih dan bersalah, ia sungguh tak mengerti harus bagaimana. Kenapa takdir sekejam ini padanya? Apa Alvi bukanlah jodoh Arfi? Tapi kenapa mereka selalu dipertemukan dalam situasi yang membuat keduanya sama-sama berharap ada sebuah hubungan lebih.
"Istighfar Arfi, ini ujian untuk kesabaranmu" celetuk Pak Kyai yang baru saja tiba.
"Aku melihat kebencian dimatanya"
"Indra Alvi kembali terbuka, emosinya sangat mudah dipengaruhi. Kau teruslah berdoa, jangan hilangkan keyakinan mu pada Allah" saran Pak Kyai sebelum memasuki ruangan Alvi.
Alvi mengernyitkan dahinya menatap Pak Kyai yang masuk ke ruangan. Ia tertunduk dan menarik naik sudut bibirnya. Pak Kyai menggeleng, melangkah mendekati gadis itu. Ia memberikan isyarat pada Oddy agar memegangi tubuh Alvi.
Pak Kyai mulai meruqyah Alvi dengan doa-doa, gadis itu meraung-raung seolah ada sesuatu yang menyakiti dirinya. Arfi spontan berlari masuk, ia ikut membantu Oddy untuk memegangi Alvi yang terus melawan.
Setelah beberapa menit Pak Kyai membacakan doa-doa, akhirnya Alvi kembali jatuh pingsan diatas tempat tidur. Tuan Salim dan yang lainnya pun masuk setelah Pak Kyai mengijinkan.
"Alvi kenapa?" Tanya Tuan Salim keheranan.
__ADS_1
"Ada yang mencoba mengirim santet padanya"
"Apa? Untunglah kau datang kesini, apa cucuku baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja, penjaganya memberitahu ku. Salim, ini sudah tidak benar. Aku merasa dia adalah orang yang sama, yang membuat Alvi kecelakaan. Mari kita temui dia, kasihan Alvi"
Tuan Salim mengangguk menyetujui permintaan Pak Kyai. Tapi sebelum itu, Tuan Salim harus membuat penjagaan yang ketat. Ardi dan Papa Oddy memaksa untuk ikut, mereka mempercayakan Alvi pada kedua Kakak serta suaminya. Tak butuh waktu lama, mereka segera melesat menuju rumah seseorang yang di duga telah mencelakai Alvi, dengan segala bukti yang mereka punya tentunya.
Selagi para orang dewasa mengurus urusan mereka. Arfi kembali terduduk lemas di samping istrinya yang kembali memejamkan mata.
"Dy, apa gue dan Alvi harusnya tidak menikah?"
"Mana mungkin, kalian itu jodoh yang ditakdirkan"
"Gue gak yakin, apa Alvi bener-bener cinta sama gue? Gue lihat sorot matanya Dy, kek benci banget sama gue"
Paakkk....
Arfi terkejut karena seseorang memukul kepalanya. Ia menoleh menatap Bani yang datang seorang diri. Ia memberikan Arfi sebuah buku diary yang bertuliskan nama Alvi di sampulnya.
"Apa Ban?"
"Buku diary nya Alvi"
"Ha? Alvi nulis beginian? Jangan ngaco deh loe"
Pletak...
Kali ini jitakan itu datang dari Oddy. Ia mengomel memarahi Arfi, memangnya ia pikir selama ini adiknya perempuan seperti apa. Dimata Bani dan Oddy, Alvi hanyalah gadis biasa yang butuh banyak perhatian juga kasih sayang.
"Terus kenapa di kasih ke gue?"
"Biar loe tahu, perjuangan Alvi buat lupain loe" jelas Bani. Ia mendekati Alvi dan mencium keningnya. Meminta maaf karena tak menjaga Alvi kala gadis itu sakit. Bukan karena Bani tak memedulikan Alvi, tapi ia mencari buku diary itu. Buku yang Alvi sembunyikan dari semua orang.
"Kita belum pernah baca itu. Tapi, gue dan Bani pernah mergokin dia nulis malem-malem sambil sedih galau gitu lah. Namanya juga cewek Fi"
__ADS_1
"Ntar kalau dia marah gimana?"
"Loe kan suaminya, jangan jadi pengecut deh. Fi, kalau loe terus jadi pengecut, Alvi yang bakal terluka" sentak Bani. Bagaimanapun juga, Bani adalah Kakak Alvi. Ia tak akan membiarkan adiknya terluka oleh siapapun itu.